Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Dua Puluh Tiga


__ADS_3

"Ayah sama ibu gak akan minta kamu ketemu siapa-siapa lagi. Tapi ibu minta makan di restoran mewah"


"Apa?"


"Iya. Ibu juga pengen makan di tempat kayak di sinetron tuh. Di hotel mewah"


Ambar mendesah. baru kali ini dia mendengar ibunya memiliki keinginan yang aneh. Makan di restoran mewah. padahal ibunya tidak pernah mau kalau diajak makan di kafe atau restoran biasa. Sayang duitnya. Tapi kali ini ... . Pasti gara-gara Ambar gagal perjodohan waktu itu.


"Boleh. Kapan?"


"Siang nanti"


"Boleh. Ambar nanti siang jemput ayah sama ibu buat makan disana"


"Gak usah. Ayah sama ibu bisa berangkat sendiri"


"Tapi Bu. Bukannya lebih enak Ambar jemput"


"Gak usah. Kamu meremehkan karena ayah sama ibu udah tua gitu ya?"


"Bukan"


Duh, kenapa sekarang Ambar merasa bersalah seperti ini?


"Tunggu aja kamu di hotel itu. Ayah sama ibu bakal datang ke restorannya"


"Ambar tunggu di depan hotel aja ya. nanti masuk bareng"


"Gak usah. Ibu bisa masuk sendiri"


"Ibu!" teriak Ambar tidak tahan lagi.


Sejak gagalnya perjodohan terakhir, kondisi di rumah sungguh menyesakkan untuk Ambar. Kedua orang tuanya tidak mau bicara. padahal Ambar sudah menjelaskan dengan baik apa yang diinginkannya tentang pernikahan.


"Kamu berani bentak Ibu!!"

__ADS_1


"Gak. Maaf. Ambar minta maaf. Tapi Ambar tunggu di depan hotel ya. Terus kita masuk sama-sama"


"Terserah kamu" potong ayahnya menyelesaikan masalah.


Ambar bersyukur akhirnya bisa berangkat kerja dengan tenang. Dia tidak menyangka ibunya bisa bersikap seperti ini hanya karena perjodohannya yang gagal.


Ambar segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum pukul sebelas siang lalu pergi ke hotel H. Sesuai janjji, Ambar menunggu di lobi hotel tapi sudah memesan tempat untuk dia makan siang dengan orang tuanya. Menit demi menit berlalu dan Ambar mencoba menghubungi ibunya.


"Assalamualaikum. Ibu dimana?"


"Wallaikum salam. Diluar hotel"


Ambar menyisir semua sudut luar hotel dan tidak menemukan sosok ayah dan ibunya. Hanya seorang pria yang tampak mencari seseorang, sama dengannya.


"Gak ada Bu. Ibu dimana?"


"Ada cowok pake jas warna putih"


Ha?? Tunggu. Ambar melihat kembali seorang pria yang sedang melihat ke sana kemari itu. Pria itu juga mengenakan jas berwarna putih, mencolok sekali. Ternyata ayah dan ibunya belum menyerah dengan perjodohan.


Belum selesai bicara, ada nada telepon ditutup dari seberang sana. Bagaimana ini? Dia sudah terlanjur memesan tempat di hotel ini. Tapi dia tidak ingin melakukan perjodohan lagi. Dengan menahan kesal, Ambar mendekati pria yang masih melihat ke kanan dan kiri itu.


"Anda?" sapanya lalu pria itu melihatnya.


"Oh. Kamu ... Ambar?"


"Iya"


"Kata Ratih, kamu mau traktir makan di hotel"


Oh, ternyata kenalan Ratih lagi. Kenapa temannya itu selalu membuatnya kesal sampai seperti ini? Sepertinya dia harus mulai mempertimbangkan keuntungan berteman dengan Ratih.


