
Adhi sampai di Jakarta sekitar pukul dua belas siang. Perjalanan panjang dari London ke Bali lalu Jakarta sedikit menguras energi dan kekuatan kakinya. Rasa sakit yang tadinya agak menghilang kini kembali lagi. Adhi mencoba untuk menahannya sekuat mungkin lalu berencana pergi ke rumah sakit malam nanti. Sekarang dia harus pergi ke cafe dan restorannya. Juga bertemu anak buahnya yang sejak kemarin tidak pernah bicara baik padanya, entah kenapa.
"Bos Besar" sapa pegawai cafe-nya.
"Dimana Kenzo?"
"Bos Kecil ada di atas Bos"
"Panggil dia ke ruanganku!"
"Baik Bos Besar"
Adhi sudah berbaik hati tidak memecat Kenzo tapi kelakuan anak bodoh itu semakin menjadi, membuatnya kesal.
Tak lama, anak buahnya datang dan masuk ke dalam ruangannya. Wajah Kenzo menampakkan kalau anak bodoh itu tidak suka melihatnya.
"Apa yang kau lakukan di atas dan tidak bekerja?"
"Saya bekerja. Saya harus meminta maaf kepada banyak orang yang meluangkan waktunya untuk mendengar penawaran semua tanah Anda. Menghubungi semua orng itu butuh waktu"
"Kenapa denganmu? Apa kau masih kesal karena masalah pemecatan itu?"
"Saya??? Tidak. Saya tidak marah"
"Kalau kau tidak bekerja dengan baik maka aku terpaksa memecatmu"
"Lakukan saja yang Bos inginkan. Saya sudah tidak peduli" kata Kenzo lalu keluar dari ruangannya dan membanting pintu.
Ada apa dengan anak bodoh itu? pikir Adhi lalu menghela napas panjang. Pekerjaannya selesai sebelum petang dan dia berencana untuk pulang ke rumah, mengambil jas yang akan dia pakai untuk menikah dua hari lagi. Tapi telepon Feli menghentikan niatnya.
"Apa?"
"Iya. AKu minta bantuan Ambar untuk mengantarmu pergi ke butik. Ambar sudah memesan setelan jas yang akan kau pakai untuk menikah nanti, sayang"
Feli, tunangannya itu mungkin berpikir kalau hal ini akan membantunya. Tapi ... apa benar kalau Adhi akan bertemu wanita itu lagi sebelum pernikahan? Apa yang akan dipikirkannya saat bertemu Ambar nanti?
"Sayang ... aku sudah bilang ke Ambar dan dia bisa hari ini"
"Apa wanita itu tidak keberatan membantu?"
"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja tidak. Ambar itu sahabatku sayang. Dia senang sekali membantu calon suami sahabatnya"
__ADS_1
Calon suami sahabatnya, jadi hanya itu Adhi di mata wanita itu? Kalau begitu, Adhi tidak akan ragu bertemu dengan wanita itu lagi. Lagipula, dia sudah berjanji akan tetap menjalankan pernikahan sesuai rencana.
"Mau kemana Bos?" tanya Kenzo yang muncul tiba-tiba di dekat mobilnya.
"Bertemu Ambar"
"Apa? Kenapa Bos mau ketemu Ambar? Bos itu bakal nikah sama Feli hari Minggu ini?"
Adhi heran dengan reaksi yang diberikan anak buahnya saat mendengar nama Ambar. Apa Kenzo merasa cemburu karena wanita itu telah menerima lamarannya?
"Itu bukan urusanmu"
"Itu urusan saya"
"Kenapa?"
"Karena ... "
Adhi menunggu Kenzo menyatakan kepemilikan pada Ambar, tapi sampai detik ini dia tidak mendengarnya. Apa wanita itu tidak jadi menerima lamaran Kenzo? Apa alasannya?
"Apa Ambar tidak menerima lamaran mu?"
"Apa alasan Ambar menolak?"
Adhi menunggu alasan yang akan dikatakan Kenzo, tapi anak buahnya itu hanya menatapnya.
"Kenapa saya harus mengatakannya? Bos lupa mau nikah Minggu?"
