Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Sebelas


__ADS_3

"Aduh" kata Ambar lalu melihat darah keluar dari jari manisnya.


"Kenapa kak?"


"Kena cutter"


Pegawainya segera pergi mengambilkan plester luka untuknya. Tapi Ambar pergi ke wastafel untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu.


"Dalam ya kak?"


"Kayaknya"


"Apa harus ke rumah sakit?"


"Gak usah. Ngapain ke rumah sakit"


Ambar melihat darah masih keluar dari lukanya dan segera menutupnya dengan plester. Untuk sementara sepertinya semua baik-baik saja. Sampai darah merembes keluar dari plester.


"Kayaknya harus beli plester yang tebal deh kak. Kalo gak ke UGD aja"


"Ngapain sih. Ini cuma luka kecil. Aku ke apotek aja dulu. Kalian selesaikan yang ini ya"


"Mau ditemenin kak?"


"Gak usah"


Ambar keluar dari tokonya dan berjalan ke arah apotek yang terletak di jalan seberang. Dia merasa kalau lukanya tidak terlalu dalam, tapi kenapa darah tetap keluar meskipun sudah diberi plester.


"Mba, mau beli plester yang agak besar"


"Yang tahan air atau gak?"


"Yang biasa aja"


Ambar menunggu di depan counter dengan menahan rasa perih yang mulai datang karena lukanya. Darah itu kini merembes begitu kencang dan mulai menampakkan diri di bagian tanpa plester.


Setelah menerima plester dan membayar, Ambar segera membalut lukanya. Ternyata cukup dalam tapi tidak perlu ke rumah sakit untuk menyembuhkannya. Rasa sakit seperti ini masih bisa dia tahan.


"Ambar"

__ADS_1


Terkejut karena namanya dipanggil, Ambar menoleh dan menemukan seseorang yang dikenalnya.


"Mas Galih"


"Kamu sakit?"


"Oh enggak. Tadi cuma kena cutter. Mas sendiri?"


"Aku beli obat hipertensi buat ayah"


Ambar baru ingat kalau bos ayahnya memang memiliki penyakit darah tinggi.


"Kalo gitu Ambar duluan. Harus lanjut kerja" kata Ambar berusaha keluar dari situasi yang canggung ini.


"Tunggu!"


Mas Galih menahan kepergian Ambar lalu terlihat ragu untuk bicara.


"Ada apa mas?"


"Aku ... boleh ajak kamu makan atau nonton?"


"Ambar sibuk banget akhir-akhir ini. Kan lagi wedding season"


"Kalo nanti-nanti?"


"Nanti kalo Ambar udah gak sibuk ya Mas"


"Iya"


Sebagai sesama orang dewasa, mas Galih pasti tahu arti dari penolakannya. Dia belum ingin dekat dengan siapapun sekarang. Harus fokus pada pekerjaan.


"Assalamualaikum" salam Ambar saat akhirnya pulang ke rumah. Hari ini dia baru bisa pulang jam sembilan malam, dan merasa sangat lelah.


"Udah makan Nak?" tanya ibunya yang menyambut.


"Udah Bu. Mi ayam tadi siang"


"Kamu mandi dulu, ibu angetin lauk buat makan"

__ADS_1


"Iya"


Baru saja Ambar ingin mandi, sebuah pesan muncul di ponselnya.


"Berita besar. Kamu yakin bisa menerima?"


Apa ini? Kenapa Rea mengirim pesan seperti ini? Membuatnya penasaran saja.


"Apaan sih?" balasnya dengan sedikit kesal.


"Feli ... hamil"


Ambar terdiam melihat pesan yang baru dikirim oleh Rea. Jarinya seperti kaku dan tidak bisa bergerak untuk mengirim pesan balasan.


Hamil? Feli hamil? Itu berarti ... cowok itu ... bahagia dengan kehidupan pernikahannya. Ambar tersenyum pahit. Memangnya apa yang dia harapkan? Bukankah wajar seandainya pasangan suami istri yang menikah akan memiliki buah hati? Itulah kenapa seseorang menikah. Memiliki anak.


