Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Tujuh Belas


__ADS_3

Adhi tidak bisa melupakan apa yang dilihatnya pagi tadi. Semua darah yang yang keluar dari tubuh istrinya, masih membuatnya tidak bisa bicara. Kenapa itu bisa terjadi? Bukankah Feli rajin pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri? Lalu kenap bisa sampai terjadi seperti ini? Dan pemberitahuan dokter yang baru dia dengar membuatnya semakin ketakutan. Anaknya memang tidak selamat, tapi Feli? Tidak mungkin istrinya itu ... .


"Kenapa Feli sampai seperti ini? Kenapa?" teriak ibu mertuanya yang kemudian menangis menjerit-jerit di lorong rumah sakit. Dia tidak tahu. Dia tidak pernah melakukan apa-apa. Sama sekali tidak pernah melakukan apa-apa pada Feli. Mereka hanya melakukannya satu kali dan itu adalah terakhir kalinya Adhi melihat istrinya.


Dia tidak mempedulikan Feli. Lebih tepatnya itulah yang dilakukannya selama lebih dari lima bulan ini. Sejak terpukul dengan kenyataan bahwa dia tidak akan pernah bisa bersama Ambar, Adhi tidak ingin memikirkan selain pekerjaan. Dia hanya ingin bekerja untuk melupakan kesedihan, kerinduan dan cintanya pada Ambar. Dan melupakan kehadiran Feli, istri yang ada di dekatnya. Apa yang sudah dilakukannya? Bagaiman kalau terjadi sesuatu pada Feli? Apa yang akan dilakukannya kalau hal itu terjadi?


Adhi meremas tangannya sejak beberapa waktu tadi. Dia masih duduk di kursi yang sama menunggu dua mertuanya keluar dari kamar rawat Feli.


"Bos. Ini" kata Kenzo lalu menyodorkan sebuah minuman kaleng.


Saat itu dia sempat melihat Ambar, wanita yang dirindukannya menatap kamar rawat Feli dengan wajah sedih. Mungkin wanita itu sedang merasa bersalah sama sepertinya.


"Terima kasih"


"Saya sudah memberitahu perusahaan untuk tidak mengganggu Anda hari ini. Tapi saya harus pergi ke sana untuk mengurus beberapa hal.


"Pergilah!"


"Baiklah"


Akhirnya Kenzo pergi meninggalkannya dengan Ambar sendiri. Dia berdiri dan berjalan mendekati Ambar. Menyodorkan minuman kaleng yang diberikan Kenzo padanya.


"Apa yang sudah Anda lakukan?" tanya wanita itu membuatnya semakin tidak bisa bicara.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Ambar lagi membungkam Adhi. Dia membawa minuman kaleng Kenzo dan kembali ke kursinya. Berhadapan dengan Ambar yang masih menangis sesekali.


Saat mertuanya keluar dari ruang perawatan dia berdiri dan masuk untuk melihat keadaan Feli. Adhi menatap tubuh lemah istrinya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Perempuan yang dulu terlihat seperti peri itu kini tampak pucat. Dan Adhi kembali mengingat merahnya darah yang ada di tangannya saat mengangkat Feli tadi. Dia duduk di samping ranjang istrinya dan mulai bicara.


"Maaf. Maafkan aku"


Meskipun dia mencintai wanita lain, tidak seharusnya Adhi mengacuhkan Feli. Dialah yang membawa Feli kembali ke Indonesia. Dengan kesadaran penuh, dia menikahi Feli. Dan walaupun itu kecelakaan, bayinya-lah yang ada di dalam rahim Feli. Harusnya dia tahu tubuh Feli menjadi semakin kurus setiap harinya. Seharusnya dia sadar ada perubahan besar pada wajah cantik itu. Seharusnya Adhi lebih memperhatikan. Seharusnya ...


Sebuah tangan lemah tiba-tiba menyentuh pipinya. Dia melihat Feli membuka mata dan tersenyum. Sama seperti senyum yang membuatnya jatuh hati sepuluh tahun lalu. Begitu cantik.


"Senangnya kamu ada disini"

__ADS_1


Adhi merasa dadanya sesak, penuh dengan rasa bersalah yang tidak bisa diungkapkan olehnya.


Dia mengambil tangan Feli yang turun dari pipinya dan berusaha mengingat kapan terakhir kali mereka berpegangan seperti ini.


"Anak kita" kata Feli dengan suara yang lebih lemah


"Jangan bicarakan itu lagi. Cepatlah sembuh!"


