Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Tiga Belas


__ADS_3

"Kamu gak pengen nikah Mbar?" tanya Ratih dalam perjalanan pulang setelah mengajaknya jajan batagor setelah tidak mengembalikan sepatu Ambar..


"Gak dulu lah"


"Kenapa? Biar gak sepi hidup Lo"


"Gak sepi kok hidup gue"


"Kan enak kalo ada laki-laki di sisi Lo. Kamu bisa tenang, nyaman, gak bingung lagi kalo mau kondangan."


"Yeee cari suami kok buat kondangan"


Ambar tertawa karena mendengar alasan tidak masuk akal temannya itu. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Ratih. Temannya itu memang membutuhkan kehadiran seseorang yang bisa membimbing pada kebaikan. Juga mengurus anak-anak Ratih dari pernikahan sebelumnya.


"Aku pikir kamu bakal jadi sama teman SMA-mu. Siapa namanya?"


"Kenzo"


"Iya itu. Cakep juga kok. Punya mobil bagus lagi"


"Aku sama Kenzo cuma temenan. Umur kita juga sama"


"Lah itu cocok dong"


Kenzo, tadi mengabari kalau pulang ke Jakarta. Tapi tidak bisa menemuinya karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Tentu saja Ambar mendukung hal itu. Sudah lama sekali Kenzo tidak pulang padahal sekarang ayahnya sudah ada di rumah.


"Wah. Mobil siapa tuh?" tanya Ratih lalu menunjuk ke arah mobil putih yang terparkir di depan gang rumah Ambar.


"Gak tau tuh"


"Wah. Ini mobil muewahhh. Emang tetangga lo ada yg punya beginian Mbar?"


"Siapa tau"


Ratih menghabiskan beberapa saat untuk mengagumi mobil putih dengan logo berbentuk bintang di depannya itu lalu menyusul Ambar yang sudah jalan terlebih dahulu. Gang di dekat rumah Ambar ini sebenarnya cukup dilewati mobil tapi sedikit gelap karena kurangnya penerangan. Lalu Ambar melihat sosok hitam besar tepat di depan rumahnya. Dia mulai merasa ketakutan saat sosok hitam itu bergerak.


"Eh Mbar kayaknya yang punya mobil itu. Waaah!!!!! genderuwo" teriak Ratih yang menyusulnya. Semakin membuatnya takut.


"Itu orang ati setan sih?" tanya Ambar lalu memegang erat tangan Ratih.


"Gak tau. Hei!!! Setan ato orang??"

__ADS_1


Sosok hitam besar itu ternyata mendekat lalu memeluk Ambar dengan erat. Ambar tidak bisa menghindar atau menolak pelukan itu. Karena semuanya terjadi begitu cepat.


Tapi ... Ambar mengenal aroma parfum ini. Dia mengenal cowok yang sedang memeluknya ini. Akal sehatnya yang tadi sempat hilang, kini telah kembali. Dia segera mendorong tubuh besar tinggi itu tapi tidak berhasil. Seperti cowok itu menyandarkan tubuhnya ke badan kecil Ambar.


"Mbar aku pulang duluan ya" kata Ratih yang kehadirannya hampir dilupakan oleh Ambar.


"Bisakah Anda melepaskan saya?" kata Ambar setelah tidak mendengar suara langkah Ratih lagi. Kenapa juga cowok ini memeluknya? Bukankah Bos Kenzo sekarang sedang berbahagia karena kehamilan Feli?


"Maafkan aku. Maafkan aku" kata cowok itu terdengar jelas di telinga Ambar.


Kenapa cowok ini sekarang meminta maaf padanya?


Ambar akhirnya mengajak Bos Kenzo pergi ke sebuah kedai kopi yang ada di dekat Jalan besar. Tentu saja kehadiran Bos Kenzo segera menyita perhatian banyak orang. Cowok itu masih terlihat begitu tinggi dan tampan bagi Ambar.


"Selamat atas kehamilan Feli" kata Ambar mencoba membuka percakapan.


Cowok di depannya tersenyum lalu meminum kopi yang dibelikan oleh Ambar.


"Kau senang istriku hamil?"


Istri. Sebuah panggilan yang Ambar harap tidak pernah didengarnya dari cowok itu. Apalagi untuk perempuan lain.


"Tentu saja. Itu berarti Anda bahagia ... "


"Saya tidak berpura-pura"


"Tapi kau mencintaiku?"


Pertanyaan Bos Kenzo seperti sebuah palu yang dihantamkan ke dada Ambar. Dia tidak pernah membayangkan akan menerima pertanyaan ini dari cowok yang dia cintai sampai sekarang.


