
Sesekali Ambar mendongak dan memeriksa. Apakah makanan yang disiapkan olehnya disentuh oleh cowok bule itu. Setelah mendengar suara dentingan sendok, dia bisa merasa lega. Untung saja dia kembali ke kamar ini disaat yang tepat. Kalau tidak, perawat yang tadi baik padanya akan terkena amarah yang salah alamat. Beberapa menit menunggu, Ambar tidak mendengar suara lagi dari arah ranjang pasien. Dia memberanikan diri untuk berdiri dan mendekat ke arah cowok yang masih terlihat marah padanya.
"Makanannya belum habis. Apa Anda akan melanjutkan lagi nanti?" tanya Ambar.
Tapi berapa lama-pun dia menunggu, jawaban dari cowok di depannya tidak pernah terdengar.
"Apa Anda ingin disuapi?" tanyanya lagi, khawatir tangan pasien masih sakit untuk bergerak. Dan kembali lagi, tidak ada jawaban dari pertanyaannya.
"Saya tahu Anda marah, tapi makanan ini untuk mempercepat kesembuhan Anda Jadi ... "
"Kau bukan dokter, jadi jangan banyak bicara"
Akhirnya cowok ini menjawab tapi dengan nada sinis. Sungguh menyebalkan, pikir Ambar.
"Baiklah"
Ambar membereskan maknan dan meja yang ada dihadapan cowok bule itu lalu mengambil tasnya. Bersiap untuk pulang.
"Untuk apa kau kemari lagi?" tanya cowok yang dari tadi diam saja. Ambar terpaksa menghentikan langkahnya untuk pergi dan melihat cowok itu.
"Saya ... hanya ... tidak yakin bisa meninggalkan pasien seperti Anda sendirian"
Itulah kelemahan yang selalu menghambat kemajuan Ambar selama ini. Simpati. Entah kenapa, Ambar selalu merasakan hal itu secara berlebihan lalu menghancurkan diri sendiri. Terutama saat berhadapan dengan teman yang dekat dengannya dan meminta bantuan. Ambar tidak bisa mengabaikan permintaan tolong yang membebaninya. Untuk kasus kali ini, lain. Meskipun cowok ini tidak meminta tolong padanya, Ambar seperti memiliki kewajiban untuk membantu. Meskipun itu hanya untuk menemani di kamar yang luas dan kosong ini.
"Kau bodoh"
Tepat. Kata itulah yang banyak digunakan orang yang dibantunya. Ambar memang bodoh tidak bisa membedakan penipu dan yang membutuhkan. daripada semakin merasa kesal mendengarkan cowok ini, lebih baik dia segera pulang.
"Kau mau kemana?"
"Pulang"
"Kenapa?"
"Anda ingin sendiri"
"Kapan aku berkata seperti itu?"
Ambar mencoba mengingat apa yang sudah dikatakan oleh cowok ini. Dan memang tidak pernah mendengar cowok ini berkata seperti itu.
"Bagaimana dengan apa yang aku tawarkan?" tanya cowok itu lagi. kali ini bersikap selayaknya orang dewasa yang tenang.
"Saya ... masih belum memutuskan"
"Aku sudah memperingatkan tentang akibatnya kalau kau menolaknya"
"Iya ... hanya saja. Hubungan antara semuanya terlalu rumit. Dan saya hanyalah seorang pemilik toko souvenir yang tidak terlalu hebat. Bukankah seharusnya Anda memilih seseorang yang lebih ... cantik dan kaya untuk peran ini? Misalnya Rea atau siapa saja selain saya"
__ADS_1
"Jadi kau menolak?"
"Bukan begitu, hanya saja ... "
Ambar bingung. Dia masih memiliki pendapat bahwa lari dari semua masalah yang rumit ini akan lebih baik. Tapi ... melihat reaksi cowok ini pada idenya, sungguh mengerikan.
"Bagaimana kalau sahabat bodohmu itu juga menyukaiku?"
"Hah? hahahahahahaha" Ambar tidak pernah mendengar sesuatu yang begitu lucu, kecuali ini. Meskipun cowok bule ini super tampan, harusnya tidak boleh merasa begitu percaya diri dan mengatakan hal seperti itu. Ambar masih saja tertawa sampai menyadari yang dikatakan oleh cowok di depannya adalah sesuatu yang serius.
"Tidak mungkinnnn" lanjutnya tidak percaya. Rea sudah pernah menceritakan betapa buruk akibat yang akan diterima oleh keluarga Feli seandainya pernikahan itu batal. Apalagi kalau disebabkan sang calon pengantin sendiri.
Saat Ambar sibuk dengan pikirannya sendiri, terdengar suara Adzan yang sedang ditunggu olehnya sejak matahari terbit.
"Aduh lupa"
"Apa?"
"Saya ... harus cari makanan berbuka dulu. Saya akan kembali lagi nanti"
"Apa? Kau mau kemana?"
