Second Lead Fate

Second Lead Fate
Enam Puluh


__ADS_3

Adhi melihat wanita yang sedang duduk di depannya dan tersenyum. Ambar tidak pernah melihat ke matanya sama sekali dari saat mereka bertemu di depan toko sampai sekarang duduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan.


"Aku ingin memberikan ini" kata Adhi lalu mengeluarkan cincin yang ada di kantong celananya. Segera saja Ambar memicingkan matanya untuk melihat cincin yang kini terletak di atas meja.


"Ahhh, ternyata ketemu" seru Ambar lega.


"Kau menjatuhkannya di rumahku"


"Saya sudah mencarinya sejak hari itu. Untunglah ketemu"


"Itu ... cincin dari Kenzo?"


Tentu saja, pertanyaan Adhi mengejutkan wanita itu. Tapi tidak cukup membuat Ambar melihat ke arahnya. Wanita itu hanya terdiam sebentar lalu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


"Terima kasih sudah menemukannya. Terima kasih sekali"


"Kau tidak menjawab pertanyaanku"


Ambar kini memegang cincin itu lalu seperti menyentuhnya dengan penuh kasih. Setidaknya itu yang dilihat Adhi dari sisinya duduk.


"Iya. Ini dari Kenzo"


"Jadi kau akan menerima lamarannya?" tanya Adhi lagi.


"Itu bukan urusan Anda"


Jawaban yang sangat tidak menyenangkan. Tapi itu memang bukan urusannya. Adhi harus belajar lagi untuk membedakan mana yang berguna untuknya dan tidak. Dia menyeruput kopi dan mulai ingin membicarakan hal yang penting. Lebih penting daripada cincin dan lamaran Kenzo pada Ambar.


"Tentang London. Apa kau tahu kalau Danial membatalkan tiketmu?"


baru kali ini, Ambar langsung menatapnya di mata. Sepertinya wanita itu tidak berharap mendengar hal ini.


"Ha?"


"Iya. Aku meminta Danial membatalkannya"


"Ha? Kenapa?"


Tiba-tiba saja timbul keinginan Adhi untuk menggoda Ambar sedikit.


"Kau memiliki usaha, rumah dan mobil. Untuk apa kau menggantungkan membeli tiket dari Danial dan Feli?"


Wajah Ambar sungguh menghibur untuk dilihat. Mata, pipi, hidung dan mulut Ambar semuanya bereaksi terhadapa kabar yang Adhi katakan barusan.


"Jadi ... saya harus membayar semua sendiri?"


"Iya"

__ADS_1


"Tapi ... apa tiketnya masih ada? Bukannya saya harus berangkat tanggal delapan? Itu sudah lusa"


"Kau harus cari cara sendiri"


"Ha?"


Dan saat Ambar semakin binggung, sudut bibir kirinya selalu berkedut lemah. Sebuah pemandangan yang bisa membuat Adhi terhibur. Imut sekali. Tunggu. Adhi menghilangkan senyum dari wajahnya dan kembali serius. Kenapa setiap kali bertemu wanita ini, dia jadi kehilangan kendali. Adhi meminum kopinya lagi supaya sadar dan kembali ke topik pembicaraan.


"Meskipun Danial tidak ... " Belum selesai dia bicara, tiba-tiba Ambar memotongnya.


"Anda kenapa sih??? kenapa bilangnya baru sekarang? Harusnya bilangnya dari seminggu yang lalu. kalo gak dari bulan lalu. kalo gini kan mendadak. Apa ya saya bisa beli tiket sekarang? padahal berangkatnya lusa. Rea sama Feli juga gak bilang lagi. Aduhhh!!!" ujar Ambar kesal lalu membuka ponselnya. Wanita itu terlihat mencari sesuatu di ponselnya, kemungkinan tiket.


"Aku sudah membelinya" kata Adhi tidak didengar oleh Ambar. Wanita itu masih sibuk mengetik dan mengusap layar ponselnya. Terpaksa Adhi mengambil ponsel wanita itu agar mendapatkan perhatiannya.


"Aku sudah menyiapkan semuanya"


"Ha?"


"Kau akan pergi denganku. Tiket pesawat pulang pergi, taksi dan hotel. Asalkan tidak pergi sendiri, maka kau aman bersamaku disana"


Saat Adhi kira wanita di depannya akan bersyukur karena dia membayar semuanya. Ambar malah bertanya,


"Kenapa?"


"Apa?"


"Karena kau kekasihku"


"Apa? Kita kan bukan lagi bersandiwara"


"Kita di London dan aku akan bertemu keluargaku. Jadi, kau harus tetap menjadi kekasihku disana. Lebih tepatnya, kita akan terus bersama disana selayaknya kekasih"


Wanita itu terpana dengan penjelasan Adhi. Terlihat sekali karena mata Ambar tidak berkedip sejak semenit yang lalu.


