
Seperti dejavu, Adhi melihat seorang wanita dengan baju rumah dan hijab datang ke klub malamnya yang tidak lama lagi tutup. Wanita itu datang dengan seorang temannya lalu mengedarkan pandangan ke pengunjung klub. Kejadian yang sama pernah terjadi dulu, saat Ambar datang ke klub malamnya dengan memakai baju yang serupa. Hanya saja kini ada yang berbeda. Adhi merasa marah dengan kedatangan wanita itu ke klub malamnya.
"Bos, apa ada yang terjadi?" tanya manajer klub malam ini.
"Siapa yang mengijinkan wanita seperti itu masuk?" Adhi menunjuk ke Ambar dan manajer klub gugup.
"Maaf Bos. Pengawal di depan pasti melakukan kesalahan"
"Aku mempercayakan klub ini padamu karena kau adalah teman Kenzo. Jangan mengecewakanku!"
"baik Bos. Saya akan mengatasi ini"
"Tidak perlu. Aku saja"
"Apa Bos?"
"Aku akan menyeret wanita itu pergi"
"Tapi Bos"
Meninggalkan manajer klub dalam keadaan bingung, Adhi segera pergi mendekati Ambar. Ternyata, wanita itu sedang menyeret seseorang untuk keluar dari klub. Setelah melihat ke sekumpulan laki-laki yang sedang minum dan bicara di salah satu pojok klub. Adhi mempercepat langkahnya dan berhasil mendahului Ambar tepat sebelum keluar dari klub.
"Sungguh mengejutkan melihatmu disini"
Karena gelap, wanita yang ada di depannya memicingkan mata.
"Anda?"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Adhi lagi, berharap memperoleh jawaban untuk menghilangkan amarah yang muncul di hatinya.
"Bukan urusan Anda. Minggir!"
Ambar tidak menghiraukan Adhi dan melewatinya begitu saja ingin keluar dari klub dari pintu yang sama. Tapi Adhi tidak membiarkannya. Dia memegang pergelangan tangan Ambar dan menyeretnya ke dalam klub lagi. Melewati keramaian yang tidak lama lagi akan berakhir lalu masuk ke dalam lorong yang akan membawa mereka ke dalam ruangan Adhi. Hentakan-hentakan tangan Ambar yang ingin melepaskan tangan tidak dihiraukan olehnya. Saat akhirnya masuk ke dalam ruangannya, Adhi melepaskan emosi yang tadi ada di dalam kepala dan hatinya.
"Apa yang kau pikirkan??!" teriaknya ganas.
Wanita yang kini ada di depannya terlihat kaget dengan yang dilakukannya. Tapi Adhi tidak peduli. Wanita seperti Ambar seharusnya sudah tidur sekarang, tapi wanita ini malah berkeliaran di klub dengan pakaian seadanya.
"Kenapa kau kesini?" teriaknya lagi.
"Saya ... nganter Ratih. Lho Ratih mana tadi?"
Ambar melihat ke kanan dan kiri semakin membuat Adhi kesal.
"Jawab aku dengan benar!!" tanya Adhi lalu menegakkan punggung, berusaha mengintimidasi wanita yang ada di depannya.
"Saya tadi tidur ... dibangunin sama Ratih terus disuruh nganter ke tempat suaminya selingkuh. Lha ternyata suaminya Ratih ada disini tapi gak selingkuh sama cewek. Selingkuhnya sama ... " jawab Ambar tapi tidak diteruskannya.
"Dan kau memakai pakaian seperti ini?"
__ADS_1
"Kan saya tadi udah bilang. Saya tidur eh dibangunin terus disuruh nganter kesini"
"Apa kau bodoh?"
"Ha?"
"Wanita sepertimu berjalan ke klub hanya memakai baju tidur seperti ini. Apa kau bodoh?"
"Bukannya pake baju gini lebih aman?"
Duhhh, Adhi merasa pusing karena berhadapan dengan wanita yang seperti Ambar. Memangnya wanita ini sama sekali tidak tahu jalan pikiran para pria yang melihatnya? Apalagi baju yang dipakai Ambar segera membentuk tubuh ketika tertiup angin sekecil apapun. Menampakkan pinggang ramping yang berteriak ingin dipegang.
Adhi melepaskan jasnya dan baru sadar dia memegang pergelangan tangan Ambar sejak tadi. Terpaksa dia membuka genggamannya dan merasa kehilangan sesuatu yang besar saat Ambar menarik tangannya menjauh.
