
Rea menjadi satu-satunya pengiring pengantin perempuan yang masuk ke dalam kapel pagi itu. Dia tidak menjadikan hal itu sebuah masalah besar karena memang menghormati cara beribadah Ambar. Toh, dengan tamu yang super sedikit itu sepertinya kehadiran pengiring pengantin akan dapat dilupakan begitu saja. Sebelum Feli berjalan menuju altar, dia yang pertama melihat Adhi di depan pendeta. Anak bodoh itu terlihat sangat tampan dengan jas putih yang melekat di tubuhnya. Tapi entah kenapa, Rea merasakan sesuatu yang tidak beres dengan ekspresi calon suami Feli itu.
"Mana temanmu satunya?" tanya Adhi segera setelah Rea sampai di dekat pendeta. Sebenarnya Rea cukup terkejut mendengar Adhi bertanya tentang Ambar dan bukan Feli, calon istri yang segera muncul dari ujung ruangan.
"Diluar, kenapa?"
"Tidak ada apa-apa"
"Ada apa antara kamu sama Ambar?"
"Kau pikir apa? Tidak ada yang terjadi antara kami" jawab Adhi lalu kembali ke tempatnya dan tersenyum sinis. Seperti menghina Ambar yang tidak hadir disini. Rea merasakan sesuatu yang tidak beres anatara keduanya. Apa mungkin itu ada hubungannya dengan Ambar yang pulang semalam dan segera pergi mandi? Apa mereka berdua? belum sempat bertanya upacara pemberkatan pernikahan dilakukan karena Feli telah masuk ke kapel.
Lalu pertunjukan yang menjijikkan dimulai. Tidak tahu mendapat ilham darimana, Adhi menarik pinggang Feli yang baru sampai di depan altar dan menciumnya. Bukan ciuman yang singkat tapi seperti sesuatu yang dipaksakan terjadi. Tentu saja hal itu membuat semua tamu terkejut, terutama kedua orang tua Feli.
"Aku sangat mencintaimu. Kau adalah wanita tercantik di dunia"
Cih, Rea begidik ngeri saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Adhi.
Pak pendeta akhirnya bisa mengembalikan acara ke tempatnya semula dan memulai upacara pemberkatan pernikahan. Adhi sebagai orang asing akan mendapatkan kewarganegaraan Indonesia karena telah tinggal lama dan menikah dengan WNI. Jadi, acara pernikahan sedikit menjadi lebih lama karena banyak berkas yang harus ditandatangani kedua pengantin.
Setelah resmi menjadi sepasang suami istri, Feli terlihat senang sekali. Rea ikut merasa senang karena Feli bahagia.Saat Feli menerima berbagai ucapan selamat dari keluarganya, Adhi berdiri di samping Rea. Akhirnya dia memiliki kesempatan untuk membicarakan masalah yang sejak tadi mengganggu di pikirannya.
"Apa sebenarnya yang terjadi antara kamu sama Ambar?"
"Kau masih menanyakan itu saat aku sudah menikah dengan Feli? Aneh sekali"
__ADS_1
Sebenarnya memang Rea merasa tidak benar menanyakan hal ini. tapi dia penasaran sekali.
"Katakan saja!"
"Aku sudah bilang tidak ada yang terjadi antara aku dan wanita itu" kata Adhi dengan suara keras, membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Sayang kenapa?" tanya Feli yang mendekat ke arah mereka berdua. Rea merasa malu karena mengganggu acara pernikahan Feli.
"Temanmu ini selalu menuduhku memiliki hubungan dengan Ambar. Padahal temanmu itu hanyalah wanita miskin tak berpendidikan. Sungguh tidak layak dibicarakan disini"
Apa? Wanita miskin dan tak berpendidikan? Rea merasa yakin mendengar semua itu dari mulut cowok bodoh itu.
"Rea, kenapa juga kamu ngebahas Ambar disini?" tanya Feli.
"Sepertinya aku setuju dengan ibumu sayang. Teman-temanmu itu tidak pantas untuk berada di acara seperti ini. Satunya miskin dan satunya hanya anak tak berguna yang terus berusaha tapi tidak mencapai apapun"
Rea membuka mulutnya. Terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Adhi. Semua orang yang ada dalam kapel mulai melihatnya dengan mata menghina. Dan yang lebih menyebalkan adalah Feli, sebagai sahabatnya dan Ambar tidak melakukan apa-apa untuk membela. Rea tidak mengambil banyak waktu lagi untuk pergi dari kapel. Dia melihat Ambar yang sedang bicara dengan Kenzo sambil sesekali tertawa. Sial tuh cowok goblok, beraninya ngehina Ambar yang udah bantu dia sampai seperti itu. Rea pergi ke kamar mandi, berusaha menenangkan emosinya yang terlanjur naik.
Tapi ... begitu cowok bodoh itu kembali berulah di depannya dan Ambar, Rea tidak tahan lagi. Dia segera menyeret Ambar pergi dari hotel dan pengantin sialan itu. Di bandara, pesawat bahkan sampai tiba di rumah orang tua Ambar, temannya itu tidak bertanya apa-apa. padahal Rea tahu kalau Ambar sangat ingin tahu kenapa dia sampai memaksa untuk pergi dari acara pernikahan Feli. Melihat orang tua Ambar, Rea menjadi tidak tega untuk bicara. Miskin dan tidak berpendidikan, sungguh penghinaan yang keterlaluan dari mulut Adhi. Rea menjadi kesal sendiri dan segera menyantap habis semua makanan yang disajikan oleh ibu Ambar. Dia juga kelaparan karena dari pagi belum sempat makan apa-apa larena sibuk membantu menyiapkan acara pernikahan Feli.
"Kita nonton yuk, mau gak?" tanya Ambar mengganggu acara rebahannya di kasur.
"Nonton apa?"
"Apa aja"
__ADS_1
Rea duduk dan menatap Ambar yang masih memakai mukenanya setelah sholat Ashar.
"Boleh"
"Kita pergi sekarang apa habis Maghrib?" tanya Ambar lagi lalu melihatnya bengong.
"Mbar"
"Iya"
"Pokoknya kamu harus janji sama aku. Kamu gak boleh ketemu sama Adhi juga Feli lagi"
"Kenapa Re? Ada apa sih emangnya tadi?"
"Kamu harus janji. Cuma aku sahabat kamu sekarang. Aku bakal ngedukung kamu dan aku harap kamu juga dukung aku"
"Rea, aku dari dulu selalu dukung kamu kok"
"Ingat! Jangan dekat-dekat cowok bodoh itu dan istrinya meski kamu ketemu secara gak sengaja. Hubungan pertemanan kita dengan Feli, mulai sekarang putus"
Ambar tidak yakin dengan alasan Rea menyebutkan putusnya hubungan pertemanan antara mereka dan Feli. tapi kelihatannya Rea mengalami sebuah masalah yang berat tadi disaat upacara pernikahan Feli. Meski masih tidak tahu alasannya, Ambar mengangguk saja. Berusaha membuat Rea tenang. Akhirnya mereka pergi ke salah satu mall di jakarta dan menonton film Indonesia yang bercerita tentang masalah keluarga. Keduanya menangis karena beberapa adegan cukup menyedihkan. Lalu saat keluar dari bioskop, mereka melanjutkan acara bermain di tempat arcade. Ambar merasa seperti kembali ke masa-masa SMA meskipun kini Feli tidak lagi hadir dengan mereka.
"Kenapa? Ayo main lagi" ajak Rea.
"Iya"
__ADS_1