Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tiga Puluh


__ADS_3

Karena merasa didorong oleh seseorang di dalam mimpi, Ambar terbangun seketika. Dia membuka matanya dan melihat langit-langit dan lampu yang tidak seperti di kamarnya. Dimana ini? Ambar berusaha untuk duduk dan menahan kepalanya yang masih berat lalu melihat jam di tangannya. Jam dua belas lebih lima menit. Matanya terbuka lebar dan beberapa kali berkedip dengan cepat.


'Mampus aku. Jam dua belas malam' pikirnya lalu melihat sekeliling dan tersadar kalau dia masih berada di dalam kama rawat Bos Kenzo. Ambar berdiri dan mendekati pasien yang berada di ranjang dan kembali terkejut karena ternyata cowok itu belum tidur.


"Apa?"


"Anda belum tidur?"


"Apa urusannya denganmu?" jawab cowok itu dengan tetap menekan-nekan keyboard laptopnya.


"Kenapa Anda tidak membangunkan saya?"


"Kenapa aku harus repot-repot melakukan itu?"


"Aduuuh, gimana ini. Apa saya harus pulang tengah malam? kalo ibu saya marah gimana? Kalo bapak saya ngamuk?"


Ambar merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini. Dia tidak mungkin mengatakan kalau ketiduran di kamar seorang laki-laki yang bahkan orang tuanya tidak kenal.


"Tidur saja disini"


"Apa? Saya gak mungkin"


"Aku tidak keberatan kalau kau tidur disini"


Ambar mulai menimbang-nimbang usulan yang tidak masuk akal itu. Kalau pulang sekarang, dia pasti kena damprat ayahnya. Tapi kalau pulang besok, alasan apa yang bisa digunakannya agar aman?


"Saya mending pulang aja. Takutnya ayah dan ibu ... "


"Bilang saja temanmu sakit dan kau harus menemaninya semalaman"


"Ha?"


Apa Ambar bisa melakukan itu? Pulang di jam segini, mungkin saja lebih berbahaya daripada amukan ayah dan ibunya. Dan kalau dia mengatakan alasan seperti yang diusulkan cowok bule itu, mungkin saja Ambar bisa selamat dari kemarahan orang tuanya.


"Apa benar Anda tidak apa-apa kalau ...?"


"Apa?"


"Kalau saya tidur disini? Tapi ... saya harus sholat dulu sekarang"


Karena pusing, Ambar tidur tanpa sholat Isya'. Sekarang, sebaiknya dia mendahulukan sholat sebelum berpikir untuk yang lain.


 


'Untunglah' pikir Adhi setelah melihat wanita itu pergi ke kamar mandi. Dia baru saja menidurkan miliknya yang terbangun dan terpaksa menutupi bagian bawah tubuhnya dengan laptop yang mati. Tapi, kenapa tadi dia menawarkan wanita itu untuk tidur disini? Apa dia sudah gila? Bukankah dia menyukai keheningan disaat hanya sendirian saja? Lagipula, wanita itu tidak membantu apa-apa. Adhi membuang muka ketika wanita itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah di bagian wajah.


"Apa kau mandi?" tanyanya penasaran.


"Tidak, saya wudhu"

__ADS_1


"Apa?"


"Wudhu. Oh ... saya lupa kalau Anda. Wudhu adalah syarat untuk melakukan sholat. Maksudnya membersihkan dengan membasahi beberapa anggota tubuh"


Adhi tidak mengerti sama sekali dengan apa yang baru saja dia dengarkan. Dia juga sebenarnya tidak ingin mendengar sedetail itu.


"Aku sudah menghubungi perawat dan mereka akan datang membawa bantal dan selimut untukmu"


"Oh iya? Baiklah. kalau begitu saya sholat dulu sebelum mereka sampai"


Adhi meletakkan laptopnya dan berniat untuk berbaring saat memperhatikan wanita itu melakukan sesuatu yang aneh baginya. Ambar melihat ponselnya lalu mengarahkan tangannya ke sudut kamar. Wanita itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menggelarnya di lantai. Indonesia memang negara dengan mayoritas warganya beragama Islam. Tapi Adhi tidak pernah melihat orang Islam melakukan ibadahnya dalam jarak sedekat ini  Wanita itu kemudian menggunakan sesuatu yang semakin menutupi seluruh badannya dan menyisakan wajah saja. Saat melakukan ibadahnya, ternyata wanita itu tampak ... tenang.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar Adhi diketuk dan dua perawat masuk membawa bantal dan selimut tambahan.


"Besok pagi, Anda bisa meminta perawat untuk membereskannya"


"Baiklah"


"Selamat malam Tuan"


Perawat itu segera keluar setelah melirik kepada Ambar yang sedang melakukan ibadah. Adhi kemudian berpikir, apa sofa tempat yang cukup untuk tidur sampai pagi? Bukannya punggung akan terasa sakit setelah tidur di sofa semalaman? Apa dia saja yang tidur di sofa dan wanita itu di ranjang? Tapi, kenapa dia berpikir sampai seperti itu? Bukankah wanita itu sendiri yang memutuskan untuk tidur di sofa? kenapa Adhi sempat berpikir untuk memberikan ranjangnya untuk wanita itu? Sepertinya kebodohan milik Kenzo sedikit menular padanya.


