
Turun dari mobilnya, Ambar melihat sebuah cafe yang terlihat sangat terang di depannya. Cafe yang terlihat mahal dengan tempat duduk seperti yang ada di lobi hotel mewah. Apa benar dia diajak ke tempat sperti ini? Bagaimana kalau harga minumannya mahal? Apa dia juga harus patungan bayar nanti? Ragu-ragu, Ambar masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pelayan perempuan cantik dengan rambut digelung dan dress hitam selutut.
"Selamat malam. Apa Anda sudah reservasi?"
Reservasi? Di cafe ada sistem reservasi. Kerennnn, pikir Ambar lalu menyebut nama Galih.
"Saya akan mengantar Anda"
Sopan banget. Waduh, kayaknya bener firasat Ambar kalau tempat ini makanan sama minumannya mahal.
"Terima kasih"
Ambar berjalan di belakang mba-mba cantik dan melihat seorang laki-laki dengan kemeja putih dan celana hitam. Wajahnya seperti orang yang Jawa banget, dan kesan pertama Ambar tentang laki-laki ini adalah
'Kok kayak mau ngelamar kerja ya'
"Assalamualaikum" sapa Ambar setelah sampai di meja tempat Mas Galih duduk.
"Wallaikumsalam. Aku Galih"
"Iya ... saya Ambar"
Dengan canggung, Ambar duduk di kursi depan laki-laki yang baru ditemuinya itu.
"Apa kabar?" tanya Mas Galih
"Baik"
"Sudah makan?"
"Apa? Eh ... belum"
"Kita pesen makan dulu"
Ambar melihat laki-alki d depannya memanggil pelayan dan mulai memesan makanan. Disaat itu, Ambar melihat-lihat ke setiap sisi cafe dan merasa kalau tempat ini ditata dengan sangat baik. Pemiliknya pasti kaya. Dan di salah satu sisi cafe, Ambar melihat dua pria yang seperti dikenalnya. Tungu, bukannya itu Kenzo? Sama Bosnya? Kok mereka ada disini? Kedua pria itu kebetulan juga sedang melihatnya ... dengan tatapan tajam. Apalagi Kenzo, dari kerutan dan mulutnya yang meruncing, Ambar tahu kalau temannya itu marah.
"Sebentar ya Mas, saya mau nyapa temen dulu" pamit Ambar lalu berdiri dan berjalan ke arah teman juga cowok yang ditemuinya di Bandung itu.
"Wah ... wah ... wah. Siapa ini?" Ambar tahu kalau dari nada suaranya, Kenzo merasa kesal dengannya sekarang. Tapi dia berusaha untuk tenang, apalagi berhadapan dengan cowok yang pernah ... . Tidak Ambar sudah melupakan kejadian memalukan itu. Tidak ada baiknya mengingat hal itu terus menerus.
"Lho, Kok Kenzo sama Bos ada disini?" sapanya dengan ceria, menutupi rasa tidak tenangnya.
"Kayaknya aku yang mesti kaget. Ketemu kamu disini, sama siapa tuh?"
"Apa sih Ken!"
"Katanya kamu gak akan pernah makan sama cowok lain. Terus apa ini?"
Eh, kapan Ambar pernah mengatakan hal itu pada temannya ini?
"Aku bilang gitu?"
"Iya. Kamu cuma bisa makan sama aku kan?"
"Hah?"
Ambar memang sudah tahu perasaan Kenzo padanya. tapi Kenzo tidak tahu kalau Ambar tahu. Jadi, sebaiknya dia pura-pura bodoh dan tidak menganggap kalau Kenzo bicara serius.
"Kamu ya!!" Kenzo marah. Benar-benar marah. Sebaiknya AMbar segera kembali ke tempat duduknya sebelum Kenzo membuat masalah dengan pertemuannya dengan Mas Galih.
"Udah ya. Aku kesini mau makan. Eh, cafe ini bagus banget. Iya kan?"
"Huh, pengalihan"
__ADS_1
"Eh bener lho. Cafe ini mirip banget sama restoran mewah, keren"
"Bos yang punya"
"Ha?"
"Bos yang punya"
Kali ini Ambar berani melihat cowok dengan mata biru itu.
"Cafe ini, punya Bos?"
"Iya" jawab cowok yang ... dicari keberadaannya oleh Ambar di hotel Minggu kemarin.
"Wah, saya pikir Bos cuma bisa punya cafe biasa. Ternyata cafe yang selevel ini?"
"Apa maksudmu?"
"Maaf, saya harus kembali dulu"
Ambar segera meninggalkan Kenzo dan cowok bermata biru itu lalu kembali duduk di depan Mas Galih.
"Maaf"
"Kau mengenal mereka?" tanya Mas Galih lalu melihat ke arah dua laki-laki itu.
"Iya, temen"
"Oh, aku udah pesen makan tapi gak tau kamu suka apa gak"
"Iya. makasih"
Saat Ambar mengira pertemuan pertama dengan laki-laki yang dikenalkan oleh ayahnya ini berakhir canggung, dia salah. Ternyata, obrolan mereka mengalir begitu saja. Ambar merasa senang karena tidak terlalu gugup untuk berbicara dengan laki-laki ini. Dan kelihatannya Mas galih juga merasakan hal yang sama. Acaran perkenalan mereka selesai setelah makan malam yang enak itu habis. Mas Galih menawarkan tumpangan di mobilnya untuk pulang, tapi Ambar menolak dengan halus. karena dia juga membawa mobil untuk kemari.
