
"Apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Kenzo pada Bos-nya yang semakin mirip seperti mayat hidup itu.
Setahun setelah istrinya meninggal, Bos Kenzo seakan menutup dirinya sendiri di dalam kedukaan yang panjang. Tidak bertemu orang lain dan hanya menghabiskan waktu di apartemen.
"Apa yang kauinginkan?"
"Saya akan pulang ke Indonesia. Ayah saya sakit"
"Kapan kau kembali?"
"Saya tidak akan kembali"
Kali ini Bos-nya memberikan sedikit perhatian dengan meliriknya.
"Pergilah" kata Bos-nya lemah.
Kenzo mendekat dan melihat laki-laki yang dulunya begitu tampan dan terlihat berwibawa telah berubah seperti seorang pengemis. Rambut, kumis dan jenggot panjang, serta baju yang selalu berbau busuk karena alkohol. Sungguh sedih menyaksikan apa yang telah dilakukan cinta untuk Bos-nya.
"Saya pergi. Semua surat kepemilikan aset Anda ada di atas meja"
Kenzo berbalik dan hampir keluar dari kamar Bos-nya saat sekilas melihat foto perempuan yang ada di layar ponsel Bos-nya. Foto perempuan yang kini juga tidak pernah dilihatnya lagi sejak pindah ke London satu tahun lalu.
"Pergi!" kata Bos-nya lagi.
"Kalau Anda merasa bersalah, seharusnya buatlah hidup orang lain bahagia. Jangan mengorbankan orang lain lagi dalam penderitaan yang Anda rasakan" kata Kenzo lalu pergi dari apartemen Bos-nya. Juga dari pekerjaan yang sudah digelutinya selama kurang lebih sepuluh tahun itu. Keluarganya telah membuka toko dan memiliki beberapa rumah sewa dari hasil kerja Kenzo. Jadi, dia ingin hidup lebih baik sekarang. Juga memiliki seseorang yang akan menenangkan hatinya dikala hujan datang. Tidak seperti Bos-nya yang harus tersiksa setiap kali mengingat orang yang dicintainya.
Adhi melihat lantai seperti yang selalu dia lakukan. Setiap detik, setiap menit, setiap jam berlalu hanya seperti itu dalam hari-harinya. Setahun yang lalu dia menyerahkan semua pengurusan perusahaan keluarga Feli pada seseorang yang ahli. Dia juga memberikan semua tanahnya di Indonesia untuk keluarga Feli dan pergi begitu saja ke London. Dia mencoba bekerja lagi tapi tidak bisa melakukan apa-apa saat di pikirannya selalu terbayang tubuh kaku istrinya. Akhirnya Kenzo yang menjalankan semua usahanya di London tanpa kehadirannya sama sekali. Dia tidak peduli lagi ... tapi tenggorokannya sakit sekali sekarang. Dia butuh minum.
Adhi berjalan terseok ke seluruh ruangan di apartemennya dan tidak menemukan satu botol minuman keras-pun tersisa. Semuanya kosong, diminum olehnya.
__ADS_1
"Ken. Belikan aku minum!" perintahnya pada ruangan kosong. Dia baru ingat kalau Kenzo baru saja pergi ... memcat dirinya sendiri untuk bisa kembali ke Indonesia.
"Sialan anak itu. Bukankah kau hidup senang seperti orang kaya disini? Punya mobil mewah, apartemen mewah dan gadis-gadis yang siap melakukan apapun untukmu? Kenapa kau pergi? ... Kenapa kau juga meninggalkan aku sendiri?" oceh Adhi lalu duduk di sofa. Menikmati sinar matahari berwarna jingga yang masuk dari tirai tebal jendelanya.
"Sialan!" umpatnya tidak bisa menahan rasa haus di mulutnya. Dia mengambil jaket dan beberapa lembar uang yang ada di atas meja dan pergi dari apartemennya. Dia berjalan dan mencoba untuk mengingat letak minimarket tapi tidak bisa. Semua yang ada di otaknya seakan terbelit dan tidak dapat diuraikan lagi. Adhi ingin bertanya pada seseorang tapi semua orang menghindarinya. Mungkin karena penampilannya yang sedikit buruk sekarang.
"Ahh, masa bodoh" katanya lalu kembali berjalan menyusuri daerah di sekitar apartemennya untuk menemukan minimarket. Sudah lama sekali dia berjalan tapi tidak menemukan yang dicarinya. Dia menyeah. Dia tidak kuat lagi berjalan dan duduk di sudut sebuah bangunan dengan tembok tinggi.
"Assalamualaikum. Are you okay?"
Sejenak dia menebalkan telinga dan mengira telah salah mendengar. Tapi tidak, dia sepertinya mendengar sapaan yang sering digunakan wanita itu di telinganya. Adhi membuka mata dan melihat seorang pria dengan topi lucu di kepalanya. Apa orang ini yang bicara dengannya tadi? pikirnya.
