Second Lead Fate

Second Lead Fate
Empat Puluh Dua


__ADS_3

Ambar menghampiri Ratih yang kelihatan masih menangis dan berusaha menenangkan teman masa kecilnya itu.


"Kita pulang aja ya"


Ratih tidak menjawab, hanya bisa mengikuti langkah Ambar menuju mobil. Sebelum keluar dari tempat parkir, Ambar menoleh dan melihat cowok yang tadi bertemu dengannya masih berada di tempat yang sama. Berdiri dengan tegaknya dengan kemeja abu dengan kancing atas terbuka. Dan jas cowok itu masih membungkus hangat tubuh Ambar sampai sekarang.


"Mbar, aku bakal cerai lagi" kata Ratih lalu lanjt menangis. Ambar hanya bisa menarik napas panjang, berusaha simpati dengan jalan hidup pernikahan temannya yang penuh dengan cerita tidak menyenangkan.


"Kamu bicara dulu sama suami kamu lagi aja Tih. Sebelum mutusin apa-apa" kata Ambar berusaha menenangkan.


"Kalo cewek aku bisa saingan Mbar. Tapi ini kan" Ratih kembali menangis dan Ambar tidak berani berkomentar apa-apa lagi.


Mereka berdua sampai di halaman rumah Ambar sekitar pukul tiga pagi. Sebelum keluar dari mobil, Ambar ingat untuk melepas jas Bos Kenzo. Dia tidak mungkin masuk ke dalam rumah dengan jas pria bertengger di pundaknya.


"Aku mau nginep disini boleh Mbar?"


"Ha? Kan rumah kamu deket"


Meskipun Ambar merasa simpati pada Ratih, tapi anak-anak temannya itu pasi mengkhawatirkan ibunya.


"Aku gak mau keliatan kayak gini"


Sebelum Ambar bisa menjawab, ibunya keluar dari rumah dan bicara.


"Kamu tidur di rumah kamu sendiri aja Tih. Kasihan anak-anak kamu nunggu dari tadi"


"Lho Budhe belum tidur?"


"Gimana Budhe bisa tidur kalo Ambar belum pulang"


"Iya deh. makasih udah nganter ya Mbar"


"Iya."


Ratih akhirnya pulang ke rumahnya yang berjarak kurang lebih sepuluh meter. Ambar dan ibunya juga melangkah masuk ke dalam rumah.


"Gimana sama suami Ratih?"


"Udah ketemu Bu"


"Terus?"


"Gak tau. Tapi Ratih terus bilang mau cerai"


"Ya ampun. kasihan banget tuh anak. Suami pertamanya selingkuh sama anak SMP. Sekarang ... "


"Ambar pengen lanjut tidur Bu. Mumpung masih jam segini"


"Iya. Kamu tidur aja sekarang"


Ambar naik tangga ke kamarnya lalu merebahkan dri di atas kasurnya yang hangat. Tapi tidak sehangat jas yang diberikan oleh cowok itu. Mungkin bahannya beda harga, makanya kualitasnya juga jauh, pikir Ambar berusaha menghilangkan pikiran yang lain.

__ADS_1


Tapi tidak bisa. Dari tadi dia terus saja berpikir kalau Bos Kenzo berlaku aneh. Cowok itu marah karena Ambar ada di klub malamnya. Cowok itu juga tiba-tiba memberinya jas hanya untuk melindungi Ambar dari hawa dingin dini hari. Ambar merasa bingung, sebenarnya cowok itu berpikir seperti apa? Apa marah atau khawatir? Ambar tidak mengerti. Sebaiknya dia tidur saja  karena malam ini sungguh melelahkan, pikir Ambar.


Paginya, Ambar bangun sedikit terlambat. Dia buru-buru sholat subuh dan pergi ke bawah untuk membantu ibunya mencuci baju.


"Kamu gak masih ngantuk?"


"Gak Bu"


Ambar segera perg ke belakang rumah dan mulai memasukkan baju ke dalam mesin cuci, saat ponsel yang dibawanya di dalam celana berbunyi. Dia segera mengangkat karena berpikir itu dari salah satu pemesan souvenir.


"Assalamualaikum"


Tidak ada balasan salam atau apapun dari si penelepon.


"Halo. Apa ada yang bisa dibantu?"


"Jam berapa kau sampai rumah?"


"Ha?"


Ambar berhenti memasukkan baju ke dalam mesin cuci dan melihat nama Bos Kenzo di layar ponselnya. Untuk apa cowok itu menghubunginya pagi-pagi begini? Dan lagi bertanya tentang jam berapa dia sampai rumah. Apa Ambar harus menjawabnya?


"Apa kau tuli?"


"jam tiga pas" Akhirnya Ambar menjawab karena tidak ingin terus mendengar ejekan dari mulut cowok bule itu.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Iya"


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya cowok itu setelah diam.


"Nyuci"


"Jasku?"


"Ha?"


"Apa kau mencuci jasku?"


