
Apa?
Memangnya kapan Adhi pernah mengatakan semua itu pada Ambar?
Dia berusaha mengingat tapi tidak terlintas apapun di otaknya. Ambar sangat marah padanya padahal Adhi hanya ingin bertanya apakah wanita itu akan menikah dengan bawahannya. Adhi melihat Ambar yang berjalan ke arah jalan setapak lalu mengikutinya.
"Aku tidak pernah mengatakan semua itu!" teriaknya tapi tidak menghentikan langkah Ambar yang semakin cepat. Adhi terpaksa hampir berlari untuk menyusul wanita yang kini berada lebih dari lima meter darinya itu. Saat jarak mereka memendek, air dari langit mulai berjatuhan menimpa daun pepohonan. Dari pagi tadi, langit memang memperlihatkan tanda-tanda hujan. karena itu Danial menyewa pondok agar mereka tidak kehujanan. Tapi wanita itu seperti tidak merasakan hujan turun dan tetap melangkah menjauh.
"Ambar! Hujan!"
Tidak ada reaksi sama sekali dari Ambar.
"Ambar! Berhenti!"
Kenapa wanita itu sulit sekali diajak berhenti? Dan kenapa Ambar marah sekali sampai seperti itu padanya.
"Apa sih?!?" kata Ambar saat Adhi berhasil mengejar dan menghalangi jalannya.
"Kenapa kau marah?"
"Saya gak marah!!" jawab Ambar lalu berjalan menjauh lagi.
"Kau marah. Dan aku tidak pernah membandingkanmu dengan Feli"
"Ohhh yeahhh. Tidak pernah. Dasar pikun"
"Apa? Pikun?"
"Yah emang kalo ngomong sama orang udah tua ya gitu. Susah"
"Ambar!"
Adhi tidak tahan lagi lalu menarik lengan Ambar dan menghentikan wanita.
"Apa sih???"
"Kenapa kau marah?"
"Saya gak marah!!!"
"Kau marah"
"Duhhh. Terus aja bilang saya marah. Oke saya marah sekarang. Terus??!!!"
Air hujan semakin deras turun dan daun di atas kedunya tidak sanggup lagi menahannya. Perlahan tapi pasti, keduanya tertimpa titik air yang semakin membesar itu.
"Kita ke pondok dulu. Hujan"
__ADS_1
"Sana pergi!"
"Kita ke pondok. Itu artinya aku dan kamu"
"Saya gak mau"
"Kamu mau kemana?"
"Pulang"
"Ke Jakarta?"
"Iya"
"Kenapa? Kamu ingin menerima lamaran Kenzo"
"Bukan urusan Anda!"
"Itu urusanku"
"Kenapa? Karena Kenzo bawahan Anda?"
"Iya"
"Omong kosong"
"Saya udah bilang gak marah. Udah!!! Bisa gak sih Anda pergi aja sana ke Feli, resmiin hubungan kalian terus nikah"
"Kamu ingin aku seperti itu?"
"Iya!!"
Mata Ambar yang marah, baru kali ini Adhi melihatnya dari jarak sedekat ini. Begitu merah dan tidak terlihat cantik.
"Oke. Aku akan pergi ke Feli sekarang. Aku akan merebutnya dari tangan Danial dan kujadikan milikku. Itu yang kau inginkan??"
"Iya. Pergi sana!!"
Adhi kini marah. Dia tidak pernah sekalipun berhadapan dengan wanita keras kepala seperti Ambar. Wanita itu ... benar-benar .... Adhi meninggalkan Ambar begitu saja lalu pergi ke arah pondok. Dia berjalan tegap ke hadapan Danial dan mengatakan apa yang ditahannya selama sepuluh tahun ini.
"Feli adalah milikku. kau tidak boleh memilikinya?"
"Apa katamu?"
Tentu saja sebuah tonjokan keras segera dirasakannya. Danial tidak menahan amarahnya dan mulai memukulinya. Adhi tidak tinggal diam, dia juga membalas pukulan kakaknya dan mereka berkelahi. Setelah menahan diri selama lebih dari sepuluh tahun. Akhirnya perkelahian yang tertunda itu pecah juga.
"Kau memang seorang pengecut" kata Danial lalu kembali mengarahkan tonjokan ke pipi Adhi. Untungnya dia bisa menghindar dan mendorong kakaknya sampai jatuh. Para teman mereka mulai menarik Adhi lalu Danial berhasil menendangnya tepat di ulu hati. Sial. Rasanya sakit sekali. Adhi bangkit lagi lalu memukul kakaknya.
