Second Lead Fate

Second Lead Fate
Enam Puluh Empat


__ADS_3

Tiga kali


Adhi mengalami pelepasan sebanyak tiga kali dalam kurun waktu kurang dari lima belas jam. Ini sungguh diluar kebiasaannya. Dan lagi, dia mengalami semua itu karena wanita yang bahkan tidak kelihatan lekuk badannya. Yang terakhir adalah yang terparah. Dia membayangkan sesuatu yang tidak akan mungkin pernah terjadi. Tidak tahu bagaimana dia bisa membayangkan hal itu. Padahal wanita yang dibayangkan olehnya tidak melakukan apa-apa. Kemungkinan besar dirinya mengalami lonjakan hormon yang tidak dapat dihindari. Jadinya dia merasa lelah setelah semua pelepasan itu terjadi. Badannya tidak memiliki tenaga lebih untuk bekerja dan memilih tidur sepanjang sisa perjalanan.


Siang ini kekuatannya kembali, tapi tidak dengan moodnya. Perasaannya masih buruk apalagi harus bertemu dengan Rea. Satu lagi wanita yang bisa menguras energinya hanya dengan adu mulut. Adhi sebenarnya sudah memanggil anak buahnya untuk menjemput di bandara. Dan tidak mengharapkan keddatangan Rea. Tapi ... sepertinya dia tidak bisa melakukan apa yang ddiinginkannya. Karena dia juga melihat beberapa orang suruhan Danial diluar terminal dua.


"Selamat siang Tuan"


Akhirnya satu orang suruhan Danial menghampirinya. Dia tidak menyapa kembali dan kemudian melihat ke arah Ambar. Wanita itu tidak terlihat takut sama sekali.


"Anda diharapkan datang ke rumah keluarga"


"Aku butuh waktu untuk mandi" jawabnya.


"Tuan Danial telah menyiapkan semuanya"


Adhi tersenyum kecut lalu berhadapan dengan pria yang tubuhnya hampir dua kali lebih besar darinya itu. Pengawal keluarga Syahreza memang tidak bisa dianggap remeh, dan dia mengerti itu.


"Hanya aku?"


"Tidak. Dengan Nona itu juga"


Sial. Apa sebenarnya yang diinginkan Danial dengan membawa Ambar dalam persoalan mereka.


"Aku juga ikut" jawab Rea khawatir. Teman Ambar itu pasti tahu kalau semua ini tidak akan berakhir baik.


"Saya yakin Nona Edrea memiliki jadwal sibuk lainnya"


Penolakan yang halus tapi tegas dari suruhan Danial menyurutkan keinginan Rea. Terpaksa, Adhi mengajak Ambar untuk masuk ke dalam mobil yang dikirimkan Danial.


"Hubungi aku kalau terjadi apa-apa" kata Rea pada Ambar lalu melepaskan sahabatnya pergi.


Adhi mengirim pesan kepada anak buahnya untuk selalu siap dan mengumpulkan beberapa orang lain.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Adhi pada Ambar.

__ADS_1


"Biasa saja. hanya sedikit lelah. Tapi ... ini mau kemana? Bukannya Anda memiliki apartemen di kota ini?"


"Memenuhi undangan Danial"


"Danial? Kakak Anda? Mau temu kangen?"


Adhi ingin sekali tertawa kalau memang itu yang terjadi. Tapi tidak. Dia sangat yakin Danial mengundangnya datang bukan untuk hal itu.


"Aku juga tidak tahu"


"Apa Anda akan bertemu orang tua Anda juga?"


Adhi tidak dapat menjawab pertanyaan Ambar. Kalau Danial sampai melakukan semua ini, maka pasti dia akan bertemu dengan orang tuanya juga. Tapi ... apa yang akan dia lakukan setelah bertemu kedua orang yang tidak pernah sekalipun tertarik pada kabarnya itu? Itulah yang masih dia pikirkan sampai sekarang.


Untunglah mobil sampai di gerbang besar dan tinggi sebelum Adhi sempat menjawab pertanyaan Ambar. Dia mulai melihat rumah yang pernah ditinggalinya sampai sepuluh tahun lalu itu. Teringat kenangan saat dia kecil, bermain dengan Danial. Lalu berganti dengan kejadian saat dia diusir dari rumah tanpa membawa apapun. Dadanya terasa sakit mengingat semuanya. Adhi menoleh dan melihat Ambar sedang menatapnya.


