
Plakkk
Sekali lagi, Adhi merasakan pipinya panas karena ditampar. Kali ini oleh tangan yang lebih kecil tapi terasa sekali sakitnya. Ibu Feli menggertakkan gigi sebelum menamparnya, karena itu rasanya keras sekali.
"Ibu, aku yang ... "
"Diam!!! Ibu sudah bilang. Jangan pernah dekat dengan anak ini. Danial seratus kali lebih baik daripada anak miskin ini"
"Ibu"
"Ini semua karenamu. Kalau Danial meninggalkan perusahaan ayahmu begitu saja maka kita bisa bangkrut lagi. Ini memang yang kamu inginkan?"
Sekalipun Adhi tidak pernah menginginkan hal itu. Bahkan enam tahun lalu, dia memberikan seluruh uang yang dimilikinya kepada ayah Feli tanpa meminta apapun. Kini, ayah Feli hanya bisa diam di belakang istrinya yang terus marah di hadapan banyak orang.
"Tapi Bu. Danial gak mungkin kayak gitu"
"Siapa yang tahu? Apalagi ini anak pernah merebut kekasih Danial dulu"
"Bukan Bu'
Setelah dua hari menghadapi hal ini perlahan Adhi merasa hampa. Dia hanya melakukan semua ini untuk memiliki Feli, perempuan yang dicintainya. Tapi semuanya berubah terlalu rumit dan seperti tidak ada ujungnya. Dia kemudian menatap wajah ibu Feli dan membuktikan kemampuannya dalam bidang ekonomi.
"Saya bisa menopang perusahaan keluarga Anda selama dua puluh tahun ke depan. Anda tidak perlu khawatir"
"Apa? Begitu sombong. Danial bisa menopang perusahaan sampai kapanpun, bukan hanya dua puluh tahun"
"Kalau saya menjual semua aset, maka Anda tidak akan pernah kehilangan perusahaan sampai kapanpun"
Akhirnya ibu Feli terdiam, tidak bisa lagi mengatakan apa-apa. Hanya Feli saja yang kemudian menatapnya khawatir.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?"
"Saya serius"
"Kalau begitu, kalian cepat menikah saja. Acara di Bali tidak perlu dibatalkan karena semua sudah dibayar. nanti kita ganti nama pengantin prianya saja. Cepat menikah atau kalian akan menimbulkan rumor tidak baik untuk keluarga"
Khawatir di wajah Feli menghilang. Berganti senyum yang sudah dua hari ini tidak dilihat oleh Adhi.
"Bener Bu?"
"Iya. Lagipula, Danial sudah meninggalkan kamu. mau apa lagi"
Malam yang panjang dengan orang tua Feli usai sudah. meninggalkan Adhi yang duduk di sofa apartemennya dan merasa kelelahan.
"Dhi, makasih"
Tiba-tiba Feli mendesakkan tubuhnya di samping Adhi dan memeluknya. Dia bisa mencium bau harum dari rambut Feli dan merasa bahagia. Setidaknya Feli sekarang ada di pelukannya. Meskipun dia harus menjual semua asetnya maka tidak akan ada masalah.
"Tidak apa-apa. Semua ini untuk kamu"
"Apa kamu mau ke kamar? Aku ... "
__ADS_1
"Aku harus menemui seseorang. kamu tidur saja dulu"
"Tapi ... "
"Aku tidak akan lama"
"Baiklah"
Adhi keluar dari apartemennya lalu menghubungi Kenzo.
"Apa Bos?"
"Apa yang kau lakukan?"
"Ini, periksa pembukuan cafe"
"Siapkan penjualan semua asetku!"
"Apa?"
"Kau tidak dengar?"
"Tapi Bos. Kenapa kok?"
"Jangan membantah. Persiapkan saja semuanya. Kalau aku perintahkan jual semua, maka jual semua"
"Terus saya nanti kerja dimana kalo semua dijual?"
"Aku akan memberimu pesangon yang besar"
Adhi tidak menanggapi kekesalan Kenzo lalu berangkat menuju tempat dimana dia akan bertemu dengan kakaknya. Dia kemudian berhenti tepat di depan sebuah restoran yang alamatnya dikirimkan oleh Danial kemarin malam. Tidak tahu apa yang terjadi nanti, tapi sepertinya badan Adhi tidak akan sempurna lagi setelah hari ini. Dia harus bersiap akan hal paling buruk terjadi padanya.
"Ha?"
Tiba-tiba saja Adhi mendengar suara yang dikenalnya, tepat sebelum keluar dari mobil.
