
"Lihat semua ini!! Hampir semua tamu membatalkan kedatangannya besok. hanya tersisa beberapa orang saja yang merupakan rekan bisnis ayahmu dan juga keluarga. Apa kalian pikir ibu tidak malu besok? Apalagi keluarga Syahreza ternyata tidak datang. Kalian batalkan saja pernikahan ini!!" teriak ibu Feli tepat di telinga Adhi.
Sebenarnya Adhi telah memperkirakan semuanya dan tidak merasakan ada masalah. Karena yang terpenting adalah dia menikah dengan Feli. Secara resmi dapat membawa pulang Feli sebagai istrinya. Tapi ... rupanya keluarga Feli memiliki pendapat lain.
"Ibu. Ini bukan salah Adhi"
"Lalu salah siapa? Keluarga kita? Kita sudah memesan seluruh hotel dan yang datang hanya dua temanmu itu"
"Ibu"
Wanita itu ternyata sudah datang ke tempat ini. Itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa Ambar memang tidak memiliki perasaan padanya.
"Saya pikir ada tamu atau tidak, pernikahan kami adalah yang terpenting"
"Oh, sombongnya. Sampai saat ini saja kamu belum menunjukkan itikad baik dengan membalikkan nama usahamu pada Feli"
"Ibu!!!"
Rupanya ini yang Danial coba peringatkan padanya saat mereka terakhir bertemu. Keluarga Feli, terutama ibunya memiliki keinginan untuk memperoleh sesuatu dari pernikahan. Kali ini semua usaha dan harta yang dimiliki Adhi.
"Sebaiknya makan malam ini dibatalkan saja. Saya harus mengerjakan sesuatu" kata Adhi lalu mencium kening Feli dan pergi meninggalkan ketiga orang itu. Dia kembali ke kamarnya dan melihat lagi setelan jas putih yang baru saja dibelinya pagi tadi. Sebenarnya dia menerima setelan jas yang dipesan di butik Jakarta. Tapi Adhi tidak ingin memakainya. karena jas itu dipesan oleh wanita itu. Dadanya sesak hanya karena memikirkan wanita itu, jadi Adhi melepas dasi, membuka tiga kancing kemejanya dan pergi menuju pantai.
Dia berjalan-jalan di tepi pantai dan melihat ombak diantara langit malam. Setidaknya dia bisa mendapatkan ketenangan hati di tempat ini sebelum menghadapi haris esok. Lalu terdengar suara beberapa anak yang berlarian di sekitar pantai. Pasti anak-anak itu termasuk keluarga jauh Feli yang datang siang ini. Matanya menyusuri garis ombak bersama anak-anak yang berlarian itu lalu berhenti pada satu wanita yang sedang berdiri menghadap laut. Bukankah itu?
Anak-anak itu rupanya sedang berlarian mengitari wanita berhijab itu. Satu anak yang memiliki badan cukup besar menyenggol tubuh Ambar dan membuatnya oleng ke depan. Adhi segera berlari dengan cepat dan menangkap tubuh Ambar sebelum mencium air laut. Dia menarik tubuh wanita itu dan mendekapnya erat. Merasakan kehangatan yang dirindukannya. Matanya lalu berkilat kejam ke arah anak-anak yang berlarian itu.
"Dasar anak nakal" katanya berhasil membuat semua anak itu pergi menjauh.
Lalu, terjadi sesuatu yang mengejutkannya. Dia merasakan sentuhan di dadanya. Dia melihat ke bawah dan menemukan jari Ambar menyusuri dadanya yang terbuka. Wanita ini?Apa yang sedang dilakukan Ambar sekarang? Wanita itu dengan jelas dan tegas mengatakan tidak menyukainya pagi buta ini. Sangat tegas sampai Adhi berpikir memang tidak ada harapan lagi. Adhi ingin menegur wanita itu tapi tidak jadi dilakukannya. Setiap sentuhan yang dilakukan Ambar sekarang terasa sangat menyenangkan untuknya. Jari wanita itu hangat menyentuh dingin kulitnya. Kalau Ambar melakukan ini apakah berarti sebenarnya wanita itu sebenarnya menyukainya?
