Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Tiga Puluh Satu


__ADS_3

"Apa benar disini Tuan?"


Adhi tersenyum. Asisten yang baru beberapa jam didapatnya itu pasti tidak pernah datang ke tempat-tempat seperti ini. Saat pertama kali ke Indonesia, Adhi juga memiliki ekspresi wajah seperti itu.


"Iya. Mana bunganya!"


Larry memberinya buket bunga mawar putih dan sebuah kotak perhiasan lengkap yang sudah disiapkan bahkan sebelum turun dari pesawat.


"Apa Nona ini akan menjadi istri Anda?"


"Iya. Semoga. Tunggu disini!"


"Tapi Tuan"


"Tidak akan ada orang yang akan mencelakaiku disini. Tidak ada yang mengenaliku disini"


Larry menurut dan berdiri di sebelah mobil bersama pengawal.


Adhi ragu untuk mengetuk pintu rumah Ambar. Tidak hanya sekali dia mulai mempertimbangkan lagi apa yang akan dilakukannya. Tapi ... dia sudah ada disini. Apapun hasilnya, setidaknya dia sudah mencoba lagi. Akhirnya Adhi memberanikan diri mengetuk pintu dan wanita itu berdiri di sana. Dengan kaus abu-abu tipis dan celana tidur yang disukainya. Adhi kesal sekali kalau AMbar memakai pakaian seperti ini. Alasannya, karena pakaian itu akan membentuk tegas tubuh Ambar saat tertiup angin. Membangkitkan gairahnya yang lama dipaksa untuk tidur. Tapi Adhi berusaha untuk fokus dan mengatakan tujuannya datang ke rumah ini lagi. Awalnya Ambar memang menolak lalu tiba-tiba Rea muncul dari belakang Ambar, memanggilnya menantu keluarga ini dan mengajak Adhi duduk di meja makan. Berhadapan dengan orang tua Ambar yang terlihat terkejut.


"Assalamualaikum" sapa Adhi.


"Wallaikumsalam" jawab dua orang tua Ambar.


"Kau membawa bunga untuk siapa?" tanya Rea. Adhi merasa tidak enak dan memberikan buket bunga itu pada ibu Ambar dan dibalas dengan senyuman yang besar sekali.


"Terima kasih Nak Adhi. Senang sekali baru sembuh mendapatkan bunga besar seperti ini"


"Sembuh? Anda sakit?"


Adhi baru tahu kalau ibu Ambar sakit.


"Iya. Bersamaan dengn ayahmu" ujar Rea menambahi.


"Maafkan saya karena tidak tahu"


"Tidak apa-apa. Apa Nak Adhi sudah makan?" tanya ibu Ambar.


"Saya? Belum"


"Ayo makan. Ini semua Ambar yang masak"


"Oh. Iya"


Tanpa malu lagi Adhi menerima piring dan ingin makan bersama. Tapi sebuah tangan menghentikan dan menariknya keluar dari rumah.


"Apa yang Anda lakukan sekarang?" tanya wanita yang sekarang melihatnya dengan kesal itu.


"Aku? Makan"


"Bagaimana Anda bisa makan? Saya sudah katakan berapa kali. Saya ... "


Adhi tidak tahan lagi. Dia begitu merindukan wanita yang ada di depannya ini. Sebelum Ambar selesai bicara, Adhi merengkuh tubuh itu lalu mendekatkan dirinya dan memberi kecupan singkat.


"Kau terlalu banyak bicara"

__ADS_1


"Apa yang ... "


Wanita itu tentu saja sekarang sedang menutup bibirnya dengan kedua tangan. Adhi lalu memeluk erat tubuh Ambar dan menghirup semua aroma manis yang lama tidak dirasakannya.


"Aku mencintaimu. Aku akan menikahimu. Aku tahu kau masih belum bisa memaafkanku tapi beri aku kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta itu lagi di hatimu. Dan membahagiakanmu"


"Saya tidak mau melakukan hal itu"


"Aku akan membuatmu mau"


"Saya sudah katakan tidak mau. Andabukan orang baik yang saya kenal dulu"


Adhi kini sadar, wanita yang dia cintai mungkin tidak memiliki perasaan yang sama lagi terhadapnya karena kejadian dua tahun lalu. Tapi dia tidak akan menyerah. Dia akan memiliki Ambar bagaimanapun caranya. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengubah semuanya.


"Aku akan tetap menikahimu. Mengambil tanggung jawab akan dirimu dari kedua orang tuamu. Dan meskipun membutuhkan waktu lama. Aku akan membentuk keluarga yang bahagia denganmu"


"Tapi saya tetap tidak mau" jawab Ambar lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan Adhi.


"Kupikir kau tidak punya pilihan. Karena aku akan mengajukan pernikahan pada ayahmu besok"


"Ha?"


