Second Lead Fate

Second Lead Fate
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Ambar bangun keesokan harinya dalam keadaan yang kurang baik. Rasa pusing di kepala masih menyiksanya sama seperti sebelum tertidur semalam. Dia tidak merasa baik untuk berangkat bekerja. Tapi, tetap di rumah dan bertemu dengan ayahnya, semakin membuatnya tidak nyaman. Dengan menahan rasa sakit di kepalanya, Ambar segera berangkat ke toko, tanpa makan apapun. Sesampainya di toko, dia berjalan dengan goyah dan memilih untuk duduk di bawah. Ambar melihat ke arah tumpukan kotak yang siap dikirm ke rumah Feli, juga pesanan orang lain berserakan di sekitarnya. Banyak sekali pekerjaan yang harus dia tangani hari ini. Belum lagi menjalankan media sosial untuk pemesanan souvenir hasil tokonnya. Ingin sekali Ambar melepas tanggung jawab dan tidur saja, namun tidak bisa. Bagaimanapun, dia adalah pemilik toko dan harus menunjukkan etos kerja yang baik pada dua pegawainya.


Tepat pukul delapan pagi, dua pegawinya daang secara bersamaan dan melihat ke arah wajah Ambar.


"Kak Ambar kenapa? Kok pucet banget"


"Iya. Kak Ambar sakit perut?"


"Gak. Udah ini dilanjutkan. pastikan pengiriman kotak Feli untuk besok"


"Baik kak. Tapi bener deh, muka kak Ambar pucet banget"


"Iya, mending kak Ambar ke atas, tidur sebentar"


Rasa sakit yang semakin menyiksa kepalanya akhirnya berhasil membuat Ambar menyerah.


"Baik. Aku tidur dulu"


Ambar berjalan dengan sempoyongan ke atas dan berbaring di sofa ruangannya. Kenapa kepalanya seperti ini? Padahal Ambar selalu menjaga kesehatannya dengan baik. Apa semua ini karena paksaan ayahnya untuk menikah? Ambar tidak ingin lagi berpikir tentang itu dan memilih menutup mata.


Tidak tahu berapa lama dia tertidur, sesuatu membuatnya terbangun. Suara gemerisik yang perlahan berhenti dan terasa ada seseorang di dalam ruangannya. Ambar ingin segera membuka mata tapi dia batalkan karena mendengar suara Kenzo. Untuk apa dia melayani kedatangan anak yang membuatnya bertengkar dengan ayahnya itu.


"Wah, tepar ya kamu akhirnya?" kata Kenzo membuat Ambar sedikit tersenyum. Yah, dia memang terlalu sibuk akhir-akhir ini dan tidak memiliki waktu tidur yang cukup. Mungkin itu sebab kepalanya sakit sekali sejak semalam. Tanpa harus membuka mata, Ambar tahu kalau Kenzo tidak meninggalkannya dan duduk di depannya. Tidak tahu kenapa anak ini tetap bertahan disini. Hening selama beberapa menit, membuat AMbar penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Kenzo. Lalu, sesuatu datang tiba-tiba dan Ambar tidak pernah sekalipun membayangkannya.


"Aku ... suka sama kamu Mbar"


Apa? Apa yang baru saja Ambar dengar?


"Aku suka kamu sudah lama. Tapi ... gak mungkin kamu mau sama aku"


Ambar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kenzo ... menyukainya? Tidak mungkin. bagaimana bisa? Selama ini Kenzo selalu menjadi orang pertama yang mengoreksi kejelekan tubuh dan penampilan Ambar. Kenzo juga punya beberapa pacar yang telah tersentuh selama mereka menjalin hubungan. bagaimana bisa orang seperti itu menyukai Ambar? Apa ini prank dari Kenzo?


"Mbar. Apa kamu mau nerima aku yang seperti ini?


Tentu saja Ambar tidak menjawab pertanyaan Kenzo itu. Dia harus selalu mengingatkan pada dirinya sendiri kalau sedang berpura-pura tidur saat mendengar semua itu. Kalau tidak, dia akan merasa sangat bersalah pada Kenzo. Tapi ... sekali lagi, semua ini tidak mungkin. Kenzo, teman yang selalu bersamanya menjalani kesusahan dan kesenangan bersama. ternyata menyukainya. Ini pasti main-main.


Saat Ambar tidak dapat lagi menahan posisi tidurnya, terdengar suara pintu terbuka. Akhirnya ... Kenzo pergi meninggalkannya. Perlahan, mata Ambar terbuka dengan was-was, takut kalau perkiraannya salah dan Kenzo berada di dekatnya. Tapi tidak. Kenzo memang sudah keluar dari ruangannya, meninggalkan penasaran pada diri Ambar. Apa yang harus dilakukannya setelah ini? Ternyata, peringatan dari ayahnya ada benarnya juga. Ambar sebaiknya menjauh sejenak dari Kenzo dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Dan saat itu datanglah seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Kak Ambar. Apa kak Ambar sudah bangun?"


