
Ambar melihat cowok itu berdiri di atas tangga kecil rumah yang ditujunya.
"Lho, Anda lagi" komentarnya lalu mengingat masalah semalam. Dia menghubungi cowok itu untuk eminta bantuan karena Feli. Tapi yang didpat hanyalah mesin penjawab pesan dari salah satu provider telepon.
"Siapa?" tanya pria yang sedang berdiri tepat disebelah cowok itu. Ambar mulai menebak dan sepertinya dia akan benar.
"Pak Andy?"
"Iya benar. Dan kamu?"
Benar dugaannya. Ternyata orang ini pemilik kantor mirip rumah yang memesan undangan secara mendadak ke tokonya.
"Saya kesini mengantar undangan yang Anda pesan"
"Oh"
"Ini undangan yang Anda pesan. Dimana saya harus meletakkannya?"
"Oh, kamu masuk saja ke dalam"
"Baik. Terima kasih"
Tepat sebelum Ambar melewati anak tangga terakhir, kardus di tangannya telah berpindah pada cowok itu. Tentu saja Ambar mengerutkan dahi dan mencoba mencari tahu kenapa Bos Kenzo melakukan hal itu.
"Kau membawanya sendiri?" tanya cowok itu.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Dasar bodoh" ejek cowok itu lalau masuk ke dalam kantor pak Andy. Ambar mengikuti dari belakang dan begitu juga sang pemilik kantor.
Cowok itu meletakkan kardus yang Ambar bawa dari toko secara sembarangan di salah satu meja pegawai.
"Aduhh, hati-hati"
"Kenapa kau bawa barang berat sendirian? Kemana pegawaimu?"
"Ini kan hari Minggu"
"Kau memang bodoh"
Ambar menahan semua umpatan yang ada di ujung lidahnya hanya karena sekarang dia berada di kantor pemesan produknya. Lagian, Bos Kenzo bagaimana bisa ada disini sih?: pikir Ambar kesal.
"Maaf ya kak. Ini undangan pesanan pak Andy untuk hari ini"
"Oh iya. Saya terima disini"
"Makasih ya kak"
Selesai meminta maaf pada salah satu pegawai pak Andy, Ambar berbalik dan melihat cowok itu masih ada disana.
"Kenapa?" tanya cowok itu.
"Gak ada"
Ambar sebenarnya ingin berbicara pada pak Andy mengenai undangan yang dipesannya. Ambar mengerjakan lima puluh undangan itu dengan sangat detail dan berharap pak ANdy menjadi pelanggan tetap tokonya. Tapi ... kalau seperti itu dia harus melihat Bos Kenzo lebih lama lagi. Dan hal itu sangat menyebalkan, apalagi ejekan-ejekan yang tidak putus dikatakan cowok itu pada Ambar. Lebih baik sekarang dia pulang saja, menunggu telepon pegawai pak Andy, seandainya ada keluhan atau pesanan lain.
"Mau kemana?"
Ternyata cowok itu mengikuti langkah AMbar keluar kantor pak Andy.
"Pulang"
"Bukannya kau harus dibayar lebih dahulu?"
"Sekarang jamannya beda Bos. Semua sudah diselesaikan di awal"
Ambar tidak ingin mendengar perkataan, pertanyaan atau ejekan Bos Kenzo dan berlari ke mobilnya. Dia menyalakan mobilnya lalu mematikannya lagi. Karena ada telepon masuk.
"Halo Assalamualaikum"
__ADS_1
"Ambar!"
Ambar terdiam sebentar, mencoba mengenali suara yang terdengar di telinganya.
"Rea"
"Eh, aku denger dari Feli"
Feli? Pasti masalah kemarin. Ambar sedang malas membicarakan hal itu dengan siapapun sekarang. Karena dia terlalu capek sepanjang minggu ini.
"Masalah apa?"
"Kamu dijodohin? Sama siapa? Gimana orangnya?"
Rea terdengar sangat bersemangat membuaqt AMbar tidak tega menyudahi telepon. Apalagi di London sekarang jam tiga pagi. Jadi Ambar menelan rasa lelahnya dan mulai membalas semua pertanyaan Rea.
"Cowok"
"Ya iyalah cowok. Kamu mau bikin aku marah ya Mbar?"
"Habis kamu tanya banyak banget"
"Cakep gak?"
"Biasa"
"Kerjaannya?"
"Dosen"
"Wuihhh mantap"
"Biasa"
Sedang asyik berbicara dengan sahabatnya dari telepon, tiba-tiba saja Bos Kenzo masuk ke dalam mobil Ambar.
"Ha?"
"Eh, suara cowok tuh. Siapa?" tanya Rea.
"Ini, orang" jawab Ambar bingung.
"Kau sedang menelepon siapa?"
"Eh, kayaknya aku kenal suara itu. Adhi ya?"
Sebelum Ambar menjawab, cowok itu ternyata merebut ponselnya.
Adhi melihat wanita itu melenggang pergi begitu saja di depannya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak habis pikir.
