Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Dua Puluh Lima


__ADS_3

Ambar terbangun disaat alarmnya berbunyi dengan kencang.


"Jam berapa ini?" tanyanya pada diri sendiri lalu meraih ponsel di atas meja. Jam tiga pagi. Dia meregangkan punggung dan merasakan sakit. Kenapa dia bisa tidur di toko? Bukannya pulang dan tidur di kasur yang empuk.


"Dasar bodoh" ucapnya lalu mencoba berdiri. Masih terasa pusing, mungkin karena dia tidak makan apa-apa di hari sebelumnya. Ambar akhirnya turun ke bawah dan melihat diluar toko sepi sekali. Hanya ada satu mobil lain berwarna hitam yang terparkir di depan ruko. Mobil yang bagus, pasti hanya titip parkir disini, pikirnya lalu mengunci toko. Dia tidak tahu cowok yang selalu diimpikannya berada di mobil itu, sedang mengamatinya dalam diam.


"Kamu baru pulang?" tanya ibunya saat Ambar baru masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum Bu"


"Wallaikum salam. Kamu sudah makan belum kemarin?"


"Ambar mau sholat dulu"


"Ibu buatin mie ya?"


"Gak usah Bu. Ambar gak laper"


"Ada rawon buatan budhemu. Makan nasi anget sama tempe goreng ya"


"Nanti pagi aja Bu. Nanggung" katanya lalu berlalu pergi ke kamarnya. Mengganti semua baju dan menjalankan sholat sunnah sebelum berbaring lagi.


Segera setelah berbaring, Ambar teringat pada cowok yang tadi dilihatnya hanya sekilas. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah, menyuruhnya untuk melupakan semua yang terjadi di masa lalu dan menjalani masa sekarang dengan baik. Apa dia menerima semua perjodohan saja? Atau dia menikah langsung saja? Meskipun awalnya tanpa cinta, kalau terus bersama pasti akan tumbuh perasaan saling membutuhkan. Ambar menarik napas panjang dan mendengar suara adzan Subuh. Dia pergi ke kamar mandi dan wudhu lagi.


Jam tujuh pagi, Ambar sudah siap untuk bekerja lagi. Sebelum berangkat, dia dipaksa untuk sarapan terlebih dahulu oleh ibunya. satu demi satu suapan nasi rawon akhirnya masuk ke dalam mulutnya. Tapi tidak bisa terlalu banyak karena Ambar mulai merasa mual. Dia berniat meringkas piring saat ayahnya yang diam saja sejak tadi membuka mulut.


"Ada yang mau melamar kamu"


"Ha?" jawab Ambar dan ibunya bersamaan.


"Ayah sama ibu terus minta kamu ketemu seseorang tapi kamunya gak mau. Sekarang ada yang mau melamar kamu, kamu mau apa enggak?"


Melamar? Wah secepat itukah Allah mengabulkan doanya yang ingin melupakan semuanya? Padahal dia baru saja berdoa kurang dari tiga jam yang lalu, tapi dijabah secepat ini.

__ADS_1


"Siapa Pak?" tanya Ambar lalu meletakkan piring di tas meja lagi.


"Ada. Muslim, bekerja, sudah punya rumah dan mobil. kalo kamu mau, Sabtu ini dia akan ke rumah dan melamar secara resmi"


Mata Ambar terbuka lebar. Sabtu? Itu tinggal tiga hari lagi. Apa ayahnya tidak bercanda? Mana mungkin ada orang yang mau melamar tanpa pernah bertemu dengannya sama sekali?


"Bapak beneran?" tanyanya berusaha mengkonfirmasi kebenaran kabar yang diutarakan ayahnya.


"Kamu pikir Bapak bercanda?" kata ayahnya  lalu melihat ke arah Ambar. Dari situ Ambar tahu ayahnya tidak bercanda. Wah, Allah benar-benar ingin dia move on rupanya. Tapi ... apa benar dia akan melakukan ini? Menikah dengan orang yang tidak dikenalnya? Lalu berharap akan ada perasaan yang muncul di kemudian hari? Bukankah ini keinginannya yang diucapkan saat sholat sunnah tadi? Apa Ambar akan mengingkari keinginannya sendiri sekarang?


