
"Sialan tuh orang. Ngerjain aja. Aku pikir tadi ... "
Ambar kesal sekali karena berhasil dikerjai oleh Bos Kenzo. Dia tidak pernah berpikir kalau cowok itu punya selera humor seperti ini. Dia pikir ... cowok itu akan melakukan hal-hal yang seperti ada dalam bayangannya. Padahal, memang tidak mungkin itu terjadi. Alasannya? Sudah pasti karena Ambar memang bukan Feli.Tiba-tiba Ambar merasakan sakit di dadanya. Dia melihat bayangan wajahnya di cermin dan merasa akan menangis. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia menjadi murung seperti ini hanya karena berpikir tentang cowok itu? Apa dia? Tidak mungkin.
Ambar duduk di ujung kasur dan menutup mulut dengan kedua ujung telapak tangannya. Dia ... menyukai cowok itu? Menyukai dalam arti yang sebenarnya? Bagaimana bisa?
Dia terdiam dan tidak bisa memikirkan apapun. Selama dua puluh enam tahun hidupnya, tidak pernah sekalipun Ambar menyukai laki-laki. Di dalam pikirannya, semua laki-laki sama. Mereka suka mengejek badan Ambar, dan tidak pernah menganggapnya sebagai perempuan. Tapi, cowok ini memang berbeda. Kalau Kenzo pernah mengejeknya karena gendut, cowok ini tidak. Bahkan cowok ini memperlakukan Ambar dengan sangat baik. Penuh perhatian dan ... Ambar merasa sangat nyaman berada di sekitar cowok ini.
"Ohhh tidakkk" kata Ambar pelan sekali dan hanya telinganya saja yang dapat mendengar.
Tapi, dia tidak perlu bingung. Toh, Bos Kenzo dengan jelas mengatakan kalau dia tidak tertarik dengan Ambar. Dengan begitu, artinya ... Ambar patah hati? Ohh, jadi ini rasanya patah hati? Rasa sakit di dada karena mengerti dengan jelas bahwa cowok itu menyukai, tidak ... mencintai orang lain. Ternyata ... tidak begitu nyaman dan sedikit menyiksa. Ambar terkejut dengan banyaknya perasaan yang baru dia ketahui pagi ini. Selama ini dia tidak pernah berpikir bisa merasakan sesuatu seperti ini.
Lalu, apa yang akan dia lakukan?
Tidak ada.
Tidak ada yang berubah hanya karena dia mengetahui perasaannya. Cowok itu akan tetap mencintai Feli. Dan Ambar juga harus segera menghilangkan perasaannya ini. Bagaimanapun, cowok itu ditakdirkan untuk bersama seseorang seperti Feli. Bukan dengan perempuan miskin dan berbeda sepertinya.
Ambar berdiri dari kasur dan ingin segera pergi dari tempat ini. Sebisa mungkin dia tidak boleh bertemu dan berinteraksi dengan cowok ini. Dia harus segera menghilangkan rasa itu. Ambar juga harus lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah. Semua perasaan ini muncul, pasti karena dia tidak beribadah dengan baik.
Ambar menetapkan hati lalu keluar dari kamar.
"Sudah siap?"
Hampir saja Ambar jatuh karena kaget. Tiba-tiba saja suara cowok itu muncul tidak tahu darimana. Dia menoleh dan ternyata Bos Kenzo berdiri tepat di belakangnya. Tentu saja Ambar mengambil langkah menjauh, dan berusaha tetap tenang meskipun dadanya sakit.
"Sudah. Memangnya kenapa?"
"Aku akan mengantarmu"
"TIDAK!!" teriak Ambar mengejutkan Bos Kenzo.
"Lebih baik saya pulang sendiri. terima kasih karena Anda sudah berbaik hati meminjamkan kamar dan baju semalam" lanjut Ambar berusaha tetap tenang.
"Apa yang terjadi padamu?"
"Ha?"
"Kenapa kau sering seperti ini?"
"Sering? Seperti ini?"
"Terserah saja kalau mamumu seperti itu. Aku akan lanjut tidur dan semoga perjalanan pulangmu menyenangkan"
Cowok itu akhirnya meninggalkan Ambar sendiri. Hal itu dimanfaatkannya untuk segera keluar dari rumah besar milik Bos Kenzo itu. Dan tidak seperti perkataan cowok itu, Ambar mendapatkan ojek online dengan mudah.
"Ambar"
__ADS_1
"Eh, Assalamualaikum Bu" sapa Ambar setelah sampai di rumah dan melihat ibunya di ruang tengah sedang melipat baju.
"Sudah sarapan?"
