
"Kenapa Mbar?"
Ambar tidak tahu apa yang sudah dilakukannya. Kenapa dia melakukan sesuatu seperti itu? Apa tujuannya mencengkeram kemeja cowok itu dengan kuat? Sepertinya dokter memang memberikan obat yang salah padanya. Tidak. Bukan itu. Ambar seperti memohon cowok itu untuk tetap bersamanya. Apa yang terjadi padanya? Jangan bilang kalau ... dia memiliki perasan pada cowok itu. Tidak ... tidak boleh. Ambar menutup mulut dengan tangannya, seakan tidak ingin mengakui sesuatu telah terjadi pada hatinya.
"Gak ada apa-apa Bu. Kok Bapak gak balik-balik?" Ambar hanya ingin segera pulang sekarang.
"Kan Nak Galih sama Bapakmu ambil obat sekalian tadi. Kenapa? Kamu pusing lagi?"
"Gak, cuman ... "
"Mbar kamu kenapa?"
Tanpa Ambar sadari, air mata mulai mengalir di pipinya.Air mata apa ini? Kenapa dia menangis? Mata Ambar tidak berhenti mengeluarkan air mata karena hatinya telah menyadari sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh terjadi pada dirinya. Tidak boleh.
"Sialan" katanya lirih. Untung saja ibunya tidak mendengar umpatan itu.
"Iya. Tadi Ambar nangis"
"Apa?"
"Kamu udah gak apa-apa?"
Ayah, ibu dan Mas Galih mulai membuat keributan tentang Ambar yang baru saja menangis di mobil. Padahal dia ingin melupakan kejadian itu.
"Udah Bu. Ambar pusing"
Dengan sebuah keluhan, akhirnya ketiga orang yang ada di sekitar Ambar terdiam. Setelah sepuluh menit, mereka semua sampai di rumah Ambar.
"Udah, kamu istirahat aja dulu"
"Iya"
Ambar menuruti ibunya dan pergi naik ke kamarnya untuk tidur.
Hari itu berlalu begitu saja. Makan, tidur dan sholat, hanya tiga hal itu yang dilakukan Ambar selama sisa hari Minggunya yang berharga. Bahkan ponselnya juga ikut tertidur karena Ambar lupa nge-cas. Sebelum semakin lama lupanya, Ambar menyambungkan ponselnya dengan pengisi daya. Setelah dihidupkan, mulailah muncul pesan-pesan yang tertunda masuk. Beberapa hanyalah notifikasi like dan komen di laman instagram toko. Dua yang serius bertanya tentang souvenir dan undangan. Tiga pesan dari Rea, yang ingin menanyakan masalah perjodohan. Dan satu pesan ... membuat Ambar terpaku.
__ADS_1
"Kuharap kau baik-baik saja"
Ambar menatap layar ponsel cukup lama sebelum bisa bernapas normal lagi. Dengan penuh kesadaran, dia menghapus pesan itu dan kembali terdiam. Dia harus menjauhi cowok itu. Dia tidak boleh berdekatan dengan cowok itu lagi. Sebelum dia nanti terperosok lebih jauh dalam perasaan yang tidak diperbolehkan dalam agamanya. Sebaik-baiknya laki-laki, maka lebih baik yang seagama dengannya. Hal itu terus menerus dicamkan Ambar dalam pikirannya sebelum tertidur kembali.
Besoknya, kondisi tubuh Ambar membaik. Kepalanya tidak lagi pusing dan perutnya baik-baik saja.
"Kamu mau kemana?" tanya ibunya melihat Ambar sudah berpakaian rapi.
"Kerja"
"Kamu baru aja sembuh Mbar"
"Ambar gak kerja di orang lain Bu. Gak bisa seenaknya ambil cuti"
"Tapi Mbar"
"Ambar udah gak apa-apa kok Bu"
Setelah memakan nasi dan sop ayam sedikit, Ambar segera berjalan keluar dari rumah. Dia mencari sesuatu di tasnya lalu teringat kalau mobilnya ada di tangan cowok itu. Segera saja dia memesan ojek online dan pergi ke toko. Hari ini dia dan pegawainya hanya perlu membuat katalog produk. Jadi, tidak memerlukan banyak tenaga.