"Apa saya bisa meminta sesuatu?"


Adhi menatap wajah wanita yang ada di depannya. Begitu polos, tanpa riasan tapi semakin membuat pemiliknya tampak cantik. Pasti banyak orang yang akan mengatakan Adhi gila. Tapi dia melihat kecantikan dalam bentuk yang lain dalam diri wanita di depannya.


"Bos ... Bos"


"Anda tidak apa-apa?"


"Apa maumu?"


"Oh, apa saya bisa minta air minum dan roti? Saya tiba-tiba lapar"


"Apa kau pikir ini hotel?"


"Tapi saya pikir kantin di rumah sakit ini tidak akan buka sampai malam"


"Kau pikir saja sendiri!" bentak Adhi lalu berbaring dan menghindari melihat wanita itu lagi. Sepertinya otaknya semakin bergeser karena terlalu sering bersama Kenzo dan temannya itu.


 


Ambar mencibir kelakuan cowok yang sekarang menunjukkan punggung padanya. Ingin sekali dia marah karena dibentak tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah perut laparnya. Ambar melepas mukena, merapikannya kembali di dalam tas lalu memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Dia menoleh ke kanan dan kiri lalu bertemu mata dengan perawat yang sedang berjalan ke arahnya.


"Apa Anda membutuhkan sesuatu lagi?"


Oh, sepertinya perawat ini yang mengantar bantal dan selimut saat Ambar masih sholat tadi.


"Ah, tidak. Saya hanya berpikir kalau kantin masih buka"

__ADS_1


"Apa Tuan Adhi meminta sesuatu untuk dimakan?"


"Bukan. Tapi saya yang sedang mencari makanan"


"Oh,,, saya ingin sekali membantu, tapi kebijakan rumah sakit hanya menyediakan untuk pasien saja. Kalau Anda membutuhkan sesuatu saya bisa mengantar ke minimarket yang ada di sebelah sana"


"Terima kasih"


Ambar dengan perawat itu kemudian berjalan ke minimarket yang berada dekat dengan kantor administrasi rumah sakit. Dia merasa tertolong sekali karena bisa membeli roti dan minum untuk mengisi perutnya. Kembali ke kamar, Ambar menyadari kalau cowok yang menjadi pasien disini belum juga tidur.


"Apa Anda tidak tidur?" tanyanya


"Apa kau menemukan makanan?"


"Iya, perawat membantu saya tadi"


"Apa yang kau beli?"


Ambar memperlihatkan teh kotak, roti bantal, dua donat dan susu coklat yang dia beli di minimarket. Kelihatannya cowok bue itu tertarik dengan makanannya.


"Apa Anda mau?"


"Aku tidak makan makanan seperti itu"


'Dasar sombong' hujat Ambar dalam hati.Seharusnya dia tidak pernah menawarkan sesuatu tadi.


"Roti itu" kata cowok itu lima detik kemudian.


"Ha?'


"Aku ingin lihat roti itu"


Kenapa cowok itu ingin lihat roti ini kalau tidak berniat memakannya? Atau, sebenarnya cowok itu lapar tapi terlalu gengsi meminta padanya? Sebaiknya Ambar mempermainkan orang sombong ini sebagai balasan keisengan kemarin lusa.


"Ha?" jawab Ambar pura-pura tidak mengerti.


"Kenapa kau sering menjawab menggunakan kata itu?"


"Ha?"


Ambar tersenyum puas mendengar laki-laki itu mulai kesal.


"Aku ingin roti itu"


"Ha?"


Sekali lagi, sekali lagi saja cowok itu meminta lagi, Ambar akan segera memberikan roi ini. Hanya sekali lagi saja. Tapi dia tidak tahu kalau cowok itu tidak sabar lagi dan berjalan ke arahnya. Sebuah tangan besar merebut roti yang ada di genggamannya, membuat Ambar terkejut.


"Lho, Anda sudah bisa berjalan?"

__ADS_1


Cowok itu tidak menjawab dan mendekatinya dengan sangat cepat. Ambar tentu saja mengambil langkah mundur dengan tergesa-gesa dan terjatuh di sofa. Dia melihat mata biru yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Kau bodoh sekali" kata cowok itu lalu berjalan kembali ke ranjangnya. Dengan roti Ambar di tangannya. Ambar menutup mulutnya yang sempat terbuka dan menekan dadanya yang mulai bergemuruh. Apa ini? kenapa dia merasa tidak tenang seperti ini karena melihat mata cowok itu? Apa dia terkena serangan jantung hanya karena melihat mata biru cowok itu? Konyol. Ambar segera menenangkan dirinya sendiri dan berusaha melupakan indahnya mata biru yang dimiliki Bos Kenzo.


__ADS_2