Second Lead Fate

Second Lead Fate
Sembilan Puluh Tujuh


__ADS_3

Adhi melihat wanita yang kini ada di atas pangkuannya. Ingin sekali dia memeluk wanita itu dan menyerap semua kehangatan tubuh Ambar hanya agar dia mengingat hal itu untuk seumur hidup. Tapi, untuk apa dia melakukan sesuatu yang akan membuatnya semakin bingung?


"Perhatikan jalanmu!" katanya dengan mengeraskan rahang.


"Oh, maaf. Saya ... "


Wanita itu segera bangun dari pangkuan Adhi dan menyisakan penyesalan yang besar.


"Kau pulang saja!"


"Ha?"


Adhi menengadah dan melihat bola mata berwarna hitam yang sedang menatapnya.


"Aku tidak mau kau mengantarku pulang. Aku sudah menghubungi temanku untuk mengantar pulang. Kau pikir saja sendiri cara untuk kembali ke toko kecilmu!"


Wanita iu terdiam untuk sesaat lalu mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah. Saya akan pergi setelah teman Anda datang"


Adhi tidak ingin berdebat dan hanya bisa duduk di kursi roda menatap halaman parkir gelap yang ada di hadapannya. Dengan Ambar yang masih setia menunggu di sebelahnya. Suasana dan siuasi seperti ini, tidak akan pernah dia alami lagi. Dan wanita itu juga, tidak akan pernah lagi berada di sebelahnya. Mereka akan menjalani kehidupan masing-masing yang memang telah ditakdirkan untuk keduanya. Secara terpisah. Saat Adhi melihat temannya datang, dia merasa sedih. Tinggal sebentar lagi, dia akan terbebas dari perasaan kacau yang menyiksanya sepanjang hari.


"Temanku sudah datang" katanya lalu menunjuk ke arah Andy.


"Oh, iya. Itu pak Andy. Baiklah, saya pergi dulu"


Adhi merasakan aroma tubuh Ambar untuk terakhir kalinya saat wanita itu melewatinya saat angin sedang berhembus. Kain baju Ambar yang berkibar menyentuh tangannya yang dingin dan tiba-tiba dia menggenggamnya. Menyebabkan wanita itu tidak bisa berjalan maju dan tertahan. Sepertinya pernah ada kejadian yang sama bebeerapa minggu lalu. Hanya saja terbalik. Ambar saat itu menggenggam erat jasnya dan menatapnya dengan mata yang siap menangis. Saat itu, pertama kali perasaan Adhi menjadi kacau karena Ambar.


Meskipun merasa sial, Ambar senang bisa melihat mata biru asli yang mungkin tidak akan pernah dilihatnya lagi setelah hari ini. Karena mata biru itu akan melihat pada satu wanita saja. Feli. Tapi, Bos Kenzo memberikan batasan yang jelas, sehingga Ambar merasa dia harus menepis semua keinginannya yang konyol. Saat Bos Kenzo menyuruhnya pulang, ada rasa sedih yang membuat dadanya sesak. Namun dia terpaksa harus menyetujuinya. Sekali lagi, karena cowok itu akan menjadi suami Feli, sahabatnya lusa nanti. Sudah berapa kali Ambar mengulang kata-kata itu dalam hatinya hari ini. Hanya sekedar untuk mengingatkan posisinya dalam hubungan antara Bos Kenzo dan sahabatnya.


Tapi, kenapa dia tidak bisa pergi sekarang? Langkahnya tertahan karena tunuk yang sedang dipakainya tertahan oleh sesuatu. Tanpa berpikir yang aneh, Ambar berbalik dan menemukan Bos Kenzo memegang erat ujung tuniknya. Kenapa cowok itu melakukannya? Pertanyaannya segera terjawab karena cowok itu seger amelepaskan pegangannya.


"Pergilah!"


Merasa seperti diusir, membuat Ambar sadar diri. Dia memang tidak memiliki tempat di hati cowok itu. Lalu kenapa dia berharap?


"Semoga Anda cepat sembuh dan ... butik akan mengirimkan jas Anda ke Bali"


Tidak ada jawaban lagi dan Ambar memilih untuk kembali melangkah, menjauh dari cowok yang membuat perasaannya bingung sepanjang hari. Sudah selesai. Kini semua telah usai.


