
Laki-laki.
Jenis manusia yang paling sulit untuk dimengerti oleh Ambar. Mereka memiliki kecenderungan untuk mendekati sesuatu yang cantik dan menarik bagi mata mereka. Karena selalu berpikir dengan otak, mereka akan mengatakan apa saja yang ada di pikiran mereka. Tanpa mempedulikan bagaimana perasaan lawan jenis yang mereka ajak bicara. Ambar pernah mendapatkan umpatan, hinaan yang sunguh buruk dari manusia jenis ini. Jelek, gendut, babi, sapi, bompel, buruk rupa, dan masih banyak lagi. Padahal Ambar bahkan tidak pernah mengenal mereka secara baik. Dan yang Ambar dapat lakukan saat itu hanyalah membalas mereka dengan senyum karena memang itulah yang tampak dari dirinya di cermin. Karena hal itu, Ambar mendapatkan kesulitan untuk berbicara atau dekat dengan yang namanya laki-laki, baik itu rekan kerja atau hanya sebatas kenalan.
Karena itulah Ambar hanya mengenal dua laki-laki dalam hidupnya. Satu sudah menikah yaitu ayahnya. Dan yang satunya lagi Kenzo, teman seperjuangan yang tidak pernah mempermasalahkan penampilan Ambar. Walaupun saat ini penampilan Ambar telah berubah sepenuhnya, rasa enggan untuk menatap mata serta m,endekati mereka tetaplah ada. Dan kali ini, tidak tahu kenapa. Ambar terpesona. Dia ingin tetap melihat mata cowok yang sudah mengerjainya. Saat cowok itu membalas tatapannya, rasanya ada yang terjadi di tubuh Ambar. Seakan ada batu besar tiba-tiba menekan dadanya dan membuatnya kehabisan napas. Lalu *********** mengeras dan perutnya seperti tergelitik oleh sesuatu yang tidak nampak. Apa dia memang memasuki masa puber yang terlambat? Apa memang sudah saatnya dia mulai memikirkan tentang pernikahan?
Setelah lama menatap dinding, Ambar memberanikan diri untuk melihat cowok yang ada di hadapannya.
"Sebaiknya saya pulang sekarang"
"Ya"
Mendengar jawaban lawan bicaranya, membuat Ambar yakin untuk segera keluar dari kamar ini. Tapi ... beberapa dokter yang masuk sesaat setelah dia membuka pintu menghalanginya untuk pulang.
"Selamat malam Tuan Adhitama"
"Selamat malam"
"Saya ingin membicarakan tentang kemajuan keadaan tubuh Anda. Dan saya yakin keluarga Anda juga ingin mendengarnya" kata dokter itu lalu menoleh pada Ambar. Dia tersenyum dan menggeleng pelan.
"Saya ... bukan keluarganya. Saya hanya pengunjung"
"Oh, begitu. kalau begitu saya minta maaf karena salah mengira Tuan"
Salah kiranya ke Ambar tapi minta maafnya pada pasien. Aneh sekali. Sekali lagi Ambar ingin berjalan pergi, tapi lengan bajunya ditarik oleh seseorang.
"Anggap saja dia keluargaku"
Ambar terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh cowok bermata biru itu. Lalu tersadar bahwa Bos Kenzo tidak memiliki keluarga untuk menemaninya saat ini. Menimbang hal itu, Ambar memilih untuk tetap di tempatnya dan mendengarkan penjelasan dokter.
"Kami telah melakukan scan lanjutan setelah operasi dan hari ini. Tulang yang retak kini telah membaik dan bengkaknya juga berkurang. Malam ini atau besok pagi, perawat akan membant Anda mengganti gips juga melepas kateter yang masih terpasang. Kalau semuanya sebagus ini, kemungkinan besar lusa Anda boleh pulang"
"Alhamdulillah" jawab Ambar membuat semuanya menoleh padanya.
"Iya, saya juga bersyukur karena tubuh Tuan Adhi cepat membaik"
Apa ada yang salah saat Ambar bersyukur karena keadaan orang lain membaik? Kenapa semua orang melihat dengan pandangan aneh padanya?
"Kalian boleh pergi sekarang!" kata Bos Kenzo mengalihkan mata semua orang dari Ambar.
