Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Setelah memastikan detak jantungnya kembali normal, Ambar menyusun bantal dan selimut. Bersiap untuk tidur sebelum merasakan sesuatu yang aneh lagi. Diseberangnya, ada cowok yang sibuk makan roti hasil rampasan. Ambar selalu berpikir Bos Kenzo adalah seseorang yang keren, tapi semakin kesini dia tidak bisa berpikir sama. Kelakuan cowok itu semakin mirip seperti anak-anak. Terkadang keren dan tidak banyak bicara, lalu berubah menjadi menyebalkan. Kelebihan cowok itu hanyalah mata biru yang semakin dilihat semakin bisa menenggelamkan Ambar dalam keindahannya. Mungkin karena Ambar tidak pernah mengenal siapapun yang memiliki mata seperti itu. Jadi ... debaran jantungnya yang tidak karuan tadi, tidak berarti apa-apa. Tidak mungkin juga dia menyukai cowok yang sama sekali berbeda dengan kriteria calon suami Ambar.


Bicara tentang calon suami, dia ingat dengan laki-laki yang ditawarkan untuk berkenalan oleh ayahnya. Galih, seorang dosen yang sudah menjadi pegawai negeri. Memiliki pekerjaan tetap, latar belakang keluarga baik, meskipun Ambar merasa tidak pernah sekalipun melihat wwajah laki-laki itu. Lalu ... ada seseorang yang baru saja mengutarakan perasaannya tadi sore. Kenzo. Ambar begitu terkejut temannya tu memiliki perasaan seperti itu padanya. Dan Ambar sama sekali tidak pernah memiliki perasaan lain pada Kenzo. Rasa pusing mulai kembali ke kepala saat Ambar tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi kepadanya.


"Apa kau sudah tidur?" tiba-tiba suara cowok yng tertidur di sisi lain kamar itu bertanya.


"Belum"


"Apa ada yang terjadi padamu?"


"Tidak, hanya saja ... "


"Apa?"


Mungkin saja Ambar membutuhkan pendapat dari orang lain tentang hal seperti ini. Orang yang berpengalaman tentang masalah cinta meskipun harus rela kehilangan wanitanya.


"Saya diharuskan segera menikah" kata Ambar


"Aku tidak akan menikahimu"


"Saya juga tidak mau menikah dengan Anda"


Cih, kenapa cowok bule itu mengira hal yang tidak akan pernah terjadi.


"Usiamu sudah cukup untuk menikah. Menikah saja"


"Memangnya harus?"


"Kau normal?"


Pertanyaan macam apa itu? Kenapa cowok itu meragukan kewarasan Ambar hanya karena masalah seperti ini?


"Saya menyukai laki-laki kalau itu maksud Anda"


"Kalau begitu menikah saja"


"Iya, tapi tidak sekarang"

__ADS_1


"Kau akan mengalami menopause kalau tidak segera menikah"


"Apa?"


Sial sekali cowok ini. Kenapa menyumpahi Ambar dengan sesuatu yang begtiu mengerikan? Dia masih dua puluh enam tahun dan mengalami menstruasi normal tiap bulan.


"Saya benar-benar normal" tegas Ambar tidak terima.


"Kalau begitu menikah saja sana"


Kenapa cowok ini daritadi mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang? membuat Ambar kesal saja.


"Bagaimana kalau Anda yang menikah terlebih dahulu? Umur Anda ... empat puluh lima? Hati-hati, nanti ****** Anda tidak gesit lagi" balas Ambar mencoba menunjukkan kalau dia juga bisa bicara menyebalkan.


"Aku sangat sehat dan anak-anakku juga gesit"


"Oh iya, kalau begitu menikah saja sana"


"Denganmu?"


Ambar segera duduk dan menoleh, menatap tajam cowok yang sedang bercanda dengannya. Berani-beraninya cowok itu bicara seenaknya saja.


"Saya bukan perempuan yang cantik. Wajah saya biasa, tidak ada yang istimewa. Tidak memiliki latar belakang pendidikan yang bagus. Dan berasal dari keluarga yang miskin, tidak seperti Feli atau Rea. Kira-kira, apa yang akan membuat laki-laki tertarik pada saya?"


Tidak tahu kenapa Ambar mengatakan semua yang mengganjal di hatinya pada cowok yang selalu mengejek dan menggodanya. Ketika dia siap menerima ejekan yang lain, kata-kata cowok yang sedang berbaring itu mengejutkannya.


"Kau cantik, baik dan memiliki hati yang baik"


Jantung Ambar kembali berdetak kencang setelah mendengar pujian dari cowok bule itu. Tidak tahu kenapa, Ambar merasa pujian itu sangat berarti baginya. Ambar tidak bisa lagi berkata apa-apa dan memilih utnuk tidur, sebelum mengatakan sesuatu yang akan disesalinya. Dia tahu, cowok bule itu hanya bersikap baik padanya. kalau tidak, pasti cowok itu akan mengejeknya habis-habisan. Pasti itu yang terjadi, yakin Ambar pada dirinya sendiri.


