Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tujuh Puluh Enam


__ADS_3

Feli membuka matanya dan merasa sangat lemah.


"Apa kau baik-baik saja, sayang?" tanya Danial penuh perhatian.


"Iya. Aku hanya ... "


"Tidur saja. Kau demam, munkin karena kelelahan"


"Aku tidak apa-apa"


"Jangan membantah. Acaramu akan dimulai empat hari lagi, jadi badanmu harus sehat"


"Adhi ... tidak melakukan apa-apa"


"Apa?"


"Adhi tidak melakukan apa-apa"


Danial melihatnya penuh tanya, tapi Feli bersikeras untuk meluruskan apa yang terjadi. Dia tidak ingin Adhi dihukum lagi atas apa yang bukan salahnya.


"Kau membelanya"


"Tidak. tapi dia memang tidak melakukan apa-apa. Jangan sampai dia ... diusir karena masalah ini"


"Apa?"


Feli tahu, dia mengerti apa yang terjadi pada laki-laki yang dicintainya sepuluh tahun lalu. Hanya karena kebohongan mantan kekasih Danial, Adhi harus menjalani kehidupan yang berat. Dan Feli tidak ingin hal itu terjadi lagi kali ini. Meskipun artinya dia harus menikah dengan laki-laki yang dianggapnya sebagai kakak saja.


"Aku ... "


"Kau menyukainya?" tanya Danial mengejutkannya. Feli menunduk, tidak berani melihat ke arah Danial sama sekali. Saat akhirnya tunangannya itu pergi tanpa mendengar jawaban, dia mulai merasa tenang. Tapi, apa benar tidak akan terjadi apa-apa pada Adhi? bagaimana kalau Danial curiga dan mulai menghancurkan Adhi? Feli tidak merasa tenang. Dia harus bicara dengan laki-laki itu. Sekarang juga.


 

__ADS_1


"Kau dimana?"


Adhi menjawab telepon yang mengganggu kepergiannya dari rumah Rea setelah mengantar Ambar.


"Aku di mobil. Kau sudah sadar?"


"Iya"


Untunglah, Adhi merasa khawatir sejak tadi. Dia merasa tenang setelah mendengar suara halus Feli lagi.


"Sebaiknya kau beristirahat. jangan terlalu lelah"


"Iya. Tapi Dhi ... "


"Kau tidak perlu memikirkan hal lainnya. Aku bisa menjaga diriku sendiri"


"Tapi Dhi"


"Fel, kau harus sehat agar aku tidak mengkhawatirkanmu"


Meskipun khawatir terhadap Feli, seharusnya dia tidak melampiaskan kekesalan pada Ambar. Wanita itu hanya mencoba menghentikan kelakuan Danial. Setelah melewati lampu merah, Adhi memutar mobilnya kembali ke rumah Rea. Wanita itu pasti sedang duduk melihat kosong ke jalan, sendirian. Tapi, sesampainya di depan rumah Rea. Adhi tidak melihat keberadaan Ambar. Wanita itu tidak ada. Dia segera menghubungi Rea tapi tidak menerima jawaban yang diinginkannya. Rea juga tidak tahu kalau Ambar sudah ada di depan rumahnya.


"Sial"


Kemana wanita itu? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Ambar? Dia yang membawa wanita itu kemari. Merasa bertanggung jawab, membuat Adhi berlarian mencari wanita itu. Dia melihat sebuah taman di dekat jalan sekitar rumah Rea dan pergi kesana. Mengelilingi taman dengan harapan menemukan wanita dengan penutup kepala seharusnya mudah di London. Tapi dia belum menemukannya. Dan sebelum kembali lagi ke jalan rumah Rea, akhirnya dia melihat Ambar. Duduk dengan ponsel di telinganya. Wajah wanita itu tersenyum sedikit, tidak seperti saat berpisah dengannya tadi.


Lalu, wanita itu perlahan mengangkat tangan kirinya. Dan Adhi melihat kilauan di jari manis Ambar. Apa itu cincin? Cincin yang diberikan Kenzo pada wanita itu? Kalau Ambar memakainya apa itu artinya wanita itu menerima lamaran Kenzo? Kenapa? Bukankah Ambar mengatakan tidak mencintai siapapun dan tidak berniat menikah dulu? Dan kenapa dia tiba-tiba merasa kesal? Padahal itu bukan urusannya. Biar saja wanita itu menikah dengan Kenzo, mereka memang serasi.


