
"Gimana ini Bos?"
"Kenapa juga kau membuka klub lebih awal?"
"Mereka udah reserve dari sebulan yang lalu Bos"
Adhi melihat dua pria dengan kelakuan seperti raja sedang berteriak di dalam ruang VVIP klubnya. Mereka sudah memamerkan kekayaan masing-masing seperti anak kecil selama beberapa jam sekarang. Kini waktunya mereka pulang dan tidur di bawah ketiak ibu mereka.
"Selamat malam" kata Adhi dengan suara dalam nan menggelegar, menghentikan pertengkaran.
"Siapa kau?" tanya salah satu teman kubu pertama.
"Iya. Siapa kau?" kubu kedua juga ikut bertanya.
"Saya pemilik klub"
Berkat bentuk badan tinggi, dan atletis. Sosok Adhi terlihat cukup besar daripada semua pria di ruangan ini. Termasuk pengawal kedua kubu dan juga Kenzo. Apalagi, wajah tampan Adhi bisa membuat para wanita yang tadi ikut meramaikan suasana terdiam.
"Saya akan menyediakan ruangan terpisah seandainya Anda semua berkenan"
"Tidak. Aku mau pulang saja" jawab pemimpin kubu satu yang merupakan anak pemilik showroom mobil mahal.
"Tapi ini masih terlalu sore untuk pulang" rengek teman wanita mereka.
Tanpa ada suara, akhirnya kubu satu memilih untuk mundur dari tempat pertempuran. Kemungkinan juga merasa takut karena pemimpin kubu kedua adalah putra pemilik partai besar di Indonesia.
"Cih, dasar!!" umpat pemimpin kubu kedua, merasa menang.
Hal-hal seperti inilah yang membuat Adhi terkadang mempertimbangkan untuk menutup klub-nya. Dia tidak suka melihat anak orang kaya yang bersikap sombong.
"Anak buah saya akan mengantar Anda ke ruangan yang lebih bagus" imbuh Adhi disambut antusias pengikut kubu kedua. Para pengikut yang hanya ingin makanan dan hiburan gratis itu juga memuakkan untuk Adhi. Dia kembali ke ruangannya yang tersembunyi setelah menyelesaikan masalah tadi. Kenzo mengikutinya dari belakang.
"Makasih ya Bos. Untung ada Bos"
"Aku mulai mempertimbangkan untuk memecatmu"
"Apa? Kenapa Bos?"
"Kau bodoh"
"Tega banget Bos. Kan saya mau nikah. Kalo Bos mecat saya, anak istri saya nanti gimana makannya?"
__ADS_1
"Nikah?"
"Iya"
"Siapa?"
"Apanya?"
"Wanita yang bodoh juga mau menerima kamu"
"Wah, Bos jahat juga ternyata. Ya ... Ambar lah"
Adhi mengalihkan pandangan dari berkas yang ada di tangannya, segera setelah mendengar nama wanita yang disebut oleh Kenzo. Ambar? Menikah? Apa Kenzo, pria yang melamar Ambar dan membuat wanita itu tampak seperti mayat hidup?
"Apa dia sudah menerimanya?" tanya Adhi pura-pura tidak tahu.
"Eh, Pasti diterima dong Bos. Daripada dia nikah sama dosen yang gak ada cakep-cakepnya gitu. Mending sama saya"
"Dosen?" Siapa lagi itu? Apa itu pekerjaan pria yang pernah Adhi lihat makan bersama Ambar di cafenya?
"Iya. Cowok yang ada di cafe Bos waktu itu. Saya ketemu dia di depan rumah Ambar. Kayaknya Bapaknya AMbar lebih milih tuh cowok buat jadi suami anaknya. Tapi, saya kan juga cinta sama Ambar jadi ... "
"Eh, kenapa emangnya Bos? Saya gak boleh cinta sama Ambar?"
Akan sangat merugikan Ambar kalau memang itu terjadi, pikir Adhi. Dan akan sangat menggelikan kalau sampai Ambar menerima cinta seorang pria seperti Kenzo. keduanya seperti minyak dan air, tidak cocok sama sekali.
"Apa kau yakin Ambar juga menyukaimu?"
Adhi melempar berkas yang ada di tangannya ke meja, lalu melihat keluar melalui jendela besar di ruangannya.
"Itu, saya gak yakin. Ambar itu bukan perempuan yang bisa dipaksa. Ambar juga nikmatin pekerjaannya sekarang. Saya juga bingung. Sebenarnya saya mau menunggu Ambar, tapi Bapaknya ngotot banget mau jodohin anaknya. Itu bikin saya ... nge-gas. Tadi pagi, saya datengin Ambar terus ngelamar, pake cincin lagi"
Ahh, Adhi kini mengerti kenapa Ambar tampak seperti itu saat bertemu dengannya tadi.
"Sepertinya kau akan ditolak"
"Aduhh. Kalo ditolak Ambar, saya gak tau mau gimana? Saya sayang banget sama Ambar. Dia yang nemenin saya waktu susah sampe sekarang. Dia juga gak pernah segan ngebahas masalah ayah saya yang masih ada di penjara"
Baik. bahkan terlalu baik. Mungkin inilah salah satu penyebab Ambar dapat terkurung dalam masalah seperti ini. Wanita itu, memang mudah sekali merasa berat hati pada orang yang sedang kesusahan. Seperti yang dilakukan Adhi. Memanfaatkan kebaikan hati Ambar agar dia bisa pergi ke London setelah sekian lama. hanya untuk membereskan masalah yang belum usai.
