
Ambar masih sibuk bekerja dan tidak melihat ponselnya sama sekali. Sampai menjelang sore, Ambar sama sekali tidak memegang maupun melihat ponselnya. Lalu, sebuah telepon membuatnya mencari ponsel. Saat ketemu dia segera menerima telepon itu dan tidak melihat pesan dari Feli.
"Halo Asslamualaikum"
"Dimana kau?"
"Ha? Siapa ini?"
Ambar melihat nama di layar ponselnya. Bos Kenzo muncul disana. Waduh, kenapa cowok ini menghubunginya lagi?
"Apa kau tidak menyimpan nomorku?"
"Disimpan disimpan. Ada apa Anda menghubungi saya?"
"Cepat datang ke rumah sakit"
"Kenapa? Apa Feli kesana lagi?"
"Tidak"
"Terus?"
"Cepat kemari!!"
Belum sempat Ambar menolak, telepon sudah diputus begitu saja. Tentu saja hal itu membuat Ambar jengkel. Dia begitu sibuk dan tidak ingin membuang waktu untuk hal-hal semacam ini. Tidak jelas lagi apa yang diinginkan oleh cowok bule itu.
"Mau pulang kak?" tanya salah satu pegawainya.
"Oh iya, udah sore ya. Kalo gitu, kalian juga ikut pulang aja. Pasti kalian juga udah capek"
"Boleh kak?"
"Ya boleh lah. Kenapa gak? Ayo pulang!"
Ambar menutup tokonya setelah melepas kepulangan pegawainya yang tersenyum tiada henti. Dia kemudian pergi ke rumah sakit dengan sedikit lebih cepat karena khawatir sesuatu terjadi pada cowok bule itu.
Sesampainya di rumah sakit, dia melihat pemandangan yang tidak seharusnya disaksikan oleh mata telanjangnya.
Cowok bule itu, Bos Kenzo itu terbaring di atas tempat tidur dalam keadaan telanjang bulat. tanpa ada sesuatu yang menutupi kecuali gips di kaki dan tangannya. Belum terhapus ingatan Ambar akan kejadian semalam, sekarang dia harus menghadapi sesuatu seperti ini lagi.
"Apa ... itu?" tanyanya lalu berbalik dan menatap tembok.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu?"
__ADS_1
"Tapi, harusnya. Anda ngapain sih???"
"Aku butuh bantuan untuk memakai baju"
"Kan di rumah sakit ini ada perawat!"
"Aku tidak suka dilihat oleh orang lain"
"Saya juga orang lain"
"Aku lebih mengenalmu daripada perawat disini"
Ingin sekali Ambar berteriak dan menyerang coowk tidak tahu malu itu. Saat tersadar laki-laki itu sebenarnya sedang dalam masa penyembuhan, Ambar merasa harus lebih bersabar lagi. Tapi ... dia sudah melihat semuanya. bagaimana caranya untuk menyucikan mata dan pikirannya nanti.
"Ambilkan baju dan celanaku di koper yang dibawa Kenzo tadi pagi!" kata cowok itu berusaha memerintahnya. Ambar kemudian memiliki ide dari perkataan cowok itu.
"Saya akan menghubungi Kenzo kalau begitu. Sebentar"
"Cepat, tidak lama lagi dokter akan kemari dan memeriksaku"
"Lalu, kenapa Anda memutuskan untuk seperti itu sekarang?"
"Bawa bajuku kemari!!"
Ambar menahan diri sekuat tenaga lalu mencari-cari koper yang dimaksud cowok itu. tentu saja dengan menghindarkan matanya dari pemandangan tidak senonoh dekat ranjang. Dia menemukan koper itu di dekat sofa dan segera membukanya. Disana ada beberapa kemeja,kaos, dan celana panjang yang sepertinya tidak mungkin dipakai oleh cowok itu. Apa Kenzo bodoh? kenapa dia membawakan baju seperti ini? Tiba-tiba Ambar tersadar akan sesuatu yang penting.
Tidak terdengar apapun dari arah ranjang, dan perlahan sebuah suara cekikikan mulai mengganggunya. Dia menoleh dengan cepat lalu melihat cowok itu telah menutupi tubuhnya dengan pakaian rumah sakit yang baru.
