Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

"Maaf Nak Adhi" kata ayahnya lalu keluar dari rumah.


Ambar tahu baik ayah dan ibunya sekarang kecewa. Tapi dia belum cukup gila untuk menerima lamaran dari cowok itu. Dia keluar dan mengejar ayahnya yang berdiri menatap langit pagi.


"Bapak ngerti kan kenapa Ambar gak bisa?" katanya meminta pengertian ayahnya.


"Iya"


"Bapak juga ngerti kan Ambar gak mungkin nerima orang itu?"


"Iya"


Sekarang Ambar terdiam. Ayahnya hanya menjawab sekadarnya, seakan tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mulutnya.


Perlahan Ambar melihat punggung renta ayahnya. Lama sekali ayah dan ibunya menginginkan dia menikah. Entah berapa kali orang tuanya mengisyaratkan keinginan agar Ambar segera menikah. Tapi ... dia tidak mungkin bisa dengan cowok itu. Tidak mungkin bisa.


"Pak, bukannya Ambar gak mau nikah. Ambar cuma gak bisa kalo orang itu yang ngelamar"


Ayahnya berbalik dan menatap ke arahnya. Membuat Ambar sedikit was-was.


"Bapak sama ibu gak akan ikut campur lagi sekarang. Semua terserah kamu" kata ayahnya lalu masuk kembali ke dalam rumah. Tidak tahu bicara apa dengan cowok yang ada di dalam rumah itu. Dan tak lama cowok itu keluar dari rumah dan berjalan ke arah mobilnya. Tanpa melihat ke arah Ambar sama sekali.


"Tunggu!" katanya lalu mendekati cowok itu. Bos Kenzo ... bukan. Mantan Bos Kenzo itu berbalik dan melihat ke arahnya. Ambar kini dapat melihat wajah cowok itu secara jelas. Wajah cowok itu tidak berubah, sama seperti dulu. Hanya beberapa kerutan di dahi cowok itu membuatnya tampak lebih dewasa.


"Ada apa?"


"Kenapa Anda kemari? Apa yang membuat Anda berani datang kesini dan melamar?"


Ambar tidak habis pikir, bagaimana bisa cowok itu datang kesini dengan maksud melamarnya.


"Apapun yang aku katakan tidak akan mengubah apapun. Kau sudah menolak dan aku menerimanya."


"Ha?"


Cowok itu tidak mencoba membela diri ataupun memberi alasan. Hanya berkata seperti itu dan kemudian naik ke mobilnya. Tentu saja Ambar merasa tidak puas dengan jawaban seperti itu. Dia ...kesal dan marah.


Saat mobil cowok itu menyala, Ambar merasa bingung. Dia tidak berpikir cowok itu akan benar-benar pergi begitu saja. Dia menoleh ke belakang dan melihat ibunya menunduk lalu masuk ke dalam rumah. Kenapa jadi begini? Kemarin dia berkeyakinan akan menerima lamaran siapapun dan mencoba untuk menjalani kehidupan yang telah ditakdirkan Tuhan untuknya. Kenapa sekarang menjadi seperti ini? Ambar mengetuk jendela mobil cowok itu dan mencoba mencari jawaban atas kekesalannya.


"Anda akan pergi begitu saja?" tanyanya.


"Apa?"


"Anda hanya akan pergi begitu saja dan tidak menjelaskan apapun?"


"Aku yakin kedua orang tuamu tidak perlu melihat atau mendengar sesuatu"


"Ha?"

__ADS_1


Mantan Bos Kenzo akhirnya mematikan mesin dan keluar dari mobil, menghadapinya dengan tenang. Sangat tenang dan terlihat tinggi sekali.


"Aku diijinkan datang kemari untuk melamar oleh ayahmu"


"Bagaimana bisa Anda berpikir untuk melamar?"


"Aku mencintaimu"


Jantung Ambar seakan ingin meledak setelah mendengar kata-kata itu. Dia menjadi semakin kesal tidak tahu kenapa.


"Anda tidak bisa bicara seperti itu"


"Kenapa?"


"Karena ... "


"Apa kau masih merasa bersalah karena Feli?"


Sebuah pertanyaan yang sangat jelas sekali jawabannya. Bahkan kalau dia tidak menjawab, cowok itu akan tahu jawabannya.


