
Rea melihat Ambar yang datang dengan tergesa-gesa padanya. Lalu mendadak memeluknya dengan erat. Selama ini, sahabatnya itu tidak pernah melakukan hal ini. Jadi, dia berpikir kalau ada sesuatu yang terjadi pada Ambar. Dan itu berhubungan dengan Adhi, karena anak bodoh itu belum juga terlihat sejak menyusul masuk ke dalam rumah. Pasti ada yang terjadi dan itu sesuatu yang parah sehingga Ambar bersikeras untuk segera pergi. Tapi sahabatnya itu menyangkal dengan mengatakan kalau alasannya ingin segera pergi adalah karena kebelet.
Yah, kalau hal itu sepertinya Rea tidak bisa mendebat. Biasanya seseorang yang habis travelling jauh pasti mengalami masalah konstipasi. Dan memang memakai toilet yang baru sering sekali menghambat perjalanan kotoran untuk keluar. Jadi Rea segera berpamitan pada keluarga Syahreza yang sedang berkumpul di dekat taman bunga. Untungnya sang pemilik rumah tidak mempermasalahkan kepulangan Ambar dan Rea. Hanya Feli saja sempat menanyakan tentang keberadaan Adhi, pangerannya.
"Aku tidak tahu. Ambar juga tadi sendiri saja"
"Benarkah? Tadi Adhi sempat bertemu dengan kekasihnya di dalam kamarnya. Aku meninggalkan mereka karena tidak ingin mengganggu" jawab sang ibu mulai membuat Rea curiga. Apa jangan-jangan Ambar ingin segera pergi karena terjadi sesuatu?
Dan rasa penasarannya terjawab saat dia mendengar Adhi emminta maaf pada Ambar. Tepat di lorong yang mengarah pada halaman parkir rumah. Adhi, anak bodoh keras kepala itu tidak akan pernah meminta maaf pada siapapun. termasuk orang tuanya sendiri dan kakaknya setelah melakukan banyak hal buruk di masa lalu. Dan kini, cowok itu meminta maaf pada Ambar? Dia harus segera mencari tahu. Tapi, tidak jadi. Karena dua orang yang dikiranya sedang memiliki masalah berat itu berubah. Menjadi dua anak kecil yang bertengkar dengan memamerkan kekuatan masing-masing. Tentu saja dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menyebut dua orang dewasa itu gila
"Kita sedang ada di rumah keluarga Syahreza. Bisa tidak kalian mengendalikan diri?" kata Rea lagi heran dengan kelakuan Ambar dan Adhi yang lebih mirip anak kecil.
"Habis ... "
"Lagian, kalian ngapain? Ada masalah apa sampe kayak gini?"
Sekali lagi Ambar terdiam, tidak bicara ataupun melihat ke arah Rea. Sedangkan Adhi memusatkan pandangan ke arah Ambar. Apa yang terjadi pada keduanya? Rea penasaran sekali sekarang.
Ingin sekali Ambar mengatakan semuanya.
"Cowok bodoh itu, nyium aku. Gila gak tuh Re???"
Sayangnya dia masih waras dan tidak ingin mencederai harga dirinya sendiri dengan mengatakan kenyataan yang terjadi. Jadi, yang bisa dia katakan pada Rea sekarang hanyalah ...
"Gak ada apa-apa"
"Tapi kenapa kalian kayak ... palang pintu gitu? Adu kesaktian"
"Masa' sih? Kayaknya tadi biasa aja deh"
"Aku gak buta Mbar. kamu sama Adhi"
"Re ... ngomongnya udah belum? Aku ... "
Sebelum Ambar harus mengatakan banyak kebohongan lagi, dia harus segera mengajak Rea pergi dari tempat ini. Apalagi dari cowok yang aroma badannya masih menempel di pakaian Ambar itu.
"Oh iya. Iya. Dhi, aku pulang dulu sama Ambar ya. Kamu tadi dicariin sama Bokap kamu tuh"
"Tunggu, kenapa kalian? Ambar akan bersamaku selama sisa hari ini" balas cowok itu mengejutkan.
__ADS_1
"Apa? Bersama selama sisa hari ini?" tanya Ambar dan Rea bersamaan.
"Iya. karena dia kekasihku"
Ambar ingin sekali memukul dirinya sendiri sekarang. Dia sempat berbunga-bunga saat Bos Kenzo mengatakan itu lalu teringat kalau semua itu hanyalah ... palsu.
