
"Its been so long, Elvan"
"Yes. A year?"
"You look ... fine"
Adhi tersenyum mendengar komentar dua teman lamanya. Sepasang suami istri inilah yang pernah bertemu dengannya saat masih bekerja di Bali. Merka juga yang sempat membantu Adhi menemukan tempat tinggal smentara.
"Thanks"
"Aku dengar kau akan pergi ke London?"
"Kabar menyebar dengan cepat"
"Yeah"
"Iya. Aku akan ke London, untuk seminggu"
"It's gonna be fun" kata sang istri pada Adhi.
"I hope so" jawabnya lalu membicarakan hal-hal ringan sebelum akhirnya Adhi pamit untuk pulang.
Dia pergi ke mobilnya dan baru sadar kalau tidak melihat seseorang yang seharusnya ada disana. Ambar. Kemana wanita itu? Baru saja Adhi melihat wanita itu masih berdiri di depan mobilnya. Tapi sekarang, tidak ada. Adhi berjalan ke jalan di sebelah restoran dan akhirnya menemukan wanita itu sedang berdiri disana. Saat dia menghampiri, ternyata ada motor ojek online berhenti di depan wanita itu.Adhi hanya bisa melihat wanita itu pergi dengan ojek online. Meninggalkannya yang sudah meluangkan waktu berharga hanya untuk sebuah makan malam.
Adhi bertambah kesal, saat mengikuti kemana perginya wanita itu. Sebuah makan malam mewah dengan makanan kelas michelin ternyata tidak bisa membuat wanita itu puas. Bahkan dirinya ternyata tidak lebih menarik daripada Kenzo yang mengajak wanita itu makan di pinggir jalan. Sungguh memuakkan. Bagaimana bisa Ambar memiliki selera serendah itu? Menahan kesalnya, Adhi berbalik dan memilih untuk pulang.
Segera setelah sampai di apartemen, dia membuang makanan yang tadi pagi dibelikan oleh Ambar. Hanya sebuah salad ayam. Dan dia membalas makanan itu dengan yang lebih baik seribu kali lipat. Tapi ... wanita itu tidak menghargainya.
"Sial!" umpatnya lalu masuk ke dalam kamar dan pergi mandi. Dalam pikirannya, Adhi masih memikirkan tentang kelakuan Ambar yang tidak menghargainya. Seharusnya wanita itu menunggunya di depan mobil. Berterima kasih dengan sepenuh hati lalu menanggapi semua yang dikatakan olehnya. Wanita itu pasti kesal karena komentarnya lalu menunjukkan wajah cemberut. Mereka akan bicara lama dan tidak sadar berada di depan toko kecil wanita itu. Adhi akan melihat wanita itu berpindah mobil dan pulang dengan puas hati.
Adhi mematikan air yang terus mengguyur tubuhnya sejak tadi lalu mengambil handuk yang ada di dekatnya. Saat mengeringkan badan dia baru sadar mengalami sesuatu. Kenapa? Kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali memikirkan wanita itu? Padahal wanita itu membuatnya kesal. Lalu, kenapa? Adhi menghentakkan tangannya di dinding dengan cukup keras dan merasakan amarah menguasai dirinya. Belum pernah dia semarah ini hanya karena wanita seperti Ambar.
"Kau dimana?" tanyanya tidak sabar.
"Saya? Di rumah"
"Beraninya kau pulang lebih dulu!"
"Saya pikir Anda memiliki janji temu lain"
Alasan. Semua yang sedang dikatakan wanita itu dalam telepon hanya alasan demi alasan.
__ADS_1
"Kau harus bertanggung jawab karena kelakuanmu"
"Kelakuan? Apa sih maksud Anda?"
"Cepat datang kemari atau aku akan ... "
Ditutup. Teleponnya ditututp begitu saja oleh wanita itu? Sial. Sial. Sial. Adhi hanya bisa mengumpat dan ingin sekali memukul bagian tubuhnya yang terus saja berdiri dari tadi.
Ambar menatap ponselnya dengan ekspresi jijik. Sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh cowok bule itu?