"Oh. Gak. Emangnya harus dicuci?"


"Kembalikan saja jasku kalau kau tidak mencucinya"


"Apa? Bukannya katanya gak usah dikembalikan?"


"Harganya lebih dari pendapatanmu setahun"


"Ha???" teriak Ambar kaget. Pantas saja bahannya sangat hangat dan halus. Ternyata memang benar mahal.


"Bawa ke apartemenku!"

__ADS_1


"Lho, gak ke cafe yang kemarin aja?"


"Bawa ke apartemenku"


"iya ... iya" Dasar cowok pemaksa. Ambar memang tidak bisa menang melawan cowok itu.


"Kutunggu sampi jam sembilan"


"Saya masih harus nyuci, masak, mandi, siap-siap"


Belum selesai Ambar menjabarkan kegiatan yang harus dilakukannya pagi ini, terdengar suara telepon yang putus begitu saja. Sial sekali Ambar bertemu dengan cowok itu. memang tidak ada baiknya bertemu dengan cowok itu. Baru saja Ambar bersyukur dapat bantuan dari cowok itu saat di klub. Kini dia menarik lagi pujiannya.


Ambar melakukan semua pekerjaan paginya dengan kecepartan super. Sampai ibunya terkejut melihat sarapan super sederhana berupa telur dadar ddi atas meja yang ditinggal begitu saja.


"Lho, kamu gak makan dulu Mbar?"


"Gak sempet Bu. Nanti aja"


Ambar hampir saja terjatuh karena berlari ke mobilnya yang baru saja beristirahat hanya selama beberapa jam. Ini jam delapan pagi, sebaiknya dia cepat mengembalikan jas lalu membuka toko. Tapi tunggu, memangnya Ambar tahu apartemen cowok itu? Yang dia masih ingat adalah apartemen kecil seperti kandang babi di pusat kota enam tahun lalu. terus sekarang cowok itu tinggal di apartemen yang mana? melihat cafe dan klub malamnya yang ramai, sepertinya tidak mungkin cowok itu masih memilih apartemen kecil untuk tinggal. Lalu, bagaimana sebaiknya ini? Ambar memegang jas yang lembut dan hangat itu lalu memutuskan untuk mengikuti instingnya. Tidak mungkin dia bertanya ke Kenzo tanpa menimbulkan banyak pertanyaan nantinya. Ambar berangkat menuju apartemen pusat kota yang samar dalam ingatannya. Setelah berputar-putar beberapa kali, akhirnya dia berhenti di sebuah bangunan apartemen yang sama dengan enam tahun lalu. Dia mengingat apartemen iuni karena berseberangan dengan minimarket tempat dia membeli alat kebersihan saat itu.


Tapi dia lupa lantai dan nomor kamar cowok bule itu. terpaksa Ambar menghubungi Bos Kenzo dan bertanya tentang masalah nomor kamar.


"Lantai lima, nomor 2942" jawab cowok itu singkat lalu menutup telepon begitu saja. Ambar ingin sekali mengumpat tapi ditahannya. Dia segera pergi ke kamar yang dimaksud lalu menekan bel. Pintu terbuka dan seperti kembali ke masa lalu, Ambar melihat ruangan yang sama dengan enam tahun lalu. Dia ingat tiap detail ruangan apartemen itu karena pernah membersihkannya dalam waktu lama. Bagaimana bisa tempat ini sama seperti yang ada dalam ingatannya?


"Mana jasku?" Terdengar suara dalam yang membuat bahu Ambar otomatis naik. Dia berbalik dan di depannya ada cowok memakai kaos berwarna hitam dengan celana coklat. karena kaos itu, Ambar bisa melihat tonjolan otot yang ada di lengan Bos Kenzo.


'Besar sekali. Pasti kalo angkat galon gampang banget' pikir Ambar agak melenceng. Padahal dia merasakan sesuatu di perut bawahnya. Ambar mengangkat tas kertas yang ada di tangannya dan menyodorkannya pada Bos Kenzo.


"Ini. Saya pergi dulu kalo gitu"


"Siapa yang memperbolehkanmu pergi?"


"Ha?" Ambar tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Cowok ini melarangnya pergi? Kenapa?


"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"


Antara ingin menjawab dan berusaha memahami pertanyaan, Ambar memilih diam saat ini. Dia tidak tahu harus berpikir seperti apa sekarang. Tidak mungkin kalau terjadi sesuatu yang bururk padanya kan?


"Saya cuma mengantar jas"


"Kau datang sendiri kemari?"


"Iya"


"Bagus. Kalau begitu tidak ada yang tahu"


"Ha?"


"Sekali lagi kau menggunakan kata dua huruf itu lagi. Aku akan merobek baju yang kau pakai dan ... "


"Aaaaahhhhhhhh!!!!" teriak Ambar kuat-kuat. Dia tidak ingin berpikir ke arah situ. Dia tidak mau.

__ADS_1


__ADS_2