
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adhi setelah mendengar teriakan kencang wanita yang ada di depannya.
"Ha? Saya ... pikir"
"Apa? Apa kau pikir aku akan melakukan sesuatu yang buruk?"
Adhi tersenyum, melihat kepanikan yang tampak di wajah Ambar.
"Tapi ... tadi Anda bilang"
"Apa? Melepas pakaianmu? Kenapa juga aku melakukan hal itu? Kau bukan tipe wanita yang kusukai"
"Oh, jadi Anda menggoda saya?"
"Seperti kau penting saja"
"Ha?"
"Terserah kau mau berpikir apa"
Adhi berbalik ke cermin dan memakai jas yang diantar oleh Ambar. Dan sesekali memeriksa raut wajah wanita yang bayangannya juga ada di cermin. Lalu dia mencium aroma yang lain dari jasnya. Apa ini, bau parfum wanita itu? harum juga, pikir Adhi lalu kembali berhadapan dengan Ambar.
"Saya pergi sekarang" kata Ambar begitu Adhi menatapnya.
"Kau tidak boleh pergi begitu saja"
"Apa? Kenapa?"
"Aku membantumu dan kini kau harus membayarnya"
"Bayar? Bantu? Emangnya Anda bantu apa?"
"Aku menyelamatkanmu dari kebodohanmu sendiri"
"Apa???"
"Aku juga menolong temanmu keluar dari masalah yang mungkin akan dia buat di klub malamku"
"Terus?"
"Aku ingin kau memasakkan sarapan untukku"
"Ha?"
"Sarapan. Apa kau tidak tahu arti kata itu?"
"Ha? Kenapa saya harus melakukannya? Saya sibuk"
"Oh ya? Padahal aku belum makan sejak semalam"
"Masa' ?"
__ADS_1
Rencana Adhi berhasil. Perkataannya barusan membuat Ambar berhenti dan tidak jadi pergi. Wanita ini, memang tidak bisa menolak permintaan orang yang sedang kesusahan. Sangat baik dan ... manis.
"Ada apa di dapur Anda?"
"Kau periksa saja sendiri. Aku harus menghubungi seseorang"
Meskipun menggerutu, wanita itu pergi ke dapur kecil yang tidak pernah digunakan oleh Adhi dan mulai memeriksa lemari es.
"Apa ini? Isinya cuma air putih dan ... apa ini? Alkohol. Bagaimana bisa saya memasak dengan ini?" tanya wanita itu tapi Adhi menempelkan ponsel di telinganya. Berpura-pura menelepon seseorang agar dia bisa melihat wajah kesal Ambar sekali lagi. Wanita itu kini tampak berpikir selama beberapa detik di depan lemari es, lalu mengeluarkan ponsel dari tas. Kelihatannya Ambar sedang memesan makanan. Pintar juga wanita itu, pikir Adhi. Dia mengakhiri sandiwara teleponnya dan berjalan ke arah dapur.
"Apa kau memesan makanan?"
Wanita itu tampak terkejut karena ketahuan.
"Iya, Kan tidak ada apa-apa disini. Kalau memasak sendiri, saya harus membeli bahan, menyiapkan, memasak dan membersihkan dapur. Saya tidak punya waktu untuk itu"
"Jadi, seperti ini kau membayar kebaikanku?"
Sebenarnya ini memalukan, tapi Adhi tidak ingin berhenti menggoda wanita di depannya. Dia senang melihat perubahan ekspresi wajah Ambar.
"Terserah Anda mau bilang apa. Tapi hari ini saya benar-benar tidak punya waktu." jawab wanita itu lalu melihat ponselnya lagi.
"Usahamu ... baik-baik saja?" tanya Adhi ingin tahu.
"Baik. Semuanya baik. Karena musim nikah akan segera datang, toko saya akan semakin baik"
"Kau sangat percaya diri"
"Tentu saja. Harus"
"Inginnya. Tapi, saya belum memiliki sebuah ide baru"
"Kau tidak perlu ide baru untuk membuka bisnis. Kau hanya perlu keberanian"
Berbicara dengan Ambar adalah salah satu kesenangan baru Adhi. Dengan wanita ini, dia tidak pernah kehilangan bahan pembicaraan.
"Itu untuk orang kaya. Saya kan baru merintis"
"Apa kau percaya kalau aku membangun bisnis dari nol?"
"Tidak mungkin"
"Aku hanya memiliki beberapa ribu euro dan berani terbang kemari"
Tiba-tiba Adhi mengingat hari dimana dia terusir dari rumah. Saat itu dia yang tidak pernah harus berusaha untuk makan, diharuskan bekerja. Dia memiliki tiga pekerjaan dalam satu hari dan akhirnya memiliki cukup uang untuk membuka bisnis yang akhirnya gagal. Karena kuasa kakak dan ayahnya. Setelah gagal beberapa kali, Adhi memutuskan untuk pergi jauh, ke Indonesia untuk membangun kerajaan bisnisnya.
"Beberapa ribu euro? Itu banyak banget disini. Anda bercanda dengan saya ya?"