Lagi gila kali ya? pikir Ambar lalu meletakkan ponselnya di meja dan kembali berbaring di kasur. Dia merasa tidak bersalah karena pergi meninggalkan Bos Kenzo di restoran. Karena saat itu Bos Kenzo kelihatan sibuk dan Ambar juga tidak ingin membuang waktunya untuk menunggu. Dia pergi dan kebetulan melihat Kenzo di depan tokonya. Merka makan bersama karena Ambar masih merasa lapar. Itu saja. Dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Terus, kenapa cowok itu marah? Aneh banget" kata Ambar dan memutuskan untuk memejamkan mata.
Hari Sabtu datang begitu cepat, membuat Ambar sedikit bingung karena ada pesanan undangan baru yang mendadak diterimanya.
"Gimana kak? Mereka masih mau nambah nama tamu gak?" tanya pegawainya yang terpaksa lembur sampai jam dua siang.
"Aku udah hubungin mereka tapi gak dibales. Kita siapkan yang sudah selesai aja. Besok aku antar sekalian jelasin masalah undangan yang lebih"
"Iya, habis itu kalian bisa pulang ya"
"Iya kak Ambar" sahut pegawainya yang satu lagi dari luar ruangan.
Dan akhirnya, stelah jam tiga sore, Ambar masih berada di ruangannya. Membalas pesan yang kemarin malam dan pagi tadi masuk. Perlahan tapi pasi, semua pesan telah terbalas dan jadwal pekerjaan untuk minggu depan juga siap di notebooknya. Ambar sekarang bisa meregangkan punggung di kursinya. Lebih baik sekarang dia pulang saja. Besok pagi dia harus mengantar undangan yang mendadak dipesan itu. Ambar membereskan semua barangnya dan memilih untuk sholat Ashar di rumah saja. Sekalian mandi dan makan siang yang tertunda. Itulah niatnya hingga melihat seorang laki-laki di kursi depan rumahnya.
"Assalamualaikum" salamnya lalu melihat wajah yang dikenalnya.
"Wallaikumsalam. Baru pulang jam segini kamu?" jawab ayahnya. Ambar kemudian melihat wajah laki-laki yang duduk di depan ayahnya.
"Mas Galih"
"Halo Mbar"
Aduh, apa yang dilakukan laki-laki ini di rumahnya? Ambar sudah merasa lelah sesaat setelah melangkahkan kaki di rumahnya
"Iya" jawabnya malas dan ingin segera masuk ke dalam kamarnya. Tentu saja keinginannya itu tidak terpenuhi karena ayahnya memaksa Ambar duduk di depan tamu.
"Kamu sibuk ya?"
__ADS_1
"Eh? Iya"
"Sabtu masih kerja. Besok juga?"
"Iya. Masih harus antar barang"
"Kalo malam ini?"
Ambar membesarkan matanya dan tidak tahu maksud laki-laki ini.
"Kalo kamu gak sibuk, bisa kita nonton malam ini?"
Benar firasat buruk Ambar. Hari ini dia tidak akan bisa beristirahat di rumah dengan tenang. Hari masih sore, dan ddia harus pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang ramai hanya untuk nonton film yang dia tidak tahu. kalau dia menolak ajakan laki-laki ini, sudah pasti ayahnya akan marah.
Mereka berjalan masuk ke dalam mall dan mengobrol tentang kegiatan masing-masing setelah pertemuan terakhir di hari Selasa itu. Ambar sebenarnya merasa lelah dan ingin duduk dimana saja, tapi dia tidak enak pada laki-laki disebelahnya.
"Filmnya akan dimulai jam tujuh malam. Apa kita bisa makan dulu?"
Akhirnya ... Ambar bisa duduk setelah diajak memutari mall yang luas ini.
"Mas, Ambar mau ke kamar mandi dulu"
"Oh iya"
Ambar berjalan ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari tempat Mas Galih duduk. Tapi, yang tidak disangka olehnya, ada seseorang yang menepuk bahunya dengan lembut.
"Feli?!"
"Ambar. Wah, kebetulan banget. Kamu ke mall?"
"Iya. Aku ... "
"Wah, kalo gitu kita bisa jalan bareng dong"
"Ha?"
Ambar lalu mengingat laki-laki yang mengajaknya kemari lalu melihat ke arah Feli.
"Ayo, aku bisa jalan sama kamu. Seneng banget"
"Tunggu, aku mau pipis dulu" kata Ambar lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Untungnya kamar mandi penuh dan dia memiliki waktu lebih untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1