
Ambar ada di luar ruang UGD, menunggu kabar dari ayahnya yang ada ddi dalam. Beberapa perawat tadi sudah menangani ibunya dan menunggu pemeriksaan dokter yang sibuk dengan pasien lainnya. Detik demi detik, menit demi menit berlalu seakan membuat Ambar semakin menderita. Setelah menunggu selama kurang lebih lima belas menit akhirnya ayahnya keluar dari UGD dibarengi sebuah ranjang yang didorong keluar. Ambar melihat sekantung infus digantung di sebelah ranjang ibunya yang terlihat masih pucat.
"Gimana Pak?" tanya Ambar tidak sabar.
"Kecapekan. Ibumu perlu istirahat dua hari di rumah sakit"
Rasanya lega sekali Ambar mendengar penjelasan singkat ayahnya. Dia bersyukur tidak ada sesuatu yang fatal terjadi pada ibunya.
Sampai di kamar yang sudah disiapkan, Ambar duduk di samping ibunya. Perlahan mata ibunya terbuka dan Ambar mendorong dirinya sendiri mendekat.
"Bu, ibu gak apa-apa?"
"Gak apa-apa. Cuman lemes aja"
"Alhamdulillah. Ibu pengen apa? Biar Ambar beliin"
Ibunya terdiam agak lama sebelum bisa menjawab pertanyaan dari Ambar.
"Ibu pengen kamu bahagia Mbar. Jangan menghukum diri sendiri lagi Nak. Ini sudah dua tahun sejak Feli pergi"
Ambar terkejut dan melepaskan tangan ibunya yang terasa dingin. Bagaimana bisa ibunya tahu tentang perasaannya selama ini? padahala Ambar tidak pernah memberitahu siapapun termassuk ibunya. bagaimana dia berurusan dengan rasa bersalah yang terus menghantui hidupnya selama dua tahun ini.
"Bu. AMbar"
"Ibu tahu, Bapak juga tahu."
"Kalo gitu, ibu ngerti kan kalo AMbar gak bisa nerima lamaran cowok itu"
"Yang penting kamu bahagia Nak. Ibu gak mau lihat kamu gak ada semangat kayak gini"
"Bu. Ambar ... "
"Lupain masa lalu Nak. Kamu berhak bahagia. Jalan apapun yang kamu pilih nanti, ibu sama Bapak berharap kamu bahagia"
Ambar tidak bisa mengangkat wajahnya karena malu. Selama dua tahun ini dia memang terlalu sibuk dengan rasa bersalahnya sendiri. Melupakan kalau ada dua orang yang akan sedih melihatnya menderita. Dia memang seharusnya sudah melupakan semuanya, tapi rasanya sulit sekali. Apalagi karena dia sebenarnya masih mencintai cowok itu.
"Ambar keluar dulu. Ibu istirahat aja dulu"
__ADS_1
Ambar melewati ayahnya yang juga memiliki ekspresi sama dan keluar dari ruangan. Hatinya terasa sesak sekali, mengetahui orang tuanya berpikiran dia tidak bahagia. Seharusnya dia tidak menunjukkan peneritaannya dan pura-pura bahagia. Tapi bagaimana kalau dia memang tidak merasa bahagia? Lalu, sekarang apa yang harus dilakukannya? Apa dia harus segera menikah hanya untuk membuat kedua orang tuanya senang? Apa dia harus menerima lamaran cowok itu? Tapi dia sudah menolaknya dengan tegas tadi? Ambar merasa sangat bingung sekarang, seakan tidak bisa berpikir lagi.
Adhi merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Sudah tahu kalau wanita yang dicintainya sedang membencinya selama dua tahun ini. tapi masih beraharap diterima begitu saja saat melamar. hanya berbekal rasa cinta yang masih begitu besar dalam dirinya. Harusnya dia mendekati AMbar secara perlahan dan tidak segera melamar seperti ini. Kini, setelah ditolak, apa yang akan dia lakukan? Wanita itu meskipun memiliki perasaan yang sama, tetap tidak akan menerima cintanya. Bagaimana cara Adhi membuat Ambar bahagia kalau seperti ini? Apa dia harus menjodohkan seseorang untuk Ambar? Dan merasa sakit hati saat melakukan hal itu?
"Sial!!" umpatnya lalu beristighfar.
Lalu sebuah kabar masuk ke dalam ponselnya. Adhi segera tancap gas dan kembali ke hotel. Membereskan semua barangnya dan check-out dari hotel.