"Anda ... apa yang sebenarnya Anda inginkan dengan datang kemari?"


"Ambar, aku mencintaimu. Meskipun aku melakukan kesalahan besar dan menghukum diriku sendiri karena itu, aku masih mencintaimu. Dan aku yakin kau juga merasakan hal yang sama"


"Ha? kenapa Anda bisa yakin tentang hal itu?"


Ambar mengalihkan pandangannya, tidak ingin cowok itu mengetahui bagaimana perasaannya yang sebenarnya.


Ambar terdiam untuk beberapa saat sebelum mulai bicara.


"Bahagia? Apakah saya benar-benar bisa bahagia? Saya tidak patut merasa bahagia. Karena apa? Karena saya telah mengkhianati teman saya sendiri. Saya harus menderita dan terus menderita"


"Sampai kapan?"


"Sampai ... kapanpun"


"Lalu orang tuamu?"


"Mereka mengerti. Mereka pasti mengerti"


"Sampai kapan?"


Ambar mendongak, melihat mata biru yang pernah dikaguminya. Sampai kapan? Ambar tidak pernah berpikir dia menunda pernikahan sampai periode waktu tertentu. Dia hanya tidak ingin menikah dan orang tuanya pasti mengerti tentang keputusannya.


"Anda tidak akan mengerti"


"Memang. Aku tidak akan mengerti. Tapi ... bukankah kau ingin mereka bahagia dengan menerima lamaran siapapun hari ini?"

__ADS_1


"Bukan siapapun"


"Kau menolak karena lamaran itu datang dariku"


"Seandainya bukan Anda, maka saya akan menerimanya"


"Lakukanlah!"


"Ha?"


"Menikahlah, miliki anak dan bahagia dengan cepat. Agar aku tidak melihatmu menderita seperti ini"


Apa? Apa-apaan itu? Kenapa cowok itu bicara dengan mudahnya agar dia segera menikah?


"Anda ... "


"Kenapa? Kau mau mundur lagi dengan alasan apa sekarang?"


"Alasan? Kenapa saya butuh alasan untuk hal seperti ini. Nanti seandainya memang jodoh, calon suami saya pasti datang sendiri. Anda tidak perlu khawatir"


"Baguslah kalau begitu. Aku harap kau menemukan calon suami secepatnya dan menikah. Semoga kau bahagia" kata cowok itu lalu masuk kembali ke mobilnya dan pergi. Benar-benar pergi dari rumahnya, begitu saja. Tiba-tiba Ambar merasakan kekosongan dalam hatinya.


Dia segera kembali ke rumah dan melihat ruangan yang tadi dihias indah menjadi suram. Ayah dan ibunya tidak ada dimanapun, dan Ambar mendengar keduanya bicara dari dalam kamar.


"Sudah Bu"


"Iya ... tapi"


Terisak. Ambar mendengar suara ibunya bergetar seperti habis menangis.


"Sudah"


"Sampai kapan Pak Ambar bakal kayak gitu? Gimana kalo ibu keburu pergi sebelum lihat Ambar nikah?"


Ambar merasa dadanya ditekan oleh sepuluh orang. Kenapa dia tidak pernah mendengar orang tuanya mengeluh selama ini? Ternyata keduanya memang menginginkannya menikah sampai seperti itu? Tapi dia tidak bisa kalau dengan cowok itu. Tidak bisa.  Tapi ... dia sudah membuat orang tuanya sendiri bersedih. Untuk yang pertama kali dalam hidupnya, Ambar merasa kecewa pada dirinya sendiri..


Baru saja dia ingin pergi ke kamar saat ayahnya memanggil dengan berteriak.


"Ambarr!!"


Dia segera masuk ke dalam kamar orang tuanya dan melihat ibunya berbaring di atas kasur. Terlihat lemah tak berdaya.


"Ibu!! Kenapa?"


"Pingsan. Cepet kamu siapin mobil"


"Iya"

__ADS_1


Ambar berlari ke kamar dan tidak bisa menahan air matanya.


'Ya Allah, tolong jangan ambil ibuku. Tolong' pintanya dalam hati dengan bersungguh-sungguh. Ambar segera kembali ke kamar orang tuanya dan membantu mengangkat tubuh lemah ibunya ke dalam mobil lalu pergi ke rumah sakit.


__ADS_2