Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

"Kemana wanita yang tadi begitu kampungan itu? Kenapa sekarang kau diam?"


Ambar masih bisa mendengar suara Danial yang mengejeknya, tapi dia tidak peduli dan hanya ingin segera pergi. Tapi niatnya tidak bisa dilaksanakan karena dua pengawal Danial tiba-tiba berada di depannya. Ambar mencoba untuk berkelit dan akhirnya menyerah. Dua pengawal Danial ini terlalu besar dan tinggi. Tidak sebanding dengan badannya yang kecil untuk ukuran bule. Ambar berbalik dan mendapati Danial sudah ada di depannya.


"Apa yang Anda inginkan?" tanyanya berusaha berani.


"Aku ingin bicara"


Ambar terpaksa mengikuti Danial pergi ke sebuah kafe kopi yang sepi.


Awalnya, Ambar sangat yakin laki-laki yang duduk seperti sebuah lukisan ini akan marah padanya. Ternyata tidak. Bahkan laki-laki ini diam saja dengan melayangkan pandangan ke arah luar kafe. Tidak tahan dengan situasi yang tenang, Ambar mulai bertanya.


"Kalau boleh tahu. Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"


Laki-laki ini tetap tidak bicara dan menambah kegantengannya dengan meletakkan jari di dahinya yang lebar. Dibandingkan adiknya, laki-laki ini memang lebih tampak serius. Namun, tetap saja tampan dengan kesembpurnaan penampilan dan tubuh. Belum lagi pundi-pundi uang yang dimiliki Danial.


"Kau ... teman Feli"


"Iya"


"Kau juga ... kekasih Adhi"


Untuk itu Ambar tidak bisa meng-iyakan dengan mudah. Baru saja dia merasa benci sekali dengan cowok bermata biru itu.


"Lalu?"


"Apa kau ... pernah merasa kalau ... mereka berdua ... memiliki hubungan?"


"Apa?"


Ambar terkejut, mendengar ucapan Danial yang ragu tentang adik dan calon istrinya. Apa sebenarnya laki-laki ini sudah tah tentang keduanya? Tapi, tidak mungkin Danial akan merendahkan dirinya dan bertanya pada Ambar tentang hal ini.


"Aku tahu kalau Adhi kelihatannya menyukaimu, tapi ... dia juga ... memperhatikan Feli dengan berlebihan"


"Memperhatikan dengan berlebihan?"


"Maksudku, mereka ... tampak memiliki perasaan satu sama lain"


Tepat. Ohhhhhh. Ambar ingin sekali menyetujui semua perkataan Danial. Hanya saja, dia tidak mungkin melakukannya dengan sembrono.


"Kenapa Anda merasa begitu?"


Sebuah mata yang biru, hanya tidak secerah milik cowok itu sedang memandang tepat ke arah Ambar.


"Aku hanya ... tidak tahu" Dan sekali lagi, laki-laki ini menunduk, seakan tidak yakin apakah mengatakan semua itu pada Ambar adalah langkah yang benar.


"Saya ... sibuk sekali. kalau Anda tidak keberatan, bisakah saya pergi sekarang juga?"

__ADS_1


Ambar tidak ingin lagi mendengar apapun tentang masalah cowok itu dan Feli lagi. ia bosan mengurusi sesuatu yang tidak berguna untuknya. Lagipula, itu hanya menambah rasa sakit di dalam hatinya.


"Kau ... tidak khawatir kalau Adhi" lanjut Danial setelah AmbarĀ  berdiri.


"Saya juga manusia biasa. Hanya saja, saya menolak untuk bersedih kalau memang hal itu benar. Karena saya lebih dari sekedar wanita yang bisa mencintai seorang laki-laki"


Setelah mengatakan itu, Ambar keluar dari kafe dan mulai mencari hotel lain. Setelah menemukan kamar di hotel yang dekat dengan stasiun Notting Hill, Ambar mengabari Rea.


Lalu tidak membuang waktu lagi untuk sholat dan menghubungi pegawainya di Jakarta. Untuk satu jam berikutnya Ambar berusaha melupakan yang terjadi padanya dari pagi sampai ssiang tadi. Dan dia memusatkan pikiran pada pekerjaan.