__ADS_1
"Baik Tuan"
Ambar baru tahu kalau seorang dokter yang memiliki tingkatan pendidikan tertinggi sanggup bicara sopan kepada pasien seperti ini. Apa karena pasiennya ada di ruang VVIP? Sungguh hebat pengaruh uang kepada orang lain.
Semua dokter dan perawat akhirnya keluar dan meninggalkan Ambar dan cowok itu dalam kamar luas yang sepi.
"Karena sudah selesai, lebih baik saya pulang sekarang"
"Iya, sebaiknya begitu"
"Baiklah. Selamat malam"
Ambar mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu. Disitu dia diam selama beberapa detik sebelum membuka pintu dan pergi.
"Assalamualaikum" sapa Ambar sesaat setelah menginjakkan kaki di rumah.
"Wallaikumsalam. Kenapa malem baru pulang?"
"Ambar ... harus lembur sebentar tadi" Dia tidak akan pernah mengatakan alasan sebenarnya dia tidak bisa pulang tepat waktu hari ini.
"Sudah makan?"
"Belum"
"Bicara apaan Bu?"
"Udah, kamu mandi terus makan dulu sana"
Ambar pergi mandi dan makan dengan pikiran yang tidak tenang. Saat kemarin Bapak mengajaknya bicara, yang dibahas adalah masalah pernikahan. Apa kali ini juga begtiu?
"Bapak tadi sudah memberikan nomormu ke Nak Galih"
Benar, lagi-lagi tentang masalah pernikahan lagi.
"Iya, Pak"
"Kamu tunggu saja telpon Nak Galih besok. Kalau dia ngajak kamu makan, pergi saja" tambah ayahnya.
"Tapi, Pak"
__ADS_1
"Apa?"
"Ambar belum siap"
"Belum siap apa? Menikah?"
"Iya"
"Kapan kamu siap?"
"Apa?"
Ambar melihat wajah ayah dan ibunya lalu tidak berani menjawab lagi. Dia sudah cukup merasa bersalah karena tidak dapat membuat ayah dan ibunya bangga. Dan sekarang? Apa dia juga akan mengecewakan orang tuanya lagi?
Ibunya datang mendekati Ambar dan mencoba untuk memberi dukungan dengan membelai punggungnya.
"Mungkin Ambar perlu waktu lagi Pak"
"Gimana bisa menikah kalo kenal sama laki-laki saja gak?"
"Kan nanti kalo sudah waktunya Ambar bisa nentuin sendiri Pak"
"Ini salahnya sendiri. Kenal sama laki-laki kok ya yang bejat kayak Kenzo. kenal itu yang baik-baik dan bisa dijadiin suami"
Ambar ingin bersabar dan menerima semua ketidakpuasan ayahnya, namun ini sudah kelewatan. Kenzo, satu-satunya teman yang menemaninya melalui masa-masa sulit dan kini dihina. Ambar tidak dapat mendengarnya lagi"
"Kenzo itu baik Pak" belanya membuat ayahnya semakin geram.
"Apa kamu ada hubungan sama anak itu?"
"Hubungan apa?"
"Jadi kamu nolak dosen hanya untuk germo seperti Kenzo?"
"Pak. Sudah!!"
Akhirnya ibu menengahi pertengkaran anatara Ambar dan ayahnya.
"Ambar pasti mau mengenal Nak Galih, juga laki-laki lain saat memang sudah waktunya. Tapi jangan dipaksa seperti ini. Sudah Ambar, kamu masuk kamar aja sana"
__ADS_1
Ambar menuruti kata-kata ibunya dan pergi ke kamar. Meninggalkan ayahnya yang masih kesal.
Dia duduk di depan cermin dan melihat pantulan dirinya sendiri. Rambut panjang hitam, alis yang tidak tertata, hidung biasa, bibir tebal, dagu panjang. Meskipun tidak gemuk lagi, Ambar merasa dia tidak memiliki wajah yang cantik. Bagaimana bisa dia bertemu dengan laki-laki yang nantinya akan mengatakan semua kekurangannya? Bagaimana dia bisa menghadapi semua itu? Ambar kemudian berbaring di atas kasur dan merasa pusing. Harusnya dia tidak terlalu banyak memikirkan hal seperti ini. Seharusnya dia lebih fokus pada mencari uang untuk masa depannya. Dan kalau sudah waktunya, mungkin akan ada laki-laki yang akan tertarik melihat Ambar seperti apa adanya dia. Rasa pusing di kepalanya bertambah dan Ambar ingin segera tidur saja.