Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Ambar keluar dari rumah sakit dan sedang berjalan menuju mobilnya saat seseorang menarik tangannya dengan kencang.


"Apa yang kaulakukan disini?"


Suara Kenzo begitu keras, mengejutkan Ambar.


"Apaan sih?"


"Ini masih pagi. Kenapa kamu disini?"


Ambar ingin sekali bicara jujur tapi, mengingat pernyataan suka Kenzo kemarin, membuatnya menahan diri.


"Aku dipanggil kesini sama Bos kamu. soalnya Feli mau kesini"


"Apa? Bos yang panggil?"


"Hei, lo tuh ya yang udah bikin repot gara-gara masalah ini ini. Dasar somplak. Awas kalo lo gak terima kasih sama gue"


Tampaknya akting marah Ambar berhasil menghalau kecuriaan Kenzo. Meskipun Ambar tidak memiliki perasaan yang sama pada temannya itu. Setidaknya dia tidak ingin menyakiti hati Kenzo.


"Kamu udah sarapan?" tanya Kenzo yang sudah agak lebih tenang.


"Ya belum lah. Kan aku dateng kesini buru-buru"


"Kalo gitu, aku traktir makan"


"Apa? Gak usah. Aku mau pulang aja takut ibu nyariin"


"Tapi"


"Udah sana ke Bos lo aja"


"Mbar"


Ambar melambaikan tangan ke arah Kenzo dan segera masuk ke dalam mobilnya yang menginap semalam di tempat parkir. Dia segera memacu mobilnya pulang dan bersiap berbohong lagi.


Untung bagi Ambar, semalam ternyata ayah dan ibunya pergi ke rumah bibi yangada di Solo. Mereka tidak tahu kalau Ambar tidak pulang. Dan Ambar juga tidak perlu berbohong lagi tentang apa yang dilakukannya semalam.


"Alhamdulillah" kata Ambar lalu berbaring di atas kasurnya yang empuk. Ternyata tidur di kasur memang lebih nyaman daripada sofa. Ambar menyesali keputusannya utnuk menginap di kamar Bos Kenzo. Apalagi, dia harus merasakan detak jantungnya naik turun setiap kali melihat mata biru milik cowok itu. Aneh sekali, bagaimana Ambar bisa terpesona hanya kepada dua bola mata yang indah itu. Dia seperti tersihir dan tidak dapat berpikir apa-apa tiap kali menatap mata itu. Sebaiknya, sekarang sampai seterusnya Ambar tidak lagi bertemu cowok iu. Juga Kenzo. Mereka berdua mulai saat ini berada di daftar hitam Ambar.


Seminggu berlalu dan Ambar sedang sibuk memeriksa pesanan yang baru saja diterima tokonya. Hari ini Jumat dan Ambar tidak ingin akhir pekannya yang kali ini akan dipakainya untuk beristirahat terganggu karena masalah pekerjaan.


"Emangnya kak Ambar jadi ke puncak besok?"

__ADS_1


"Bukan ke puncak. Aku mau ke Lembang"


Ambar tersenyum senang karena membayangkan apa yang akan dilakukannya besok di Lembang.


"Jangan lupa bawa oleh-oleh ya kak"


"Oke, gampang. Oh iya, tolong kalian cek lagi barang yang akan kita kirim hari ini. kayaknya kemarin masih ada yang rusak dua atau tiga biji. Jangan sampe barang rusak juga ikut kekirim"


"Iya kak"


Sebenarnya Sabtu besok, Ambar harus menghadiri sebuah pernikahan teman kursusnya di Bandung. Karena sudah lama sekali Ambar tidak menikmati hari libur, dia mulai merencanakan sebuah acara istirahat untuknya sendiri setelah menghadiri pernikahan temannya itu.


"Udah kak. Semua udah beres"


"Makasih ya. Besok kamu berdua libur aja ya. Aku gak mau diganggu soalnya"


"Ciee yang mau liburan semalam di Bandung"


Ambar tersenyum lagi, kali ini lebih lebar daripada sebelumnya.