"Apa kau mengenalnya secara dekat?" tanya Andy yang sejak tadi mengamati keduanya.
"Dia sahabat Feli dan Rea"
"Dia? pemilik toko kecil itu?"
"Iya. Dia bodoh"
"Tapi ... kenapa aku merasa kau perhatin padanya?"
Adhi melihat teman lamanya itu dengan tatapan meremehkan. Temannya itu sepertinya tidak berbakat membaca situasi. Bagaimana bisa semua yang dilakukan Adhi tadi disebut perhatian.
"Kau juga menjadi bodoh?"
"Hahaha. Aku hanya mengatakan dari yang kulihat"
"Siapkan saja rumahku. Dan jaga mobilku selama aku meninggalkannya disini" kata Adhi lalu melangkah pergi dari kantor temannya.
__ADS_1
"Kau pulang dengan apa??" tanya temannya tapi Adhi tidak menjawabnya. Dia berjalan menuju mobil putih yang masih terparkir di dekat kantor Andy dan segera masuk ke dalamnya.
Dia kira, wanita itu tidak juga pergi karena menunggunya, tapi salah. Wanita itu sedang ada dalam panggilan telepon saat dia masuk. Tentu saja Ambar terlihat bingung karenanya,tapi Adhi tidak peduli. lalu dia mendengar suara samar dari telepon wanita itu. Suara nyaring seperti nenek sihir yang dikenalnya.
"Apa kau tidak tidur?" tanyanya setelah berhasil merampas telepon Ambar.
"Kok kamu sama Ambar?"
"Karena temanmu bodoh"
"Apa? Adhi ngapain kamu di ... "
Tanpa bertanya pada pemilik ponsel, Adhi mematikan telepon tak berguna itu.
"Cepat antar aku pulang!" perintahnya.
"Ha?"
"Sekali lagi kau merespon dengan kata itu, aku akan melempar ponselmu keluar"
"Eh tunggu. Kenapa saya harus antar?"
"Karena aku tidak membawa mobil"
Wanita yang ada dibelakang setir itu segera celingukan melihat ke tempat parkir. Untunglah Adhi membawa mobilnya yang lain tadi. pasti wanita itu tidak akan mengetahuinya.
"Anda bisa naik taksi"
"Malas"
"Anda bisa panggil Kenzo atau minta antar sama pak Andy"
"Jangan banyak bicara dan cepat antar aku pulang!"
Tak berapa lama, Adhi merasakan mobil telah bergerak keluar dari kantor Andy. Tapi kenapa lambat sekali? Seperti siput yang bergerak.
"Turunlah!"
"Ha?"
"Kau menyetir seperti siput. Jam berapa aku akan sampai rumah???"
"Ini kan masih di ... "
"Keluar!!! Biar aku yang menyetir"
Meskpiun kelihatannya tidak rela, wanita itu menurut. Kini Adhi yang sedang membawa mobil itu menuju apartemennya.
"Kau seharusnya tidak boleh membawa mobil" tuduh Adhi setelah kesal dengan lambatnya cara menyetir Ambar.
"Saya bisa menyetir"
"Pelajarilah dengan baik sebelum membawa kendaraan"
"Saya bisa bawa mobil ke Bandung pulang pergi kalo Anda lupa"
"Kau pasti menghalangi pengendara lain" tuduh Adhi lagi membuat wanita itu kehilangan kata-kata. Dia merasa menang dan memperlambat laju mobil dengan sengaja. Lalu dia melihat wanita yang duduk di sebelahnya dan merasa bersalah. Apa perkataannya terlalu kasar sehingga wanita itu terdiam dan memiliki raut wajah tidak baik? Belum sempat Adhi bertanya apakah perkataannya keterlaluan, dia melihat kepala wanita itu terkulai ke samping.
"Ambar ... Ambar" panggilnya tidak mendapatkan jawaban. Hanya ada suara dengkuran halus yang terdengar samar di telinganya. Apa wanita itu tertidur?
Setelah sampai di apartemennya, Adhi masih mendapati wanita itu tertidur dengan nyenyak. Apa yang harus dilakukannya? Meninggalkan wanita itu di mobil? Sepertinya terlalu jahat. Apa dia bawa saja wanita itu ke apartemennya?
Tidak ingin dianggap jahat, Adhi memutuskan untuk membawa wanita itu ke apartemennya. Awalnya dia takut mendapatkan perlawanan, tapi Ambar benar-benar tertidur pulas. Tidak bangun hanya untuk protes Adhi menggendongnya ke apatemennya.
"Ringan sekali. Apa wanita ini tidak pernah makan?" komentarnya setelah meletakkan Ambar di ranjangnya. Wanita itu bergerak sedikit ke arah kiri dan meringkuk seperti keong. Adhi tersenyum dan membungkus Ambar dengan selimutnya.
"Tidurlah!"
Dia meninggalkan wanita itu di kamarnya lalu pergi ke kamar kerjanya.
__ADS_1