Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Tiga Puluh


__ADS_3

"Dimana Danial?"


Adhi melihat pria tua yang sedang berbaring itu.


"Pulang. Istrinya membutuhkannya"


"Untuk apa kau disini?"


Adhi tersenyum sinis. Sebenarnya dia juga tidak ingin ada disini. hanya saja karena Danial pulang, dia harus menemani ibunya yang berjaga sendirian.Karena sekarang ibunya tertidur di sebelahnya, terpaksa Adhi yang harus menjawab pertanyaan ayahnya.


"Aku akan pergi sebentar lagi"


Hubungan Adhi dan ayahnya memang tidak pernah baik. Apalagi setelah drama pengusiran yang membuat Adhi merasa sendiri selama sepuluh tahun itu.


"Kau ... bekerjalah dengan baik!"


Apa? Adhi melihat lagi wajah pria tua yang kini terlihat pucat itu.


"Aku selalu bekerja dengan baik"


"Huh. Terlalu sombong"


"Aku berhak merasa seperti itu"


Keduanya lalu terdiam dan menciptakan keheningan. Tak lama tiba-tiba ayah Adhi mengungkit masalah selain perusahaan.


"Apa kau akan menikah?"


Ayahnya memang tidak pernah menghubunginya. Tapi selalu mengetahui apapun yang terjadi dalam hidup Adhi. Dia memang merasa selalu diikuti. Tapi tidak percaya kalau pria tua itu tetap melakukannya sampai usia Adhi menginjak tiga puluh empat tahun ini.


"Tidak jadi"


"Apa kau ditolak?"


Terdengar suara kekeh yang membuat Adhi merasa terhina. Belum selesai dia merasa kecewa karena penolakan Ambar, sekarang dia merasa direndahkan oleh pria yang bahkan tidak menyukai keputusannya pindah agama.


"Itu bukan urusanmu!" jawab Adhi kesal.


"Wanita itu ternyata pintar juga. Dia bodoh kalau mau menerima lamaran orang yang pernah membunuh istri dan anaknya sendiri"


Sesuatu yang berusaha dilupakan Adhi kini timbul lagi dalam ingatannya saat pria tua itu mengatakannya. Bayangan Feli yang pucat dan berdarah kembali menyiksa hati dan pikirannya.


"Kau pikir aku melupakannya?"


"Kau tidak boleh melupakannya. Atau kau adalah pria yang kejam"


"Yah. Aku memang pria yang kejam"


Keheningan kembali tercipta dan kini Adhi tidak ingin bicara lagi. Dia hanya berharap ibunya segera bangun agar dapat segera pergi dari sini.


"Cobalah lagi"


Adhi melihat ke arah ayahnya dan tidak mengerti.


"Coba lamar wanita itu lagi. Kalau kau memang mencintainya"


Apa? Bukankah tadi pria tua itu mengatakan dia berhak menerima penolakan karena bertindak kejam pada Feli? Kenapa sekarang?


"Bahagiakan wanita itu agar kau bisa menebus kesalahanmu!"


Adhi benar-benar tidak percaya mendengar semua ini dari ayahnya. Selama ini pria tua itu tidak pernah sekalipun mendukungnya. Dan sekarang ... .

__ADS_1


"Ambar akan bahagia tanpa aku"


"Sejak kapan kau menurut?"


"Apa?"


"Sejak kapan kau menuruti permintaan orang lain? Kalau kau memang menginginkannya, buat dia jadi milikmu. Tapi kali ini jangan membuat kesalahan yang sama"


Seperti mendapatkan angin segar, hati Adhi perlahan menjadi sangat lega. Meskipun dia tidak tahu apakah ayahnya memang mendukungnya atau hanya bicara sembarangan, Adhi tidak peduli. Ini adalah pertama kalinya dia bisa bicara panjang lebar dengan pria yang harusnya dia panggil ayah itu.


Tak lama ibunya terbangun dan Adhi melihat air mata di wajah wanita yang melahirkannya itu. Rupanya ibunya sudah terbangun dari tadi dan mendengar semuanya.


"Apa ibu tahu kalau menguping adalah perbuatan tidak baik?"


"Iya. Ibu tahu"


Tiba-tiba ibunya memeluk Adhi dan membuat badannya terasa hangat.


"Maafkan aku membuat kalian khawatir" kata Adhi.


"Iya. Kau memang harus dihukum karena itu. Tapi ... kini semuanya sudah berlalu. Berbahagialah"


Adhi khirnya dapat keluar dari ruangan ayahnya dan mulai berpikir lagi. Sepertinya dia harus melakukan sesuatu sebelum benar-benar memimpin perusahaan cabang Asia hari Senin depan.


"Dimana kau?" tanyanya saat menghubungi Danial.


"Di rumah. Kenapa?"


"Sialan kau. Apa kau bercinta dengan istrimu?"


Adhi bisa mendengar suara ******* kakak iparnya yang katanya memiliki kelebihna dalam hal libido itu.


"Apa yang kau inginkan?"


"Apa?"


"Aku akan ke Jakarta. Tidak lama"


"Tapi"


"Sial kau Danial. Berhentilah membuat istrimu mendesah seperti itu"


"Kau pikir aku bisa mengaturnya?"


"Pesawatmu!!"