Untunglah yang datang ke ruangannya adalah salah satu pegawainya. Kalau saja yang mengetuk pintunya Kenzo, Ambar pasti kembali dalam posisi tidurnya.


"Sudah. Masuklah!"


"Kak. Apa kak Ambar gakpapa?"


"Iya Gak apa-apa kok"


"Alhamdulillah kalo gitu"


"Ada apa?" tanya Ambar lalu berdiri dan memperbaiki baju yang sedang dipakainya.


"Ini sudah sore. Apa kak Ambar gak makan dulu?"


Ambar melihat langit dan menyadari bahwa matahari mulai bersinar kemerahan. Dia melihat jam dan terkejut karena tertidur sangat lama sekali.


"Kalian gak pada pulang?" tanyanya pada pegawainya.


Oh, iya. Pantas saja perut Ambar sekarang terasa kosong sekali dan minta diisi.


"Gak usah kuatir. Kalian pulang aja, nanti kemalaman sampe rumah!"


"Tapi, kak. Tadi Pak Kenzo sempet kesini terus mesenin kita makan sebelum pulang"


Ambar terdiam, dia hanya bisa melihat ekspresi senang di wajah pegawainya. Biasanya mungkin Ambar juga memiliki ekspresi seperti itu tapi sekarang tidak lagi. Dia merasa bingung akan pernyataan suka yang tidak diduganya.


"Kalo gitu, kita makan sama-sama aja dulu sebelum pulang"


"Oke kak. Kita siapin dulu makanannya dibawah"


Ambar mengangguk lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam ruangannya untuk wudhu. Ini sudah sore, sebaiknya dia sholat dulu sebelum makan.


Makanan yang dipesan Kenzo ternyata adalah bebek dan ayam panggang. Salah satu makanan kesukaan Ambar yang sering dimintanya sesaat setelah Kenzo menerima gaji. Seharusnya dia tidak meminta teman bodohnya itu untuk mengajaknya makan setiap bulan. Seharusnya dia tidak terlalu sering menerima kedatangan Kenzo di rumah ataupun kantornya begitu saja. Seharusnya dia lebih berhati-hati.

__ADS_1


 


Di sudut lain kota, ada seseorang yang juga menerima kunjungan kejutan. Adhi melihat perempuan yang ada di depannya dan membuang muka lagi ke arah jendela. Hanya itulah yang bisa dilakukannya, karena tidak tahu harus melakukan atau berkata apa.


"Untunglah kalau kondisi kamu semakin baik Dhi" kata perempuan yang tidak beranjak dari tempatnya sejak masuk ke dalam kamar rawat ini.


"Yah. Apa Danial sudah kembali ke Inggris?"


Dia harus selalu mengingat nama kakaknya karena berhadapan dengan perempuan ini.


"Iya, kemarin.Apa ... Ambar gak kesini hari ini?"


Oh iya, wanita itu. Seharusnya Adhi segera menghubungi Ambar saat Feli datang, tapi kelihatannya sudah terlambat.


"Dia masih bekerja" jawab Adhi singkat.


"Oh iya. Apa hubungan kalian baik-baik saja?"


Apa? Kenapa perempuan ini bertanya seperti itu? Adhi menatap perempuan yang masih terlihat cantik di matanya itu dengan heran.


"Maksudku ... "


Sial. Di saat seperti ini seharusnya perempuan itu hadir di sisinya. Tapi Feli terlihat pucat. Kulit putih itu kini tampak tak bercahaya seperti biasanya. Pasti ada yang terjadi.


"Apa ada kau kemari?"


"Adhi, apa benar kau menyukai Ambar?"


Adhi mendongak, berusaha mencari alasan perempuan ini bertanya seperti itu. Rupanya benar firasat Adhi, Feli kelihatannya mencari cara untuk bisa terlepas dari pernikahan. Ingin sekali Adhi menjawab tidak lalu merengkuh Feli ke dalam pelukannya. Mencium bibir kecil dan mengecup setiap jengkal tubuh perempuan ini. Tapi Adhi telah memutuskan untuk menjauh. Jadi ... sebaiknya dia menghapus impiannya dan menetapkan hati.


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku mencintai kekasihku"


Mendengar jawaban Adhi, membuat wajah Feli semakin pucat.


'Maaf, tapi semua ini kulakukan untukmu dan keluargamu' kata Adhi dalam hati.


 

__ADS_1


Feli merasakan hatinya yang berubah menjadi kepingan saat mendengar laki-laki yang disukainya menyatakan cinta pada perempuan lain. Dia datang ke rumah sakit dengan harapan mendapatkan hati laki-laki yang selalu bersamanya dalam susah maupun suka. Tapi ... kini sepertinya harapannya akan musnah begitu saja. Karena laki-laki itu tidak lagi menyukainya. laki-laki itu telah melabuhkan cintanya pada Ambar.


__ADS_2