__ADS_1
"Dari awal, Feli milikku. Tidak pernah jadi milikmu!"
Teman mereka tidak tahan lagi lalu menahan kedua kakak beradik itu. Kekuatan Adhi dan Danial hampir sama mematikan. Kalau mereka tidak dihentikan maka akan terjadi pembunuhan di pondok ini.
"Adhi!!"
Saat itulah Feli berlari ke arahnya dan mulai menangis. Melihat Feli menangis, Adhi menjadi agak tenang. Tapi hal itu membuat suasana di pondok menjadi tidak nyaman. Teman-teman mereka juga bingung dengan apa yang terjadi dan memilih untuk diam saja sampai Danial memilih pergi meninggalkan pondok.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Feli penuh perhatian lalu menyentuh luka-luka yang ada di wajah Adhi.
Dia memegang tangan kecil itu dan menciumnya.
"Kamu ... milikku"
Feli menahan tangisnya lalu memeluk tubuh Adhi yang hampir remuk karena pukulan Danial.
Rea melihat adegan mengerikan di depannya dan tidak bisa bicara apa-apa. Adhi dan Danial akhirnya berkelahi. Mereka berkelahi di depan mata semua teman-temannya. Feli terus saja berteriak ingin menghentikan perkelahian tapi Rea menahannya. Bisa bahaya kalau Feli ada di dalam medan pertempuran itu. Tapi ... kemana Ambar? Kenapa dia tidak melihat temannya itu sampai perkelahian selesai dan Danial pergi? Saat Adhi dan Feli akhirnya bersatu, Rea merasa lega. harusnya Ambar juga menyaksikan hal ini. Tanpa berkata apa-apa, Rea pergi mencari Ambar. Tak lupa dia membawa payung karena hujan deras diluar pondok. Setelah mencari kesana kemari, Rea melihat sekilas jaket Ambar di jalan setapak menuju mobil mereka terparkir tadi. Tapi Ambar tidak sendiri. Dia bersama Danial dan mereka saling bicara. Rea berusaha mendekat karena takut Danial akan melampiaskan amarah ke Ambar juga. Tapi, dia tidak jadi mendekat karena mendengar Danial bicara dengan gemetar.
"Jadi, ini ulahmu?"
Ulah Ambar? Apanya? Ohh, keberanian Adhi tadi? Pantas saja. Adhi bukan jenis orang yang mau berhadapan langsung dengan Danial. Itu dibuktikan dengan sepuluh tahun masa menunggu yang sia-sia.
"Lalu, kenapa ... begini?"
Rea tidak pernah sekalipun mendengar Danial, putra pertama keluarga Syahreza, penerus perusahaan raksasa itu bicara dengan gemetar seperti sekarang ini.
'Jadi ... Danial benar-benar menyukai Feli?' pikir Rea dalam hati.
"Akhirnya pasti akan seperti ini. Lalu kenapa menunda lagi? Untuk apa?"
"Aku bisa membuat Feli bahagia"
"Anda tahu kalau hal itu tidak mungkin. Anda hanya akan menyiksanya"
"Lalu, apa ini jalan terbaik?"
"Iya. Daripada Anda terlihat semakin menyedihkan"
"Menyedihkan?? Hahaha. Itukah yang terlihat?"
"Iya"
"Lalu kenapa kau juga terlihat menyedihkan sekarang?" tanya Danial lalu meninggalkan Ambar sendiri. Rea awalnya tidak pernah menduga kalau mereka ternyata saling kenal. Mungkin keduanya pernah bertemu dan Ambar tidak menceritakannya. Tapi, kenapa Danial mengatakan kalau Ambar tampak menyedihkan? Kan semua ini tidak ada hubungannya dengan temannya itu. Kecuali ... Ambar menyukai Adhi. Ohhh tidak. Apa yang sudah terjadi?
Rea berjalan mendekat ke arah Ambar, menghentikan hujan membasahi tubuh temannya itu. Dan dia baru sadar kalau Ambar menangis dalam diam. Benar, temannya ini ternyata menyukai Adhi. Tanpa bertanya, Rea memeluk temannya itu dan tangis Ambar pecah.
__ADS_1
"Ayo pulang ke London. Kau butuh mandi air hangat" katanya lalu membawa Ambar ke parkiran mobil. Dia kemudian memesan mobil sewaaan dan mengajak Ambar kembali ke London. Dia tidak berkata apa-apa, begitu juga temannya yang sudah berhenti menangis itu. Mereka hanya diam sampai ke London, meninggalkan dua sejoli yang baru saja menjalin cintanya lagi. Tanpa tahu kalau mereka berdua telah menyakiti hati orang lain.