
"Bodoh!!" kutuk Adhi pada dirinya sendiri di ruang kerja setelah meninggalkan Ambar.
Seharusnya dia tidak bicara apa-apa tadi. Kalau dia diam saja maka mungkin saat ini Adhia akan mereguk kenikmatan yang sudah ditunggu-tunggu olehnya selama ini.
"Bodoh. Bodoh. Bodoh" kutuknya lagi berusaha mengurangi rasa keal yang terlanjur dia rasakan.
Wanita itu belum bisa melupakan Feli dan masa lalu mereka dan Adhi harus mengingat hal itu setiap kali mereka bersama. Adhi duduk di kursinya dan membuka laptop. Berusaha untuk bekerja dengan perasaan yang masih kesal.
Setelah beberapa saat, Adhi mulai dapat fokus pada pekerjaannya. Dia melakukan rapat dengan beberapa pimpinan cabang perusahaan df Asia, juga dengan Danial yang memimpin. Saat rapat mulai serius, sebuah ketukan di pintu ruang kerja mengganggunya.
"Masuk!"
Seorang wanita dengan rambut hitam, panjang terurai masuk dengan sebuah nampan. Adhi berusaha untuk tidak terganggu dengan rambut yang berkibar tertiup angin dan memicu nafsunya itu.
"Ini makan siang yang mungkin bisa Anda makan"
Dia melihat ke arah atas nampan dan merasa tidak tertarik. Juga masih merasa kesal pada wanita yang tadi dengan terang-terangan menolaknya.
"Kau saja yang makan"
"Ha?"
"Aku tidak makan makanan seperti itu"
"Tapi ini ... steak"
Adhi tidak pernah makan sesuatu yang ada di dalam kotak seperti itu.
"Bawa lagi sana!"
"Lalu, Anda mau apa?"
"Kau pikir sendiri!"
Wanita itu tampak kesal lalu membawa nampan kembali keluar ruangan. Adhi melanjutkan rapatnya dan melupakan semua kejadian yang baru saja terjadi.
Lama sekali dia melakukan rapat dan perutnya mulai terasa lapar. Dia tidak terlalu banyak mengambil makanan tadi pagi di rumah mertuanya dan berakhir menyesal. Istri barunya itu juga tidak kembali membawa makanan ke dalam ruangan dan sekarang entah pergi kemana. Larry juga pergi mengurus perjalanan yang akan mereka lakukan besok. Adhi mulai menyesali keputusannya pindah ke rumah ini. Dia menyelesaikan rapat lalu pergi ke dapur. Berusaha mencari sesuatu untuk dimakan. Tapi tidak ada apa-apa disana. Adhi tidak pernah selapar ini dan memutuskan akan pergi keluar rumah saja untuk makan.
__ADS_1
"Apa Anda lapar?" tanya suara dari belakangnya.
Adhi meluruskan punggung, menutup lemari es dan berbalik seperti tidak ada apa-apa.
"Iya. Apa kau mengejekku?"
"Ha?"
Adhi maju ke arah istrinya, mendekatkan mulutnya ke arah telinga wanita itu lalu bicara keras-keras.
"Hanya itu yang bisa kau katakan? Hah? Hah? Hah?"
Dia kesal dan tidak bisa menahan diri lagi. Dia akan memastikan Ambar menyesal tidak merobek perjanjian itu dari awal.
Ambar menunduk, terkejut dengan suara keras yang dia dengar. Sebelumnya, dia tidak pernah mendengar cowok itu berteriak sampai seperti ini. Bahkan saat mereka awal kenal dan berpura-pura menjadi kekasih dulu juga tidak pernah. Kenapa sekarang cowok itu menjadi seperti ini? Apa ini sifat asli cowok itu?
"Saya hanya ... "
"Siapkan makan untukku"
"Makanan yang tadi masih ... " Baru saja Ambar ingin pergi ke lemari es untuk mengambil makanan yang tadi dibelinya. Tapi berhenti saat cowok itu kembali membuka mulutnya.
Dimasak oleh chef? Dan ditata dengan baik? Apa cowok itu menginginkan Ambar memasak sesuai dengan kriterianya? Mana mungkin? Ambar bahkan tidak pernah makan makanan chef terkenal. Dia lebih suka makan di pinggir jalan yang murah dan enak.