"Iya dong. Ayo ... kita pulang aja sekarang"


"Iya kak"


Ambar mengantar dua pegawainya pulang lalu peri membeli kado untuk teman kursusnya. Sebuah set piring adalah pilihan bagus, pikir Ambar lalu meminta kadonya dibungkus dengan cantik. Ambar senang sekali karena akhirnya teman kursusnya yang berusia empat puluh tahun itu akan menikah dengan seorang duda pemilik hotel di Bandung. Penantian akan jodoh temannya itu akhirnya terwujud dengan sangat baik. Pasti beban yang ada di pundak temannya itu akhirnya terangkat setelah ada laki-laki yang melamarnya. Apalagi teman Ambar itu adalah anak tunggal sama dengannya.


Rasa senang masih menguasai hati Ambar saat masuk dalam pekarangan rumahnya. Sampai di depan rumah, senyumnya berganti dengan kemarahan yang tidak lagi bisa ditahan.


"Kamu lagi. Udah Bapak bilang, kamu jangan kesini lagi"


"Pak, sabar"


"Anakku itu gak bisa nikah gara-gara kamu. Tahu??"


"Pak" Kehadiran Ambar rupanya bisa menghentikan kemarahan ayahnya. Kenzo terlihat menunduk dan tidak berani mengangkat wajah sama sekali.


"Ini semua gara-gara kamu bertemen sama anak itu. Makanya kamu gak mau kenal laki-laki lain"


"Pak, Kenzo bukan alasannya


"Apa??"


Ibu terpaksa menarik ayah masuk ke dalam rumah karena tidak ingin ada masalah yang lebih besar. Meninggalkan Ambar yang merasa tidak enak pada Kenzo.

__ADS_1


"Ken, maaf ... Bapakku"


"Gak apa-apa. Aku udah biasa. Ayahku juga bersikap sama kayak gitu waktu tau aku kerja di klub malam"


"Tapi ... "


"Gak apa-apa Mbar. Aku lebih baik pulang sekarang, daripada bapakmu ngamuk lagi"


"Ken, maaf ya"


"Iya. Ibuku tadi kasih kamu bolu pisang, Adikku mulai sekarang jualan online"


"Rindu jualan online? Apa nama IG-nya?"


"Waduh aku gak tau. kamu tanya sendiri aja nanti"


"Iya. Aku wa Rindu nanti. Makasih dan maaf ya"


Tepat sebelum Kenzo berjalan keluar dari teras. Teman yang sudah lama dikenal Ambar itu mengulurkan tangan dan membelai hijabnya dengan lembut.


"Aku ... harap bapakmu liat aku dengan cara lain, biar kita bisa ... "


"Ha?" tanya Ambar karena Kenzo tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Assalamualaikum"


"Waallaikumsalam"


Ambar melihat temannya masuk ke mobil lalu pergi dari halaman rumah. Apa lanjutan kalimat yang dikatakan oleh Kenzo tadi? Sebaiknya Ambar tetap tidak tahu dan tak menerka-nerka. karena dia juga takut dengan jawabannya.


Ambar masuk ke dalam rumah dan berhadapan dengan ayahnya yang masih marah.


"Kalo kamu masih nerrima anak itu ke rumah ini, sampai kapanpun kamu gak akan bisa menikah" kata ayahnya membuat Ambar bosan. Dia memang ingin menikah tapi tidak sekarang dan juga tidak terus menerus ditekan seperti ini. Tapi, dia juga mengerti ketakutan orang tuanya menghadapi putri tunggal mereka yang belum menikah sampai usia sekarang.


"Ambar bakal hubungi mas Galih. Tapi gak sekarang. Mungkin Senin setelah Ambar pulang dari Bandung"


Ayahnya menjadi tenang setelah mendengar ucapan Ambar.


"Jangan bohong kamu"


"Ambar gak pernah bohong sama Bapak sama Ibu"


"Tuh, Pak. Ambar udah mau keteemu nak Galih. Bapak yang tenang sekarang" bujuk ibu Ambar agar ayahnya pergi ke kamar.

__ADS_1


"Ambar ke kamar dulu Bu"


Ibunya seperti ingin bicara dengan Ambar tapi diurungkan karena melihat keadaan yang belum kondusif. AMbar berjalan lunglai ke kamar. Bayangan bahagia saat berlibur besok musnah sudah. Berganti dengan tekanan akan menikah yang semakin besar.


__ADS_2