"Semua sudah kembali ke tempatnya masing-masing dan memang seharusnya seperti itu" jawab Ambar mencoba untuk menahan diri.


"Aku ingin menceraikan Feli lalu menikahi mu. sebelum mendengar kalau ..."


"Untunglah itu tidak terjadi"


"Apa kau akan tetap mencintaiku sekarang?"


Ambar terdiam. Dia belum pernah memikirkan apakah masih mencintai laki-laki ini mulai sekarang? Apa dia akan menghilangkan perasaan itu dengan mudah sekarang?


"Tidak" Akhirnya dia menjawab. Untuk sekarang, dia pikir lebih baik menjawab seperti ini.

__ADS_1


Keduanya terdiam untuk beberapa lama. Lalu Bos Kenzo berdiri dari duduknya.


"Aku akan melupakanmu sekarang. Selamat tinggal"


Sakit. Sungguh sakit sekali rasanya hati Ambar menerima kata-kata cowok itu. Namun ... ini adalah yang paling benar mereka lakukan. Melupakan perasaan cinta masing-masing dan melanjutkan hidup. Ambar melihat punggung cowok itu sampai menghilang dari kedai kopi. Tak terasa air mata yang dikiranya tidak akan muncul lagi, membasahi pipinya. Selamat tinggal. Kali ini ... untuk selamanya.


Setiap hari Feli merasa gelisah. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, selalu curiga dan sedih secara tiba-tiba. Tidak tahu apakah ini memang cara kerja hormon kehamilan atau dia hanya merasa cemburu pada suaminya. Bahkan sampai umur kehamilannya empat bulan, Feli tidak bisa merasa tenang.


Sejak pulang dari rumah sakit saat itu, suaminya memperlakukan Feli seperti hantu. Adhi memang mencukupi semua kebutuhan Feli dan keluarganya. Tapi bukan itu yang diinginkannya. Dia mendambakan kasih sayang dan perhatian dari Adhi. Seperti saat mereka masih saling mencintai dulu. Meskipun Feli tahu hal itu tidak mungkin terjadi lagi, dia berharap Adhi menunjukkan sedikit perhatian pada calon anak mereka.


"Apa kau akan pergi ke luar kota?" tanyanya saat Adhi mengeluarkan koper dari kamarnya. Mereka berada satu rumah, tapi tidak sekamar seperti pasangan suami istri yang seharusnya. Karena itu Feli tidak pernah tahu jadwal suaminya. Dia selalu bertanya dan mengharapkan jawaban. Tapi Adhi sungguh tega dan tidak pernah menjawab rasa khawatirnya. Laki-laki itu hanya berlalu pergi dan menganggapnya tidak ada.


"Apa kalian akan pergi keluar kota?" tanya Feli pada Kenzo yang datang menjemput suaminya.


"Iya Nyonya. Kami akan ke Jakarta. Apa Bos tidak bilang?"


Feli malu, dia selalu mengetahui jadwal suaminya dari Kenzo.


"Tidak"


"Saya harus mengambil kunci mobil Nyonya"


Tiba-tiba sesuatu muncul di kepala Feli.


"Apa kalian datang ke Jakarta untuk bertemu Ambar?"


"Apa?"


Kenzo terlihat tidak percaya mendengar pertanyaan itu dari mulut Feli.


"Apa setiap kali ke Jakarta, Adhi bertemu Ambar?"


"Kenapa harus bertemu Ambar?"


Feli kini bingung. Baik suaminya maupun Kenzo tidak tahu kalau dia mendengar semua pembicaraan mereka waktu di rumah sakit.


"Tidak. Aku pikir kalian akan bertemu Ambar karena ke Jakarta"


"Ambar tidak punya urusan dengan Bos lagi. Dan saya tidak suka Nyonya menyebut nama Ambar lagi. Anda juga tidak menjadi sahabat yang baik saat Ambar dulu dihina oleh Bos"


"Apa? Beraninya kau mengatakan hal itu padaku? Aku adalah Nyonya di rumah ini"

__ADS_1


Feli marah. Dia benar-benar marah. Dan semua itu karena Kenzo membela Ambar, wanita yang dicintai suaminya.


"Dan saya menyesal pernah suka pada Feli yang dulu" kata Kenzo lalu melewatinya begitu saja untuk pergi ke ruang tengah. Perlahan Feli meredakan amarahnya sendiri. Dia tidak percaya bisa marah sampai seperti itu. Tidak boleh seperti ini terus. Dia harus mencari tahu sendiri hubungan Adhi dan Ambar. Apakah mereka memang sering bertemu saat suaminya pergi ke Jakarta. Atau seperti kata Kenzo, mereka tidak lagi berhubungan sama sekali.


__ADS_2