Second Lead Fate

Second Lead Fate
Enam Puluh Sembilan


__ADS_3

Rea selesai bekerja juga hari ini. Saat melihat jam, sudah lewat tengah malam. Sebaiknya dia tidur setelah melihat keadaan Ambar. Sahabatnya itu pasti sedang mengeluh badannya sakit semua atau kecapekan gara-gara perjalan panjang. Atau mungkin Ambar sedang menghubungi keluarganya di Indonesia. Dan ternyata, dia tidak menemukan sahabatnya itu di dalam kamar. Apa di kamar mandi? Tidak ada. Rea berpikir sejenak lalu pergi ke dapur. Mungkin Ambar lapar dan mencari sesuatu di dapur. Tapi hasil pencariannya juga tidak menemukan siapapun di dapur. Lalu, dia seperti mendengar suara dari luar pintu. Bersenjatakan pisu dapur di kedua tangan, Rea siap untuk menengok ke luar rumah. Dan terkejutlah dia dengn apa yang dilihatnya.


Dua orang duduk menghadap jalan. Satunya menutupi kepalanya dengan hijab, pasti Ambar. Dan satu lagi, setelah menoleh Rea baru mengetahui siapa laki-laki yang duduk di sebelah Ambar. Adhitama? Untuk apa laki-laki itu datang kemari, tengah malam? Rea berniat untuk keluar dan menegur keduanya lalu membatalkan niat karena memperhatikan sesuatu terjadi diantara keduanya. Tampak jelas Ambar mengantuk karena kepalanya jatuh-jatuh tak beraturan. Sampaidisitu dia merasakaasihan dan ingin segera membawa sahabatnya itu masuk ke dalam kamar. Llau, langkahnya terhenti karena melihat laki-laki yang duduk di sebelah Ambar melakukan sesuatu.


Adhi melepas mantelnya dan dengan hati-hati membawa Ambar dalam pelukannya. Laki-laki itu membungkus badan Ambar dengan mantel lalu lanjut mempererat pelukannya. Rea hampir saja menjatuhkan pisau yang ada di tangannya ke atas tanah. Sungguh tidak bisa dipercaya laki-laki seperti Adhi mampu melakukan sesuatu seperti itu. Adhi terkenal dingin dan tidak pernah menunjukkan perasaannya. Bahkan pada Feli yang selama ini dicintainya. Lalu, apa yang sedang dilihat Rea sekarang? Apa mungkin Ahi mulai menyukai Ambar? Mata dan mulut Rea terbuka lebar, tidak percaya dengan apa yang sedang dipikirkannya. Tapi, itu mungkin saja.


Meskipun Ambar selalu berkata kalau mereka hanyalah pasangan palsu. Tapi, siapa yang tahu? Llau, bagaimana dengan rencananya dan Ambar untuk mempersatukan Adhi juga Feli sebagai pasangan? Apa itu tidak lagi perlu? Sebaiknya Rea keluar sekarang dan menangkap basah Adhi. Dia ingin sekali melihat bagaimana reaksi Adhi kalau dia memergoki laki-laki itu memeluk Ambar.


"Kapan kau datang Dhi?" katanya mengejutkan Adhi dan juga AMbar. Sahabatnya itu menegakkan kepala lalu menoleh-noleh seperti tidak tahu dimana berada.


"Lho, Bos. Saya ketiduran ya?" tanya Ambar lalu Rea mengamati raut wajah Adhi yang tidak senang.


"Iya, lebih baik kau tidur di dalam!" kata Adhi berusaha kelihatan tegas. Lucu sekali melihat laki-laki ini salah tingkah, pikir Rea.


"Kau tidak masuk ke dalam Dhi?"


"Tidak aku pulang saja. Ingat besok kita ... " kata Adhi berusaha mengingatkan kalau besok mereka akan makan bersama di kediaman keluarga Syahreza.


"Tenang saja. Aku sudah mengambil waktu untuk istirahat. Sekalian menemani Ambar berjalan-jalan di London"


"Oke. Aku ... pergi dulu"


Tak lupa Adhi memandang ke arah Ambar yang matanya saja sulit terbuka lagi karena mengantuk, sebelum pergi. Rea merasa akan terjadi sesuatu yang menyenangkan selama dua hari ini. Lalu dia ingat harus mengatakan rencananya dan Ambar untuk besok. Tapi ... sepertinya Rea tidak akan melakukannya. Dia ingin melihat reaksi Adhi saat Ambar tiba-tiba mendekatinya. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang diluar rencana.


 


Ambar bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Meskipun belum terbiasa dengan perbedaan waktu, dia tidak ingin bermalas-malasan dan segera bekerja. Hanya saja agak sulit berkomunikasi dengan dua pegawainya. Tapi itu bukan alasan dia harus diam dan liburan saja di London.


"Kamu udah siap Mbar?" tanya Rea yang baru bangun.