"Gak bisa. Aku sibuk tapi sudah pesen tempat. Kalau mau makan Anda masuk saja sendiri"


"Apa? Gila bener. Siapa yang mau bayar? Mending aku makan ayam pinggir jalan. Gile Lu"

__ADS_1


Semua ejekan kini telah diterima oleh Ambar. Mulai dari tua, jelek, miskin, tidak berpendidikan dan gila. Sungguh, kenapa semua pria yang direkomendasikan oleh Ratih seperti ini? Syukurlah pria itu pergi meninggalkannya tanpa banyak bicara lagi.


Ambar kembali ke restoran dan ingin membatalkan reservasi saat hidungnya mencium sesuatu yang familiar. Jantungnya segera berdetak dengan kencang dan matanya mencari keberadaan seseorang yang lama tidak pernah dilihatnya lagi. Seseorang yang walaupun ingin dilupakannya tapi tidak terlupakan. Seseorang yang ingin disingkirkannya tapi tidak tersingkir. Seseorang yang membuatnya merasa bersalah sampai tidak ingin menikah sama sekali.


"Itu ... " kata Ambar saat akhirnya melihat cowok itu. Cowok yang penampilan, suara bahkan baunya sama seperti dalam ingatannya.


Cowok itu sedang berbicara dengan orang lain. Sepertinya rekan bisnis atau temannya. Dan mereka menggunakan bahasa Inggris yang kental. Ternyata, cowok itu baik-baik saja, pikir Ambar dalam hati. Dia sempat khawatir saat Kenzo memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berhenti dari pekerjaannya. Meninggalkan Bos-nya yang katanya dalam keadaan tidak beres. Tapi ... kekhawatirannya tidak terbukti. Cowok itu benar-benar sama dengan dulu, tidak berubah. Dan lagi, kelihatannya cowok itu dekat dengan wanita yang ada di sampingnya. Apa mereka? Dada Ambar perlahan sakit dan dia merasa pusing sekali.


"Anda baik-baik saja?" tanya pegawai restoran.


"Saya, mau membatalkan reservasi"


"Atas nama?"


"Ambar Ramadhani" katanya dengan suara kecil. Takut ada orang lain yang mendengarnya.


"Baiklah. Apa Anda membutuhkan bantuan?"


"Tidak. Terima kasih"


Ambar berhasil masuk ke dalam mobil dan menahan rasa pusing di kepalanya. Dia meletakkan kepalanya di atas kemudi dan tidak tahu kenapa mulai menangis. Apa sebenarnya yang dipikirkan AMbar? Kenapa dia merasa sesakit ini? Apa dia pikir cowok itu akan menderita selamanya karena kematian Feli? Apa dia pikir cowok itu tidak akan pernah melupakan Feli dan juga dirinya? Kenapa dia berpikir seperti itu? Kenapa dia masih bisa mengingat semua hal tentang cowok itu? Kenapa dia masih menyimpan perasaan pada cowok itu setelah semua yang terjadi?


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" umpatnya lalu memukul kemudi sampai pergelangan tangannya terasa sakit.


Kenapa dia masih mengingat seseorang yang sudah melanjutkan hidupnya? Kenapa juga dia memilih jalan seperti ini? Kenapa juga dia menyiksa dirinya sendiri seperti ini? Terkurung dalam rasa bersalah disaat semua orang telah berjalan maju dan tidak melihat ke belakang lagi. Apa sebenarnya yang diharapkannya? Apa?


Ambar membawa mobilnya cepat pergi dari pelataran hotel dan menuju ke tokonya. Dia berjalan masuk tanpa menyapa dua pegawainya lalu berbaring di sofa ruangannya.


"Kak Ambar, kenapa?" tanya pegawainya yang mungkin khawatir.


"Aku pengen tidur. Kalian kalo mau pulang, pulang aja"


Ambar tetap tidak melihat ke arah dua pegawai yang datang memeriksa keadaannya dan mulai menutup mata.


"Baik kak"

__ADS_1


Ambar hanya ingin tidur sekarang. Hanya tidur.


__ADS_2