
Sejak tiga hari lalu, Adhi terus saja merasa dipermalukan. Tidak hanya oleh cibiran dan pandangan teman-temannya, pandangan rendah orang tuanya, tamparan orang tua Feli lalu sekarang ucapan Danial. Semuanya seperti sepakat untuk membuatnya seakan berada ddi titik yang rendah.
"Sialan" ucapnya lirih lalu ingin segera menghadiahkan pukulan pada wajah Danial yang terlihat baik-baik saja itu.
Sayangnya, Danial menerima telepon dan Adhi melihat perubahan besar pada wajah kakaknya. Danial seakan ... tersipu. Siapa yang bisa membuat Danial tersipu sampai seperti itu? Bukannya kakaknya itu masih mencintai Feli sampai kemarin? Lalu kenapa sekarang?
Belum selesai dengan pikirannya, tiba-tiba Danial ingin pergi begitu saja. Tentu saja Adhi tidak terima dan tetap ingin menuntut penjelasan tentang penyerahan perusahaan keluarga Feli yang dinilai sangat mudah itu. Tanpa syarat apapun, seperti bukan sifat Danial. Sayangnya, dua pengawal kakaknya berhasil menghalangi Adhi untuk bisa bertanya. Saat dia mengira Danial akan pergi begitu saja, ternyata kakaknya itu mengejutkan Adhi. Menasehati agar dia pergi ke dokter untuk memeriksakan kaki lalu ... membahas wanita itu. Wanita yang bayangannya baru saja muncul menemaninya tepat sebelum dia keluar dari mobil.
"Tunggu!" Adhi terpaksa mengejar Danial yang ddipagari pengawal itu. Dia butuh penjelasan, bukan untuk masalah perusahaan tapi tangisan Ambar yang disinggung oleh kakaknya baru saja.
"Apa? Kau ingin membahas apa lagi?"
"Kapan kau melihat ... Ambar menangis?" tanya Adhi.
Seingatnya, wanita itu tidak pernah menangis di hadapannya. Bahkan sat mereka berpisah di bandara dua hari yang lalu.
"Di Lake District. Di bawah hujan setelah kau merebut Feli dariku"
__ADS_1
Adhi mencoba mengingat wajah Ambar saat itu. Tidak ... wanita itu tidak menangis saat dia meninggalkannya untuk pergi ke pondok. Kalau Ambar menangis, dia pasti tahu. Pasti.
"Kau hanya mengatakan semua ini untuk membuatku bingung" tuduhnya pada Danial.
Kakaknya yang sudah bersiap untuk pergi berjalan mendekatinya dan semua pengawal mulai mengambil jarak aman.
"Kenapa aku harus melakukan itu? Apa kau bodoh setelah terkena pukulanku?"
"Apa?!"
"Apa kau bingung sekarang?"
Dia ingin bangkit kembali tapi kakinya terasa sakit sekali. Dan ... dia juga merasa ... bingung. Bingung pada perasaannya sendiri setelah Danial bertanya tadi. Adhi baru sadar kalau Danial tidak tahu tentang kenyataan bahwa Ambar hanyalah kekasih palsunya. Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Dan sepertinya tidak mungkin Ambar menangis untuknya yang bersatu dengan Feli. Seharusnya wanita itu tertawa bahagia untuk Adhi dan sahabatnya. Seharusnya ... seperti itu. Tapi ... Danial bukanlah orang yang bisa mengatakan kebohongan hanya untuk memicu kemarahannya. Untuk apa juga Danial melakukan itu? Itu berarti ... wanita itu menangis? Benarkah?
"Aku tidak habis pikir, kau membuang perempuan itu dengan mudah lalu meninggalkannya di bawah hujan. Kalau dia tidak menangis, maka dia bukan perempuan biasa" kata Danial. Adhi tidak mungkin membalas perkataan kakaknya itu karena sebenarnya dia tidak meninggalkan Ambar. Dia hanya melakukan apa yang wanita itu suruh.
"Pergilah ke rumah sakit. Sebelum kakimu semakin parah" lanjut Danial lalu pergi. Meninggalkan Adhi yang masih berbaring di tanah.
