
"Bodooooo" kata Ambar dalam kamar mandi. Dia sampai tidak sadar masuk ke dalam kamar mandi yang super luas dan bagus hanya karena malu. Malu telah memiliki pikiran kotor tapi tidak ingin pergi. Sungguh ... dia sudah berdosa. Keluar dari kamar mandi, Ambar sudah dalam keadaan siap. Dia hanya memakai celana abu dengan blouse hitam dengan corak bunga. Hijabnya sesuai dengan warna blouse, membuatnya kelihatan santai tapi tidak terlalu sederhana.
"Kau seperti sedang berlibur" komentar Bos Kenzo begitu melihatnya.
"Saya memang sedang liburan"
"Aku akan membelikanmu baju. Aku tidak suka kekasihku memakai sesuatu seperti itu"
"Simpan uang Anda dan bisakah kita makan? Saya lapar"
Selama pembicaraan mereka, Ambar terus saja menunduk dan mengalihkan pandangan ke tempat lain. Dia tidak bisa menatap mata biru cowok itu dan merasa malu.
"Tutup kopermu dulu! Aku sudah puas melihat yang ada di dalamnya"
"Ha?"
Ambar melihat ke arah kopernya yang terbuka dan terkejut karena pakaian dalamnya tampak semuanya. Dia segera menutup kopernya dan merasa semakin malu. bagaimana bisa dia ceroboh? Tapi, untung saja dia hanya membawa pakaian dalam yang sepasang-sepasang untuk liburan ini. Kalau dia bawa yang biasa dipakai, wow, pasti lebih memalukan lagi jadinya.
"Aku ingin melihatmu memakai yang warna biru tua"
"Hahaha, puas sekali Anda mengejek saya. padahal Anda sendiri juga buang air di celana kemarin"
"Apa? Siapa bilang aku buang air?"
"Lha buktinya ganti celana sampe dua kali"
"Aku tidak buang air di celana!"
"Iya, iya. Saya percaya"
Hilang sudah perasaan malu dan tidak nyaman Ambar karena sekamar berdua dengan cowok itu. Memang mereka lebih baik bertengkar daripada ... Ambar merasakan sesuatu yang lain. Tapi, tiba-tiba dia merasakan badannya ditarik dari belakang. Punggungnya membentur dinding daging keras dan tinggi. Lalu suara dalam khas Bos Kenzo menggelitik telinganya.
"Jangan pernah katakan hal itu di depan orang lain! Mengerti?"
__ADS_1
Tidak mau mengulangi kesalahan untuk yang kedua kali, Ambar segera berpindah tempat. Menghindari kedekatan yang tidak perlu itu.
"Oke. Oke" jawabnya.
Bos Kenzo memperbaiki jasnya dan kemudian berjalan ke arah pintu.
"Ayo makan"
Ambar tersenyum mendengar kata itu. Dia lapar sekali karena makanan pesawat selama dua puluh jam terakhir tidak cocok di lidahnya.
"Lets gooo"
Dan terkejutlah Ambar ketika keluar kamar. Tiga pria berbadan seperti buldoser ada disana. Sungguh, dia jadi merasa seperti tahanan yang dijaga agar tidak kabur. Ambar melihat ke arah Bos Kenzo, tapi ekspresi cowok itu datar sekali.
"Silahkan Tuan"
Bos Kenzo menoleh ke Ambar dengan sudut matanya, mengajaknya untuk berjalan maju dan tidak mempedulikan kehadiran tiga pria menakutkan itu. Tapi itu tidak mudah dilakukan. Karena langkah Ambar sama sekali tidak sebanding dengan empat orang lainnya. jadilah Ambar seperti berlari di sepanjang koridor dengan beragam lukisan menghiasi dinding. Terlihat sangat klasik dan mewah. Inilah rumah orang kaya di London, pikir Ambar sambil terus mengejar langkah Bos Kenzo.
"Anda masih ingat dimana ruang makan?" tanya pria plontos yang ada di depan Bos Kenzo.
"Silahkan, Tuan"
Bos Kenzo mengambil waktu selama beberapa detik sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi cahaya matahari terang itu. Dibanding kemewahan yang ada di dalam ruangan itu. Mata Ambar terpaku pada dua orang yang terlihat sudah agak berumur dan sedang melihat ke arah mereka. Itu pasti orang tua Bos Kenzo. Sang ayah memiliki wajah yang mirip sekali dengan putra keduanya. Tapi, mata biru itu sudah pasti diturunkan dari sang ibu. Sungguh pasangan yang tampilannya saja membuat Ambar minder. Meskipun sudah cukup berumur, keduanya tampak berkelas. Seperti bangsawan-bangsawan Inggris yang dilihat AMbar di film atau berita.