"Kak, kayaknya pucet deh"
"Iya. Apa kak Ambar sakit?"
Ambar menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan pergi ke dapur untuk minum. Seharusnya dia tidak bekerja terlalu keras hari ini, atau bisa pingsan lagi. Padahal dalam hidupnya, Ambar tidak pernah sekalipun pingsan. Ini aneh sekali. Sepertinya, semakin kesini, Ambar merasakan banyak hal yang berubah darinya. Apa itu karena usianya yang semakin bertambah? Ataua memang dia membutuhkan seseorang di sampingnya? Selain ayah dan ibunya.
"Kak Ambar gak mending pulang aja sekarang?"
"Kita masih banyak kerjaan"
"Tapi"
"Udah ayo lanjutin lagi"
Ambar melanjutkan pekerjaannya, meskipun kali ini lebih pelan dari sebelumnya. Dia tidak ingin merusak pekerjaan yang sudah terlanjur dimulai. Saat sholat Dhuhur, dia duduk lebih lama di atas sajadah sebelum pegawainya memberitahukan ada seseorang yang mengantar kunci mobil. Dia melepas mukena dan berjalan turun dari ruangannya.
__ADS_1
"Anda Nona Ambar Ramadhani?"
"Iya"
"Saya diperintahkan Tuan Adhitama untuk mengantar mobil. Ini kuncinya"
Ambar melihat ke tempat parkir di depan tokonya, mobil putihnya telah ada disana.
"Iya. Terima kasih"
Orang yang mengantar mobilnya segera berbalik dan pergi menjauh, meninggalkan Ambar yang masih memperhatikan mobilnya.Untunglah. Untung bukan cowok itu yang mengantar. Mulai sekarang, dia tidak boleh melihat cowok itu lagi. Apa yang dilakukannya hanyalah untuk membantu Feli menemukan jalan terbaiknya. Bukan untuk menumbuhkan perasaan terlarang. Jadi, Ambar harus meluruskan otak dan imannya lagi sekarang. Tidak ada lagi alasan untuk melakukan sebaliknya. Ambar berbalik dan mulai bekerja lagi. Kali ini lebih fokus dari sebelumnya.
"Apa dia sendiri yang menerima?"
"Iya Tuan. Nona Ambar Ramadhani sendiri yang menerima"
"Apa wanita itu ... bertanya tentang aku?"
"Tidak Tuan"
Adhi mendengus sinis.
"Baiklah"
Adhi memutus panggilan teleponnya dan memandang jauh ke taman yang ada diluar cafenya. Wanita itu, tidak membalas pesan ataupun bertanya tentangnya. Hal itu ... sangat bagus. Bukankah hal itu bagus? tanya Adhi pada dirinya sendiri.
Dia meletakkan ponselnya di atas meja dan duduk menhadap laptop. Dia harus bekerja lagi. Tidak ada waktu yang bisa terbuang hanya unuk memikirkan wanita itu. Tapi ... kenapa wanita itu tetap ke toko? pasti tubuh Ambar belum terlalu sehat sekarang. Apa wanita itu terlalu bodoh untuk mengetahui kondisi tubuhnya sendiri? Adhi mendoong kursinya menjauh dari meja lalu berdiri. Dia mengambil kunci mobil yang ada di atas meja lalu berjalan ke arah pintu. Tepat sebelum membuka pintu, dia berhenti.
Kalau dia pergi kesana lalu, apa yang akan dia lakukan? Tidak ada. Dia tidak mungkin memaksa wanita itu untuk pulang dan berisitirahat. Atau dia akan menggendong Ambar lagi, lalu merasakan kehangatan dari tubuh wanita itu di dekatnya. Adhi perlahan melangkah mundur. Dia adalah seorang Adhitama Elvan Syahreza. Laki-laki kaya, tampan, memiliki badan sempurna yang menyukai satu perempuan selama sepuluh tahun ini. Felycia. Tidak ada lagi perempuan lain yang bisa menggantikan Feli di hati dan pikirannya. Tidak ada.
Setelah memastikan pikirannya dalam jalur yang benar, Adhi kembali ke mejanya. Dan mulai bekerja, lebih keras dan sibuk dari sebelumnya.
__ADS_1