Second Lead Fate

Second Lead Fate
Delapan Puluh Delapan


__ADS_3

Hari Pertama Setelah Pulang


"Mbar, kamu gak makan? Mbar ... Ambar. Astaghfirullah ... Mbar!!!"


Setelah mendengar teriakan ibunya, Ambar akhirnya menoleh.


"Kamu dipanggil dari tadi kenapa gak denger? Terus kenapa itu sikat gigi masih di mulut?"


Ambar melihat pantulannya di cermin kamar dan terkejut. Dia telah berganti pakaian setelah mandi tapi masih memiliki sikat gigi penuh busa di mulut. Segera saja dia pergi ke kamar mandi lagi lalu membersihkan mulutnya. Kenapa sih kok sampai kayak gini? pikirnya lalu keluar dari kamar mandi dan berhadapan dengan ibunya.


"Maaf Bu. Masih jetlag" alasannya, untung diterima dengan baik oleh ibunya.


"Makan dulu di bawah"


"Iya Bu"


Tidak tahu kenapa, Ambar tidak dapat melepaskan bayang-bayang cowok itu dari kepalanya. Apalagi mata biru yang memandangnya saat di bandara, membuat Ambar membayangkan semua kedekatan mereka selama ini. Padahal dia tidak boleh seperti ini kalau ingin menjalani kehidupan biasa lagi. Cowok itu sudah menjadi milik Feli. Tidak. Selama inio, cowok itu juga memang milik Feli. Tidak pernah menjadi milik Ambar. Tidak sekalipun. Bahkan mungkin dalam pikiran cowok itu, tidak pernah memikirkan AMbar. jadi ... dia harus melepaskannya sekarang juga. Takut kembali berpikir yang tidak-tidak, Ambar segera turun dan menjumpai orang tuanya di meja makan.


"Ibu cuma bisa masak ini. Gak tau kamu bakal dateng sekarang"


"Gak apa Bu. Ambar kangennya masakan ibu, bukan masakan Indonesia" katanya lalu mengambil nasi dan lauk berupa tempe goreng dan sop tetelan sapi.


Enakkkkk, pikirnya sesaat kuah sop tetelan itu mengalir ke tenggorokannya.


"Kenapa kamu pulang cepet-cepet?" tanya ayahnya tiba-tiba.


"Bapak ini gimana. Anak baru pulang dari jauh malah kayak gak seneng"


"Acara Feli dibatalkan" jawab Ambar singkat lalu mengundang pertanyaan dari orang tuanya.


"Apa? Lho kok ... kenapa?"


"Feli gak jadi nikah Bu. Bukan sama calon suaminya yang kemarin"


Tiba-tiba Ambar seperti merasakan angin dingin berhembus di tengkuknya. Seorang cowok yang tidak mungkin ada disini, kini duduk di kursi sebelahnya. Sedang memakan masakan yang sama dengan Ambar. Cowok itu bermata biru, jadi Ambar pasti tidak sedang salah lihat. Kenapa cowok itu disini? Lalu kenapa sekarang cowok itu tersenyum ke arahnya?

__ADS_1


Saat Ambar masih dalam keadaan bingung, ibunya bertanya lagi.


"Jadinya batal semua?"


Ambar masih melihat ke arah cowok yang sekarang juga sedang menatapnya dengan mata biru itu.


"Yah, gitu deh" Ambar menelan ludah lalu berpikir kalau dia sedang dalam kondisi bermimpi.


"Mbar. Kenapa? Kok kamu liat kesana?"


Ambar menoleh ke arah ibunya, mengedip-kedipkan mata dan melihat ke sebelahnya lagi. Cowok itu menghilang dan kemudian air matanya menetes.


"Iya. Feli bakal nikah sama orang lain"


"Lho kok kamu nangis? Mbar"


Ambar menangis. Dia tidak bisa menahannya karena melihat bayangan si mata biru itu di depan matanya. Meskipun hanya mimpi atau bayangan, dia merasa sakit di hatinya sekali lagi.


Sehabis menangis tanpa alasan kemarin, Ambar memilih untuk keluar dari rumah dan membagikan oleh-oleh yang dibelinya di London. Hanya beberapa kue dan kaos bertuliskan London, lalu mengunjungi Ratih yang sibuk dengan anak-anaknya. menghabiskan waktu dengan menjaga anak Ratih ternyata dapat menyita waktu dan pikirannya. Dia tidak lagi melihat bayangan cowok itu dan tidur dengan nyenyak di malam hari.


