
Adhi menatap lift yang sudah bergerak turun dari depan kamarnya. Perempuan itu, kenapa kemari? Seharusnya Feli tidak kemari dan membuatnya harus mengatakan sesuatu yang tidak didinginkannya. Kalau begini, Adhi pasti akan merasa menyesal selama beberapa hari sebelum bisa melupakannya. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri lalu melepas jas yang terasa sesak dari tubuhnya. Dia berjalan ke jendela dan melihat langit cerah diluar. Tidak lama lagi. Hanya kurang dari delapan minggu lagi. Acara pernikahan Feli dan Danial akan diadakan di Bali. Dan seminggu sebelumnya, Adhi akan berangkat ke London. Negara asalnya yang kini terasa asing, bahkan untuk menyebutkannya saja.
Sebuah ketukan pintu mengganggu lamunannya. Dia membuka pintu dan melihat wanita yang kehadirannya sudah dilupakan oleh Adhi karena adanya Feli.
"Ini, makanan Anda"
"Oh"
"Sebaiknya saya pergi sekarang. Tapi ... bisakah saya mengambil tas saya?"
Adhi menoleh ke belakang dan melihat sebuah tas yang ada di atas sofa. Dia bahkan tidak mnyadari keberadan tas itu.
"Ambillah!"
Wanita itu masuk ke dalam apartemennya lalu mengambil tas dan berjalan kembali ke arah pintu. Tanpa bicara sepatah katapun, Ambar kemudian pergi. Tapi tidak melalui lift yang tadi dipakai Feli. Wanita itu lebih memilih lewat tangga darurat. Adhi merasa ada ganjalan di dalam dirinya lalu mengejar wanita yang pergi dari apartemennya.
"Tunggu!!"
Ambar menoleh mendengar panggilannya.
"Apa ada yang salah dengan makanannya? Saya memilih sesuatu yang sepertinya biasa Anda makan"
"Bukan." Adhi berhenti melangkah. Dia berdiri di anak tangga paling atas sedangkan wanita itu hampir sampai di lantai empat. Dia diam, merasa bingung karena tidak tahu apa yang akan dikatakannya.
"Saya harus bekerja sekarang" kata wanita itu lalu mulai menuruni tangga lagi. Adhi ingin menahan kepergian Ambar tapi dia tidak tahu untuk alasan apa. Akhirnya dia hanya bisa diam disana. Mendengar setiap langkah yang diambil Ambar untuk pergi.
Ambar masuk ke dalam mobil dan menyetir mobilnya ke arah toko. Dari apartemen Bos Kenzo, kira-kira dibutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Karena jalanan lancar, Ambar memilih untuk berhenti di salah satu gerai kopi.
"Pesan apa kak?"
"Kopi susu creamy dingin tiga. Oh, satu cup gulanya dikurangi"
"Baik. Silahkan tunggu!"
Ambar membayar kopi pesanannya lalu duduk di kursi yang ada disana. Dari tempat itu dia masih bisa melihat apartemen tempat tinggal Bos Kenzo. Dan perlahan, dia merasa sedih. Tidak tahu kenapa. Sebelum Ambar sempat mengingat wajah cowok yang menahannya di tangga, ternyata kopi pesanannya sudah jadi.
"Terima kasih kak" kata penjualnya.
"Sama-sama"
Ambar kembali ke mobil dan memulai lagi perjalannya ke toko.
Sampai di toko Ambar melihat dua pegawainya bekerja menyusun undangan yang datang dari percetakan.
"Assalamualaikum" salam Ambar
"Wallaikumsalam Kak. Tumben telat"
"Iya nih. Ini kopi"
"Makasih Kak" sambut kedua pegawainya hampir bersamaan.
__ADS_1
"Hari ini aku harus pergi ke percetakan ya?"
"Gak usah kayaknya kak. Katanya nanti Pak Agung mau kesini jelasin harga desain baru"
"Jam berapa?"
"Habis Dzuhur kayaknya"
"Oh, oke kalo gitu. Aku ke atas dulu ya. Bentar lagi bantuin pasang pita"
"Iya Kak"
Ambar naik ke ruangannya lalu membuka Notebooknya. Ada beberapa email yang belumm dia balas. Juga DM tentang katalog undangan desain baru yang kemarin malam diupdate olehnya. Dengan segera Ambar mengerjakan semuanya lalu kembali ke lantai satu dan membantu pegawainya. Dan setelah makan siang dan sholat Dzuhur, Ambar menerima kedatangan pak Agung. Pemilik percetakan yang bekerja sama dengannya sejak dua tahun lalu.