"Pak Andy memesan undangan lagi, tapi kali ini dia ingin yang berwarna merah. Kalia coba pergi ke toko kertas dan percetakan untuk membicarakan jenis kertasnya"


"Iya kak. Nanti habis makan siang kita berangkat"


"Masalah pesanan untuk dua bulan lagi dan bulan depan akan kita tangani kalau aku sudah ada di Jakarta"


"Kak Ambar, kita juga harus ambil pesanan tempat koin yang itu"


"Oh iya. Aku telpon aja Mba Marni buat minta tolong nganter ke toko. Ada lagi?"


"Cuma itu kayaknya kak untuk hari ini"


"Besok kita sambung lagi ya. Ini Aku lagi bales-bales yang mau pesen buat tiga bulan lagi"


"Iya kak"


"Assalamualaikum"


Ambar tidak berhenti untuk melihat ponsel dan ipadnya. Dia harus mendata semua pesanan yang masuk dan mulai mengatur prioritas. Sebelum pulang ke jakarta nanti. Jaddi, semua pekerjaannya akan tertur dan tidak membuang banyak waktu. Setelah beberapa lama, ada suara ketukan di pintu kamarnya. Ambar membuka pintu dan Rea ada di depannya dengan membawa dua kantung plastik hitam besar.


"Apa itu?"


"Makanannnnnn"


Rea masuk lalu meletakkan kantung plastik di bawah. Ambar penasaran dan mulai mencari tahu apa saja yang ddibawakan oleh Rea.


"Banyak banget"


"Itu, ada makanan halal. jadi kalo kamu g malem-malem laper bisa makan dengan bebas"


"Tapi ini banyak banget. Sampe pulang juga gak habis nih"


"Aku tadi juga ngomong gitu ke Adhi"


Ambar terkejut, kenapa nama cowok itu disebut oleh Rea.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Adhi tadi bawain semua itu terus dititipin ke aku. Katanya gak nemu kamu di rumah"


Cowok itu, kenapa? Ambar mulai membalik-balik semua produk makanan yang ada di dalam plastik dan membenarkan kalau ada label halal di setiap bungkusnya.


"Oh"


"Emangnya kamu gak bilang ke Adhi ya kalo mau ke hotel? Bukannya tadi dia yang anter kamu pulang?"


"Gak. Gak sempet"


"Katanya dia telpon kamu tapi gak diangkat, terus hubungin aku deh"


"Oh gitu"


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Rea karena Ambar hanya menjawab dengan satu atau dua kata.


"Gak ada. Gak ada yang salah kok"


"Emangnya ada masalah ya tadi waktu aku pergi?"


Ambar menceritakan tentang apa yang terjadi ddi kediaman Syahreza tadi pagi. Pertengkaran kedua saudara karena Feli yang pingsan juga dia katakan semuanya. Tapi Ambar masih mempertimbangkan apakah dia harus bicara tentang masalah peretemuannya dengan Danial tadi siang.


"Duh, harusnya aku gak kerja tadiiii" sesal Rea.


"Kan kerja penting Re"


"Iya, tapi aku jadi gak bisa liat semua. Tapi, kayaknya kita bisa lat semua lagi deh"


"Kenapa?"


"Karena kita diajak untuk ke Lake District besok" seru Rea, tidak mendapatkan tanggapan yang sama dari Ambar.


"Apa?"


"Iya. karena ini musim semi"


"Tapi ... kan kamu harus kerja"


"Kita pergi setelah makan siang. Jadi gak masalah"


"Siapa aja yang pergi?"


"Kita, Feli, Danial, Adhi sama beberapa temen disini"


Wahh. Ambar tidak tahu kalau di Inggris adakegiatan seperti ini. Dan dilakukan tepat ddi hari kerja. Bukankah mereka senang bekerja dan tidak liburan?


"Aku gak ikut boleh gak?" tanya AMbar dengan suara kecil. Dia takut membuat Rea kesal. dan benar saja, Rea seakan ingin menghancurkannya dengan tatapan mata.

__ADS_1


"Kamu kan datang kesini buat liburan. jadi harus menikmati liburan dongg. Apalagi aku gak akan pernah ikut kalo kamu gak ikut"


Sepertinya Ambar terpaksa harus ikut besok. Dia hanya bisa membayangkan betapa capek jiwa dan raganya besok.


__ADS_2