"Anda kenapa?" tanya Ambar menyadarkannya. Dia membuka jas sesuai dengan rencananya lalu membungkus tubuh Ambar.
"Pakai ini dan pulanglah!"
"Gak bisa. Ratih nanti gimana?"
Adhi mengelurkan ponsel di kantung celananya dan menghubungi seseorang.
"Cari wanita dengan baju ..." Dia melihat ke arah Ambar.
"Hijau"
"Bukan. Rok pendek selutut warna hitam"
"Cari wanita dengan baju hijau dan bawahan pendek hitam. bawa ke halaman parkir!" perintahnya pada manajer klub yang tadi dimarahinya.
"Apa ini klub malam milik Anda?" tanya Ambar polos.
Adhi sebenarnya ingin sekali lepas dari bisnis klub malam. Tapi keuntungan besar yang dia peroleh setiap harinya, membuat Adhi tidak bisa melepaskan bisnis ini.
"Iya"
"Kenzo bilang Bos gak punya tempat kayak gini lagi. Soalnya udah dijual buat ... " Ambar tidak melanjutkan perkataannya lagi.
"Aku bukan orang bodoh sepertimu"
"Lha kok ngejek terus dari tadi"
"Kamu memang bodoh"
Adhi tidak ingin berdebat dengan Ambar. Dia membuka pintu dan terdengar lagi suara ramai yang memekakkan telinga itu. Tapi Adhi tidak berjalan ke tengah klub lagi, kali ini dia melewati lorong yang lebih panjang dan menuju pintu keluar yang khusus untuknya. Tentu saja dengan Ambar yang mengikutinya dari belakang.
"Mana mobilmu?"
"Ehmmm disana" Ambar menunjuk mobil putih keluaran Jepang yang ada jauh dari tempat mereka berdiri. Terpaksa Adhi menemani wanita itu berjalan ke mobilnya.
__ADS_1
"Kalau ada yang seperti ini lagi. Kau sebaiknya menghubungiku"
"Ini bukan masalah besar"
"Kau datang ke tempat seperti ini adalah masalah besar"
"Seharusnya tidak. Karena kita tidak punya hubungan apa-apa"
Adhi berhenti berjalan. Benar, dia seharusnya tidak memiliki masalah dengan kehadiran Ambar di tempat ini. karena mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Ambar hanyalah teman Feli. Bukan kekasih ataupun teman Adhi.
"Aku hanya melakukan ini karena kita sama-sama manusia. Kecuali kau ingin dianggap seperti hewan"
"Sial. Kenapa bicara begitu"
Adhi melengkungkan bibirnya, merasa puas mendapatkan reaksi yang seperti biasanya dari Ambar. Tidak lama, dari pintu masuk manajer klub membawa teman yang diceritakan oleh Ambar keluar.
"Biar kuulangi sekali lagi. Kau tidak boleh pergi ke tempat seperti ini. Sampai kapanpun"
"Iya ... iya. Siap Bos. Lagian siapa yang mau kesini. Amit-amit"
"Perhatikan bicaramu!"
"Iya. Baik. Udah ah, mau pulang dulu. Ini jasnya"
Ambar melepas jas pemberian Adhi dan segera, angin berhembus lalu membentuk lekuk tubuh wanita itu tepat dihadapannya. Dia segera membungkus tubuh wanita itu lagi.
"Kau pakai saja. Tidak usah dikembalikan"
"Lha kok. Ya udah. nanti kalo ketemu saya kembalikan jasnya"
Adhi melihat wanita itu menghampiri temannya dan pergi dari halaman parkir hanya dalam lima menit. Tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
"Itu pacar Bos ya? Saya kaget lihatnya"
"Apa maksudmu? Dia bukan siapa-siapa"
"Saya belum pernah melihat Bos perhatia sampai seperti ini pada wanita manapun"
Sebenarnya Adhi juga terkejut dengan apa yang sudah dia lakukan malam ini. Tapi dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah kebaikan antara sesama manusia. mApalagi Adhi mengenal Ambar.
"Tutup mulutmu dan klub ini. Usir semua tamu keluar! Aku akan pulang"
"Baik Bos"
"Juga ... jangan bicara tentang hal ini sampai kapanpun"
"Baik Bos"
Adhi masuk ke klub dari jalan keluar yang dilaluinya dengan Ambar. Kini setiap langkah yang diambilnya terasa berat dan sepi.
__ADS_1