"Iya"
"Assalamualaikum"
"Waallaikumsalam"
Ambar melihat mobil Mas Galih pergi dari tempat parkir cafe lalu berbalik dan mencoba mencari seseorang di dalam cafe.
"Kau mencari Kenzo?" tanya seseorang yang muncul dari dalam cafe.
"Iya"
"Aku menyuruhnya pulang. Dia akan membuat masalah kalau lebih lama disini"
Ambar menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah karena apa yang sedang Kenzo alami. Tapi dia tidak tahu kalau cafe ini sebenarnya tempat kerja temannya itu.
"Ini ... cafe Anda?"
"Iya"
"Saya tidak pernah tahu"
"Kalian berteman lama. Apa kau tidak pernah bertanya?"
"Saya tahu Bos memutar haluan sebagai pemilik cafe. Tapi ... selama enam tahun ini saya tidak pernah tahu bagaimana tempat kerja Kenzo"
"Ternyata kau bukan teman yang baik"
Ambar tersenyum sinis karen akomentar seperti itu. Tapi itu benar. Dia mungkin bukan teman yang baik bagi Kenzo. Karena selama ini Kenzo yang selalu datang ke tempat kerjanya, bukan sebaliknya.
__ADS_1
"Lebih baik saya pulang sekarang. Terima kasih, pelayanan di cafe Anda sangat bagus"
"Aku akan senang kalau kau sering kemari"
"Wah, saya bisa bangkut kalau itu terjadi"
"Tidak akan"
"Bagaimana bisa, harga kopi satu cangkir saja membuat saya tidak bisa menelan dengan mudah"
Ambar menutup mulutnya yang memberi komentar sembarangan. Dia harus mengingat lagi kalau cowok yang ada di depannya ini pemilik cafe tempat Kenzo bekerja. Tiba-tiba terdengar tawa dari depannya. Cowok bule itu tertawa? Baru kali ini Ambar melihat cowok itu tertawa.
"Kau sangat jujur. Aku menyukainya"
Apa cowok itu baru saja bilang menyukai Ambar? Tidak mungkin kan. Apa Ambar salah dengar? Pasti salah dengar. Seorang pangeran kedua keluarga kaya raya yang memiliki kesempurnaan rupa tidak mungkin menyukai Ambar.
"Ha ... lebih baik saya pulang sekarang"
Ambar harus segera pergi dari tempat parkir ini dan kembali ke kenyataan. Dia tidak boleh terlena hanya karena perkataan seperti itu. Itu keinginannya, tapi cowok itu memiliki rencana lain.
"Aku akan memberimu kopi yang tidak akan membuatmu tersedak"
"Apa? Tidak perlu, saya hanya bercanda"
"Aku tidak. Aku ingin bicara denganmu ... lebih lama lagi"
Kenapa? Kenapa detak jantung Ambar sekarang terasa lebih cepat dari biasanya. Apa dia akan menyetujui ide cowok ini untuk tinggal lebih lama disini? Atau pulang dan tidak akan pernah bermimpi mengalami sesuatu seperti ini lagi?
Akhirnya Ambar memilih untuk tinggal disitu lebih lama. Bos Kenzo mengajaknya ke lantai paling atas cafe dan melihat pemandangan kota yang indah dari sana.
"Wah ... keren" komentarnya sesaat mereka sampai di atap cafe yang sepertinya akan dirombak.
"Aku memilih untuk membangun tempat ini tiga lantai karena itu"
"Pilihan yang bagus, tapi ... semua ini?" tanya Ambar lalu menunjuk tumpukan bahan bangunan di beberapa sisi atap.
"Aku akan membuat tempat makan rooftop disini"
"Dengan pemandangan itu, Semua orang pasti akan berebut untuk duduk disini"
"Yah, aku mengharapkan hal itu"
Ambar melihat lagi pemandangan yang tersaji jauh disana tapi terasa bisa diraih begitu saja. Dia tidak salah memilih untuk tinggal lebih lama di tempat ini.
"Apa kau tahu tentang acara di London?" tanya cowok bule itu merusak suasana hati Ambar yang tenang.
"Apa?"
"Apa kau tahu tentang acara di London?"
"Bridal shower Feli, maksud Anda?"
"Ternyata kau tahu. Itu semakin mempermudahkanku"
"Ha?" Ambar tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka yang tiba-tiba berubah haluan ini.
"Aku juga akan ada di acara itu, jadi ... persiapkan dirimu menjadi kekasihku dengan sebaik-baiknya"
"Ha???"
Ambar terkejut. Dia tidak pernah mengira liburan ke London yang sudah dibayangkannya sejak Minggu lalu tiba-tiba rusak dengan mudahnya.
"Belajarlah memanggilku sayang dan aku akan memperlakukanmu dengan baik"
__ADS_1
"Ha???"