"Apa? Aku mendapatkan semua uang itu dengan susah payah"
"Ha? Anda adalah orang kaya, saya tidak percaya"
__ADS_1
"Aku diusir dari keluargaku, hanya memakai pakaian yang melekat di badanku"
Ambar terdiam. Dia tidak bisa bereaksi apa-apa saat cowok itu membicarakan pengusirannya dari rumah. Seorang putra keluarga kaya diusir hanya menggunakan pakaian di badannya? Apakah itu mungkin? Memangnya kenapa sampai seperti itu? Tapi Ambar tidak ingin tahu. Dia mengerti kalau masa lalu cowok itu bukanlah urusannya. Dia harus mengalihkan pembicaraan, hanya sampai makanan yang dipesannya datang.
"Apa Anda mengenakan pakaian lengkap atau ... "
Cowok itu mengerutkan alisnya, dan Ambar sadar telah melakukan kesalahan.
"Menurutmu?"
Sial, mata biru itu, kenapa menatapnya begitu lekat? Ambar seperti kehabisan oksigen setiap kali melihat mata biru itu.
"Hahahaha. pasti pakaian lengkap" jawab Ambar lalu tertawa garing. Berharap cowok itu mengerti keinginannya untuk kabur dari sini.
Lalu, tanpa dia pernah bayangkan sebelumnya. Sebuah tangan yang besar berada di atas kepalanya. Bergerak turun dan sedikit menyentuh pipinya yang memanas. Apa yang dilakukan cowok itu? Membelainya? Dan kenpa juga dia tiba-tiba tidak bisa berpikir? Apa dia menjadi bodoh? Hanya karena sesuatu seperti itu?
"Ponselmu berbunyi" kata cowok itu menyadarkan Ambar. ternyata ponselnya benar-benar berbunyi. Abang gojek yang sedang menghubunginya.
"Halo, Oh iya. Saya ke bawah aja"
Ambar menutup telepon dan melihat cowok itu lagi.
"Makanannya sudah datang. Saya ke bawah dulu"
Ambar segera pergi keluar kamar apartemen Bos Kenzo dengan napas kelegaan. Di luar kamar, dia bisa bernapas dengan lancar dan baik. Lalu, kenapa tadi? Sebaiknya dia tidak memikirkannya dan segera pergi ke bawah. kasihan abang gojeknya nunggu.
Setelah mengambil pesanan, Ambar kembali naik ke lantai lima. kali ini dia tidak menggunakan lift, karena ingin lebih lama menarik udara segar. Sampai di lantai lima, dia dikejutkan dengan hadirnya seorang wanita yang ada di depan kamar Bos Kenzo. Itu ... Feli.
"Aku hanya mengantar ini"
"Kau tidak perlu melakukan ini"
"Iya. Aku seharusnya tidak. Tapi ... "
Samar, Ambar merasa ada yang tidak beres dengan hatinya. Ada rasa seperti dipukul tepat di ulu hatinya saat melihat Bos Kenzo berhadapan dengan Feli. Apalagi, Ambar belum pernah melihat raut wajah sendu yang hanya ditampilkan cowok itu pada sahabatnya. Dia tidak bisa melangkah lebih jauh dan memilih mendengar pembicaraan keduanya dari jarak aman.
"Aku belum mengucapkan selamat atas perkenalanmu di depan semua orang sebagai menantu keluarga Syahreza" kata cowok itu. Ternyata Bos Kenzo tahu tentang acara di London itu.
"Aku datang kemari bukan karena itu. Aku hanya ... "
"Fel, atau harus kupanggil kakak ipar?"
"Adhi, kenapa kamu?"
Ambar mendengar suara Feli seperti tercekik. Mungkin karena sebenarnya dia tidak ingin mendengar panggilan itu, apalagi dari laki-laki yang disukainya. Sungguh menyedihkan. Kenapa Feli, sang peri cantik kini seperti sedang menangis tanpa air mata di depan laki-laki yang tidak lama lagi akan menjadi adik iparnya? Ambar semakin mengerutkan tubuhnya, berusaha untuk tidak mengganggu pertemuan keduanya.
"Aku sibuk. Ambar juga ada disni. Lebih baik kau pulang"
Duh, kenapa cowok itu menyebut namanya? harusnya tidak perlu, biar Feli tidak merasa kecil hati. Tapi, kenapa Ambar merasa sedikit senang? pasti ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Pasti hormon, pikir Ambar.
__ADS_1
"Oh. Maaf kalau aku mengganggu. Aku akan pergi sekarang"
Ambar melihat langkah berat Feli menuju lift. Untung saja dia tadi tidak naik lift dan mengganggu mereka berdua. Dia berbalik melihat cowok yang bersikap kejam pada sahabatnya itu lalu merasa kaget. Cowok itu, tidak melepaskan pandangannya dari Feli. Jelas sekali mata biru itu mengawasi tiap gerak gerik Feli. Bos Kenzo, ternyata memang mencintai Feli. Mungkin sangat mencintai sampai tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dan memilih untuk menyerah ketika Feli akan segera menikah dengan kakaknya. Ambar menarik napas panjang, berusaha mengusir rasa aneh yang dirasakannya di dalam hati.