 


Bersama ... bersama ... bersama.


Kata itu terus saja terngiang di telinga Ambar. Kenapa jadi begini? Bukankah dia ke London untuk merayakan pesta Feli? Terus kenapa jadi harus bersama cowok yang seharusnya dia hindari itu? Dan lagi, mereka akan terus bersama saat di London? Bisa gila rasanya Ambar membayangkan nasibnya nanti. Susah payah dia berusaha melupakan perasaannya pada cowok itu, dan kalau mereka akan terus bersama. Bagaimana jadinya?


"Apakah Anda tidak bisa bilang kalau kita putus?"


"Nanti?"


"Ha?"


"Hari terakhir kita disana, aku akan mengatakan kalau kita putus"

__ADS_1


"Kenapa menunggu selama itu?"


"Karena Feli ... "


Sekali lagi, Ambar melupakan satu hal penting itu. Feli. kalau saja tidak ada Feli maka dia tidak akan pernah mengenal cowok itu. Kalau tidak karena Feli, mereka tidak akan berpura-pura menjadi kekasih dan jadi sering bertemu. Dan yang lebih penting, perasaannya bukanlah sesuatu yang perlu diperhitungkan dalam masalah ini.


"Saya kemarin berbicara tentang masalah ini dengan Rea"


Cowok itu berubah, wajahnya menjadi dingin dan menatap Ambar.


"Maksud saya tentang Feli. Apakah Anda tidak ingin merebut Feli sebelum pernikahan terjadi?"


"Dan darimana ide itu muncul?"


"Sebenarnya, saya mengerti bagaimana posisi Feli dan juga Anda dalam masalah ini. Tapi, bukankah menikah dengan orang yang tidak dicintai sama saja seperti menerima hukuman seumur hidup?"


Ambar merasakan hal yang sama beberapa saat yang lalu. Pernikahan yang dipaksakan pasti akan membuat perasaan menjadi berat dan semua yang dilakukan hanyalah sebuah beban berat. Dia tidak ingin Feli melakukan hal yang sama. Tapi juga tidak bisa menemukan cara yang aman bagi sahabatnya itu agar bebas dan mengejar cinta sejatinya. Kini, mungkin saja bos Kenzo akan melakukan hal itu. Menyelamatkan Feli dari kehancuran hati dan jiwanya. Tapi, kenapa semua ini membuat dadanya sakit sekali?


"Sudah selesai bicara?" tanya cowok itu seperti tidak terpengaruh kata-kata Ambar. Bukankah Bos Kenzo masih mencintai Feli? karena itu kan cowok itu berani melakukan apapun, termasuk berpura-pura memiliki hubungan dengan Ambar?


"Sudah"


"Aku hanya mengatakan ini satu kali dan tidak ingin kau melupakannya. Itu bukan urusanmu"


"Iya ... iya. Itu bukan urusan saya. Saya ini hanyalah sahabat yang sedih melihat Feli yang harus menyembunyikan perasaannya selama ini. Ternyata pria yang dicintainya hanya memikirkan diri sendiri" ujarnya kesal.


"Siapa bilang aku tidak akan melakukan apa-apa?"


"Anda akan melakukan sesuatu?"


Cowok itu terlihat menahan kata-kata, membuat Ambar semakin penasaran.


"Aku ... akan menyelesaikan masalah yang menjadi awal semua ini. Semoga saja Danial akan mundur dengan sendirinya saat itu selesai"


Wahhh, ternyata Bos Kenzo .... sangat mencintai Feli. Eh, kenapa Ambar jadi sedih? Dia harus gembira. Karena Feli adalah sahabatnya.


"Benar? Jadi, kalau kakak Anda membatalkan pernikahan ...?"


"Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang belum terjadi"


Ambar memegang gelas kopi dingin dan terus saja memainkannya. Karena tidak tahu harus berkata apa. Dia ikut senang akhirnya Feli akan mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Semoga rencana Anda berhasil dan bisa bersatu dengan Feli" kata Ambar lalu menarik napas panjang. Dia harus segera pergi dari hadapan cowok ini agar tidak terlalu merasakan apapun yang seharusnya tidak dirasakannya.


"Iya. Aku juga mengharapkan itu terjadi"


Terlambat, Ambar kini merasakan dadanya sakit lagi. Bagaimana bisa dia selalu patah hati setiap bertemu orang ini. Harusnya dia memang tidak pernah bertemu Bos Kenzo. Tapi apa mau dikata, semuanya terlanjur seperti ini. Yang paling penting dia tidak menunjukkan perasaannya dan berusaha menghilangkannya secepat mungkin. maka semua akan baik-baik saja. Lagipula Bos Kenzo memang ditakdirkan untuk Feli.

__ADS_1


__ADS_2