"Maafkan aku"


Dada Adhi bergemuruh. Kenapa dia mendengar permintaan maaf dari Feli saat seharusnya dia adalah yang bersalah?


"Sehatlah. Kumohon" pinta Adhi dengan hati yang tulus. Kali ini dia tidak akan mengacuhkan istrinya lagi dan berusaha menjadi suami yang baik. Meskipun dia mencintai wanita lain.


"Aku denger suara Ambar. Apa dia disini?" tanya Feli lemah sekali. Bibir istrinya itu juga terlihat kering dan tak sehat. Sungguh, Adhi tidak tahan melihatnya.


"Iya. Dia diluar"


"Aku ingin bertemu Ambar"


Adhi pergi keluar dan memanggil Ambar masuk. Dia tidak mengikuti Ambar dan memilih menunggu di depan kamar perawatan Feli.


Ambar gemetar. Dia tidak percaya perempuan yang menuduhnya berselingkuh dua bulan lalu menjadi seperti ini. Pucat, lemah, tak berdaya dan hanya seperti kapas yang akan bisa ditiup oleh angin.


"Fel"


Ambar ragu untuk mendekat ke arah sahabatnya itu. Karena dialah sumber masalah antara Feli dan suaminya.


"Mbar" kata Feli lalu mengulurkan tangan.


Ambar segera menyambut uluran tangan Feli dan merasakan begitu lemah tubuh sahabatnya itu.


"Fel. Maafin aku. Maafin aku. Aku yang salah. Kamu bisa pukul aku, usir aku, tendang aku. Lakukan semua tapi aku mohon kamu sehat lagi"


Ambar tidak akan meminta sesuatu yang besar, dia hanya ingin sahabatnya ini kembali seperti semula.

__ADS_1


"Mbar. bukan kamu yang salah. Aku yang menyerah. Seharusnya aku tetap kuat untuk anakku, tapi ... "


Ambar melihat air mata mengalir di pipi Feli.


"Kamu bisa punya anak lagi Fel. Masih bisa. Yang penting kamu sehat dulu. Terus nanti aku beliin mie ayam kesukaan kamu. Ibu juga udah janji mau bikinin kamu oseng kangkung sama udang yang kamu suka"


Feli tersenyum, seakan senang mendengar janji Ambar. Tapi senyum itu terlihat menyedihkan karena wajah Feli semakin terlihat pucat.


"Kamu emang sahabat aku. Disini gak ada mie ayam yang enak"


"Aku beliin nanti. Mau tiga mangkuk juga gak apa-apa. Tapi ... "


Ambar tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia memegang tangan kurus Feli dan menyadari sahabatnya itu dalam keadaan yang tidak baik.


"Aku pengen balik kayak dulu"


"Bisa kok. Aku, kamu sama Rea. Kita bisa kayak dulu lagi. Rea juga bentar lagi Dateng. Dia pake pesawat pribadi Danial dan dua jam lagi nyampe di Bali"


"Danial. Harusnya aku nikah sama orang itu. Pasti ini hukuman karena aku nyakitin dia"


Ambar melihat ketulusan di wajah Feli saat sahabatnya itu bicara tentang Danial. Ambar memang tidak mengenal Danial dengan baik. Tapi dia percaya mantan tunangan Feli itu memang seorang gentleman.


"Gak ada yang dihukum. Cinta itu gak salah Fel" kata Ambar lalu menyeka air mata yang ada di pipi sahabatnya.


"Kamu juga gak salah Mbar. Kamu cinta sama Adhi dan itu gak salah"


"Salah Fel. Dari sisi manapun aku emang salah. Jadi, aku gak nerima pembenaran apapun termasuk dari kamu"


Hening sejenak setelah Ambar bicara seperti itu. Yang terdengar di dalam kamar rawat Feli hanyalah tetesan air infus dan darah.


"Aku ingin istirahat Mbar"


"Oh iya. Kamu istirahat aja. Aku nunggu Rea Dateng di luar. Nanti kalo Rea dateng pasti pengen langsung ketemu kamu. Kamu ... harus sehat. Aku mohon Fel. Kamu harus sehat" pinta Ambar dengan suara yang bergetar. Dia sudah menahan tangis sejak masuk ke dalam kamar Feli dan segera keluar sebelum air mata itu menetes. Dia tidak ingin sahabatnya itu melihat air matanya.


"Ya Allah. Aku mohon sehatkan sahabatku. Kumohon"

__ADS_1


Doa Ambar lalu air matanya mengalir.


__ADS_2