
Sebelum petang datang, akhirnya Ambar bisa pulang. Acara Ratih yang dikiranya akan berlangsung sehari penuh ternyata selesai sebelum adzan Ashar berkumandang. Mungkin karena ini adalah pernikahan Ratih yang ketiga, sehingga acaranya tidak terlalu besar seperti dua sebelumnya. Kini Ambar bisa bersantai dan menunggu Maghrib datang. Dia mulai dengan mengisi daya ponsel yang lemah setelah memberi penjelasan panjang kali lebar pada Rea. Sahabatnya itu salah mengira kalau dia menikah. Hanya gara-gara foto yang tadi diposting ratih di statusnya. Bagaimana mungkin dia bisa menikah saat tidak ada laki-laki di sampingnya.
Suara adzan Maghrib akhirnya berkumandang dan Ambar siap untuk sholat di masjid. Tapi, seseorang datang dengan kecepatan kilat lalu dengan sembarangan memegangnya. membatalkan wudhu yang sudah diambilnya.
"Kamu apa-apaan sih Ken?" tanyanya pada laki-laki yang tiba-tiba datang dan memegangnya.
"Kamu ... hhhh ... gak .... hhhh ... "
Jelas sekali Kenzo seperti selesai melakukan maraton. Napasnya pendek-pendek dan wajahnya pucat seperti mau pingsan.
"Kamu ngapain disini? Bukannya kamu di Bali?" tanya Ambar lagi.
"Kamu ... hhhhh ... dimana ... dekorasinya?'
"Dekorasi? Dekorasi apaan?"
"Nikah. Kamu ... hhh ... nikah"
Ahhh. Satu lagi korban foto yang diposting oleh Ratih. Ternyata Kenzo datang kemari hanya untuk bertanya tentang hal itu.
"Gak. Bukan aku yang nikah, tapi Ratih"
Sekarang Kenzo terlihat terkejut dan segera duduk di atas lantai dan menghembuskan napas lega.
"Beneran? Kamu gak nikah?"
"Nikah ama siapa? Itu kerjaan Ratih"
"Kenapa telepon kamu gak bisa dihubungi dari tadi?"
"Ohhh itu Rea. Telpon juga minta penjelasan yang sama. Dikiranya aku nikah"
Kenzo benar-benar terlihat sangat kelelahan, membuat Ambar menjadi kasihan. Dia ingin masuk dan mengambilkan minum dan berpapasan dengan ayahnya yang mau pergi ke masjid.
"Lho, kamu. Kenapa disini?" tanya ayahnya pada Kenzo yang sudah agak tenang. temannya itu segera berdiri karena melihat ayah Ambar dan dengan sopan menyapa.
"Assalamualaikum Pak. Maaf, saya datang tiba-tiba. Saya ... "
__ADS_1
"Duduk di kursi, jangan di lantai. bapak pergi ke masjid dulu"
Ha? Bukankah ayah Ambar biasanya tidak suka dengan kedatangan Kenzo ke rumah? Kenapa sekarang berbeda. Kenzo juga tampak terkejut dengan penerimaan ayah Ambar padanya. Kenapa dengan hari ini?
"Bapak kamu salah makan?" tanya Kenzo heran. Ambar juga tidak mengerti dengan kelakuan ayahnya yang aneh.
"Kayaknya. Tapi eh ... aku ambilin kamu air dulu. Duduk situ" kata Ambar dengan menunjuk kursi lalu pergi ke dalam rumah. tak lama dia keluar dengan segelas air putih yang segera dihabiskan oleh Kenzo.
"Cuman ada satu gelas ya?"
"Kamu haus banget ya? Aku ambilin es teler deh"
Ambar menjamu Kenzo dengan makanan dan minuman dari pernikahan Ratih. temannya itu seperti anak hilang yang tidak makan selama beberapa hari dan menghabiskan semua yang diberikan oleh Ambar.
"Enak. Yang masak tetangga kamu?"
"Iya. Kamu makan aja dulu ya. Aku mau sholat dulu di dalem"
"Oh. Iya"
"Kamu lari dari bali ya?" komentar Ambar.
"Ini salah kamu. Posting foto gitu"
"Kan aku udah bilang itu kerjaan Ratih. emangnya kamu pikir aku nikah beneran?"
"Kamu juga gak bisa ditelpon"
"Rea telpon lama banget sampai hp-ku lowbat. Tapi beneran kamu lari dari Bali?"
"Aku naik pesawat. Ngapain juga lari? Mau sampe bulan depan apa?"
Ambar tertawa mendengar semua jawaban Kenzo. Sudah lama dia tidak berbicara santai seperti ini dengan temannya ini sejak hari itu. hari dimana Kenzo mengetahui dia menyukai Bos Adhi.
"Beneran?"
