Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Dua Belas


__ADS_3

Jadi benar apa yang dia pikirkan. Kenapa sikap Adhi berubah dari yang dulu. Kenapa Adhi tidak ingin menyentuhnya. Kenapa wajah suaminya itu tampak tidak bahagia saat mendengar kabar kehamilannya. Semua itu karena Adhi mencintai perempuan lain.


Ambar. Bagaimana bisa? Apa karena mereka berdua berpura-pura menjadi kekasih beberapa bulan lalu? Tapi baik Ambar maupun Adhi mengatakan dengan tegas kalau mereka hanya bersandiwara. Tidak ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Lalu sekarang apa? Feli merasa dunianya hancur. Kehidupan pernikahan yang selalu dimimpikannya kini tidak akan pernah tercapai.


Dia melihat laki-laki yang sekarang tertawa putus asa itu dan merasa campur aduk.


"Kenapa kamu?" tanya ibunya setelah Feli kembali ke kamar


"Oh. Gak kenapa-kenapa"


"Tapi kamu seperti mau menangis"


Feli bingung. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Kehadiran calon bayi di perutnya kini tidak lagi mendatangkan kebahagian untuknya. Seharusnya dia tidak hamil. Seharusnya dia tidak sengaja mendekati Adhi malam itu. Seharusnya dia tidak menikah dengan Adhi. Seharusnya ...


"Feli! Apa yang kamu lakukan?"


Tanpa sadar dia telah memukul-mukul perutnya sendiri dengan menangis.


"Maaf. Maaf!!!" ratapnya sedih lalu pingsan.


Adhi bangun dari tempatnya tersungkur lalu berjalan tanpa semangat untuk kembali ke ruangan Feli. Dia terkejut saat melihat Feli pingsan di sebelah ranjang. Dengan sigap dia segera mengangkat istrinya ke atas ranjang dan menerima omelan ibu mertuanya.


"Apa yang kau lakukan dari tadi? Panggilkan dokter cepat!!"


Adhi kembali keluar kamar dan memanggil dokter. Ternyata istrinya hanya pingsan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu mertuanya kemudian pulang sebelum Feli terbangun. Bosan katanya menunggu putrinya yang pingsan.


Satu jam kemudian Feli akhirnya sadar. Dengan malas Adhi mendekat dan melihat wajah istrinya yang pucat.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya seperti tanpa ada rasa khawatir sama sekali.


"Iya. Dimana ibu?"


"Pulang. Bosan menunggu disini"


"Kamu juga boleh pulang kalo bosan"


Adhi tidak mengerti kenapa Feli menganggapnya akan melakukan hal yang sama dengan ibu mertuanya.


"Kau juga akan pulang sebentar lagi"

__ADS_1


Perkataan Adhi rupanya benar terjadi. Setelah menerima beberapa obat, Feli diperbolehkan untuk pulang.


"Anda harus menjaganya mulai sekarang" kata suster pada Adhi, tapi dia tidak merasakan apa-apa. Seperti kehamilan Feli bukanlah urusannya.


Mereka pulang dalam diam dan Adhi tidak ada keinginan untuk memulai pembicaraan.


"Aku ingin memberitahu Ambar dan Rea" kata Feli saat mereka sudah ada di rumah. Adhi sedikit tergugah karena mendengar nama wanita yang dicintainya disebut. Sebenarnya dia tidak merasa kabar kehamilan Feli adalah sesuatu yang penting untuk diberitahukan kepada siapapun. Apalagi pada wanita itu. Bagaimana nanti perasaan Ambar saat mendengar kabar ini? Apa wanita itu tertawa seperti yang dimintanya dulu? Apa wanita itu menganggapnya hidup bahagia dengan Feli? Kepalanya menjadi sakit dan berlalu tanpa menjawab Feli.


Dia menenggelamkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan dan menjauhi istrinya sendiri. Pagi harinya Kenzo yang kemarin memukulnya datang untuk bekerja. Kali ini dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya.


"Ada masalah Bos" kata Kenzo tampak khawatir.


"Apa?"


"Klub Jakarta. Seseorang membuat masalah"


Adhi segera meminta Kenzo menceritakan apa yang terjadi pada klub-nya yang ada di Jakarta.


Selama ini dia memang tidak terlalu mengurusi klub yang ada di Jakarta. Karena dia terlalu sibuk dengan masalah perusahaan keluarga Feli.


"Kita ke sana sekarang!" katanya tanpa ragu.


Adhi segera meninggalkan perusahaan keluarga Feli dan berangkat ke Jakarta. Tanpa memberi kabar pada istrinya.