"Assalamualaikum"


"Wallaikumsalam. Kamu pulang jam berapa nanti Nak?"


"Sore mungkin Bu"


"Kalo masih capek pulang siang aja"


"Iya"


Ibunya pasti khawatir setelah melihatnya menangis tanpa alasan kemarin. Tapi Ambar sadar, dia harus sibuk agar bisa melupakan segalanya. karena itu sekarang dia berangkat bekerja. Dan berencana tidak akan beristirahat sama sekali, sampai waktunya pulang nanti.


Itulah yang ada di pikirannya sampai datangnya waktu makan siang. Dia terpaksa harus rehat sejenak untuk sholat dan menunggu dua pegawainya membeli makanan. Ambar duduk di kursinya lalu membuka ponsel dan mebaca pesan-pesan yang dikirimkan Rea. Sepertinya ada kejadian luar biasa terjadi dengan kakaknya dan sahabatnya itu menyuruhnya menelpon kalau sudah selesai bekerja. Mungkin sebelum Maghrib adalah waktu yang baik untuk menghubungi Rea. Dia segera mengirim pesan balasan agar Rea bisa merasa tenang sedikit. Tidak ada pesan dari Feli, itu berarti temannya itu sedang sibuk. Mungkin juga banyak masalah yang timbul setelah keduanya memutuskan untuk bersatu. Ambar meletakkan ponselnya di meja lalu menarik napas panjang. Itu bukan urusannya lagi. Bukan urusannya lagi.


"Benarkah?"

__ADS_1


Ambar mendongak karena seakan mendengar suara yang dikenalnya. Setelan jas lengkap, potongan rambut rapi dan mata yang sejernih laut. Kenapa cowok itu muncul lagi? Ambar tidak dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan bayangan cowok itu karena matanya basah dengan air mata. Lagi-lagi, dia menangis untuk orang yang bahkan tidak ada di negara ini. Dia menggosok matanya dengan kuat dan memastikan bayangan yang dilihatnya menghilang lalu berlari keluar toko.


"Lho Kak, mau kemana?" tanya pegawainya yang baru pulang dari membeli makanan.


"Aku ... capek. Mau pulang aja" jawabnya dengan menutupi bagian matanya yang sembab. Dengan segera dia memacu mobilnya untuk menjauh dari toko.


Ingin sekali Ambar berjalan-jalan di taman untuk menghilangkan rasa galaunya. Tapi cuaca panas Jakarta membatalkan niatnya. Dia masih belum terbiasa lagi dengan udara Jakarta setelah pulang dari London. Jadi, lebih baik dia pulang saja. Sebelum sampai di rumah, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


"Kak Ambar!"


Ambar menoleh dan melihat Rindu, adik Kenzo.


"Rindu. Ngapain kamu?"


"Ini" jawab Rindu lalu menyodorkan kotak nasi.


"Untuk apa?"


"Ibu ngadain selametan soalnya ayah mau keluar besok. Takutnya kalo besok ibu gak sempat"


"Oh. Iya makasih"


"Kenapa kak Ambar bilang gitu. Kan kaka Ambar udah banyak bantu keluarga kami, jadi seharusnya Rindu yang bilang makasih. Kakak bisa dateng kan besok ke rumah?"


"Iya. Bisa. Oh iya, aku ada oleh-oleh buat kamu. Sebentar ya aku ambil"


"Kak Ambar bisa gak kasih ke kak Kenzo? Soalnya banyak kotak makanan yang mesti Rindu anter"


"Kenzonya dimana?"


"Di cafe. lagi pusing gak pulang dari semalem" kata Rindu lalu cabut begitu saja dari depan rumah Ambar.


Yah itulah awalnya dia berada di cafe yang menyimpan banyak kenangan tentang cowok itu. Bagaimana lagi, cafe ini memang milik Bos Kenzo. Temannya yang bodoh itu juga mengajaknya ke lantai atas, dimana dia pernah dikurung dengan badan cowok itu dan menghirup aroma laki-laki yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Tapi, pembicaraan tentang masalah menjual aset cukup mengganggu pikirannya. Dia tidak percaya cowok itu begitu gila, mampu melakukan semua itu hanya untuk cintanya pada Feli.


"Apa memang dia sebegitu cintanya pada Feli?" tanyanya dalam suara yang kecil sekali.

__ADS_1


__ADS_2