
"Mbar kamu kenapa?" tanya Rea begitu Ambar masuk ke dalam kamar dan segera pergi ke kamar mandi. Dia menanggalkan semua bajunya dan mulai rangkaian mandi besar. Tak lupa Ambar menggosok keras setiap anggota tubuh yang telah tersentuh oleh cowok itu. Gila, dia sudah gila. Setan mana yang sebenarnya sudah merasukinya sehingga melakukan hal yang dilarang seperti itu? Ambar duduk berjongkok di bawah shower dan menyalahkan diri sendiri. Keluar dari kamar mandi dia segera sholat Taubat. Tidak tahu sudah berapa rakaat sampai kakinya terasa tak kuat lagi berdiri.
"Mbar, kamu kenapa?" tanya Rea yang dari tadi belum tidur dan menunggunya dalam diam.
"Hmmm? Gak ada apa-apa"
"Mbar, setidaknya sama aku kamu bisa jujur"
Tidak. Ambar tidak ingin menceritakan hal in pada siapapun. Dia malu. Dia yang begitu menjunjung tinggi agama ternyata melakukan dosa seperti ini? Dan lagi, semua itu dilakukannya dalam keadaan sadar.
"Gak ada apa-apa Re. AKu cuma tadi nyebur ke air laut yang kotor"
Dia akan menutup mulutnya rapat-rapat dan memohon ampunan Allah. Dia tidak akan pernah lagi dekat dengan laki-laki manapun karena tidak merasa pantas lagi untuk siapapun setelah malam ini.
Hari Minggu akhirnya datang. Sejak pagi Ambar dan Rea sibuk membantu Feli menyiapkan diri untuk pernikahannya. Ambar perlu bersyukur karena cowok itu bisa berpikiran benar semalam dan tidak membatalkan pernikahannya. Kalau sampai pernikahan Feli batal, Ambar akan semakin merasa bersalah.
"Kamu cantik banget Fel" kata Ambar benar-benar dari dalam lubuk hatinya. Feli memang seperti peri hutan yang polos dan suci. Tidak seperti dia yang kotor tapi berpura-pura suci.
"Pengen banget kamu ada di dalam kapel Mbar"
"Maaf ya Fel"
"Kenapa minta maaf. Toh kita masih bisa ketemu setelah acara pemberkatan"
"Kalian kenapa sih? Jangan mellow ya. Aku gak suka" komentar Rea menyebabkan senyum di wajah ketiganya. Setelah mendengar kalau pengantin pria dan para tamu telah siap menunggu, Ambar memeluk sahabatnya sekali lagi.
"Maafin aku ya Fel dan semoga bahagia"
"Makasih Ambar, Rea"
Ambar mengantar Feli untuk pergi ke kapel tapi tidak masuk ke dalamnya. Dia terpaksa melepaskan sahabatnya itu di tangan Rea yang menyerahkan Feli ke ayahnya.
Acara pemberkatan akan berlangsung selama satu jam dan Ambar memutuskan menunggu di tempat resepsi. Tiba-tiba sebuah jas menutupi punggungnya. Dia terkejut dan membalikkan badan. Ternyata ... Kenzo yang memberikan jas kepadanya.
"Maaf ya Mbar. Semalem aku gak bales pesan kamu"
"Oh. Gak apa-apa. Kamu pasti sibuk banget"
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa?"
"Kenapa?"
"Bos sekarang resmi nikah sama ... Feli"
Ambar harus menarik napas panjang saat mendengar Kenzo menyebut kata resmi nikah. Tapi dia berusaha menampilkan wajah datar.
"Emang itu yang harus terjadi"
"Tapi, kamu kan ... "
"Udah Ken, gak usah bahas itu lagi. Semua udah selesai"
Disaat Ambar bilang selesai, itu tandanya benar-benar selesai. Dia tidak akan senang kalau Kenzo tetap membahas tentang hal ini lagi. lagipula dia pasti gila kalau masih menyimpan perasaan setelah melakukan dosa semalam.
"Kamu ... udah makan?"
Ambar senang Kenzo tidak lagi bertanya tentang Bos-nya. Kini dia bisa tersenyum dan mulai bicara dengan Kenzo seperti dulu lagi. Seperti sebelum keduanya begitu serius tentang masalah percintaan. Tapi Ambar harus menyudahi pembicaraan mereka karena beberapa pegawai hotel mulai berdatangan. Hal itu menandakan acara pemberkatan pernikahan Feli telah selesai dilakukan.
