
Ambar sedang berada dalam dua pilihan. Dia melihat ke arah desain hantaran di sebelah kiri dan kemudian yang kanan. Yang kiri sangat sederhana dengan hiasan bunga putih di dalam kotak. Yang kanan lebih mengutamakan kemewahan dan elegan secara bersamaan.
"Jadi yang mana kak?" tanya pegawainya.
"Klien kita kali ini menyukai sesuatu yang berbau emas. Tapi calon suaminya suka sesuatu yang simple. Sebaiknya kita menuruti selera pengantin perempuan atau laki-laki? Tapi ini adalah hantaran untuk pengantin perempuan. Jadi sebaiknya kita menggunakan yang kanan saja"
"Baik kak"
Semua berjalan baik untuk toko Ambar akhir-akhir ini. Pelanggan tokonya meningkat hampir lima puluh persen sejak acara pameran UKM di Senayan bulan lalu. Dia harus banyak bersyukur dapat dipilih untuk hadir dalam pameran itu. Ponselnya tiba-tiba berdering saat dia mulai sibuk menentukan tema warna undangan pernikahan salah satu pelanggannya untuk empat bulan yang akan datang.
"Halo. Assalamualaikum"
Tidak ada jawaban untuk salam yang diucapkannya. Lalu terdengar suara ******* seorang perempuan. Ambar melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan terkejut. Ternyata itu Feli yang menghubunginya.
"Fel. Apa kabar?" tanyanya dengan ceria. Baru kali ini sahabatnya itu menghubungi sejak acara pernikahan beberapa bulan lalu.
"Kamu ... di Jakarta?"
"Iya. Fel, aku mau minta maaf belum ngasih kamu selamat atas kehamilan ... . Selamat ya?"
"Kayaknya kamu harus minta maaf juga tentang yang lain Mbar"
"Apa?"
Kenapa Ambar merasa Feli seperti sedang marah sekarang? Suaranya terdengar kesal.
"Aku pengen ketemu kamu" kata Feli tegas.
"Di Bali?"
__ADS_1
"Iya. Aku gak bisa kemana-mana soalnya hamil anak Adhi"
"Oh. Oke. Tapi aku sibuk hari ini sampai Jumat. Gimana kalo hari Sabtu besok?"
"Oke"
"Sampai ketemu ... " Belum selesai bicara Feli sudah menutup teleponnya. Sepertinya sahabatnya itu sedang ada masalah tapi Ambar tidak memiliki firasat apa-apa.
Ambar melanjutkan pekerjaannya seperti biasa dan pulang sekitar jam sepuluh malam. Dia segera mandi dan makan sesuai permintaan ibunya yang sedang sensitif juga. Kenapa hari ini dia berhadapan dengan perempuan yang sensitif? Ibu karena ayahnya. Dan Feli dengan kehamilannya. Selesai makan, dia membuka tirai dan melihat ke arah langit gelap Jakarta.
"Gak ada bintang sama sekali" komentarnya lalu duduk di depan jendela selama beberapa lama dan menikmati kesendiriannya. Ambar tidak tahu ada seseorang yang mengamatinya dari gang. Berdiri di sana dan menyimpan rasa rindu yang semakin dalam untuknya.
Pagi hari Ambar kembali disibukkan oleh pekerjaan di tokonya. Dia pergi pagi dan pulang malam, tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan siapapun. Dan hari Sabtu-pun datang. Dari malam sebelumnya, Ambar sudah mempersiapkan kepergiannya. Juga memberi tahu ibu dan ayahnya.
"Salam buat Feli dari ibu"
"Iya Bu"
Ambar akhirnya berangkat ke Bali dan berjanji bertemu dengan Feli pada sore hari di restoran hotel yang akan dia tempati sampai besok. Dia tidak lupa membawakan sesuatu untuk sahabatnya yang mungkin sedang mengidam itu. Tanpa tahu kalau kedatangannya mungkin akan menyakiti hatinya.
"Fel" siapanya ketika melihat Feli datang ke restoran. Terlihat sahabatnya itu memakai gaun putih pendek selutut. Feli tampak cantik seperti biasa, meskipun sedang hamil. Tapi perut sahabatnya itu belum tampak terlalu besar. Kemungkinan karena ini adalah kehamilan pertama Feli.
"Jangan pura-pura lagi Mbar!" kata Feli mengejutkan Ambar. Dia datang kemari dengan harapan menjalin persahabatan yang sempat renggang sejak pernikahan Feli. Tapi, dia segera dicerca dengan berbagai tuduhan dari mulut sahabatnya itu.