__ADS_1


"Sudah. Tapi aku masih harus ngerjain ini. Bentar ya"


"Aku juga belum siap-siap. tenang aja"


"Oke"


Satu jam kemudian berangkatlah Ambar dan Rea ke kediaman keluarga Syahreza.


"Kita mulai dari hari ini ya Mbar" kata Rea berusaha mengingatkan.


"Duhh, aku gak yakin kalo itu bisa berhasil Re? Bukannya mendeing kita ngomong langsung ke Feli aja?"


"Pasti berhasil. Feli iu kan sifatnya lemah banget. Harus kita jadiin sekuat singa"


Meskipun Ambar menolak, dia tidak memiliki pilihan lain. Rea terus saja mendesaknya. Hanya karena dia sedang berpura-pura menjadi pacar Bos Kenzo.


"Gak tau lah. Tapi kamu udah bilang belum ke cowok itu?"


"Udahlah. Kemarin malem kan Adhi dateng ke rumah. Pas kamu tidur, aku udah bilang kok"


"Beneran? Kok bisa juga aku tidur ya kemarin?"


"Yah, kamu kan capek"


Ambar tidak ingat apapun setelah Bos Kenzo bicara tentang seustau yang membuatnya lega. Dia tertidur dan kata Rea harus dibimbing ke kamar tidur.Untuk hal itu, Ambar sedikit ingat. Rea menyuruhnya tidur dan memberinya selimut.


Tidak sampai dua puluh menit, mereka berdua sampai di kediaman keluarga Syahreza. Ambar kembali merasa kagum saat melihat betapa luas dan rapi halaman kediaman itu. Tak lupa dengan rumah yang tinggi putih dan mirip dengan istana bagi Ambar.


"Ya Allah, kapan aku bisa punya rumah kayak gini ya" kata Ambar

__ADS_1


"Bisa aja. Kalo kamu nikah sama Danial atau Adhi" jawab Rea sembarangan.


"Ha? Bercanda ya kamu"


"Eh kenapa? namanya jodoh kan kita gak tau"


"Iya sih. Tapi aku merasa miskin banget kan jadinya"


Rea tertawa mendengar ucapan Ambar yang sesuai dengan kenyataan sebenarnya.


Mereka berdua belum keluar dari mobil, ketika mobil lain datang. Bos kenzo keluar dari mobil berwarna putih dengan jas lengkap. Seperti yang biasanya dipakai di Jakarta.


"Baru dateng Dhi?" tanya Rea saat keluar dari mobil.


"Kenapa berangkat sendiri? Aku bisa menjemput kalian"


"Kan aku ada mobil"


"Iya, tapi dia tanggung jawabku" kata cowok itu menunjuk ke arah Ambar. Tanggung jawab? Wah, kenapa Ambar merasa senang mendengar kata itu diucapkan oleh Bos Kenzo? Tidak boleh. Dia tidak boleh merasakan sesuatu. Mulai sekarang dia harus mengeraskan hati agar tidak mudah terlena akan sandiwara yang akan mereka lakukan.


Tanpa basa-basi lagi, Ambar segera mendekati Bos Kenzo dan melingkarkan tangan di lengan cowok itu. Dia menggertakkan gigi dan menahan malu untuk melakukan itu. Tapi yang didapatnya adalah pandangan heran Bos Kenzo dan Rea.


"Kenapa? Aneh ya? Bukan gini ya harusnya?" Ambar hendak menarik tangannya tapi tidak bisa. Lengan Bos Kenzo sudah menjepit tangannya. Ambar menatap mata biru itu dan mulai merasa malu sekali.


"Ini ... oke" jawab Bos Kenzo mengurangi sedikit rasa malu Ambar. Tapi Rea terlihat aneh. Seperti senang sekali melihat sahabatnya menderita.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah keluarga Syahreza dengan bimbingan seorang pengawal. Tapi, bukannya dibawa ke ruang makan yang sama dengan kemarin. Pengawal mengajak mereka berjalan agak jauh dan masuk lagi. Ke halaman belakang super luas yang lagi-lagi tampak rapi dan bersih sekali. Di sisi kiri, dekat taman bunga kecil, terlihat empat orang yang kemarin juga ditemui Ambar. Dari jauh, Ambar memastikan Feli melihat tangannya menggandenga Bos Kenzo. Lalu segera melepasnya saat hampir sampai di meja.


"Good morning" sapa ketiganya lalu dibalas senyuman oleh sang ibu.

__ADS_1


"Senang sekali kalian datang. Duduklah, kita mulai makan karena ada beberapa orang yang akan sibuk hari ini"


Ambar duduk di kursi yang disiapkan oleh Bos Kenzo lalu melirik ke arah Feli. Apakah sahabatnya itu sudah merasa cemburu? Semakin cepat Feli cemburu dan bertindak, maka semakin cepat dia terbebas dari siksaan ini.


__ADS_2