Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Enam


__ADS_3

"Selamat anniversary!!" seru Feli ke arah Adhi yang baru saja pulang kerja.


"Apa-apaan ini?"


"Ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke dua bulan"


"Lalu?"


"Nggak, aku cuman mau ngerayain aja"


"Aku sibuk"


"Tapi sayang. Bisa tidak kita pergi makan malam di restoran?"


"Aku sudah bilang sibuk. kau pergi saja sendiri dengan ibumu"


Feli melihat suaminya pergi begitu saja. masuk ke dalam ruang kerja dan menurunkan tangannya yang dari tadi memegang bunga.


Dua bulan mereka menikah, tapi kenapa rasanya hanya Feli saja yang merasa senang? Feli duduk di kursi dan melihat kue, kado dan dekorasi yang telah dia siapkan sejak pagi tadi. Ternyata semua ini tidak berguna.


"Nyonya"


"Bi, tolong bereskan semua" kata Feli pada pembantu yang ada di rumahnya.


"Baik. Nyonya besar tadi telepon, Anda diminta untuk mengaktifkan handphone"


"Oh. Iya Bi. Makasih"


"Sama-sama Nyonya"


Feli menghidupkan ponselnya dan masuk semua pesan dari ibunya. Intinya selalu sama setiap kali.


"Suruh Adhi mengirim uang ke ibu"


Feli mulai membalas pesan ibunya yang kini ada di Australia bersama teman-teman arisannya.


"Berapa?"


"Seperti biasa" ternyata ibunya membalas dengan cepat. Hal itu berarti ibunya sudah kehabisan uang di Australia.


"Aku akan bilang ke Adhi" jawab Feli lalu pergi ke ruang kerja suaminya dan mengetuk dengan ragu.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Sayang, ibu ... " Belum selesai bicara, Feli sudah merasa malu.


"Aku akan mengirimkannya sekarang" jawab Adhi tanpa mendengar kalimat lengkap Feli.


"Terima kasih" kata Feli lalu menutup pntu ruang kerja suaminya.


Dua bulan sudah mereka menikah, tapi Feli merasa tidak lebih seperti pembawa pesan bagi ibunya untuk meminta uang. Dia malu dan mulai tidak menuntut apapun dari suaminya. Tapi, bukankah ini sudah keterlaluan? Adhi belum menyentuhnya lagi sejak mereka menikah. Bukan. bahkan saat malam pernikahan, Adhi tidak menyentuhnya. Malam itu Adhi mabuk dan memilih untuk tidur di kamar mandi, lalu merasakan sakit di kaki yang membuat suaminya itu berada di atas kursi roda selama sebulan.


Jadilah Feli hanya bisa menunggu suaminya sembuh. Namun, saat sembuh, Adhi memilih untuk tidur di kamar yang berbeda dengannya. Alasannya adalah karena tidak mau mengganggu istirahat Feli saat Adhi harus banyak bekerja. Tapi ... mereka adalah suami istri yang baru menikah. Bukankah seharusnya mereka ... mesra? Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya mengganggu lamunannya.


"Katakan pada Adhi lain kali mengirim lebih banyak dari sekarang"


Feli tidak ingin lagi membalas pesan ibunya. Dia memilih untuk pergi ke ruang tengah dan berdiam diri di sana.


Karena tidak melakukan apapun, Feli berdiri lalu pergi ke piano. Dia mulai memainkan lagu yang menenangkan hatinya dan mulai merasa lebih baik. Sebuah tepuk tangan menghentikan permainannya. Dia berbalik dan berharap Adhi yang ada dibelakangnya dan kemudian dengan cepat kecewa.


"Bagus banget Nyonya" puji Kenzo yang memang setiap hari selalu keluar masuk rumah dengan bebas. Daripada dia, sepertinya Kenzo adalah orang yang paling banyak berinteraksi dengan Adhi, suaminya.


"Terima kasih. Apa kau datang untuk?"


"Saya mau jemput Bos. Ada sesuatu yang harus diurus di klub malam ini"


"Oh. kapan kalian pulang nanti?"


"Sepertinya dini hari. Bos suka memeriksa laporan keuangan dengan detail"


"Apa kau butuh sesuatu sebelum?"


"Oh tidak. Saya tidak butuh apapun. Saya akan masuk ke ruang Bos sekarang. Lagu yang bagus Nyonya"


Feli kembali menatap piano yang ada di depannya dan merasa sedih. Bahkan Kenzo, anak buah suaminya tidak pernah meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya. Sungguh, Feli merasa sepi sekali.