"Apa? Aku ... "


"Anda pasti banyak pikiran sekarang"


"Yah, saya memang tidak tahu. Tapi ... ini rumah apa istana? Anda pernah tinggal di rumah seperti ini? Wahh"


"Jangan seperti pengemis"


"Ha?Pantas Anda sering mengatakan saya pengemis. Kalau dibandingkan dengan semua ini ... wah"


Iya. Adhi juga tidak akan pernah mengerti kalau dia selama hidup dalam kemewahan sampai diusir dari rumah.


Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah Syahreza. Baik Adhi dan Ambar digiring menuju sebuah kamar yang terletak jauh dari rumah utama yang digunakan orang tuanya dan juga Danial. Sebuah pintu besar dibuka dan tampaklah kamar di depan mereka berdua.


"Apa maksdunya kita diantar kemari? Saya pikir Danial dan Feli bakal menyambut"


"Mereka tidak akan melakukan hal itu. Kita yang harus datang menghadap mereka"


"Apa?"

__ADS_1


Orang suruhan Danial meletakkan koper dan mengatakan kalau orang tua Adhi dan Danial serta tunangannya yaitu Feli menunggu untuk makan siang.


"Saya harap Anda memakai waktu singkat untuk membersihkan diri. karena Tuan Besar bukan orang yang sabar menunggu"


Adhi tersenyum kecut lagi. Dia sangat mengerti sifat ayahnya yang tidak suka menunggu. Segera setelah orang suruhan Danial pergi semua, dia membuka koper dan memilih baju untuk dipakai. Untung saja dia membawa satu setelan jas.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Adhi saat mengetahui Ambar masih berdiri di dekat pintu.


"Saya dan Anda tidak akan berbagi kamar yang sama kan?"


"Kita hanya mandi dan makan siang disini. Aku sudah menyiapkan apartemen lainnya"


"Oh, begitu"


"Iya. Apa kau ingin mandi lebih dulu?"


"Ah, nanti saja. Anda duluan saja"


"Baiklah"


Adhi segera pergi ke kamar mandi setelah menyiapkan setelan jasnya di ranjang.


 


Ambar melihat kamar yang ada di depannya. Sungguh mewah, seperti layaknya hotel bintang lima. Tapi ... bukan ini yang ada di bayangannya saat pergi ke London. Rea sudah menjanjikan untuk membawanya jalan-jalan segera setelah AMbar menginjakkan kaki di kota ini. Istana Buckingham, jam Bigben, Taman Ladi Di, begitu banyak tempat yang bisa dikunjungi tapi kenapa sekarang Ambar terjebak di rumah keluarga Syahreza? Belum lagi cara penjemputan yang sedikit menakutkan untuknya. Mirip seperti tahanan yang harus kembali ke penjara saja. Duhhh, Ambar mulai menyesal pergi ke London.


Namun, dia tidak bisa egois. Ada yang nasibnya lebih menyedihkan daripada dirinya, Bos Kenzo. Cowok itu terlihat lebih pendiam daripada sebelumnya. Meskipun Bos Kenzo selalu marah-marah dalam perjalanan, Ambar bisa melihat kesedihan yang dirasakan cowok itu. Apalagi saat mobil masuk ke dalam lingkungan rumah keluarga Syahreza.


"Apa yang harus aku lakuin sekarang?" tanya AMbar lalu jatuh tengkurap di atas kasur besar nan empuk luar biasa itu. Wangi kasurnya juga enak sekali, seperti lavender.


"Mandi" jawab seseorang mengejutkan Ambar. Dia segera bangun dan melihat dada telanjang Bos Kenzo, juga perut penuh otot. Tentu saja Ambar segera berbalik, menghindarkan matanya dari maksiat.


"Bisa gak Anda pake baju dulu sebelum keluar kamar mandi?"


"Aku tidak mau setelan jasku rusak. Mereka sangat mahal" jawab cowok itu lalu mendekat ke arah Ambar. Tepat di belakangnya sehingga Ambar bisa mencium bau segar air. Perutnya tergelitik dan Ambar mulai merasakan akibat dari kedekatan mereka. jantungnya berdetak lebih cepat dan dadanya naik turun berusha menyeimbangkan napas.

__ADS_1


Dia ingin sekali minggir dan menghindari cowok itu, tapi yang dilakukan badannya sangat memalukan. Ambar hanya diam saja mematung, tidak bergerak sama sekali. Kini badan Bos Kenzo condong ke depan, mengakibatkan punggung Ambar terasa dingin. Nyaman sekali. Ambar menggigit bibirnya dan mencoba untuk sadar kalau yang sedang dilakukannya salah. Dia segera berpindah tempat. Membuka koper dengan brutal dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2