Ambar sampai di toko, berniat untuk mengambil mobilnya dan pulang. Tapi dia tidak segera menginjak gas mobil dan tetap diam disana. Sebuah telepon menggugah keheningan di pikirannya.


"Asslamualaikum"

__ADS_1


"Mbar, kamu dimana?"


Rea. Ternyata sahabatnya itu yang menelepon.


"Aku ... di toko"


"Oh, kamu udah balik? Untung deh. Gimana sama ... jas Adhi?"


"Semua udah siap, nanti bakal dikirim ke Bali"


"Kamu ... gak apa-apa kan?"


Sepertinya Rea tidak tahu perihal kaki Bos Kenzo, dan Ambar tidak ingin menceritakannya juga.


"Gak apa. Emangnya kenapa?"


"Ya kan ... Eh Mbar, aku kayaknya bisa dateng ke Indonesia lebih awal"


Kabar yang baik itu membuat senyum di wajah Ambar muncul.


"Bener?"


"Iya. Aku ini udah di pesawat. Kemungkinan sampai besok siang di Bali. Kamu dateng ke Bali kapan jadinya?"


"Besok deh. Aku bisa dateng lebih cepet dari kamu. nanti aku jemput kamu di bandara"


"Tapi ... apa kamu gak apa-apa?"


"Apaan sih Re"


"Ya udah deh. Kita ketemu besok siang di Bali ya"


"Iya"


Ambar menutup telepon dari Rea dan mulai menginjak gas mobil pelan-pelan. Akhirnya dia bisa pulang sekarang.


"Assalamualaikum"


"Wallaikum salam, Lho kamu gak jadi nganter temen ke rumah sakit?"


Ambar melihat ibunya yang sedang menonton tv.


"Udah selesai Bu"

__ADS_1


"Siapa yang sakit?"


"Itu ... temen Ambar di tempat kursus" Sekali lagi Ambar harus berbohong.


"Oh. Kamu mandi dulu sana. Makanan masih ada di meja kalo kamu mau makan"


"Iya Bu"


Ambar pergi ke kamarnya, mandi dan sholat Isya. Dia tidak ke bawah untuk makan tapi berdiam diri dan menatap lekat gambar kabah yang ada di alas sholatnya itu. Hari Minggu akan segera datang dan dia harus menampakkan wajah sahabat yang sempurna.


"Ya Allah, kumohon bawa pergi perasaan ini. Jadikan hati dan pikiranku bersih kembali" pintanya lalu menangis.


"Aku cukup terkejut" kata Andy memecah keheningan di dalam mobil yang berjalan dari rumah sakit ke rumah Adhi.


"Apa?"


"Pernikahanmu. Minggu ini. Sungguh cepat sekali. Dan lagi, ternyata kau menikah dengan calon istri kakakmu. Kau gila Dhi"


"Anggap saja begitu"


"Tapi ... bukannya tadi pemilik toko undangan itu?"


Adhi menoleh pada teman yang berbaik hati mengantarnya pulang itu.


"Iya, kenapa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih karena mengerjakan undangan kami dengan baik sekali kemarin"


"Kau memesan di toko Ambar lagi?"


"Iya. Semua senang dengan hasil kerja toko siapa? Ambar"


Andy memuji pekerjaan seseorang, merupakan sesuatu yang langka. Mengingat kalau temannya itu adalah salah satu pengusaha real estate yang sangat teliti. Adhi jadi semakin yakin untuk menjauh dari wanita itu. Setidaknya Ambar akan hidup dengan baik, setelah dia menikahi Feli. Dia tidak perlu khawatir tentang wanita itu lagi.


"Bekerja samalah dengan toko itu untuk waktu yang lama" kata Adhi lalu membuang muka ke arah jalanan.


"Baiklah. Aku juga tidak akan rugi apapun. Hanya saja ... "


"Apa?"


"Tidak. Aku hanya senang kau akhirnya bersatu dengan wanita yang kau cintai"


Adhi pikir dia akan mendengar sesuatu yang lain, ternyata ... Dia kecewa dan tetap melihat ke arah jalan. Tidak memperhatikan kalau temannya sedang heran dengan keputusannya yang begitu mendadak.

__ADS_1


__ADS_2