"Iya. Pokoknya kalo aku dipecat, kamu harus tanggung jawab"
__ADS_1
"Yeee enak aja. Itu urusan kamu sendiri"
Sedang asyik berbincang, ayah Ambar pulang dari masjid. Ibu Ambar masih bertahan di rumah Ratih untuk membantu beres-beres.
"Kamu masih disini?" tanya ayah Ambar membuat suasana canggung.
"Iya Pak"
"Kamu masih gak sholat?"
Duh. Kenapa ayahnya bertanya tentang hal ini? Bukankah ayahnya tahu kalau Kenzo itu ... .
"Sholat Pak. Ini tadi baru isi perut"
Ambar terkesima dengan jawaban Kenzo yang diluar dugaan. Temannya ini ternyata sudah sadar. Alhamdulillah.
"Cepet sholat sana!" kata ayah Ambar lalu masuk ke dalam rumah.
"Iya Pak. Ini saya mau berangkat ke masjid"
Ambar kembali tersenyum melihat tingkah Kenzo yang seperti dihukum oleh wali kelas.
"Ya udah sana. Sholat dulu"
"Iya. Tapi ... kamu beneran gak nikah kan?"
"Gak. Udah dibilang berapa kali juga"
"Bagus deh. kalo gitu aku ada kesempatan buat nikahin kamu" kata Kenzo lalu lari ke arah masjid di dekat rumah. meninggalkan Ambar yang terkejut karena ternyata Kenzo masih menaruh hati padanya. Padahal dia tidak pernah membuat temannya itu senang.
Ambar segera memebersihkan semua piring dan mangkuk bekas Kenzo ke dalam rumah. Dia juga menyiapkan teh hangat untuk temannya itu. Hitung-hitung permintaan maaf karena membuat Kenzo datang kemari dari Bali. Tapi ... kalau begitu Kenzo meninggalkan pekerjaannya begitu saja? Bagaimana kalau atasan temannya itu marah? Apa Kenzo benar-benar akan dipecat karena masalah fotonya? Apa dia memang harus bertanggung jawab kalau itu terjadi? Ambar menjadi ngeri membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
Semua yang ditakutkan Ambar ternyata tidak terjadi. Kenzo kembali ke Bali dengan baik-baik dan tidak ada kabar kalau temannya itu dipecat. Sampai pukul sembilan pagi. Tidak tahu kalau Kenzo sudah sampai di Bali nanti. Tapi Ambar tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan temannya itu. Dia memiliki jadwal kerja yang padat setelah libur selama dua hari. Dua pegawainya juga sudah menyerah untuk mengurus toko sendiri tanpa bantuannya. Karena akhir-akhir ini pemesan produk di toko mereka meningkat dua kali lipat. Ambar bersyukur untuk semua yang ada di dalam hidupnya. Kini semuanya tampak indah kembali.
Kenzo sampai di rumah perusahaan dengan hati yang tidak tenang. Dia membentak Bos lalu pergi begitu saja untuk memasikan kabar pernikahan Ambar yang ternyata hanya hoaks. Dan yang dihadapinya, membuatnya sangat terkejut. Bos Adhi yang selalu tampak rapi dan berwibawa, kini terlihat berbeda sekali. Kenzo sampai di perusahaan pada pukul dua belas siang dan berharap bisa berlutut dan minta maaf di depan Bos-nya. Tapi ini ... Atasannya itu tidur di sofa ruang Direktur. Memakai pakaian dengan bekas muntahan dan melihat berbagai botol bekas alkohol yang telah terbuka. Kenzo pernah melihat hal ini sebelkumnya. Dulu, saat Bos-nya sedih karena Feli. Tapi sekarang apa yang terjadi?
"Bos ... Bos" panggil Kenzo untuk membangunkan atasannya. Percuma, atasannya itu tidak terbangun meskipun dia mennguncang dengan kencang. Mabuk berat. Apa sebenarnya yang terjadi saat kemarin dia pergi ke Jakarta? pasti ada yang terjadi. Apa jangan-jangan? Kenzo memang tidak mengatakan Ambar menikah dengan jelas kemarin. Apa atasannya itu mendengar lalu memilih untuk mabuk sampai seperti ini? Itu berarti Bos Adhi, masih memiliki perasaan pada Ambar? Tapi atasannya itu sudah menikah. Bukankah seharusnya atasannya itu fokus pada pernikahannya dan melupakan Ambar? Melihat Bos-nya dalam keadaan seperti ini, membuat Kenzo menjadi iba. Dia mulai membersihkan semua botol bekas alkohol dan memerintahkan seseorang untuk mengelap muntahan yang ada disana-sini. Kenzo menyetel AC dan mulai membuat ruangan kembali tercium normal. Dia segera bekerja, membiarkan atasannya tidur untuk beberapa lama.
__ADS_1