"Saya harus pergi sekarang juga"
"Kenapa? Apa karena ... "
"BUKANNNN!!" Saya hanya ... "
"Ambar kebelet pup" kata Rea membuat suasana tiba-tiba hening lalu pecah dengan tawa Bos Kenzo.
Ingin sekali Ambar melayangkan protes ke sahabatnya karena menyebutkan masalah buang air besar di depan cowok itu. Sungguh, Ambar kini merasa malu sekali. Apalagi cowok itu tidak berhenti tertawa sampai sekarang.
"Hahahaha. Jadi, alasanmu ingin pergi karena ... hahahaha"
"Re, ayo kita pergi aja" ajak Ambar dengan menahan rasa malu.
"Kau tidak bisa pergi, sayang. Tunaikan saja kebutuhanmu disini. Di rumah ini"
"Saya ... tidak mau. Saya ... "
"Kenapa? Kau tidak bisa mengeluarkannya di sembarang tempat?"
Malu ... malu sekali rasanya Ambar sekarang. Kalau ada lubang, ingin sekali dia pergi kesana dan bersembunyi.
"Kamu emang hobi nyiksa ya Dhi?" bela Rea membuat Ambar merasa sedikit lebih baik.
"Kalo sibuk, kamu boleh pergi Re. Tapi kekasihku harus tetap disini" kata Bos Kenzo lalu mengalihkan pandangan ke arah Ambar.
"Dia memiliki kewajiban untuk membantu orang yang sudah membayar tiket pulang pergi London untuknya" kata cowok itu membuat mata Ambar bulat sempurna. Sial cowok itu. Membuatnya seakan berhutang padahal Ambar bisa membayar semuanya sendiri. Tapi, daripada cowok itu memaparkan apa yang dia alami tadi. Lebih baik Ambar menyerah dan tetap di rumah ini.
"Re, kayaknya aku ... gak jadi pergi soalnya ... "
Rea lalu menarik Ambar menjauh dari Bos Kenzo dan mulai berbisik.
"Kamu gak diapa-apain sama Adhi kan Mbar?"
"Gak, emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Kok kayaknya kamu diancam?"
"Gak, tapi ... aku kayaknya gak jadi pergi"
"Beneran?"
"Iya"
"Kebeletnya?"
"Udah gak kebelet lagi"
"Ya, gak apa sih. Tapi aku tetep harus pergi Mbar. Ada kerjaan di kantor"
"Iya. Aku gak apa-apa Re"
"Beneran?"
"Iya"
"Jangan lupa jalanin rencana kita ya Mbar. Tadi kayaknya Feli udah kesel banget liat kamu mesra sama Adhi"
Untuk yang satu ini Ambar tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam sampai Rea masuk dalam mobil lalu pergi meninggalkannya. Bagaimana bisa dia melaksanakan rencana yang membuatnya semakin hancur itu? Sepertinya tidak mungkin. Dia tidak ingin menambah deretan dosa yang tidak bisa dibayarnya dengan kebaikan apapun itu.
"Bisa kita masuk, Sayang?"
Sunguh, Ambar ingin sekali menonjok pipi cowok itu lagi. Namun kali ini dengan kekuatan penuh. Ambar mulai berbalik lalu berjalan di sebelah Bos Kenzo, kembali ke halaman tempat keluarga Syahreza plus Feli berada.
"Kalau saja kita tidak di rumah ini, wajah Anda akan hancur" ancam Ambar tidak tahan lagi menahan emosi.
"Benarkah? Aku mau saja, asalkan bisa menciummu lagi"
"Anda gila"
"Setelah itu, aku akan melepas bajumu dan mencium semua yang ada di baliknya"
Mata Ambar melotot, dia tidak pernah mendengar sesuatu yang se ... mesum itu dari mulut seorang cowok. Bukannya geli, dia malah merasa ketakutan. Takut kalau itu benar-benar terjadi dan dia tidak bisa melawan.
"Anda ... "
"Tenanglah. Aku tidak akan melakukannya. Apa kau ingat aku tidak menyukaimu sebagai perempuan?" ucap cowok itu sedikit menghilangkan rasa takut Ambar. tapi, rasanya sedikit menyedihkan.
__ADS_1