"Tapi saya tidak bisa memasak seperti itu"
"Aku tidak peduli. Aku hanya makan makanan seperti itu"
"Tapi ... "
"Aku akan menunggu di kamar dan kuharap makanan itu sudah jadi kurang dari tiga puluh menit"
Ambar bingung. Bagaimana bisa dia membuat makanan seperti itu hanya dalam waktu tiga puluh menit? Dia merasa seperti masuk dalam sebuah kompetisi memasak yang disukai ibunya. Ambar membuka lemari es dan tidak menemukan apapun. Dia segera membeli bahan makanan di ojek online dan membuka banyak menu mewah yang bisa dibuat oleh orang biasa sepertinya. Sepuluh menit berlalu, bahan makanannya datang dan Ambar segera menata semua di atas meja dapur. Dia berusaha untuk membuat makanan yang terlihat estetik tapi tetap tidak bisa. Dia bukan chef profesional dan berakhir tertekan sendiri.
"Mana makananku?" tanya cowok yang turun tepat setelah tiga puluh menit. Ambar menatap cowok itu dengan sedikit bingung dan kesal.
"Belum jadi"
__ADS_1
"Apa kau menyerah?"
"Belum"
"Aku ingin makan sekarang"
"Dua puluh menit lagi"
"Aku tidak bisa menunggu lagi"
"Tapi ... " Dia merasa seperti peserta yang gagal menghidangkan piring di depan juri.
Cowok itu mendekat dan jantung Ambar berdetak kencang. Dia siap menerima ejekan yang parah karena masakannya belum jadi. Tapi yang terjadi masalh sebaliknya. Cowok itu mengambil sapu tangan dan mengusap bekas tepung yang ada di pipi Ambar.
"Kau kotor sekali. Masakan apa yang sebenarnya kau buat?"
"Saya ingin membuat pasta sendiri. Ternyata susah sekali"
Cowok itu masih mengusap bekas tepung dan bumbu yang menempel di wajah Ambar dengan lembut. Menenangkan hati dan pikiran Ambar yang sebelumnya siap untuk dihina.
"Apa kau terluka?" tanya cowok itu saat memperhatikan tangan Ambar.
"Ini, hanya salah memegang pinggiran panci yang panas"
Dia berusaha menyembunyikan kulit tangannya yang memerah karena panci panas. Kini Ambar merasa malu karena berpikir dirinya bisa melakukan semuanya tanpa membutuhkan bantuan siapapun.
"Aku bisa makan diluar tapi kau tidak boleh terluka. Bersihkan dirimu di kamar sekarang!"
Sekali lagi Ambar terkejut dengan perubahan sikap yang ditunjukkan cowok itu. Kenapa sekarang cowok itu menjadi begitu lembut setelah memarahinya tadi?
"Ha? Tidak. Saya akan membersihkan ini dulu"
"Pergilah ke atas! Aku yang akan membersihkan semua ini"
"Tidak. Saya yang memasak jadi harus saya yang membersihkan"
"Pergilah sekarang atau aku akan memakanmu"
__ADS_1
Ambar terkejut mengetahui perut bawahnya tergelitik saat mendengar sesuatu seperti itu. Darahnya memanas dan matanya mencari kesejukan dalam birunya laut yang sedang memandangnya. Lama sekali mereka saling memandang satu sama lain lalu cowok itu mengangkat tubuh Ambar di atas meja dapur dan mendekat. Tidak tahu kenapa, Ambar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyentuh rambut cowok itu. Rambut coklat halus yang kini sedikit agak lebih panjang dari yang sebelumnya dia lihat. Perlahan puncak *********** mengeras dan dia tidak bisa menahan gairah yang mengalir deras di dalam tubuhnya sendiri. Apa dia akan mengingkari janjinya sendiri untuk tidak menyentuh cowok itu?Apa dia akan menghancurkan perjanjian itu sendiri karena perbuatannya? Apa dia diperbolehkan melakukan semua ini? Tapi mereka memang sepasang suami istri yang sah melakukan apapun. Jadi ...