 


'Kau cantik, baik dan berhati baik?'


Kata-kata apa itu? Apa Adhi ingin menyatakan cinta pada wanita yang sedang membicarakan situasi kehidupan padanya? Seandainya bisa menarik kata-kata, Adhi akan melakukannya dengan cepat. Sayangnya, semua itu telah meluncur turun dari mulutnya dan tidak dapat diperbaiki. Adhi mencoba melihat reaksi dari wanita yang dipujinya. Tapi tidak mendapat apa-apa. Wanita itu menampakkan punggung ke arahnya dan terlihat mencoba untuk tertidur. Yah, yang dikatakan olehnya bukan bermaksud menggoda, pasti wanita itu mengerti.


Sejak bertemu wanita itu, rasanya Adhi berubah. Dia tidak pernah bicara banyak kata seperti tadi. Apa Ambar membuatnya nyaman untuk bicara? Seperti wanita itu akan mendengarkan apa saja yang dikatakannya. Berbeda dengan banyak orang yang mengira Adhi tidak banyak bicara. Tapi, Adhi harus menahan diri agar tidak terlalu dekat dengan Ambar. Wanita itu tetaplah bukan siapa-siapa untuknya. Hanya orang yang membantu menyingkirkan Feli dari hati dan pikirannya. Hanya seseorang yang dipaksa untuk menempatkan Feli kembali ke sisi Danial, kakak Adhi.

__ADS_1


Pagi hari datang begitu cepat. Tidak tahu berapa jam Adhi tidur malam itu. Dia membuka mata dan melihat seseorang sedang beribadah di dalam kamarnya. Pasti Ambar. Padahal matahari baru saja terbit tapi wanita itu begitu taat dalam beribadah. Mungkin hal itu juga merupakan kelebihannya. Membuat wanita itu tampak sangat bertekad dan tenang secara bersamaan. Adhi mencoba untuk turun dari ranjang dan segera pergi ke kamar mandi. Dia merasa kotor karena tidak mandi selama beberapa hari. Seandainya dia menjaga kakinya tetap kering, mungkin Adhi bisa mandi. Tapi semua tidak mudah untuk diwujudkan. Dia mengangkat kakinya tapi masih merasa sedikit nyeri lalu menyerah. Percobaan kedua, Adhi berhasil mengangkat kakinya ke atas toilet lalu menyadar kalau dia melupakan sesuatu. Dia masih memakai kaos dan celananya. Celana yang dipakainya sebelum dipasang gips yang baru. Lalu, sekarang apa yang harus dilakukannya? Terpaksa dia menurunkan kakinya lagi dan membatalkan rencana unuk mandi. Tapi gips di kakinya menyentuh kran dan menyalakan shower. Mmebuat dia berteriak karena air yang keluar terasa sangat dingin.


"Bos, apa Anda tidak apa-apa?" tanya Ambar dari luar.


"Tidak"


"Anda mandi? Bukannya Anda tidak boleh mandi?"


'Aku tahu. Aku tahu, jawab Adhi di dalam hati. Dia segera mematikan keran yang terlanjur terbuka dan keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah kuyup.


Ketika dia pikir akan mendapatkan simpati dari Ambar, dia salah. Wanita iu segera tertawa keras setelah melihatnya.


"HAHAHA kok bisa? Anda buang air kecil di bawah shower?"


Sial. Adhi ingin sekali menarik pujian yang dia katakan semalam tentang wanita ini.


Ambar menyodorkan handuk dengan tetap tertawa senang, seperti mendapatkan banyak bahan untuk leluconnya.


"Anda sial sekali"


"Yah"


"Sebaiknya Anda segera mengganti baju, kalau tidak Anda akan berada di rumah sakit lebih lama lagi. Saya akan memanggil perawat"


Ambar keluar dari kamar dan meninggalkan Adhi yang merasa bodoh. Tak lama perawat datang dan tersenyum kecil melihatnya.


"Sebaiknya saya mengganti gips itu dengan perban yang lebih elastis. Agar Anda dapat bergerak lebih leluasa Tuan Adhi"


"Lakukan itu!"


"Baik. Saya akan segera kembali"


Perawat keluar dari kamar dan Ambar juga mengambil tasnya dan bersiap pergi.


"Kemana?" tanya Adhi pada wanita yang sudah berada di depan pintu.


"Pulang"

__ADS_1


Wanita itu melangkah pergi tanpa menoleh lagi pada Adhi. Sungguh wanita yang tega sekali. Padahal, seharusnya Ambar membantunya mengganti baju lalu ... . Adhi menghentikan kata hatinya yang semakin tidak bisa diatur. bagaimana mungkin dia berpikir kalau Ambar akan membantunya mengganti baju. Wanita itu ... bukan seperti wanita lain yang dikenalnya. Adhi harus selalu mengingat hal itu.


__ADS_2