Adhi tidak jadi menghampiri wanita itu dan kembali ke rumah Rea. Dia duduk di anak tangga rumah Rea dan teringat senyum yang ditunjukkan Ambar saat melihat cincin pemberian Kenzo.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya dia melihat sosok wanita yang dicarinya datang mendekat. Tapi, kalau diperhatikan baik-baik, tidak nampak kilauan cincin di jari kiri Ambar. Apa wanita itu mengenakannya di tangan kanan? Tidak ada saat Adhi melihatnya. Apa wanita itu batal memakai cincin dari Kenzo? Berarti Ambar tetap pada pendiriannya, tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Baru saja dia ingin bicara lebih banyak, wanita itu tiba-tiba menutup pintu rumah Rea di depan wajahnya. Sungguh tidak sopan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang dilakukannya hanyalah satu, pergi meninggalkan wanita itu dan kembali ke apartemennya.


 

__ADS_1


Ambar selesai mengemas semua baju yang baru dicucinya pagi tadi. Dia memasukkannya ke koper bersama semua baju yang tidak pernah keluar dari tempatnya itu. Lalu mulai mencari hotel untuk tempatnya menginap selama sisa harinya di London. tapi, pencariannya terhenti karena telepon ibunya. Dengan senang, Ambar menerima telpon dari ibunya dan merasa sedikit lebih baik. Apalagi sat mengetahui ayahnya juga ikut bicara dengannya di telepon. Sepertinya, semua yang terjadi hari ini tidak membekas di hati dan pikirannya. Selesai menelepon orang tuanya, Ambar memulai pencarian hotelnya lagi. Kali ini dia menemukan hotel yang tidak terlalu jauh dari rumah Rea, namun memiliki harga yang tidak terlalu buruk. Sebelum berangkat ke hotel yang dituju, dia menghubungi Rea terlebih dahulu. Menanyakan apakah hotel yang akan ditempatinya memiliki nilai yang baik.


"Oh boleh. Hotel itu boleh juga"


"Oke. Aku kesana sekarang ya. Mumpung udah siang nih"


"Tapi aku belum pulang Mbar"


"Gak apa. Aku cuman bawa satu koper ini"


"Iya deh. nanti aku kesana juga ya"


"Oke oke"


Ambar keluar dari rumah Rea setelah memastikan kamar tamu rapi kembali. Dia memanggil taksi seperti yang dilakukan oleh orang London dan memberikan alamat hotel pada supir. Cepat sekali dia sampai di hotel yang dicarinya lalu merasa kagum sekali lagi. Bangunan hotelnya mirip rumah Rea. Didominasi warna putih dan gaya Victoria. Tapi dengan ukuran yang lebih besar dan tinggi lagi. Dia masuk ke dalam dan menanyakan kamar yang baru saja di bookingnya.


"Nona Ramadhani?" tanya resepsionis.


"Iya"


"Baik.Ini kunci kamar dan seseorang akan membantu Anda mengangkat koper"


Untuk hotel bintang 3, ternyata Ambar puas sekali dengan pelayanan awal yang ditawarkan. Sepertinya mereka tidak keberatan menerima tamu berhijab sepertinya. Tapi dia terlalu cepat gembira. Karena tiba-tiba booking kamarnya dibatalkan begitu saja.


"Why?" tanyanya penasaran.


"Kami belum menyiapkan kamar yang Anda inginkan" kata resepsionis itu lalu mengambil kembali kunci dari tangan Ambar.


"I dont mind to wait"


"Maaf, tapi kami tidak bisa menyediakan kamar untuk Anda di hotel ini"


Tentu saja Ambar bingung dengan perubahan sikap yang sedang terlihat jelas di depan matanya itu.

__ADS_1


"Why?"


"Karena hotel ini adalah milikku. Dan tamu sepertimu tidak bisa menginap disini" kata seseorang dengan suara dan sikap sombong. Lalu, Ambar mulai mengerti alasan dia tidak diterima di hotel ini. karena Danial dan dua pengawalnya datang kesana. Tidak tahu benar atau tidak,. tapi Danial mengatakan hotel itu miliknya. Setelah membuat kesal putra pertama keluarga Syahreza itu, Ambar tahu tidak akan bisa melawan dan menang dengan laki-laki suka menyelidiki itu. Jadi dia memberikan kunci kepada resepsionis dan melangkah pergi dari hotel berpintu merah itu.


__ADS_2