Sentuhan Ambar menjadi semakin intens dan Adhi merasakan bagian dirinya terbangun. Dia meletakkan tangannya di pinggang wanita itu. memaksa Ambar semakin menjelajah lebih jauh. Tapi ... tiba-tiba sentuhan Ambar terhenti. Wanita itu mendongak dan menatapnya dengan mata yang bergetar.
"Tidak" bisik wanita itu terdengar jelas di telinga Adhi. Apa? Apa yang tidak? Kenapa berhenti menyentuhnya? Teruskan saja.
"kau menyukaiku" kata Adhi lalu tersenyum, merasa menang.
Sebutir air mata terlihat mengalir di pipi Ambar dan sekali lagi Adhi mendengar wanita itu mengatakan tidak lalu mundur dan berlari menjauhinya. Apa itu? Adhi akhirnya pergi menyusul wanita yang sekarang masih berlari di atas pasir itu.
Lari Ambar ternyata kencang sekali, dan hampir membuat Adhi menyerah. Tapi tidak, dia tidak akan menyerah. Setelah beberapa saat dan mereka berada di pantai yang sepi, dia akhirnya berhasil menghentikan wanita itu.
"Apa? Apa maksud semua itu?" tanyanya dengan napas naik turun. Rupanya wanita itu menangis selama berlari, membuat wajahnya terlihat begitu rapuh.
Adhi tidak bicara lagi dan segera memeluk erat badan Ambar yang dirasanya semakin kecil itu.
"Lepaskan!" kata wanita itu dengan suara yang kecil. tentu saja Adhi tidak melepaskan Ambar dan semakin mendekapnya erat. Tidak ingin melepaskan wanita itu lagi.
__ADS_1
"Kau menyukaiku, tidak ... kau mencintaiku. Kenapa kau mengusirku pergi?" tanya Adhi merasa sangat bahagia. Belum pernah dia bahagia seperti ini, bahkan saat menerima banyak uang dari bisnis barunya.
"Tidak. Saya tidak"
Adhi mengendorkan pelukannya dan memegang wajah Ambar. Memaksa mata Ambar menatapnya.
"Kau mencintaiku. Dan aku sangat mencintaimu" katanya lalu mencium bibir Ambar dengan rakus.
Dia tidak membiarkan mereka terpisah lagi dan mengabsen setiap gigi Ambar dengan lidahnya. Saat mereka akhirnya terjatuh di atas pasir, Adhi memegang erat dua pergelangan tangan Ambar di atas kepala wanita itu dan terus menciumnya.
Tangan Adhi yang bebas mulai melepas kain penutup kepala Ambar dan melihat rambut hitam yang dirindukannya. Sial. Dia begitu merindukan wanita ini sampai tidak ingin berhenti meskipun Ambar bergerak seperti ingin memisahkan tubuh mereka berdua. Dengan satu hentakan keras, Adhi berhasil melepaskan kemejanya dan menempelkan kulitnya tepat di tubuh Ambar. Menggesekkan badannya dan meresap semua kenikmatan yang bisa dia raih. Tapi dia melakukan kesalahan saat hilang akal. Dia tidak sengaja melepas pegangan pergelangan tangan Ambar dan membuat wanita itu berhasil mendorongnya.
"Jangan!! Apa yang Anda lakukan?"
"Kenapa? Kita saling mencintai dan aku tidak akan membiarkan kau menjauh lagi"
"Tidak ini zina"
"Apa? Aku tidak peduli. Aku mencintaimu Ambar. Sangat mencintaimu"
Adhi kembali menekan tubuhnya ke bawah. Memaksa tangan Ambar menyerah dan kembali mencium wanita itu. Ambar tidak bisa lagi bicara dan menyerah. Lalu sebuah tendangan lemah mengejutkannya. Karena tendangan itu mengenai tepat di tengah selangkangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adhi lalu menatap Ambar yang berusaha untuk mendapatkan udara.