"Saya kemari sudah update ke insta. banyak yang pengen lho pak desain barunya"
"Iya. Tapi, desain yang mba Ambar kasih kemarin juga bagus semua. Munkin bisa kita pake bulan depan"
"Oke"
Mereka berdiskusi tentang harga baru yang akan dipakai pada produk selanjutnya. Satu jam kemudian, pak Agung pergi dari toko setelah mendapatkan kesepakatan harga. Ambar kembali membantu pegawainya di lantai bawah sampai jam pulang kerja datang.
"Kak Ambar mau lembur hari ini?" tanya salah satu pegawainya.
"Gak kayaknya. Aku mau pulang aja"
Ambar mengunci ruangannya lalu ingin menutup toko saat suara mobil asing datang mendekat. Dia sepertinya pernah melihat mobil itu tapi lupa dimana.
"Gak apa-apa"
Ambar sudah selesai mengunci toko dan ingin menawarkan tumpangan pada dua pegawainya saat melihat seorang cowok bule keluar dari mobil mewah berwarna biru tua yang baru saja parkir.
"Wah Gilaaaaaa. cakep banget tuh cowok" komentar pegawainya saat melihat sosok Bos Kenzo yang perlahan berjalan ke arah toko.
"Kayaknya mau kesini deh tuh cowok. Apa dia mau nikah terus pesen undangan?"
Ambar hanya melihat dari balik badan dua pegawainya dan tidak berniat mengatakan siapa sebenarnya cowok yang datang kemari itu.
"Eh, iya. Beneran mau kesini tuh orang. Kak. Kak Ambar, tuh cowok kesini"
Karena kesal mendengar pekikan girang dua pegawainya. Ambar akhirnya mengatakan siapa sebenarnya cowok yang kata mereka cakep itu.
"Ya iyalah. Tuh orang adik iparnya pegantin yang souvenirnya dibuat disini"
"Beneraannn??? kak Ambar kenal sama cowok kayak gitu? Kok gak dipacarin aja?"
"Hush. jadiin suami dong"
"Mending kalian pulang sekarang kalo masih mau kerja disini!" ancam Ambar membungkam dua pegawainya.
"Kita pulang dulu Kak. Assalamualaikum" kata dua pegawainya menurut.
"Wallaikum salam"
__ADS_1
Untunglah dua pegawai AMbar segera angkat kaki sebelum Bos Kenzo sampai di depan toko.
"Kenapa kesini?" tanya Ambar segera setelah jarak mereka tinggal satu meter.
"Baru kali ini aku datang ke ... showroom sekecil ini" komentar cowok itu tidak membuat Ambar sakit hati.
"Bukan showroom. Toko. Toko kecil"
"Aku datang karena ini" Cowok itu mengeluarkan gantungan kunci berbentuk pompom putih yang Ambar kenal. Oh, kunci rumahnya.
"Oh. Iya makasih" ucap Ambar lalau ingin merebut kunci itu dari tangan Bos Kenzo tapi tidak bisa.
"Aku ingin melihat tokomu, kalau kau mau kunci ini kembali"
"Besok saja. Saya mau pulang"
"Sekarang"
"Besok"
"Aku akan memberikan kunci ini pada Kenzo besok"
"Ya boleh. Saya mau pulang dulu"
Ambar tidak ingin berlama-lama terlihat bersama cowok itu. Apalagi sosok Bos Kenzo sulit untuk diabaikan. Pemilik ruko lain juga mulai ada yang keluar hanya untuk melihat pemilik mobil mewah yang sedang terparkir di depan ruko.
"Kau marah?"
"Ha?"
"Kenapa kau sepertinya marah padaku?"
"Marah? Saya? Kenapa? Tidak"
"Kau ... cemburu?"
Ha? Cemburu? Sama siapa? pikir Ambar.
Sebelum tuduhan cowok itu semakin menjadi-jadi, Ambar mengambil kunci rumahnya dengan paksa.
"Saya sudah menerimanya. Terima kasih. Bisakah Anda pergi sekarang?"
Kali ini dia berusaha setenang mungkin mengeluarkan tiap kata dari mulutnya.
"Aku akan lebih senang kalau kau makan malam denganku"
"Saya tidak bisa. Saya capek sekali hari ini. masih banyak juga yang harus saya lakukan di rumah"
"Aku tidak menerima penolakan"
Ambar sekarang kesal. Dia sudah memberikan berbagai alasan pada cowok itu agar segera pergi dari sini, tapi ... .
"Baik. Kemana kita pergi?" tanyanya lalu memegang erat tali taanya.
__ADS_1