"Bapak terima saja" jawab Ambar mengejutkan orang tuanya.


Tentu saja mereka akan terkejut. Selama ini dia selalu menolak dijodohkan, tapi disaat ada yang melamar. Dia mau saja.


"Mbar, kamu bener nerima lamaran ini?" tanya ibunya tidak percaya. Sebenarnya Ambar juga tidak percaya dengan semua ini. Tapi mungkin inilah yang telah digariskan oleh Tuhan untuknya. Jadi, Apa salahnya menjalankan semua yang sudah ditata oleh Tuhan untuknya?


"Iya Bu. Ambar sudah malas dijodohkan terus"


"Tapi ... "


"Bapak akan bicara sama calon suamimu nanti. Hari Sabtu ini kita siapkan acara lamaran"


Ambar berangkat kerja dengan suasana hati yang baru. Dia tidak menyangka setelah semalam menangis karena cowok itu. Kini dia telah menerima lamaran laki-laki lain. Sungguh seperti mimpi, tapi semoga mimpi yang berakhir baik. Yah, dia juga butuh melangkah keluar dari rasa bersalaha yang terus melingkupi hatinya selama ini. Pasti semua baik-baik saja, katanya pada diri sendiri lalu berangkat bekerja.


Ayah Ambar sebenarnya sangat terkejut dengan jawaban putrinya yang menyetujui lamaran itu. Dia tidak pernah menyangka putrinya yang sama sekali tidak tahu siapa yang melamar itu akan mengatakan iya dengan begitu mudahnya. Apa ini yang disebut jodoh? pikirnya lalu menerima tatapan curiga dari istrinya.


"Apa?" tanyanya pada istrinya.


"Siapa? Siapa yang mau melamar Ambar? Bapak ketemu dimana? Sudah punya rumah, mobil, pekerjaan. Siapa Pak?"


"Jangan berisik. kamu siapkan saja acara lamaran Sabtu pagi ini. Aku telpon calon mantu dulu"


"Siapa Pak?"

__ADS_1


Ayah Ambar berjalan menjauhi rumah dan istrinya lalu menekan-nekan deretan nomor yang ditulis di sebuah kertas ke ponsel jadulnya.


"Halo Assalamualaikum"


"Wallaikum salam"


"Pak. Saya ... "


"Ambar menerima"


"Apa?"


"Kalo kamu memang serius. Datang hari Sabtu pagi ini"


Laki-laki itu diam sebentar tapi ayah Ambar menunggu dengan tenang.


"Insya Allah saya datang"


"Ya sudah. Assalamualaikum"


"Wallaikum salam"


Ayah Ambar melihat ke arah masjid yang didatanginya pagi tadi dan menghela napas lega. Dia tidak pernah tahu sholat Subuh akan membuatnya mendapatkan calon menantu. Laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan yang menyakiti putrinya. laki-laki yang sudah pernah menikah dan memiliki masa lalu tidak baik. Ayah Ambar sangat mengerti hal itu. Tapi ... hanya laki-laki itu saja yang berani berhadapan dengannya dan dengan berani mengatakan akan menikahi putrinya.


"Saya akan menikahi Ambar. Saya akan membuatnya bahagia"


Itu kata laki-laki itu dengan mantap, bahkan saat disaksikan oleh semua jamaah Subuh tadi pagi. Memang laki-laki itu memiliki banyak kekurangan, termasuk belum lama memeluk agama Islam. Tapi ... kalau memang jodoh, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa.


"Kalau kamu serius, aku akan tanya anakku. Kapan kamu bisa datang melamar?" tanyanya dengan tubuh agak berjinjit karena tidak ingin tampak kecil di depan laki-laki itu.


"Sabtu pagi ini"


"Aku akan tanya Ambar. Kalau dia bilang iya. kamu boleh datang melamar"

__ADS_1


"Baik"


Hanya begitu saja dan sekarang dia sudah mendapatkan calon mantu.Ayah Ambar kembali ke rumah dan masih menerima tatapan curiga dari istrinya. Tapi dia akan menyembunyikan jati diri calon suami Ambar sampai mereka bertemu Sabtu nanti. Setidaknya Ambar sudah bilang iya untuk acara lamaran.


__ADS_2