"Kau bodoh sekali. Sama dengan Kenzo"
Kesal. Marah. Ambar merasakan segala jenis emosi penghancur di dada dan otaknya sekarang. Ingin sekali dia mengeluarkan kepalan tangan dan menghajar cowok yang hanya bisa berbaring itu. Kurang ajar sekali cowok itu mengerjainya seperti ini.
"Kau sungguh lucu, sayangku"
Ambar terdiam. Selama dua puluh enam tahun hidupnya, belum pernah sekalipun Ambar ditipu seperti ini. Apalgi oleh seseorang yang tidak dikenalnya dengan baik.
Bagaimana kalau sekarang dia pergi saja dari kamar ini, meninggalkan cowok yang masih menertawakannya itu.
"Apakah Anda sudah puas?"
"Yah, sedikit"
"Kalau begitu sebaiknya saya pergi agar Anda dapat tertawa dengan lebih leluasa"
__ADS_1
"Kau marah?"
"Tidak" Ambar berbohong untuk menyelamatkan harga dirinya yang hancur.
"Iya, kau marah"
Ambar heran sekali dengan cowok yang ada di depannya. Enam tahun lalu, seingat Ambar Bos Kenzo bukanlah orang yang suka tersenyum. Apalagi tertawa. Tidak pernah bicara banyak dan selalu bersikap cool atau keren. Selayaknya pemilik klub malam yang penuh dengan aura misterius. Lalu, kenapa sekarang Ambar melihat sisi cowok itu yang lain?
"Saya tidak marah" jawab Ambar lalu melihat tepat ke arah mata biru cowok yang menipunya. Biru, sangat biru. Dibandingkan dengan kakaknya, cowok ini memiliki mata yang lebih cerah. Seperti langit siang yang luas seperti menyentuh cakrawala. Indah sekali. Tanpa disadarinya, Ambar telah bertatapan dengan cowok itu selama kurang lebih dua menit lalu tersadar dan membuang muka ke arah dinding.
Adhi memang berniat untuk melakukan sedikit keisengan yang menghiburnya. Terkurung selama kurang lebih tiga hari di tempat berdinding empat tanpa bisa melakukan apa-apa telah membuatnya bosan. Ide itu muncul saat Kenzo, anak buahnya itu datang membawa koper besar berisi baju, celana dan pakaian dalam untuknya. Tentu saja dia tidak bisa memakai semua itu karena gips di tangan dan kakinya. Saat Adhi marah karena kebodohan anak buahnya,. Kenzo berbalik menyerangnya dengan kehadiran Ambar di kamar ini semalam.
"Saya tidak suka Anda memanggil Ambar lagi kemari"
Adhi heran. Padahal Kenzo yang meletakkan Ambar dalam posisi ini. Tapi seakan menyalahkan Adhi atas segala yang terjadi.
"Ambar kini kekasihku"
"Apa??"
Rasa terkejut Kenzo dan keinginan melindungi yang berlebihan itu menandakan satu hal. Anak buahnya itu menyukai temannya sendiri dan menyesal telah memanggil Ambar untuk datang kemari.
"Aku hanya membuatnya menjadi kekasihku selama dua bulan"
"Tapi, Ambar pasti tidak setuju"
"Dia setuju"
"Apa?" Terlihat sekali penyesalan di wajah Kenzo, membuat Adhi kesal saja.
"Aku tidak akan melakukan apapun padanya karena dia temanmu. Aku hanya membutuhkannya saat Feli ada di sekitarku"
"Oh, apa benar itu Bos?"
"Kau pikir aku menipumu?"
"Kalau begitu. Bisakah Bos lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu?"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Bisakah Bos tidak memperlihatkan bagian tubuh Bos pada Ambar? Dia perempuan yang masih polos dan suci"
Karena bosan, kesal pada anak buahnya dan penasaran, akhirnya Adhi melakukan percobaan pada Ambar. Dan hasilnya sangat memuaskan. Setidaknya dia senang karena melihat ekspresi yang langka itu. Tapi, kenapa wanita itu melihatnya tepat di mata dan seakan sedang mengelupas kulit Adhi satu persatu? Pandangan tegas Ambar membuat Adhi terdiam selama beberapa waktu. Belum pernah dia merasakan sesuatu seperti ini. Sepertinya, apa yang baru saja dilakukannya menimbulkan akibat di dua sisi. Dan hal itu tidak disukainya.