Ambar berlari dengan kecepatan luar biasa untuk mencari kantin di rumah sakit yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Beberapa perawat dan dokter yang dilewatinya memberi peringatan tapi diabaikan oleh Ambar. Dan setelah mencari, akhirnya dia menemukan kantin yang terlihat lebih seperti cafe. Daripada capek mencari lagi, Ambar memesan sebotol air mineral terlebih dahulu untuk membatalkan puasa.
"Wah, ternyata makanannya lama sekali disiapkan. Sudah harganya mahal, porsinya kecil, sungguh tidak sesuai dengan harapan" kata wanita itu bicara sendiri.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Kantin, eh cafe yang ada di rumah sakit ini. Sungguh mahal dan porsinya sedikit"
Adhi mulai memeprhatikan gaya bicara wanita yang pernah ditemuinya enam tahun lalu itu dan mulai merasa keputusannya keliru. Mungkin wanita ini memang tidak sesuai untuk dijadikan kekasih meskipun hanya pura-pura. Mereka terlalu berbeda dan tidak akan ada yang percaya kalau mereka bisa bersama dengan alasan apapun.
"Aku membebaskanmu dari pemintaanku" kata Adhi tiba-tiba menimbulkan senyum cerah di wajah teman Kenzo.
Senyum yang bisa membuat jantungnya berdetak sedikti lebih kencang. Mungkin karena selama ini, Adhi tidak pernah melihat senyum yang begtiu tulus dari wanita manapun.
"Benarkah?"
"Iya. Kau memang tidak cocok dibandingkan dengan Feli"
"Saya sudah bilang kalau Bos sebaiknya mencari perempuan yang lebih kaya dan pandai daripada sayai"
"Lebih baik kau pergi saja sekarang!!"
__ADS_1
Begitu Adhi mengusirnya, wanita itu terlihat cukup bingung. Mungkin karena sakit hati karena dia tidak memilihnya sebagai kekasih.
"Baik kalau begitu. Saya pergi dulu. Terima kasih atas pertimbangan Anda"
Salah. Wanita itu ternyata tidak sakit hat dan terus tersenyum riang sampai menghilang dari kamar. Adhi kini tersenyum sinis karena merasa tidak disukai oleh satu wanita yang tampilannya biasa saja.
Ambar melihat langit gelap yang ada diatasnya lalu membuka pintu mobilnya. Meskipun tujuannya untuk tidak diikutkan dalam masalah Feli tercapai dengan baik, entah kenapa dia merasa ada yang salah. Sampai rumah, dia mendekati ibunya yang sedang mengaji.
"Kamu sudah pulang?" tanya ibunya.
"Oh. Assalamualaikum Bu. Maaf Ambar lupa"
Bohong. Ambar tidak lupa tapi sibuk memikirkan hal lain dan melupakan salam ketika masuk ke dalam rumah.
"Kenapa? Apa ada masalah sama pekerjaanmu di toko?"
"Gak Bu. Semua lancar"
"Alhamdulillah. Terus kenapa kamu?"
"Ambar ini jelek ya Bu?"
Tiba-tiba saja dari mulutnya keluar pertanyaan konyol.
"Apa? Kok kamu tanya gitu?"
"Gak Bu. Cuma ... "
"Siapa yang katain kamu kayak gitu?"
"Gak ada"
Ambar mengingat kembali kata-kata yang diucapkan Bos Kenzo untuk menolaknya. Ambar tidak layak untuk dibandingkan dengan Feli. Tentu saja Ambar tahu diri. Feli adalah cerminan seorang perempuan yang sempurna. Cantik, memiliki gerak tubuh halus layaknya putri, berasal dari keluarga kaya, bahkan calon suaminya sangat berkuasa dan terpandang di dunia luar sana. Sangat berbeda jauh darinya. Tapi ... tetap saja.
"Anak ibu itu cantik. Cantik rupa, cantik laku, dan cantik hatinya" puji ibunya mengubah suasana hati Ambar.
"Tapi Ambar kan juga pernah gendut, jerawatan"
"Semua itu kan proses. kamu juga udah melewati proses itu dengan baik. Semua itu kalo dilihat dari kacamata orang lain pasti gak akan pernah cukup terus. makanya kita harus bersyukur atas semua yang kita terima dari Allah"
Ambar memeluk tubuh ibunya yang sudah tidak muda lagi itu dan tersenyum. Benar. Dia memang tidak sebanding dengan Feli. tapi hidupnya tidak untuk dibandingkan dengan orang lain. Asalkan Ambar hidup bahagia dengan apa yang ada pada dirinya. Maka, hidupnya telah sempurna.
"Ambar sayang ibu"
__ADS_1
"Ibu juga nak"
Malam itu akhirnya Ambar dapat tidur dengan nyenyak sampai matahari terbit.