"Anda harus berhenti. Jangan lakukan ini. Ini dosa besar"
"Dosa besar. Kau selalu bicara seperti itu. Tapi aku tidak peduli, karena kini kau adalah milikku" katanya lalu kembali menekan tubuh Ambar.
"Anda akan menikah besok"
"Aku akan membatalkannya. Aku akan menikahimu"
"Tapi Feli sangat mencintai Anda"
"Aku tidak peduli. Aku tidak peduli"
Hampir saja Adhi berhasil mencium Ambar, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Ambar mendorongnya lalu memperbaiki baju dan hijab yang terlepas.
"Sungguh senang sekali menjadi Anda. Bisa melakukan semuanya dengan mudah tanpa harus berpikir apapun"
"Apa?"
"Saya memang salah mencintai orang. Kalau tahu Anda begitu tidak bertanggung jawab seperti ini, saya tidak akan menyukai Anda"
"Lalu apa yang kau inginkan?" teriak Adhi tidak mengerti lagi dengan keinginan Ambar yang sebenarnya.
__ADS_1
"Tidak ada. Saya hanya akan kembali ke kamar dan melakukan sholat taubat"
"Tunggu. Ambar. Kau mencintaiku dan aku juga sangat mencintaimu. Kita bisa menikah dan bahagia bersama, apa yang salah dengan hal itu?"
"Tidak ada. Hanya saja kita memiliki kepercayaan yang berbeda dan saya merupakan pengkhianat bagi sahabat saya"
"Aku akan pindah agama dan membatalkan pernikahanku dengan Feli. Semuanya begitu mudah"
"Mudah? Apa Anda pikir semua akan semudah itu?"
Adhi tidak mengerti. Lagi-lagi Ambar selalu mundur saat mereka ada dalam tahap ini.
"Kalau begitu kau yang pindah ke agamaku dan kita menikah di kapel sekarang juga"
Ambar kembali menatapnya dengan kilatan di matanya.
"Anda sungguh gila"
"Lalu apa yang kau inginkan? Katakan padaku!"
"Anda menikah dengan Feli. Dan menepati semua janji Anda padanya"
"Aku mencintaimu. Apa kau pikir aku bisa menikah dengan Feli setelah ini?"
"Bisa karena saya tidak lagi mencintai Anda"
"Apa?"
"Ini kesalahan. Kesalahan besar yang harus saya pertanggung jawabkan di depan Allah. Tapi Feli tidak melakukan apapun yang salah. Dia ... tidak salah sama sekali"
"Dan kau akan merasa baik-baik saja kalau aku menikah dengan Feli?"
"Iya"
"Kau akan baik-baik saja mengetahui aku menyentuh tubuh Feli?"
"Iya"
"Kau rela melepaskan aku hanya karena Tuhanmu?"
Tanpa ragu, Ambar kemudian menjawab
"Iya"
Jadi ini rintangan yang memang tidak akan bisa Adhi lewati. Wanita itu ternyata lebih memilih Tuhan daripada bersama laki-laki yang dicintainya. Rasanya seperti berhadapan dengan biarawati dan Adhi sangat benci perasaan ini.
__ADS_1
"Kalau itu keinginanmu, maka aku akan melakukannya. Bersiaplah menerima kabar bahagiaku dengan Feli. Ikuti tiap perkembangan pernikahan kami dan pastikan kau tersenyum saat mendengar kebahagiaanku!" kata Adhi lalu pergi meninggalkan wanita itu di belakangnya. Dia ternyata salah mencintai seseorang. Kini dia akan kembali ke jalannya yang lurus dan tidak pernah lagi melirik wanita itu lagi.