__ADS_1
Adhi berhasil berdiri di atas kedua kakinya lalu masuk ke dalam mobil. Dengan berkas perusahaan Feli yang sudah tak berbentuk rapi lagi. Dia melemparkan berkas itu ke kursi belakang lalu meletakkan dahinya di atas setir. perasaannya masih bingung setelah mendengar perkataan Danial tentang tangis Ambar. Apa dia harus bertanya sendiri ke wanita itu sekarang? Mungkin di jakarta sekarang masih petang. Wanita itu baru saja pulang dari tokonya dan menyetir pulang. Haruskah dia bertanya? Tapi ... untuk apa dia bertanya? Apa yang akan dia lakukan jika itu benar? Apa dia akan meninggalkan Feli setelah melalui penghinaan demi penghinaan? Adhi tetap ada di posisinya sampai dia tidak sanggup lagi terjaga.
Feli kembali melihat jam yang ada di tangannya. Ini sudah hampir dini hari dan tidak ada tanda-tanda Adhi pulang. Dia sudah pergi ke basement untuk memeriksa apakah mobil Adhi ada, tapi nihil. Tidak ada. Dia semakin khawatir karena tidak tahu tujuan Adhi pergi malam ini. Kemana kekasihnya itu pergi? Dan apa yang sebenarnya terjadi sampai Adhi belum juga kembali? Feli ingin menghubungi Danial dan bertanya apakah Adhi pergi menemuinya. Tapi hal itu pasti tidak baik untuk dilakukan. Mengingat keduanya sempat berkelahi karena Feli.
Paling tidak, kedua orang tuanya telah menyetujui hubungan Feli dan Adhi. bahkan mendesak mereka untuk segera menikah satu minggu lagi di Bali. Semuanya seperti berjalan sesuai dengan keinginannya. Dan Feli merasa sangat bahagia. Hanya saja ... sepertinya Adhi tidak merasakan hal yang sama dengannya. Sejak mereka resmi berhubungan dua hari lalu, Adhi belum menyentuhnya. Padahal Feli pikir, Adhi akan segera merengkuhnya, meninggalkan bekas kecupan di tubuhnya dan menjadikan Feli utuh milik kekasihnya itu. Sebenarnya Feli sedikit kecewa karena Adhi belum melakukan satu-pun dari yang dibayangkannya. Tapi ... semuanya akan terjadi nanti, cepat atau lambat. Karena mereka akan seger menjadi suami istri untuk selamanya.
Feli tidak lupa memabgikan kabar gembira itu pada dua sahabatnya. Rea rupanya terkejut dengan kabar itu dan menanyakan apakah pernikahannya akan dilakukan secepat itu. Mungkin karena Rea tidak menyangkanya. Namun, Feli belum mendapat balasan dari Ambar. Bahkan pesan Feli belum dibaca oleh Ambar sampai sekarang. Padahal di Indonesia sepertinya belum malam sekali. Apa karena Ambar sibuk mengurusi tokonya setelah lima hari pergi ke London? Mungkin itulah yang terjadi, dan Feli harus bersabar menunggu bagaimana Ambar menanggapi kabar pernikahannya.
Tiba-iba pintu apartemen terbuka, dan laki-laki yang ditunggu Feli sejak tadi berjalan masuk.
"Adhi. Kamu kemana aja? Aku khawatir"
Feli melihat sesuatu yang aneh pada kekasihnya itu. Wajah Adhi tampak begitu gelap seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Aku lelah" jawab Adhi lalu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Feli menyusul dan melihat Adhi berbaring di ranjang tanpa melepas mantel bahkan sepatunya.Banyak sekali yang ingin ditanyakan Feli pada kekasihnya itu, tapi sepertinya Feli harus bersabar menunggu sampai esok hari. Adhi menerima tudingan dan tamparan juga hinaan dari banyak orang karena merebutnya dari Danial. Jadi, Feli mulai melepas sepatu Adhi dengan perlahan dan membungkus tubuh kekasihnya itu dengan selimut. Dia juga mengecup dahi Adhi dan membiarkannya tertidur.