"Aku akan mengaturnya sebentar"


Pasti kakak iparnya sekarang merasa kesal pada Adhi, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin cepat pergi ke Jakarta dan meminta Ambar sekali lagi untuk menjadi istrinya. Apapun jawaban Ambar nanti, dia akan menerimanya. Asalkan dia tidak memiliki penyesalan. Sebuah pesan dari Danial akhirnya masuk ke ponselnya.


"Semua siap. Pengawal dan asistenmu menunggu di depan rumah sakit"


Pengawal dan asisten? Sejak kapan Adhi memiliki atau bahkan membutuhkan mereka? Ingin sekali Adhi bertanya tapi dia tidak ingin mengganggu acara inim kakaknya lagi. Dia berjalan keluar dari rumah sakit dan disambut oleh sekitar lima orang pengawal berpakaian jas hitam. Dan seorang pria kurus dengan sebuah tas di tangannya.


"Tuan Danial telah memerintahkan kami untuk menemani Anda kemana saja mulai dari sekarang" kata pria kurus itu.


"Aku akan pergi ke Jakarta"


"Pesawat pribadai telah siap Tuan Adhitama"


"Siapa namamu?" tanya Adhi saat mereka berjalan ke arah mobil yang telah disiapkan.

__ADS_1


"Saya Larry"


"Larry, siapkan buket bunga mawar putih sebesar tanganku dan juga beberapa barang yang biasanya diberikan seorang pria pada wanita yang akan dinikahinya"


"Anda ingin semuanya siap saat kita tiba di Jakarta nanti?"


"Iya"


"Baiklah. Apa ada lagi yang harus saya siapkan Tuan?"


"Sebuah tempat untukku sholat di pesawat"


"Baik"


Ternyata lumayan menyenangkan ada seseorang yang bisa mengatur semuanya untukmu. Baru kali ini Adhi merasakan keunggulan menjadi seorang putra dari keluarga Syahreza setelah selama ini melakukan semuanya sendiri.


Ambar sedang makan bersama orang tuanya juga Rea malam ini. Setelah menangis semalaman kemarin, Ambar menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama sahabatnya. Makan di tempat mie ayam kesukaan Feli dan juga berkeliling Jakarta sebelum akhirnya pulang dalam keadaan lelah.


"Padahal saya besok mau pulang ke London, tapi Ambar ngajak saya jalan terus dari siang" keluh Rea pada ibu Ambar


"Kamu pasti capek. Apa perlu dipanggilin tukang pijet?"


"Wah iya. Disini ada tukang pijet ya. Di London gak ada Tante"


"Nanti biar dipanggilin bapaknya Ambar, tetangga yang pinter pijet"


"Boleh Tante. Badan saya kayak remuk sekarang"


Ambar akhirnya tidak tahan mendengar keluhan Rea dan memberinya cubitan di pinggang.


"Ngeluh aja kamu" katanya kesal.


"Kan emang gitu"


Suara ketukan di pintu mengejutkan keempatnya.


"Siapa yang datang malem-malem gini?" tanya Ambar lalu melihat ke arah pintu.


"Pak RT mungkin" tebak ayahnya. Tapi kenapa pak RT datang kemari? Apa untuk menengok ibunya yang baru pulang dari rumah sakit?


Ambar berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dia terkejut karena berhadapan dengan sebuah buket bunga mawar berwarna putih yang tampak cantik sekali. Dan saat dia melihat siapa yang membawa buket bunga itu, Ambar lebih terkejut lagi.


"Assalamualaikum" salam cowok itu.


"Waalaikum salam" jawab Ambar


"Aku datang kesini untuk melamarmu lagi. Ambar ... apa kamu mau menikah denganku?"


Ambar tidak percaya. Belum genap satu minggu, dia sudah mendengar lamaran dari cowok itu lagi. Bukankah dia sudah menolak cowok itu dengan tegas Sabtu kemarin? Lalu kenapa kembali lagi kesini?


"Sepertinya saya sudah memberi jawaban yang jelas Sabtu kemarin"


"Aku tahu. tapi ... kali ini aku ingin menawarkan sesuatu padamu"


"Ha?"


"Aku tahu kau tidak akan bisa memaafkanku karena kejadian dua tahun lalu. Tapi kumohon beri aku kesempatan untuk membuatmu bahagia. Hanya kali ini saja"


Hanya kali ini saja? Apa cowok itu mendengar apa yang sudah dikatakannya? Bagaimana bisa Ambar bisa menerima lamaran ini? Dia tidak mungkin menerimanya. karena alasannya sudah jelas. Ambar hampir membuka mulut untuk menolak lamaran cowok itu lalu tiba-tiba Rea maju dan menjawab atas namanya.


"Iya. Ambar menerima lamaranmu. Ayo masuk!. Tante, ini mantumu dateng!" seru Rea membuat Ambar tidak habis pikir. Bagaimana bisa sahabatnya itu melakukan ini?

__ADS_1


"Tunggu. Tidak. Tunggu. Rea!!!" teriak Ambar tapi percuma. Cowok itu sudah masuk ke dalam rumahnya dan duduk dengan santai di meja makan. Seperti sudah diterima sebagai salah satu anggota keluarga saja. Meninggalkan Ambar terpaku di dekat pintu.


__ADS_2