
Adhi membuka matanya yang berat dan melihat sinar matahari menembus tirai kamarnya. Sudah empat hari dia pulang dari rumah sakit dan kembali melakukan kegiatannya seperti sebelum kecelakaan. Dilihatnya jam dan kemudian Adhi mendesah. Sudah jam sepuluh pagi, sebaiknya dia segera bangun dan bersiap untuk pergi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya berbunyi.
"Apa?"
"Bos sudah bangun?"
"Apa maumu?"
"Apa Bos akan menginap malam ini di bandung?"
"Tidak"
"Kalau begitu saya hanya menyiapkan mobil dan sopir"
"Ya"
"Apa Bos tidak ingin beristirahat di Bandung dulu? Saya kenal beberapa wanita yang mau menemani Bos"
"Tidak perlu!"
Adhi menutup telepon dan melempar ponselnya ke atas ranjang. Anak buahnya itu ternyata tidak berubah sampai sekarang. Masih suka bermain dengan wanita.
Selesai mandi, Adhi melihat tubuhnya di depan cermin. Untung saja massa ototnya berkurang sedikit selama dirawat di rumah sakit. Perlahan tapi pasti, Adhi akan dapat mengembalikan tubuhnya seperti sebelum kecelakaan dan tampil lebih baik daripada sekarang. Dia memakai jas hitam lengkap dengan rompi dan dasinya, membuat tampilannya lebih baik. Kini, dia siap. Siap untuk pergi ke Bandung untuk menghadiri acara pernikahan salah satu pelanggan klub malamnya dulu. Pelanggan yang sangat setia sampai kemudian bertemu dengan calon istrinya.
"Bos, mobil sudah menunggu dibawah"
Adhi membaca pesan yang dikirim oleh Kenzo dan segera pergi ke lobi. Sebuah mobil mewah dan sopir ada disana menunggunya.
"Saya Martin akan mengantar Anda ke bandung. Tuan Adhitama"
"Iya"
Perjalanan panjang menuju Bandung di akhir pekan akhirnya berakhir juga. Tiga jam empat puluh menit tepat dia akhirnya berdiri di depan tempat acara pernikahan.
"Saya akan menunggu diluar"
"Iya"
Adhi melangkah ke dalam tempat acara dan disambut oleh sang pengantin pria sendiri.
"Kupikir kau tidak akan datang"
"Aku pasti datang"
Adhi melihat mempelai wanita yang terus tersenyum disamping temannya.
"Ini adalah temanku. Adhitama" kata perkenalan teman Adhi pada beberapa orang.
"Salam kenal dan selamat atas pernikahan kalian"
"Terima kasih. Makanlah dulu, aku akan menemanimu sebentar lagi"
Adhi sebenarnya tidak ingin lama-lama berada di tempat ini. Banyak orang membuatnya sedikit tidak nyaman. Apalagi, dari kebanyakan orang itu sedang memandangnya dari ujung rambut sampai kaki.
__ADS_1
"Benarkah? Jadi mereka bertemu di klub malam?Kok bisa?"
Sebuah suara tiba-tiba mengganggu Adhi. Suara yang sering didengarnya selama seminggu di rumah sakit. Dia menoleh ke belakang dan melihat wanita yang memakai gaun abu-abu dengan sedikit kilauan di bagian penutup kepala dan dadanya.
"Ambar" panggilnya dengan suara kecil tapi ternyata didengar oleh wanita itu. Ambar melihat ke arahnya dan melotot seperti tidak percaya dengan yang dilihatnya.
"Bos"
Mereka saling menatap selama beberapa menit sebelum seseorang menabrak wanita itu. Ambar terdorong ke depan dan hampir jatuh ke badan Adhi. Dia dengan sigap menangkap pinggang Ambar yang hampir saja terjatuh. Tapi wanita itu segera menghalau tangan Adhi dan menemukan keseimbangan sendiri. Adhi melihat kedua tangannya dan terkejut dengan besar pinggang yang tadi ditangkapnya. Kecil. Tidak seperti yang Adhi bayangkan. Bagaimana tubuh wanita itu di balik semua baju dan penutup rambutnya? Adhi tiba-tiba penasaran dan ingin mengetahuinya.
"Maaf" kata wanita itu lalu segera berdiri agak jauh dari Adhi.
