
"Payah. Sialan"
Adhi tetap berdiri di kamar mandi berharap barang miliknya ini bisa tertidur setidaknya mulai saat ini sampai enam belas jam lagi. Dia tidak ingin membasahi celananya dan tampak seperti orang bodoh dihadapan banyak mata. Ada suara ketukan di pintu kamar mandi, membuatnya terpaksa keluar dalam keadaan masih tegang.
"Sorry" katanya pada penumpang lain yang sepertinya menunggu terlalu lama.
Dia kembali ke kursinya dan merasa sangat tidak nyaman. Apalagi saat mengetahui bahwa Ambar masih terbangun. Kenapa wanita ini tidak tidur saja dan memberinya sedikit ketenangan?
"Anda sakit perut ya?" tanya wanita itu membuatnya kesal.
"Tidak"
"Kok lama di kamar mandi?"
"Bukan urusanmu"
"Idih, ditanya baik-baik malah jawabnya kasar"
Harus seperti itu. Kalau tidak Adhi tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya lagi. Tidak lama, desakan di celananya tidak terlalu terasa lagi. Dia merasa lega bisa mengontrol badannya lagi.
"Sudah tidurlah! Aku tidak ingin bicara denganmu" katanya sinis lalu memilih untuk kembali bekerja, mrngesampingkan rasa basah di celananya. Saat transit nanti, sebaiknya dia membeli celana segera. Kalau tidak, dia akan merasa tidak nyaman selama sisa perjalanan.
Dan akhirnya Adhi mendapatkan kesempatan yang ditunggu-tunggunya. Dia keluar adri pesawat dan segera menuju salah satu toko pakaian yang ada di bandara. Sepertinya, apapun mereknya Adhi tidak peduli. Yang terpenting dia bisa terbebas dari rasa tidak nyaman ini. Dia kembali ke ruang tunggu transit dan melihat Ambar sedang terlihat lelah disana. Kepala wanita itu tampak lemah tak bisa terangkat lagi. Bebereapa jam terakhir Adhi terus saja bersikap buruk karena masalah celananya. Dia jadi merasa bersalah pada Ambar.
"Kau lelah?"
Kepala yang lemah itu sedikit bergerak dan Ambar melihat ke arah Adhi dengan cara yang tidak biasa. Setidaknya bukan seperti yang pernah Adhi lihat selama ini. Saat ini, wanita itu tampak cantik sekali.
"Iya. Lama sekali ternyata"
Adhi duduk dihadapan Ambar dan menikmati wajah wanita dihadapannya..
"Kau bisa tidur kalau itu membantu"
"Saya tidak pernah tidur selama itu"
"Itu juga yang kurasakan saat pertama kali datang ke Indonesia. Lama sekali pesawat tetap di udara. membuatku lelah dan bosan"
"Tapi sebelum itu Anda pasti pernah naik pesawat dalam jangka waktu panjang kan? Anda termasuk kalangan orang kaya"
__ADS_1
Adhi tidak dapat membantahnya, selama menjadi keluarga Syahreza dia memang memiliki banyak kesempatan berlibur kemanapun.
"Bersemangatlah! Hanya kurang dari separuh perjalanan lagi" kata Adhi berusaha memberi semangat pada Ambar.
"Anda mengompol ya?"
Tiba-tiba saja Ambar mengajukan pertanyaan yang menyinggungnya.
"Apa?"
"Tadi sepertinya Anda tidak memakai celana berwarna terang?"
Kesal. Itulah yang dirasakan Adhi sekarang. Gara-gara wanita itu, dia harus cepat-cepat membeli celana. Sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan dalam hidupnya. Semua kerena wanita itu memberinya kesulitan. Tapi dia sadar, semua itu bukan murni kesalahan Ambar. Badannya mendapatkan sinyal yang salah dan bereaksi berlebihan.
"Aku hanya ingin menggantinya. Apa itu masalah?"
"Tidak. Hanya saja, Anda terlihat seperti habis mengompol"
"Ya dan semua karenamu"
"Ha?"
Ambar menegakkan kepalanya, membuat Adhi tiba-tiba melihat wanita itu bangkit dari sofa. Mendatanginya dengan cepat dan duduk tepat di pangkuannya. Ambar menggunakan jari telunjuk kirinya untuk menyusuri garis rahangnya dan emmberikan ciuman-ciuman kecil disana. Tidak berhenti disana, Ambar kemudian membuka kemeja Adhi dan menyentuhnya dengan sangat intens. Membuat Adhi memberinya peringatan bahawa mereka berada di tempat umum. Tapi wanita itu tidak berhenti dan mulai melepas semua kain yang menempel di tubuh dan memaksa Adhi memasukinya. Rasanya sungguh nikmat saat Ambar melakukannya.