"Selamat Tuan dan Nyonya Syahreza" sapa semua pegawai hotel saat akhirnya Feli dan cowok itu berjalan asuk ke tempat resepsi yang ada di tepi tebing itu. Feli terlihat senang sekali dengan senyum yang tak bisa lepas dari wajahnya. Dan cowok itu ... akhirnya cowok itu menikah dengan Feli. Ambar menundukkan kepalanya kemudian ingat pada janjinya pada cowok itu semalam. Dia akan tersenyum melihat keduanya bahagia. Ambar menarik ujung bibirnya ke arah yang berbeda dan berusaha tersenyum.
"Re, kamu capek?"
"Gila. Aku bakal cerita nanti. Tapi ... kamu gak apa-apa?"
"Gak apa-apa Re" jawab Ambar lalu memamerkan senyumnya yang ikhlas.
"Ya udah. Gila tuh Adhi. Sialan. Orang tua Feli juga ikutan gila. Sepertinya kita lebih baik menjauh dari Feli mulai sekarang"
Ambar tidak mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh Rea. Sebelum dia sempat bertanya, semua tamu yang lain mulai bersorak.
Tentu saja hal itu membuatnya menoleh ke arah pengantin yang baru saja resmi menikah. Dengan matanya Ambar melihat cowok itu mencium bibir Feli seperti sedang mengadakan pertunjukan.
"Gila!! Mbar kamu jangan lihat" kata Rea. Tapi Ambar sudah terlanjur berjanji. Jadi dia mulai menyunggingkan senyum di wajahnya dan tetap melihat ke arah Feli dan suaminya.
"Mbar, kamu ngapain?"
__ADS_1
Rea yang tidak mengerti tentang janji Ambar tentu saja menganggapnya aneh. tapi dia tidak peduli. Dia tidak ingin menunjukkan wajah sedih pada cowok itu, meskipun kini hatinya terasa seperti teriris.
"Aku bahagia kalo Feli bahagia Re. Bukannya aku harus gitu"
"Hehhh. Yah terserah kamu lah. Tapi cepet hapus senyum itu dari muka kamu. Aku ngeri lihatnya"
Pertunjukan ternyata belum selesai dilakukan oleh cowok itu. Dengan alasan menyapa semua tamu, Feli dan suaminya kini ada di dekat meja Ambar dan Rea. Feli tak sabar memeluk Ambar dan kelihatan sekali merasa bahagia karena sudah menikah dengan orang yang dicintainya.
"Selamat ya Fel"
"Makasih Mbar"
Setelah Feli melepaskan pelukannya, Ambar melihat ke arah cowok itu dan menampilkan senyumnya.
"Selamat Bos" katanya dengan tetap mempertahankan posisi ujung bibirnya. Cowok itu tidak menjawab dan segera mencium pengantinnya tepat di depan Ambar dan Rea.
"Menjijikkan" kata Rea mengejutkan Ambar.
"Re"
"Emang ya semua gosip itu benar"
"Re" Ambar berusaha mengingatkan kalau mereka sedang dalam acara pernikahan. Bukankah normal kalau pengantin menunjukkan sikap seperti itu?
"Aku gak percaya kamu ternyata cowok yang kayak gitu ya Dhi"
"Oh. Kamu baru tahu?"
"Yah. Ternyata keluarga Syahreza memang tidak salah membuangmu jauh-jauh "
"Rea!!"
"Ayo Mbar. Kita pergi aja dari sini. Maaf ya Fel. Kayaknya aku sama Ambar sibuk mulai sekarang. Selamat atas pernikahan kalian"
Rea menyeret Ambar pergi dari tempat acara pernikahan tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi ... sahabatnya itu serius dengan setiap perkataannya dan mulai membereskan semua barang-barang bawaannya, juga memerintah Ambar untuk melakukan hal yang sama.
"Rea. Kenapa emangnya? Kalo kamu diem, aku gak ngerti"
__ADS_1
"Kamu juga dari semalem diam. Gak mau berbagi cerita sama aku. Aku cuma bales hal yang sama. Kita pergi ke bandara sekarang. Aku udah pesen penerbangan ke Jakarta. Aku bakal nginep di rumahmu sampai besok pulang ke London"
Ambar tidak bisa menentang kata-kata Rea yang memang ada benarnya. Dia mengikuti semua perintah sahabatnya itu dan membawa semua kopernya ke lobi kemudian benar-benar kabur dari acara pernikahan Feli. Sepertinya terjadi sesuatu yang parah saat acara pemberkatan, dan sebaiknya Ambar menunggu sahabatnya itu untuk bicara sendiri. Tanpa harus banyak bertanya.