"Belum Bu"
"Cepet sana sarapan. Keburu kerja"
"Iya Bu. Ambar mau mandi dulu"
Ambar pergi ke kamarnya dan mulai merasa bersalah. Semalam Ambar hanya memberitahu ibunya kalau dia tidak pulang. Hal itu bisa diartikan kalau Ambar menginap di toko seperti yang sereing dia lakukan. Tapi dia malah menginap di rumah seorang laki-laki yang masih lajang. Tapi, itu bukan masalah sekarang. Toh, dia tidak akan mengulangi hal yang sama.
"Ibu cuma asak ayam goreng sama sayur bayem"
"Gak apa Bu. Enak kok"
"Bapakmu tadi nyari sambel tapi ibu lupa bikin"
Nasi yang baru saja ditelan Ambar serasa tersangkut di kerongkongan saat ayahnya disebut.
"Iya" jawab Ambar singkat lalu kembali makan.
"Ibu sama Bapak sudah ngomong semalem. Bapak udah nyerah, nyuruh kamu nikah cepet-cepet"
Ambar kaget. Ayahnya adalah salah satu orang paling keras kepala yang dia kenal. Dan Ambar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kenapa?"
"Maaf ya Bu"
"Lho, kenapa kamu minta maaf. Bapakmu aja emang gak mau ngerti"
Mungkin ibunya tidak tahu, tapi klini Ambar merasa sangat lega. Dia tidak lagi tertekan dengan apa yang namanya pernikahan. Hal itu membuatnya serasa bebas terbang lagi.
Ambar masuk kerja dalam keadaan yang sangat baik. Dia terus tersenyum selama sisa hari itu dan pulang kerja tepat waktu. Meskipun ayahnya masih terlihat sedikit kesal, tapi semua telah kembali seperti sebelumnya.
"Semua sudah siap?"
"Sudah Bu"
Feli melihat semua gaun yang dibelikan oleh Danial terkemas rapi di kopernya.
"Lima hari lagi, acara bridal showermu akan diadakan. Jadi, jangan macam-macam"
Kali ini Feli tidak menjawab permintaan ibunya. Dia masih memendam rasa ingin membatalkan pernikahan tapi ... selalu gagal karena melihat ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kamu tidak menjawab?" tanya ibunya lagi. Kali ini Feli melihat wajah ibunya dan mencoba memberanikan diri.
"Bu, apa aku harus menikah dengan Danial?"
"Apa?"
"Maksudku, usaha ayah sekarang baik-baik saja. Dan apa ... "
Mendadak ibunya mendekat ke arah Feli dan duduk tepat di hadapannya.
"Apa kau tahu bagaimana usaha ayahmu menjadi baik?"
"Iya"
"Ayah dan ibu tidak ingin kau berpikir kalau kami menjualmu sebagai balasan bantuan Danial. Ibu hanya ingin kau mengerti kalau inilah yang harus kau lakukan. Sebagai tanggung jawab sebagai anggota keluarga kita"
Feli menunduk, dia tidak mungkin bisa menang melawan argumen ibunya. Karena itu semua memang benar.
"Hanya saja ... "
"Adhitama"
Feli segera mengangkat wajahnya begitu nama itu disebut oleh ibunya.
"Ibu"
"Ibu tahu sekarang. Kau tidak ingin menikah dengan Danial tapi Adhi?"
"Ibu"
"Adhitama mungkin memang bisa membantu kita tapi lihat yang dilakukan Danial. Calon suamimu itu mengurus semuanya untuk kita enam tahun lalu. Tanpa harus menjual apapun"
"tapi Bu. Aku ... "
"Dengar Feli, ibu tidak mau mendengar hal ini lagi!"
"Aku mencintai Adhi dan bukan Danial"
Akhirnya setelah selama ini memendam apa yang ada dalam hatinya, Feli berani bersuara. Semakin dekat dengan hri pernikahan, membuatnya tidak bisa tenang. Otak dan hatinya terus saja berperang setiap hari. Mempertimbangkan apakah dia harus membatalkan pernikahan ataua tidak.
Ibunya yang sudah ingin keluar dari kamar Feli, berbalik lagi.
"Jangan pernah mengatakan hal itu. Pernikahanmu tinggal dua minggu lagi"
"Tapi Bu, aku ... "
"Dengar, kalau pernikahan ini batal karenamu maka semua akan hancur"
__ADS_1
Ibunya memegang dua lengan Feli dan menekan ucapannya. Dan memang benar. Kalau saja Feli berani membatalkan pernikahan maka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh keluarga Syahreza nanti. Kecuali pembatalan pernikahan itu datang dari Danial.
Feli kembali menunduk, merasa kalau hal itu tidak akan pernah terjjadi. Dan akhirnya dia terpaksa menikah dengan Danial meskipun tanpa cinta.