"Apa kau tahu? Aku merindukanmu yang menanggapi semua pertanyaan dengan kata itu"


"Apa maksud Anda?"


"Bisakah kau tidak memanggilku dengan lebih akrab sedikit? Kita sudah saling kenal selama lebih dari delapan tahun sekarang. Saat itu kau memanggilku Pak, Bos Kenzo dan Anda. Seharusnya sekarang kau memanggilku dengan sebutan yang sama saat kita masih berpura-pura menjadi kekasih. Sayang akan terdengar lebih baik di telingaku sekarang"


Sedetik kemudian Adhi merasakan akibat dari apa yang dilakukannya sekarang. Ambar menginjak kakinya dengan keras sekali dan membuatnya terpaksa melepas tangan yang memeluk wanita itu.


"Bapak yang akan menikahkanmu"


Tiba-tiba saja ayah, ibu Ambar dan juga Rea sudah ada di belakang mereka.


"Tapi Pak"


"Bapak sudah menyetujui pernikahan kalian. Kapan Nak Adhi mau menikahi Ambar?"


Adhi merasa di atas awan sekarang. Keinginannya akhirnya akan terlaksana.


"Besok. Saya akan menikahi Ambar sekarang juga kalau Anda mengijinkan" jawab Adhi segera, tidak ingin membuang waktu lagi.


"Bisa kalau hanya agama. Tapi saya ingin pernikahan ini dicatatkan secara resmi"


"Tentu saja"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke Kantor Urusan Agama besok dan mengurus semuanya?"


Penawaran ayah Ambar tentu saja disambut baik oleh Adhi.


"Iya. Saya akan menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan"


"Bagus" kata ayah Ambar.


"Ayo kita siapin pestanya Tante" seru Rea yang mengikuti langkah orang tua Ambar kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Adhi tersenyum senang. Dia berbalik dan melihat wajah kesal Ambar.


"Aku akan menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Kuharap kau juga bersiap. Tidak akan lama lagi sampai kau terpaksa harus bersamaku" kata Adhi di dekat telinga Ambar lalu pergi dari halaman rumah yang mungkin akan didatanginya lagi besok pagi.


"Gak. Gak mungkin" ucap Ambar lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah berdebam. Dia marah dan kesal sekali.


"Pak!!" serunya lalu mendapati kedua orang tuanya dan juga Rea sedang memandangi sesuatu di atas meja makan.


"Lihat ini deh Mbar!"


"Apa?"


Ambar mendekat ke meja makan dan melihat sebuah kotak berwarna coklat yang di dalamnya terdapat satu set perhiasan dengan kilau berlian yang tersebar.


"Gila. Ini mahal banget Mbar"


"Dikembalikan saja"


"Jangan Tante. Ini pasti dibelikan Adhi buat Ambar"


Rea dan ibunya bicara seakan tidak terjadi apa-apa. Sedangkan ayahnya melanjutkan makan dan tidak peduli dengan kemarahan Ambar.


"Pak!! Kenapa?" teriak Ambar.


"Sudah!!"


Teriakan Ambar juga dibalas keras oleh ayahnya. Membuat Ambar terkejut dan diam. Selama ini ayahnya tidak pernah membentaknya kecuali saat Ambar terlibat masalah bau alkohol dulu.


"Bapak sudah memutuskan. Kamu akan nikah secepatnya. Kamu bersiap saja sana dan diam. Nak Rea, tolong bantu anak ini siap-siap buat besok"


"Beres Om" jawab Rea lalu menyeret Ambar ke kamar.


"Re, aku gak mau nikah sama cowok itu"


"udahlah Mbar. Mungkin ini yang namanya jodoh. Untung juga ada aku kesini waktu kamu nikah"


"Re. Kamu gak ngerti"


Kenapa semua orng sepertinya tidak mengerti dengan perasaan Ambar sekarang? Mereka hanya ingin dia menikah dan menikah. Dengan cowok itu lagi. Rasanya Ambar ingin kabur saja sekarang.


"Mbar. Apa kamu tahu siapa yang sebenarnya panggil aku kesini?"


"Ha?"


"Ibu kamu. Ibu kamu bilang ke Kenzo dan cari nomor aku"


"Buat apa?"


"Ya buat nyadarin kamu-lah. Orang tua kamu pengen liat kamu bahagia. Apa itu salah?"


"Tapi caranya gak gini Re"


"Kamu udah lupain Adhi? Kamu udah gak cinta lagi sama Adhi? Atau kamu punya calon suami lain?"


"Re!!"

__ADS_1


Ambar memang masih menyimpan perasaan pada cowok itu. Ada sesuatu yang menggelitik perutnya saat berdekatan dengan cowok itu. Hanya saja, menikah dengan cowok itu bukanlah sebuah pilihan yang akan dia ambil sampai kapanpun.


__ADS_2