"Padahal udah tahu mau digebukin malah dateng. Kayaknya Anda gak pinter-pinter amat deh"
Adhi tidak tahu apakah itu mimpi atau bukan, tapi dia kini sedang melihat dan mendengar wanita itu mengomel disebelahnya. Hanya saja, wanita itu tidak memakai penutup kepala seperti biasanya. Ambar memperlihatkan rambutnya yang sepanjang bahu dan baju tidur seperti malam itu.
"Pokoknya nanti keluarin jurus jujitsu sama taekwondo. Kalo perlu saya kirimin tenaga dalam. Gimana?"
Apakah Adhi akan menjawab pertanyaan dari seseorang yang dia yakini telah pergi dari kota ini? Saat dia terdiam karena tidak tahu apa yang harus diperbuat, wanita itu bicara lagi.
"Kok diem aja? Apa kaki Anda udah diperiksa? Pasti belum ya. Apa sekarang sakit banget?"
"Ha?" jawab Adhi, menggunakan kata yang biasanya digunakan oleh wanita itu. Dia tidak percaya telah menjawab pertanyaan bayangan wanita yang kini mungkin sedang bersama keluarganya.
"Kok jawabnya gitu sih"
Adhi mengulurkan tangannya dan memegang pipi Ambar lalu perlahan bayangan wanita itu menghilang dari sebelahnya. Menyisakan ruang kosong yang membuat hatinya terasa aneh. Apa ini? Kenapa dia seperti ini? Apa dia sudah berubah menjadi gila setelah menerima beberapa pukulan Danial kemarin?
__ADS_1
"Duh, gini lagi"
"Kenapa Bos Kecil?"
"Biasa Bos Besar galau"
"Kapan Bos Besar pulang"
"Gak tau. Udah kerja sana!"
Kenzo marah. bagaimana bisa dia mengalami hal ini lagi. Padahal besok ayahnya keluar dari penjara, belum lagi rencanannya melamar Ambar. Kalau dia dipecat, tidak punya pekerjaan, apa kata ayahnya dan Ambar?
"Sialan tuh Bos"
"Wah, kamu berani ngatain Bos kamu sekarang Ken?"
Kenzo menoleh dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini belum malam dan dia tidak tidur.
"Ambar?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, kenapa?"
Rasanya semua kekhawatiran dan amarah yang dirasakan karena Bosnya hilang begitu saja.
"Tumben kamu"
"Iya, aku kan mau kasih ini" kata Ambar lalu mengangkat tas kertas di tangan kanannya.
"Kita ke atas yuk" ajak Kenzo agar dia tidak terganggu.
"Aku tadi ke rumah tapi kata Rindu kamu lagi ada di cafe. Ya udah, aku datang ke sini"
"Oh kamu ke rumah?" Senyum di wajah Kenzo semakin lebar saat mendengar AMbar pergi ke rumahnya. Semoga saja semua berjalan lancar dan .... akhirnya.
"Iya. Aku kan beliin oleh-oleh buat Budhe sama Rindu juga. Tapi kamu tadi kenapa Ken? Kok maki-maki Bos kamu?"
Yah, kenapa kebahagiannya harus terganggu oleh ingatan tentang Bos-nya lagi. Kenzo menunjuk kursi untuk AMbar duduk dan memerintahkan salah satu pelayan cafe mengantar minuman untuk mereka.
"Terjadi. Apa yang aku takutin terjadi"
"maksudnya?"
"Coba liat ini. Tempat ini baru aja jadi minggu lalu. Tempat makan khusus couple biar cafe ada pemasukan tambahan. Semuanya percuma, soalnya Bos nyuruh jual semua asetnya"
"Kamu tenang dulu deh Ken. Kali aja ada cara lain"
"Gak ada Mbar. Bos udah bilang kalo udah siapin pesangon buat semua pegawai. Sialan tuh Feli. Untung aja dulu aku gak jadi sama dia. kalo gak ... "
"Hei. Feli itu temen aku" ucap Ambar kesal. Kenzo lupa kalau calon istrinya itu memang berteman dengan Feli. Calon sang nyonya yang merepotkan.
__ADS_1
"Ahhh. Malas aku. Udahlah Terserah aja. Sialan"
Kenzo sudah marah dan malas untuk bekerja kalau jadinya seperti ini. Dia bekerja keras sampai kaki pindah ke tangan dan sebaliknya. Tapi kalau akhirnya menjadi seperti ini, dia tidak akan ragu untuk pindah kerja saja.Kenzo benar-benar kecewa pada keputusan Bos-nya yang tidak menghargai setiap usaha kerasnya.