Ambar heran. Kenapa cowok yang dari tadi bersikap aneh di pesawat, kini semakin terlihat absurd di ruang tunggu transit. Dia hanay bertanya kenapa cowok itu berganti celana tapi sekarang Bos Kenzo tampak ... off. Yah, sepertinya kata itu yang cocok untuk cowok itu. Kelihatan dari matanya yang kosong dan dari mulut mengeluarkan suara erangan halus. Seperti orang yang sedang Buang air besar, pikir Ambar.
"Bos ... Bos" Dipanggil dua kali, kenapa cowok itu tidak menyahut?
"Waduh kesambet hantu Turki nih" lanjut Ambar lalu menggoyang-goyangkan bahu Bos Kenzo. Setelah lima guncangan akhirnya cowok itu sadar. Bos Kenzo melihat ke arahnya dalam keadan yang aneh.
"Bos sakit?" tanya Ambar baik-baik. Tidak mengira balasan yang dditerimanya sangatlah kasar.
"Apa yang kau lakukan?? Kau memang ... !!!!"
"Ha?" Ambar hanya diam melihat cowok itu pergi menjauhinya.
Dia kembali masuk ke dalam pesawat yang akan berngakta ke London dan melihat Bos Kenzo memakai celana dengan warna yang lain lagi. Ambar sangat yakin cowok itu mengompol atau berak di celana. Dan sekarang dalam keadaan malu untuk mengaku. Jadi bersikap jahat dengan tidak melihat atau bicara pada Ambar. Sungguh menyebalkan.
Dan ... setelah menjalani penerbangan selama sembilan belas jam. Akhirnya ... akhirnya Ambar menginjakkan kaki di Bandara Heathrow. Bos Kenzo yang masih tidak bicara atau melihatnya sudah tidak dipedulikan oleh Ambar lagi. Yang terpenting saat ini Ambar selamat sampai di London tanpa kekurangan apapun.
__ADS_1
"Assalamualaikum" sambut Ambar saat Rea menghubunginya tepat di depan tempat pengambilan tas.
"Kamu udah sampe?"
"Udah"
""Aku udah nunggu di depan terminal dua ya" kata Rea.
"Oke"
Ambar merasa senang karena setelah hampir dua tahun tidak bertemu. Dia akan bersama dengan Rea lagi. kali ini selama seminggu penuh.
Tak lupa Ambar juga mengirim pesan pada orang tuanya dan Kenzo. mengabarkan kalau dia sudah sampai di London. Kenzo segera membalas dan menasehatinya untuk berhati-hati, dengan emoji menangis. Ibu dan dua pegawainya sama-sama meminta bukti foto, tapi Ambar masih tertahan di bandara. Sebelum membalas kembali pesan ibunya, Ambar melihat tasnya berjalan keluar. Dia ingin mengambilnya tapi sebuah tangan besar mendahuluinya.
"Ayo cepat pergi!"
Cowok itu membawa koper Ambar dalam kereta dorongnya dan membimbingnya menuju jalan keluar. Disana Ambar melihat namanya ditulis besar-besar di sebuah kertas berwarna pink. Sungguh memalukan sekali. tapi, dengan begitu dia tahu kalau sahabatnya menjemput.
"Apa-apaan sih Re?" katanya mendekat ke arah Rea.
"Selamat datang!!!"
Rea segera memeluknya dengan erat. Dan Ambar hampir saja menangis tapi badannya tiba-tiba tertarik ke belakang.
"Jangan memalukan!" kata cowok itu lalu menghalangi Rea mendekat.
"Kamu apa-apaan sih Dhi?"
"Kamu memalukan"
"Terserah aku"
"Jangan mengajak Ambar dalam kegilaanmu"
"Dia sahabatku"
"Dia kekasihku"
"Itu hanya palsu"
__ADS_1
"Aku tidak peduli"
Ambar menghela napas melihat dua orang paling berbeda tapi memiliki sifat yang sama sedang bertengkar di depannya. Karena keduanya memakai bahasa Inggris, Ambar memilih untuk mundur dan tidak melerai. Percuma saja dia melakukan itu.