Perlahan Feli mengeluarkan ponselnya dan mulai melihat-lihat kegiatan teman-temannya. Dua sahabat yang bahkan sampai sekarang tidak pernah menghubunginya tidak tahu karena alasan apa. Rea kelihatan sibuk dengan kerja sama yang baru dilakukannya. Sedangkan Ambar selalu rajin memposting barang yang dijualnya di toko. Hanya dia yang tidak melakukan apa-apa. Atau dia harus bekerja seperti teman-temannya? Pekerjaan apa yang harus dilakukannya? Dari kecil sampai sekarang dia tidak pernah melakukan pekerjaan apapun. Yang bisa dia lakukan hanyalah bermain piano, itupun tidak terlalu mahir.


"Aku akan pergi" kata suaminya yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Oh. Jam berapa kamu pulang?" Feli bangun dan menghampiri suaminya. Berharap mendapatkan sebuah kecupan selamat malam. Tapi Adhi hanya berdiri tegak di sana dan tidak memberinya apapun.


"Pagi. Kau tidur saja" jawab suaminya lalu pergi. Anak buah suaminya juga hanya memberikan sebuah senyuman tipis dan pergi. Meninggalkan Feli sendiri lagi di rumah.


Adhi berjalan dengan ringan ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah keluarga Feli. Dia melihat langit malam sekilas dan berniat untuk segera berangkat ke klub barunya di Surabaya.


"Apa Anda tidak merasa keterlaluan?" tanya Kenzo yang membuka pintu mobil untuknya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Nyonya"


Adhi melihat ke arah rumah lalu menatap anak buahnya.


"Itu bukan urusanmu"


"Tapi Anda terlalu dingin pada ... "


"Diam saja kalau kau masih mau bekerja untukku!"


"Baik Tuan"


Akhirnya mereka sampai di klub baru Adhi. Klub ini memang sudah lama direncanakan oleh Adhi lama sekali. Tapi baru satu bulan ini akhirnya dapat beroperasi. Klub yang terlihat mewah dari luar dan dalam, dibuatnya untuk menarik semua crazy rich yang ada di sekitar Surabaya.


"Semuanya bagus Tuan. Tidak ada masalah dan kendala selama satu bulan ini" lapor manajer pelaksana klub.


"Aku akan ada di kantor"


"Saya akan membawakan laporan keuangan untuk Anda"


Adhi diikuti oleh Kenzo masuk ke dalam sebuah ruangan khusus untuknya, yang bisa melihat semua kegiatan di dalam klub dari dalam.


"Saya sudah mengirim uang untuk mertua Anda tadi" lapor Kenzo.


"Ya"


"Kemana lagi ibu Nyonya? Ke Paris? Wah sungguh menyenangkan. Seandainya saja saya bisa liburan seperti itu"


"Pergilah kalau kau mau" kata Adhi lalu menempati kursi kebesarannya di balik meja besar.


"Kenapa saya merasa Anda selalu siap memecat saya akhir-akhir ini?"


"Kau terlalu berisik"


"Jahat sekali. Padahal saya bahkan belum pernah pulang ke Jakarta. Padahal ayah saya baru saja kembali"


"Diam!!" perintah Adhi lalu mulai memeriksa laporan keuangan klubnya.


"Bicara saja saya tidak boleh. Ya sudah. Lebih baik saya turun dan bersenang-senang"


Adhi tidak melihat anak buahnya itu keluar dari ruangan dan fokus pada pekerjaannya. Satu jam berlalu dan matanya mulai terasa berat. Ini sudah jam satu dini hari. Apa lebih baik dia pulang saja? Tapi percuma. Meskipun pulang, dia tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak. Tubuhnya telah terbiasa waspada karena tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi Feli juga pernah masuk ke dalam selimutnya walau mereka seharusnya tidur di kamar yang berbeda.

__ADS_1


Di kamar yang berbeda. Yah, inilah kehidupan yang kini dijalaninya. Beristri tapi tidak memiliki keinginan untuk menyentuh tubuh Feli. Bahkan hanya untuk kecupan selamat jalan saja, Adhi tidak dapat melakukannya. Semua itu karena sesuatu yang selalu muncul di sekitarnya. Seperti sekarang, dia melihat wanita berhijab yang sedang tidur menggulung di sofa ruangannya.


Adhi mendekati bayangan yang hanya bisa dilihatnya itu. Wajah Ambar tampak putih dan bersih. Bibir itu juga sama seperti ingatannya saat mereka selesai berciuman. Merah merekah dan menggoda. Adhi sadar bahwa wanita yang ada dihadapannya hanyalah bayangan, tidak dapat disentuh. Tapi itu cukup untuknya bisa melanjutkan hari demi hari di hidupnya.


__ADS_2