"Kenapa diam? Bukankah kita harus menyambut kepulangan Adhitama?"
Ambar menoleh ke arah kanan dan melihat Danial serta Feli disana.
"Selamat datang, Adhi" ucap Feli dengan sedikit enggan. Pasti karena memikirkan perasaan Bos Kenzo saat ini. Ambar kini tidak tahu berbuat apa. Lebih baik dia diam sampai putra yang lama tak kembali itu bicara. Dan putra yang lama tak pulang itu tidak bicara, malahan meraih pinggang Ambar dan menariknya mendekat. Tentu saja Ambar berusaha menekan rasa kagetnya dihadapan empat orang di depannya.
"Terima kasih sudah mengundang kami kemari. Lama sekali tidak melihat Anda berdua"
Begitu asing. Semua kata-kata yang diucapkan oleh Bos Kenzo seakan menandakan dia bukanlah anggota keluarga ini. Itu, membuatnya semakin menyedihkan. Ini keluarganya. Keluarga kandung. Tapi kenapa cowok itu memilih untuk berbuat seperti ini? Kejadian apa sebenarnya yang membuat Bos Kenzo menjadi orang asing dihadapan keluarganya sendiri?
__ADS_1
"Oh, saya juga berterima kasih atas undangan Anda semua" imbuh Ambar berusaha menjaga harga diri Bos Kenzo yang sedang di ambang jurang sekarang.
"Ambarr" Feli menghampirinya, dan AMbar ingin sekali membalas sapaan sahabatnya itu. Sayang sekali tangan yang ada di pinggangnya menekan semakin keras. Seakan tidak membiarkannya pergi. jadilah Ambar hanya menggoyangkan dua tangannya ke arah Feli.
"Kita makan dulu!" kata sang ayah membungkam semuanya di ruangan ini.
Bos Kenzo membawa Ambar duduk di sebelahnya dan akhirnya melepaskan tangannya.
Nah, mulai deh sesuatu yang ditakutkan oleh Ambar. Etika makan di rumah orang kaya London. banyak sekali sendok, garpu di atas meja. Tapi dia sudah melihat banyak sekali video tentang ini. karena dia juga membaut souvenir napkin untuk kliennya yang berasal dari Inggris. Jadilah sampai tahap memakai lap, dia tidak memiliki masalah.
"Kau, kekasih Adhi?" tanya sang ibu dengan menatap lurus ke arah Ambar.
"Yes"
"Berapa lama?"
"Just recently"
"Kami sudah saling mengenal selama enam tahun dan baru saja menjadi kekasih baru-baru ini" jelas Bos Kenzo memotong pertanyaan ibunya. Ambar jadi merasa tidak enak karena sang ibu bertanya pada Ambar dan tidak pada putranya.
"Harusnya mencari kekasih seperti Feli, bukan ... " kata sang ayah lalu melirik pada Ambar. Dia tidak merasa sakit hati karena memang seharusnya itu yang dilakukan oleh Bos Kenzo.
"Sayang sekali karena sudah direbut Danial"
Oh ... oh. Pembicaran yang panas sepertinya akan dimulai. Seharusnya Rea duduk disini dan ikut menikmati saat ini dengannya, pikir Ambar. tapi, ada seberkas tusukan jarum kecil di dada Ambar. Membuatnya kesakitan dan memegang dadanya sendiri.
"Jaga bicaramu. Dia kakak iparmu" sanggah sang ayah.
"Aku tidak pernah diundang. Jadi aku tidak tahu"
Wajah Feli, Danial, sang ayah berubah merah. Mungkin karena terlalu banyak sinar matahari atau bahan pembicaraan yang menarik.
"Kita makan dulu" potong sang ibu meredakan amarah dalam perbincangan yang terjadi.
__ADS_1
Suasana berubah menjadi tidak menyenangkan di dalam ruangan ini. Ambar hanya bisa menunduk dan mencoba untuk tidak mencampuri urusan keluarga Syahreza. Apalagi, dia bukanlah siapa-siapa bagi orang-orang ini.