"Tidak apa-apa"
"Anda mengenal salah satu keluarga dari mempelai?" tanya wanita itu, mungkin heran karena Adhi berada di pesta ramai seperti ini.
"Mempelai pria dulu adalah pelanggan setiaku"
"Pelanggan?"
"Iya, saat kita bertemu enam tahun lalu"
"Ohh. Ternyata yang dibicarakan teman saya benar"
"Dan kau? Apa kau disini hanya karena pekerjaanmu atau ... "
"Saya adalah teman kursus mempelai wanita"
"Kebetulan?"
"Ahh, mungkin. Bagaimana kabar Anda?" tanya wanita itu lalu melihat ke arah kaki Adhi.
"Baik. Semua sudah membaik"
"Benarkah? Ah iya. Luka di pelipis Anda juga hampir menghilang sepenuhnya" ucap Ambar lalu mengulurkan tangan ke arah wajah Adhi, sepertinya tanpa sadar. Setelah menemukan kesadarannya kembali, wanita itu segera menarik tangan dan menggigit bibir. Padahal, Adhi tidak keberatan disentuh oleh wanita itu.
"Iya. Sudah hampir hilang"
"Alhamdulillah"
"Mmmh?"
"Ah, itu ucapan saat bersyukur atas sesuatu" terang Ambar.
"Apa kau datang kemari sendiri?" tanya Adhi berusaha mencari tahu
"Iya"
Adhi masih ingin bicara banyak dengan Ambar ketika pembawa acara menyampaikan sesuatu.
"Saya persilahkan para tamu untuk duduk dan menikmati hidangan selama upacara daerah kedua mempelai dilaksanakan"
__ADS_1
Ambar melihat ke arah pelaminan kemudian ke Adhi.
"Sepertinya acara akan dimulai. Sebaiknya Anda duduk"
"Ya"
Adhi pergi ke tempat duduk yang sudah disiapkan. Dia duduk diantara para pebisnis kenalan mempelai pria.
"Apa Anda ini Tuan Adhitama Syahreza?" tanya seorang wanita yang sengaja duduk di sebelahnya.
"Benar"
"Anda sangat tampan"
"Terima kasih"
"Apa Anda belum memiliki istri atau pacar?"
Sebenarnya Adhi malas melayani pembicaraan basa-basi seperti ini. Tapi pembicaraan ini diperlukan untuk memabngun bisnis, jadi Adhi menarik ujung bibirnya sedikit dan menjawab pertanyaan wanita di sebelahnya.
"Sudah"
"Apa? Benarkah? Apa istri Anda tidak ikut hari ini?"
"Ikut"
"Benarkah? Yang mana?"
Adhi melirik ke arah tempat duduk Ambar yang terlihat senang berbicara dengan teman-temannya. Dia akan memanfaatkan kebohongan itu lagi, setidaknya untuk menghalau wanita-wanita lain mengganggunya. Tapi ... sebelum dia sempat menjawab, pembawa acara kembali mengumumkan sesuatu dan Adhi kini memilih untuk mendengarkan dengan baik.
Ambar memang sedikit terkejut dengan pertemuan kembali dengan Bos Kenzo. Tapi, dia berusaha tidak memikirkannya. Karena tidak ada Feli maupun kakak cowok itu disini. Semua orang yang ada di pesta pernikahan ini juga tidak ada hubungan dengan mereka. Jadi, Ambar bisa menarik napas lega dan berbicara santai dengan temannya. Hanya saja, cowok itu terlihat sangat baik dengan setelan jasnya. Mirip sekali dengan Bos Kenzo yang ada dalam ingatan Ambar. Terlihat lebih keren dan tenang.
"Eh, siapa tadi Mbar?" Salah satu teman kursus yang hadir disini bertanya padanya
"Apa? Siapa?"
"Wah, jangan-jangan pacarmu ya?"
"Bukan"
"Masa'? Tapi kok kayaknya kamu akrab":
"Hahaha Gak mungkin banget kan?" jawab Ambar lalu tertawa canggung.
"Emang kenapa? Sekarang kan banyak cewek Indo yang nikah sama orang asing"
"Iya, terus mereka bikin channel di Youtube"
"Iya bener. Banyak banget lho yang kayak gitu sekarang"
Alhamdulillah, pikir Ambar. Teman-temannya tidak lagi membicarakan tentang Bos Kenzo. Dia juga malas menjawab pertanyaan apapun tentang cowok itu.
__ADS_1