"Jawab aku!!!! Kenapa Ambar menolak lamaran mu?"
Ambar ternyata menolak lamaran Kenzo, apakah itu artinya kalau wanita itu ... . Kata Danial Ambar menangis, lalu menolak lamaran Kenzo. Semua itu hanya menandakan satu hal. Ambar ... wanita itu ...
"Percuma" kata Kenzo memecah konsentrasi Adhi.
"Apa katamu?"
"Bos mau apa emangnya?"
"Apa?"
"Bos mau apa kalo tau alasan Ambar nolak saya?"
__ADS_1
Benar. Jadi, wanita itu menolak Kenzo. Dan kemungkinan alasannya adalah ...
"Aku harus pergi"
"Jangan melakukan hal yang tidak perlu. Mau bagaimana Bos itu gak satu keyakinan sama Ambar"
Adhi yang sedang membuka pintu mobil tercengang. Memangnya, apa urusan keyakinan dengan masalah ini?
"Ambar menyukaiku, itu benar?"
"Percuma saja saya bilang. Ambar gak akan pernah nerima orang yang bukan satu keyakinan. Makanya dia capek-capek ngelakuin semuanya biar bisa jauh dari Bos"
"Apa?"
"Ambar tidak akan pernah nerima Bos, meskipun Bos bilang suka sama dia. Karena Ambar adalah muslim yang taat. Daripada menerima Bos, dia lebih baik tidak menikah"
Kenzo meninggalkan Adhi yang masih kaget dengan kenyataan yang baru saja dia tahu. Ternyata ada masalah seperti ini juga. Bukannya keyakinan seharusnya tidak menjadi masalah kalau berurusan dengan cinta? Tapi Ambar memang muslim yang taat. Jadi ...semuanya memang sudah berakhir sebelum dimulai. Dan Adhi harus merelakan semuanya, sesuai dengan rencana awalnya.
Karena itu dia berlaku sewajarnya saat bertemu dengan Ambar. Dia bahkan menolak dikatakan sebagai calon suami Ambar karena hal itu membebaninya. Wanita itu juga tidak menunjukkan perasaannya sama sekali. Seolah Ambar berada disini sebagai sahabat Feli saja. Saat itu juga perasaannya terasa aneh. Badannya juga bereaksi aneh. Sakit kaki yang bisa ditahannya kini menjadi-jadi. Dia tidak bisa menahannya lagi dan membutuhkan dokter. Segera. Lalu, wanita itu datang, menawarkan tubuhnya sebagai penopang. Adhi tidak mensia-siakannya dan segera memeluk tubuh Ambar yang sangat dirindukannya. Dia menghirup aroma tubuh AMbar dan memenuhi dirinya dengan kehangatan wanita itu. Sampai Ambar mendorongnya dan membuat kakinya semakin sakit.
"Apa yang kau lakukan??"
"Saya, kenapa juga Anda tiba-tiba ... "
Adhi dapat melihat seberkas sinar kemerahan di pipi wanita itu. Ambar tersipu karena sentuhan mereka. Wanita itu memang menyukainya, tidak salah lagi.
"Aku ingin pergi ke dokter"
"Kaki Anda kenapa. Wah ... bengkak banget?"
Ambar tampak sangat khawatir melihat ke kaki Adhi. Hal itu membuatnya sedikit terhibur.
"Bantu aku berdiri!"
Dengan mengerahkan kekuatannya, badan Ambar yang kecil itu berhasil membuat Adhi berdiri lagi.
"Saya akan membantu Anda melepas jas, Tuan Adhi" kata pegawai butik lalu bergantian dengan Ambar. Kali ini dia ingin sekali mendorong pegawai butik itu tapi apa daya, kakinya sakit sekali.
"Saya akan menghubungi Feli dan Kenzo untuk membantu"
Sebelum Adhi sempat melarang, wanita itu sudah keluar dari ruang ganti dan tidak tahu pergi kemana. Meninggalkannya dengan pegawai butik yang siap membawanya ke rumah sakit. Sial, kenapa semuanya jadi seperti ini? pikir Adhi kesal.
__ADS_1