"Are you okay? Do you need something?" tanya pria itu lagi.
Adhi membentuk sebuah gelas dengan jari jempol dan telunjuknya dan mencoba memberi tahu pria itu bahwa dia membutuhkan minum.
"Masya Allah. Wait here"
"Here" katanya lalu menyodorkan gelas. Yang dimaksud Adhi bukan ini tapi dia tetap menerimanya saja. Setelah minum, mulutnya tidak kering lagi, tapi kerongkongannya terasa panas. Dia kesal dan melempar gelas tadi ke tanah. Menyesal telah menerima minuman yang tidak disukainya.
"Astaghfirullah" kata pria itu mirip sekali dengan apa yang selalu dikatakan Ambar. Wanita itu. Wanita yangmembuatnya mengacuhkan istri dan calon anaknya. Wanita yang membuatnya membiarkan istri dan anaknya mati. Wanita yang membuat hatinya hancur sampai seperti ini. Adhi bangkit dari duduknya dan mencengkeram baju pria di depannya.
"Jangan bicara seperti itu. Jangan!! Kau ... "
Belum sempat dia bicara lagi, kepalanya terasa pusing dan kemudian pingsan. Dia pasti mati sekarang. pasti mati. Daripada hidup seperti ini, mungkin lebih baik dia mati saja.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya seseorang di telinganya. Adhi mencoba membuka mata dan melihat cahaya putih di depannya. Ini pasti jakan menuju neraka. Dia memang pantas dihukum untuk semua dosanya. Adhi berusaha membuka mata lebih lebar dan melihat pria yang tadi. pria yang sama yang memberinya minum. Dia bangun dari pingsan dan menyadari bahwa dirinya masih hidup.
"Anda tidak apa-apa?"
__ADS_1
Tapi kenapa pria itu sekarang bicara dengan bahasa Indonesia? Tampilannya sama sekali bukan seperti orang Indonesia.
"Kau orang Indonesia?"
"Bukan. istri saya orang Indonesia. makanya saya bisa bicara bahasa Indonesia. Anda perlu ke rumah sakit?"
"Tidak. Tidak butuh"
"Apa Anda mau menunggu? Saya akan mengambil sup panas"
Adhi ingin menolak tapi pria itu sudah pergiĀ menjauh. Meninggalkan dia dalam sebuah bangunan luas dengan atap yang tinggi. Di dalam bangunan itu terdapat beberapa orang yang melihatnya juga melakukan sesuatu yang pernah dilihatnya. Kalau benar apa yang dilihatnya, maka bangunan ini adalah ... .
"Untung saja Anda pingsan di depan masjid tadi. Saya tidak akan kuat mengangkat tubuh Anda sendiri. ternyata badan Anda besar juga" kata pria yang tadi meninggalkannya. Sekarang pria itu menyodorkan sebuah mangkuk berisi sup berwarna jingga kepadanya. Masjid. Benar. jadi bangunan ini yang dinamakan masjid? Tempat berdoa orang muslim seperti wanita itu.
"Silahkan dimakan. Pasti Anda kedinginan diluar tadi"
Sekali lagi Adhi ingin menolak tapi beberapa orang mulai menyadari keberadaannya. Hal itu membuatnya malu dan menerima saja sup itu. Perlahan dia memakan sup dan roti keras yang diberikan dan merasa kerongkongannya hangat. Tidak sepanas saat dia minum air tadi.
"Saya Heri, dari Indonesia. Anda?" tanya pria yang memberikan sup padanya.
"Adhi. London"
"Bagaimana Anda bisa bahasa Indonesia?"
"Pekerjaan"
"Ohhh"
Tak lama sup dan roti yang diberikan pria tadi habis disantapnya. Adhi meletakkan mangkuk kosong di depannya dan berdiri untuk segera pergi dari tempat itu. Dia merasa tidak nyaman berada disitu, mungkin karena merasa tubuhnya bau.
__ADS_1
"Anda bisa datang kemari untuk sup panas. Kami memberikannya setiap hari untuk semua orang" kata pria itu saat dia memakai sepatunya dan bergegas keluar. Dia merasakan lagi dinginnya malam diluar masjid lalu melihat ke arah belakang. Pria itu sudah tidak lagi ada di tempatnya tadi. Mungkin sedang berbaris sama seperti pria yang lain di dalam masjid. Dia hanya melihat betapa teraturnya barisan itu melakukan setiap gerakan, sama seperti yang dilihatnya oleh Ambar dulu. Apa namanya gerakan itu? Ambar pernah mengatakan padanya tapi Adhi lupa.
Dia berjalan kembali ke apartemen dan lupa akan niatnya tadi. Perutnya terasanya sedikit lebih hangat dan dia hanya ingin tidur saja sekarang.