"Apakah Anda tidak jadi memperpanjang kunjungan Anda Tuan?" tanya resepsionis.
"Tidak. Aku tidak akan datang lagi ke negara ini" jawab Adhi lalu berlalu pergi mengejar pesawat yang sudah dipesannya tadi.
Membutuhkan waktu kurang lebih enam belas jam untuknya sampai di London. Dan Adhi segera pergi ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat karena serangan jantung.
"Kau datang" kata ibunya yang melihat Adhi datang.
"Apa yang terjadi?"
"Danial masih di dalam. Berbicara dengan ayahmu. Tiba-tiba saja ayahmu tidak bangun dari tidurnya. Ibu segera menghubungi dokter dan mereka membawanya kemari"
Tak lama Danial keluar dari ruangan tempat pria tua yang mengusir Adhi terbaring.
"Apa aku tidak perlu ke dalam?"
"Sebaiknya jangan. Ayah masih kesal dengan keputusanmu pindah agama"
Adhi mengangkat alisnya, menyadari kalau ayahnya memang tidak terllau menyukai keputusannya. Tapi sejak dulu ayahnya tidak pernah menyukai apapun tentangnya. Jadi Adhi tidak terlalu peduli lagi. Tapi mendengar pria tua itu terkapar sempat membuatnya terkejut dan memilih untuk segera pulang.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Adhi pada kakak yang akhir-akhir ini sering menghubungi dan mempekerjakannya saat menjadi pengangguran selama ini.
"Aku ingin kau menjalankan perusahaan"
"Apa?"
"Bukan semua. Hanya cabang yang ada di Asia"
Adhi tidak pernah sekalipun berpikir dia akan memimpin perusahaan yang selama ini dipegang oleh Danial. Setelah diusir dari rumah, dia menjalankan bisnis yang tidak pernah berhubungan dengan jasa keamanan. Dan sekarang?
__ADS_1
"Kurasa ayah tidak akan pernah setuju tentang hal itu"
"Ayah yang mengusulkan ini"
Apa? Ayahnya yang mengusulkan hal ini? Sungguh mengejutkan dan tidak dapat dipercaya.
Pria tua itu ternyata benar-benar sakit, pikir Adhi
"Kau tidak memiliki pekerjaan dan hotel bisa diurus oleh yang lain"
"Aku tidak terlalu membutuhkan uang" jawab Adhi malas.
"Aku membutuhkan bantuanmu"
Sebenarnya sejak dua tahun lalu, Adhi memang kehilangan hampir dua pertiga uangnya. Semua diserahkannya pada keluarga Feli. Semua itu dilakukannya dengan sadar dan Adhi tidak pernah merasa menyesal sampai sekarang. Hanya saja, dia menjadi pengangguran dan tidak memiliki uang bahkan untuk hidupnya sendiri. Disaat itulah Danial datang dan menawarkan sebuah pekerjaan untuknya. Memperbaiki hotel milik teman Danial yang hampir bangkrut. Untungnya selama delapan bulan memimpin Adhi bisa memperbaiki hotel itu. Dia bisa menaikkan pemasukan dan membenahi manajemen hotel. Seperti yang dilakukannya pada perusahaan keluarga Feli dulu. Dan sekarang saat Danial membutuhkan bantuannya, dia tidak mungkin menutup mata dan pergi begitu saja.
"Pasti banyak yang tidak setuju dengan keputusanmu ini" katanya lalu memandang mata biru yang lebih gelap milik Danial.
"Ya. Aku tahu. Tapi aku tidak mungkin memegang semuanya. Ayah juga mengerti hal itu"
Adhi berpikir sejenak, lalu menyetujui usul Danial.
"Sampai kapan aku harus melakukannya?"
"Selamanya. Cabang Asia adalah milikmu mulai sekarang"
Adhi merasakan beban berat tiba-tiba hinggap di pundaknya. Tapi dia tidak boleh mundur dari keputusannya.
"Kapan aku harus pergi?"
"Minggu depan. Tunggu sampai ayah pulang ke rumah"
"Baiklah"
Dua putra keluarga Syahreza yang tinggi, tampan dan bermata biru itu akhirnya berjalan kembali ke ruangan ayah mereka. Adhi dipeluk oleh ibunya yang kembali menangis.
"Putraku akhirnya pulang" kata ibunya membuat Adhi sedikit sedih.
__ADS_1
Iya. Akhirnya dia pulang. Menjadi putra kedua keluarga Syahreza lagi dan menjalankan usaha keluarga.