Ambar menghela napas panjang. Cowok itu ternyata bisa semudah ini move on dan mencintai Feli seperti sebelum kenal dengannya. Tentu saja. Cowok itu hanya mengenalnya selama dua bulan. Sedangkan dengan Feli? Sepuluh tahun. Pasti rasa cinta yang selama sepuluh tahun ada itu tidak akan mudah hilang begitu saja. Apalagi dia bukanlah perempuan yang dapat dibandingkan dengan Feli.


"Alhamdulillah" balas Ambar untuk pesan Rea lalu pergi ke kamar mandi. Dia juga harus meneruskan hidupnya. Tidak lagi terpaku pada cowok yang memang bukan menjadi takdirnya.


"Apa yang Anda katakan barusan?" tanya Kenzo tidak percaya dengan pendengarannya. Dia baru sampai ke rumah sakit untuk mengurus istri Bos tapi mendengar sebuah kabar mengejutkan.


"Feli ... hamil" kata Bos-nya dengan begitu berat.


"Anda ... kenapa Anda bisa? Anda bilang sendiri kalau mencintai Ambar tapi apa ini?!?" tanya Kenzo penuh amarah.


Baru saja dia menyerah pada perasaannya untuk Ambar. Semua itu dilakukannya karena melihat Ambar dan Bos-nya memiliki perasaan yang sama. Dan berpikir kalau mereka berdua bersatu mungkin Ambar akan bahagia. Tapi ini ... apa?


"Aku tidak tahu" jawab Bos-nya membuat Kenzo semakin kesal. Tanpa berpikir dua kali dia segera melayangkan kepalan tangannya dan berhasil membuat pria dengan tinggi 186 cm itu tersungkur.


"Jangan pernah lagi Anda menyebutkan nama Ambar. Anda tidak lebih dari seorang pria hidung belang yang ingin berdiri di dua perahu. Sial" umpatnya lalu pergi meninggalkan Bos-nya.


Dia kesal sekali. Padahal dia sudah merelakan Ambar tapi ... . Tidak. Ambar tidak akan pernah mendapatkan laki-laki seperti itu. Ambar terlalu berharga untuk bajingan seperti Bos-nya. Mencintai wanita lain tapi tetap bisa berhubungan badan dengan istrinya. Dasar brengsek.


Adhi hanya bisa meringis kesakitan saat darah mulai keluar dari ujung bibirnya. Pukulan keras Kenzo ternyata tidak sanggup menghilangkan rasa bingung yang dirasakannya sejak tadi. Hamil. Bagaimana bisa Feli hamil hanya dengan sekali berhubungan? Itu mustahil. Tidak mungkin. Tapi ... apa dia menyangsikan istrinya yang tetap berada di rumah itu? Apa dia menuduh Feli berselingkuh saat dirinya sendiri memiliki perasaan pada wanita lain?


Tidak. Feli tidak mungkin berselingkuh darinya. Itu bukan sifat istrinya. Lalu ... apa yang harus dilakukannya? Perusahaan ayah Feli telah tertata dengan baik. Kembali ke masa-masa kejayaannya. Tugasnya hampir selesai dan seharusnya dia mulai merencanakan perceraian. Kalau jadinya seperti ini, apa rencananya akan tetap berjalan? Apa dia akan menjadi ayah yang melepas tanggung jawab terhadap darah dagingnya sendiri?


Kehidupan tanpa kasih sayang seorang ayah sangat menghancurkannya. Dia tidak ingin siapapun merasakan apa yang dialaminya selama ini. Tapi ... Ambar? Bagaimana dengan wanita itu? Bagaimana dengan rasa cinta dan rindunya yang begitu besar terhadap Ambar? Apa dia terpaksa harus melupakannya? Dan hatinya? Adhi tertawa. Apa sebenarnya yang sedang dia lakukan sekarang? Kenapa dia menghancurkan hidupnya sendiri?

__ADS_1


__ADS_2