"Kamu ternyata bisa mengkhianati sahabatmu sendiri. Gimana bisa kamu selingkuh sama Adhi? Dia itu suamiku Mbar. Kami juga akan punya anak. Kamu tega banget sih Mbar?"
Ambar hanya bisa tertegun mendengar semua tuduhan Feli karena tidak ingin bertengkar di depan banyak orang seperti ini.
"Kamu ... bersembunyi di balik hijab tapi berani menggoda suami sahabat kamu sendiri. Sampai dimana hubungan kalian? Apa kalian menjalin kasih di belakangku? Apa kamu tidur sama suamiku?" lanjut Feli dengan nada suara yang semakin tinggi. Kelihatannya Ambar tidak bisa lagi bertoleransi pada semua tuduhan Feli. Dia harus melawan karena sahabatnya itu telah membawa-bawa akhlaknya.
__ADS_1
"Fel. Aku ... "
Belum selesai dia ingin membela diri. Seorang perempuan datang ke sisinya dan menampar Feli dengan keras.
"Tega juga kamu ngomong gitu ya Fel. Aku gak tau ternyata kamu orang yang kayak gini!"
"Rea! Kamu kok" Ambar sangat terkejut dengan kehadiran Rea yang tidak pernah disangkanya.
"Ambar gak pernah selingkuh sama suami kamu. Jangan salahkan Ambar karena pernikahan yang gak sesuai dengan harapan kamu!"
"Jadi kamu bela Ambar Re? Kamu juga sahabat aku"
"Sahabat apaan? Kamu diem aja waktu aku dihina Adhi di depan banyak orang. Kamu juga cuma senyum-senyum kayak orang tolol, gak ada niat buat bela aku"
"Itu masalah lain Re. Ambar udah selingkuh sama Adhi. Mereka selingkuh di belakang aku!"
"Kapan?? Aku berani jamin Ambar gak pernah selingkuh sama Adhi. Karena apa? Karena Ambar nolak Adhi yang waktu itu belum nikah sama kamu!!"
Ambar menghela napas panjang. Sejak kapan Rea tahu apa yang terjadi malam itu? Dia tidak pernah mengatakan apapun tentang kejadian itu pada siapapun. Mendengar cerita Rea, membuat Feli sedikit tenang. Kini mereka bertiga duduk dalam diam di tengah restoran yang kemungkinan akan segera mengusir ketiganya karena membuat keributan.
"Fel. Aku ... gak pernah selingkuh sama suami kamu. Gak pernah. Aku memang gak bisa bersumpah tapi aku ... tidak akan pernah melakukan hal itu"
Feli masih membuang mukanya. Tidak ingin melihat ke arahnya sama sekali.
"Ambar memang suka sama Adhi. Tapi apa yang dia lakuin? Gak ada. Dia malah mendukung Adhi nyatain cinta ke kamu. Ngerebut kamu dari tangan Danial. Nikahin kamu. Terus gimana kamu bisa mikir kalo Ambar selingkuh sama Adhi?"
"Kamu suka sama suami aku? Sejak kapan?" tanya Feli seakan masih menuduhnya. Ambar harus meluruskan semuanya. Dia tidak ingin Feli merasa tersiksa dengan hal ini. Apalagi sahabatnya itu dalam keadaan hamil muda.
"Maaf Fel. Aku memang suka sama Adhi waktu itu. Sekarang gak lagi. Aku tahu batas dan kamu juga ngerti kalo aku gak bakal ngelakuin apa-apa sama suami sahabat aku sendiri. Kamu bisa pegang kata-kataku Fel" jelas Ambar berusaha membuat Feli mengerti.
__ADS_1
"Jangan menganggap dirimu suci deh Fel. Kamu juga cinta sama Adhi padahal tunangan dengan kakaknya" tambah Rea. Ucapan Rea sepertinya benar-benar sampai di rumah telinga Feli. Sahabatnya yang sedang hamil itu sekarang menangis. Menyedihkan sekali melihat Feli seperti itu. Sebenarnya apa yang dilakukan cowok itu sampai membuat istrinya seperti ini? Apa Bos Kenzo berselingkuh dengan wanita lain? Apakah mungkin cowok itu melakukannya setelah mereka bertemu beberapa bulan lalu? Ambar tidak mengerti dengan kehidupan pernikahan yang kini sedang dijalani Feli. Padahal dia senang waktu melihat Feli bahagia. Kini Feli tidak tampak gembira sama sekali. Apalagi dengan air mata yang terus menerus meluncur jatuh ke pipinya.
Ambar melihat ke arah Rea dan kemudian memeluk tubuh kurus Feli yang semakin tipis itu.