"Kau tidak bisa memaksanya menyukaimu"
__ADS_1
"Iya sih. Tapi ... kenapa dari tadi Bos terus negatif sama niat saya nikahin Ambar?"
"Apa?"
"Iya. Dari tadi Bos terus menenggelamkan harapan saya"
"Aku tidak melakukan itu. Aku hanya ... "
"Apa Bos suka sama Ambar?"
"Apa?"
Adhi tidak pernah mendengar sesuatu yang konyol seperti ini. mana mungkin dia menyukai wanita seperti Ambar. Apalagi selama ini hatinya hanya tertuju pada satu perempuan.
"Saya jadi khawatir kalo Ambar bener-bener pergi ke London sama Bos"
"Kau gila. mana mungkin aku menyukai wanita seperti Ambar"
"Apa maksud Bos wanita seperti Ambar? Ambar itu cantik, baik, kuat, mandiri, rajin ibadah lagi. Jangan bilang kalo Bos memandang rendah calon istri saya"
"Aku menyukai satu perempuan saja"
"Ohh iya. Saya lupa. Bos cinta mati sama Feli ya? tapi ... Feli kan juga mau nikah. terus Bos mau gimana?"
berbicara dengan Kenzo sepertinya akan menyita banyak waktunya. Dia tidak suka membicarakan masalah pribadinya bahkan kepada Kenzo yang sudah dipercaya olehnya sejak lama.
"Pergilah sebelum aku benr-benar memecatmu"
"Wah, oke Bos. Tapi ... kayaknya Bos emang udah beralih dari Feli. Buktinya Bos gak galak seperti dulu kalo saya nyebut nama Feli" kata Kenzo tepat sebelum melarikan diri keluar dari ruangan Adhi.
Anak buahnya yang bodoh itu ternyata berani mengatakan sesuatu yang konyol. mana mungkin dia bisa menyukai wanita lain. Padahal hatinya telah terpaku pada satu perempuan saja.
Dini hari, Adhi pulang ke rumah barunya yang sepi. Para pembantunya sudah pulang dan tersisa dua satpam yang berjaga diluar rumah. Mereka menyapa Adhi dengan hormat, membuatnya sekali lagi, puas dengan orang-orang yang dibawa Andy untuk bekerja padanya. Dia berjalan masuk ke dalam rumah dan secara tidak sengaja melihat pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Ruang tidur tamu ini pasti dibiarkan terbuka agar dia tahu kalau Ambar sudah pulang. Lalu, siapa wanita yang sedang terbaring di atas ranjang itu? Dia masuk ke dalam kamar tamu dan melihat wajah yang dikenalinya. Kenapa wanita ini masih ada disini?
Adhi duduk di pinggir ranjang dan membelai rambut hitam yang tidak akan pernah dia lihat saat wanita itu terbangun. begitu halus, dan harum. Perlahan Adhi mendekatkan hidungnya ke rambut Ambar dan mencium dengan rakus bau yang selalu dia rasakan saat berdekatan dengan wanita itu. Tidak hanya rambut, leher Ambar rupanya memiliki bau harum yang lebih pekat. ternyata parfum, Harum sekali sampai Adhi merasa aneh saat berada dekat dengan Ambar.
Tak terasa kini wajahnya hanya berjarak satu centi dari wajah Ambar, Dia memuaskan rasa ingin tahunya yang besar akan semua bagian tubuh Ambar yang tidak terlihat ketika memakai penutup kepala itu. Anak rambut yang halus, telinga berbentuk runcing mirip seperti peri, dan juga leher jenjang dengan kulit halus. Jarinya tidak tahan untuk menyentuh semuanya dan membuat Ambar menggeliat juga mendesah sedikit. Mendengar ******* Ambar, membangkitkan sesuatu dalam diri Adhi. Dia merasakan desakan kuat di bagian bawah tubuh juga kepalanya. Keduanya memerintah Adhi untuk segera menyentuh dan membuat wanita itu menjadi miliknya.
Untung saja kesadaran dirinya kembali dengan cepat. Adhi menjauhkan diri dari tubuh Ambar dan pergi ke kamarnya tanpa menoleh lagi ke belakang. Apa yang sudah dia lakukan tadi? Kenapa dia memiliki dorongan aneh pada wanita seperti Ambar? Kenapa? Padahal dia hanya mencintai satu perempuan sejak sepuluh tahun lalu. Apa dia ... juga mulai menyukai Ambar? Seperti yang dilakukan oleh Kenzo? tidak. Tidak mungkin. Dia masih waras. Dia tidak akan pernah menyukai wanita seperti Ambar. Tidak ada satupun persamaan yang mereka punya. Semuanya berbeda. Asal usul keluarga, gaya hidup, teman, bahkan kepercayaan. Jadi tidak mungkin Adhi menyukai Ambar. Tidak. Untuk kesekian kalinya dia mengatakan tidak pada dirinya sendiri. Tidak mungkin dia menyukai Ambar, sampai kapanpun.
__ADS_1