Sampai di Jakarta Adhi segera mengurus klub yang hampir lima bulan tak pernah didatanginya itu. Selain klub, dia juga mengurus kafe yang dipercayakannya pada Kenzo. Hanya dalam dua hari, semua masalah selesai dan dia bersiap untuk kembali ke Bali keesokan harinya.


"Apa Bos akan langsung ke Bali atau ke Surabaya dulu?" tanya Kenzo.


"Ke Bali. Ibu Feli kemarin datang ke perusahaannya dan menarik cukup banyak uang"


"Apa Bos tidak bisa membeli perusahaan itu saja? Orang tua Nyonya ternyata biang keladi yang menghancurkan perusahaan mereka sendiri"


"Aku tidak membutuhkan perusahaan seperti itu"


"Apa Bos akan melanjutkan memimpin perusahaan itu?"


"Tidak. Aku akan membangun usahaku sendiri"


"Lalu perusahaan itu?"

__ADS_1


"Mereka harus belajar mengurusnya"


"Siapa? Mertua Bos yang haus akan uang atau istri Bos yang sedang hamil?"


Adhi benci sekali diingatkan pada keadaan istrinya yang sedang hamil. Bahkan setelah dua hari di Jakarta, dia tidak memiliki keinginan untuk menelepon atau memberi kabar pada istrinya itu.


"Aku akan mempekerjakan orang"


"Wah. Bos ternyata sudah memiliki rencana untuk itu"


"Diam!. Siapkan penerbangan pagi untuk besok"


"Apa saya tidak boleh disini dulu untuk sementara waktu?"


"Untuk apa?"


"Mengurus kafe dan klub"


"Aku bisa mengurusnya dari jauh"


"Tapi saya ingin bertemu orang tua"


Adhi melihat ke arah anak buahnya itu. Benar juga. Sekarang mereka berada di Jakarta. Tempat wanita itu tinggal dan bekerja. Apa dia juga bisa menemui wanita itu? Lalu untuk apa? Mengatakan kalau dirinya mencintai wanita itu? Tapi menghamili istrinya?


"Pergilah!! Tapi kau harus berangkat besok denganku!"


"Apa Bos mau pergi ke suatu tempat?"


"Kemana?"


"Rumah Bos"


"Tidak perlu. Aku akan tetap disini sampai besok pagi" kata Adhi tegas.


Setelah Kenzo pergi, Adhi berjalan melihat semua kegiatan klub yang ada dibawah ruangannya. Di tempat inilah dia pertama kali bertemu dengan wanita itu. Saat itu, dia merasa Ambar adalah wanita yang polos dan lucu. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, dia akan mencintai wanita itu sampai sebesar ini. Hatinya tersiksa setiap kali berpikir kalau wanita itu akan melanjutkan hidup tanpa kehadirannya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Meskipun tidak mencintai Feli lagi, dia memiliki tanggung jawab pada anak yang dikandung istrinya. Dia tidak akan menjadi seperti ayahnya.


Tapi ... dia ingin melihat wanita itu. Sebentar saja. Adhi mengambil jas dan segera berangkat menuju rumah Ambar. Meskipun hanya sekali pergi ke sana, dia masih mengingat semua jalan yang akan membawanya ke rumah wanita itu. Sampai di depan gang rumah Ambar, dia berhenti. Adhi keluar dan berjalan, berharap wanita itu berada di luar rumah.


Mobil putih yang dikenalnya terparkir di depan rumah wanita itu. Tanda Ambar ada di rumahnya. Tapi dimana wanita itu? Apa Ambar tidur cepat malam ini? Seperti sebuah harapan yang tulus akan terkabul, Adhi tiba-tiba mendengar suara wanita itu. Suara yang terdengar semakin dekat tapi dari arah belakangnya. Adhi berbalik dan melihat dua wanita sedang berjalan ke arahnya. Dia mengenal Ratih, teman Ambar yang dikatakan menikah lagi untuk yang ketiga kalinya.

__ADS_1


Tapi matanya hanya tertuju pada wanita yang sedang memasukkan es krim ke dalam mulutnya dan tertawa. Hatinya terasa penuh sekarang. Dia merasa sangat bahagia meskipun hanya bisa melihat Ambar dari jarak sejauh itu. Dan saat jarak itu semakin mengecil, mata mereka akhirnya bertemu. Ambar nampak terkejut dengan kehadirannya. Tanpa berpikir dua kali, Adhi maju, mendekati Ambar dan memeluk wanita itu. Melepaskan semua rasa rindu yang dirasakannua.


__ADS_2